Zurich dan Geneva, Kota Terpelan di Duniakah?

The following article is written by Robil, a friend of us. It will be the first article in Indonesian posted in this blog. Apart from some minor editings, the form and style remain as of the original article.

“I have written nothing out of hatred to anyone, but I have always faithfully propounded what is esteemed to be for the glory of God …. Let every one consider the obligation which he has not only to this Church but also to this city, which you have promised to serve in adversity as well in prosperity.” (Calvin, in his last message to the gathering ministry of Geneva).

Mungkin kalimat seperti yang dituliskan Calvin ke para ministry di Geneva, cocok atau lebih tepat disampaikan dalam pemberkatan sebuah pernikahan. Kita sering mendengar janji seperti ini disampaikan dalam sebuah pemberkatan nikah. Ketika Januari yang lalu saya berkesempatan menghadiri pernikahan teman segereja di Jakarta, hal di atas ditanyakan pendeta juga ke teman saya itu: “Apakah engkau bersedia mengambil si A dalam keadaan sulit maupun senang?” Jelas saja, terkesan aneh ketika Calvin menghubungkan dedikasi sebesar itu dengan sebuah kota. Zaman sekarang kita cenderung memilih kota berdasarkan “prosperity”; jarang ada orang yang memilih kota berdasarkan “adversity”. Singapura boleh dikritik sebagai kota tercepat berjalan di dunia, tapi toh imigran Indonesia tetap saja dengan “setia” datang ke sini, untuk tinggal paling kurang 7 sampai 10 tahun di kota yang jalannya super cepat ini. Bukankah Jakarta berjalan lebih pelan? Apalagi kalau macet.

Urlich Zwingli adalah reformator yang hidup tersingkat di antara tiga orang Reformator. Lahir di Wildhaus pada tahun 1484, Zwingli kemudian mengenyam education di Basel dan kemudian univertas Vienna. Di sini dia diyakinkan akan kerusakan yang terjadi di dalam gereja saat itu. Dia pun melakukan protes (walau tidak sebesar Luther) kepada perwakilan Roman Katolik di Swiss ketika mereka mulai menjual surat penghapusan dosa di sana.

Tahun 1519 Zwingli “diundang” datang ke Zurich untuk berkhotbah. Di sana dia bersedia berkhotbah dengan syarat bahwa dia diijinkan untuk berkhotbah “pure gospel of Christ”. Khotbahnya menjadi kekuatan dan terang yang besar bagi warga Zurich saat itu. Sayangnya beberapa saat kemudian wabah penyakit menyerang Zurich yang membunuh 2500 orang, padahal penduduk kota itu hanya berjumlah 17000 orang saja. Bukannya “menyelamatkan diri” (lagian dia juga adalah seorang pendatang) Zwingli malah bertahan di Zurich dan rajin mengunjungi orang-orang yang terserang wabah penyakit itu. Zwingli pun terserang penyakit tersebut dan sakit parah selama tiga bulan.

Selama di Zurich, Zwingli adalah orang yang selalu bekerja keras bagi Kristus di kota itu—teguh dalam melawan pengajaran-pengajaran yang menyimpang yang mewarai kehidupan kota Zurich, dan sangat teguh dalam menerapkan nilai moral dan etika Kristen di sana. Kita mengingat dia dalam perbedaan pendapatnya dengan Luther dalam hal perjamuan kudus. Suatu perbedaan yang kelak “diselesaikan” oleh anak muda yang memimpin kota lain di Swiss.

Ketika Roma Katolik menghimpun 8000 orang untuk menyerang Zurich, Zwingli pun tidak diberi banyak pilihan selain ikut terlibat dalam pertempuran itu. Karena bukan seorang tentara, “sayangnya” dia hanya mengurusi mereka yang terluka di medan pertempuran. 2700 orang Zurich bangkit melawan penyerbuan itu. Kalah dalam jumlah pasukan, Zurich pun dihancurkan oleh pasukan Roma Katolik. Zwingli termasuk orang yang mati dalam pertempuran itu. Terluka kakinya karena terkena tombak, Zwingli ditemukan musuh-musuhnya dalam keadaan tidak berdaya. Menurut buku “Sketches from Church History” oleh S. M. Houghton, seorang musuh berusaha “mengasihani” Zwingli, dengan memanggil pendeta Katolik untuk mendengar pengakuan imannya sebelum mati. Zwingli menolak! Musuhnya pun meminta dia berdoa kepada Maria supaya diberi anugrah dan bisa masuk sorga. Zwingli sekali lagi menolak!—penolakan yang menandakan bahwa dia seorang Protestan. Zwingli pun dibunuh. Tubuhnya ikut dibakar.

Kematiannya meninggalkan kesan mendalam bagi para Reformator. Luther mengaggap bawa tidaklah baik mengangkat senjata dalam membela iman. Walau begitu keberadaannya memberikan warna tersendiri dalam iman Kristen. Penggantinya di Zurich adalah Heinrich Bullinger yang kemudian, di bawah pengaruh pengajaran Zwingli, menulis Helvetic Confession (Helvetic adalah nama Swiss saat itu) yang menjadi berkat di Scotland dan di banyak tempat sampai sekarang ini.

Seperti Zwingli, datang ke Geneva pada awalnya bukanlah sebuah “visi” yang berapi-api, tapi lebih terkesan sebuah “kebetulan” buat buronan bernama Calvin. Dia adalah orang yang diekskomunikasi oleh gereja Roma Katolik di zamannya, sehingga bisa kapan saja dibunuh oleh pengikut Roma Katolik. Calvin berkelana ke sana kemari untuk “menyelamatkan diri” sejak tahun 1533-1536. Selama tiga tahun itu, selain mempelajari theologia, ia terus-menerus harus pindah untuk menghindari usaha pembunuhan dari orang yang membenci dirinya. Penulis biografi John Calvin menggambarkan saat-saat hidupnya ini mirip saat-saat orang Israel “berputar-putar” selama 40 tahun di antara Mesir (Paris) dan Tanah Perjanjian (Geneva). Di tahun 1536 Calvin merasa bosan terus berjalan ke sana kemari di tengah musim dingin. Ia dan saudaranya, Anthony, memutuskan untuk menetap di Strasbourg untuk hidup tenang dan damai. Dalam perjalanan inilah mereka singgah ke Geneva. Ternyata Calvin singgah untuk menetap.

Farel, seorang penginjil dengan usia 20 tahun lebih tua daripada Calvin, meyakinkan dia untuk menetap dan mendedikasikan talentanya untuk melayani jemaat di Geneva. Farel “mengancam” Calvin bahwa dia tidak akan pernah tenang dalam hidupnya jika hidup untuk mencari ketenangan dan ilmu theologia untuk memuaskan dirinya sendiri. Mungkin karena Farel mirip Musa, atau karena Farel berbadan lebih besar, atau entahlah karena apa (yang pasti karena gerakan Roh Kudus), Calvin pun tinggal secara “unexpected” dan mulai melayani di Geneva.

Calvin mungkin orang dengan dedikasi kerja yang luar biasa kerasnya. Kualitas kerja dibarengi dengan jam kerja membuatnya mampu memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap kemajuan Geneva. Geneva mulai mengalami perbaikan dalam hal etika dan moral. Pengaruh dan keteladanan hidupnya juga mulai mempengaruhi etika pendidikan di kota Geneva. Tidak heran banyak orang di seluruh Eropa mulai datang dan mempelajari theologia di kota itu. Walaupun tidak diberkati dengan kekuatan fisik yang memadai, Calvin berkhotbah hampir setiap hari, dan selain aktif mengajar dan mengurusi problematika kehidupan sehari-hari warga dan kota Geneva dia pun sibuk menulis tafsiran Alkitab yang bukan hanya memberkati zamannya tapi juga zaman-zaman sesudahnya. Tidak berlebihan kalau beberapa penulis sejarah Gereja menyebut bahwa Calvin mampu mengubah wajah Geneva sebagai sekolah Yesus Kristus yang paling sempurna sejak hari para rasul berada. Geneva sebagai sebuah kota, menjadi mercusuar yang memberikan keteladanan bagi perjuangan Reformasi di segala tempat hari itu.

Yang menarik adalah sang Calvin pernah diusir keluar dari Geneva. Dianggap terlalu keras dalam menerapkan etika Kristen oleh kaum Libertine, Calvin dan Beza ditendang keluar selama dua tahunan. Dia kemudian diminta kembali untuk pulang setelah banyak yang menyadari betapa besarnya keterhilangan akan Firman Tuhan yang sejati semenjak Calvin pergi dari Geneva. Sempat ragu karena trauma diusir dari sana, Calvin pun memutuskan pulang kembali. Bukannya penuh keraguan, “jaim”, atau melunak, Calvin bahkan semakin giat bekerja. Dia berkhotbah hampir setiap hari (in every alternate week). Dia juga terlibat sebagai penasehat dewan kota, terlibat aktif dalam konseling jemaat, menulis komentari dan pembelaan iman. Gaya hidupnya ini sangatlah membahayakan kesehatannya. Kualitas kerjanya yang luar biasa mendatangkan kekaguman positif dari mana-mana. Tercatat orang-orang besar seperti John Knox datang ke Geneva untuk belajar dari Calvin dan hidup dalam disiplin dan kualitas hidup ala Geneva.

Dia mati muda di umur 51; Calvin terserang berbagai komplikasi penyakit. Seperti yang digambarkannya sendiri di salah satu suratnya, dia mengalami sakit dan pendarahan yang begitu banyak. Sekali beliau pernah pingsan, dan beberapa kali pernah muntah darah di atas mimbar. Sulit diminta untuk relax and easy. Tanggal 27 Mei dia meninggal dan berpesan ke Geneva, “… if there was any good (from my life example), that you may conform to it and make it example.” Geneva melepas dia dengan sederhana, dikuburkan di pekuburan umum dan tanpa batu nisan supaya orang nggak perlu susah-susah mencari petunjuk ke kuburan dia. Kalau ada yang perlu dikenang dari Calvin, silakan membaca buku-bukunya, pelajari sejarah kedisiplinan hidupnya, dan cintai Kristus seperti dia mencintai Tuhannya itu. Sekarang Geneva punya tugas besar untuk membawa mandat Reformasi ke generasi pasca Calvin. Calvin maupun Zwingli telah melakukan tugasnya dan dia pun telah pergi.

11 bulan yang lalu Swiss tiba-tiba menjadi perhatian saya. Majalah Reader’s Digest edisi Juli 2006 mengambil sampel kota teramah dunia. Cover depannya pun berjudul: “How Polite are We?” Nampaknya Reader’s Digest tertarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil, seperti: Tertarikah Anda meluangkan waktu Anda yang sibuk untuk sekedar membantu orang yang jatuh dokumennya di tengah jalan? Maukah Anda membukakan pintu bagi orang yang sedang penuh tangannya? serta Berapa sopan dan ramah Anda ketika melayani pelanggan yang yah, sekedar mencari informasi di toko Anda? Sampel diambil dari hampir 35 kota besar dan maju di dunia.

Zurich, mewakili Swiss, terpilih menjadi kota ke-2 tersopan dunia. Artinya orang akan lebih mungkin meluangkan waktu untuk peduli kepada orang lain, walaupun orang lain itu adalah seorang asing, di sana. Zurich digambarkan sebagai kota dalam kategori tersopan sejak dahulu kala. Tahun ini dia kalah dari New York, yang tiba-tiba menjadi sopan karena Twin Tower, yang agung dan megah, yang runtuh ditabrak pesawat, 2001 yang lalu. Singapura sendiri ada di ranking kota “paling tidak ramah” nomor 5 (Jakarta ada di nomor 6). Seorang warga Singapura yang ikut sampel malah menganggap membersihkan kuku lebih baik ketimbang berusaha menolong orang yang “drop their papers” di tengah jalan.

Di Zurich, seorang penjual jam akan menjelaskan barang dagangannya dengan penuh kebanggan dan penghormatan akan customer, walaupun Anda kemudian memutuskan tidak membeli jam itu. Dari 20 toko yang dimasukin sang surveyor, semuanya mengucapkan terima kasih kepada pengunjung, dan melayani para pengunjung toko dengan ramah. Bandingkan sikap ini dengan penjual jam di Mumbai misalnya, atau Hongkong.

Fakta statistik ini ditambah menarik dengan laporan Newsweek bulan Juli tahun yang lalu tentang “The World’s 10 Hottest Cities”. Zurich dan Geneva mewakili Swiss menjadi kota dengan urban living terbaik (ranking 1 dan 2) serta ranking 7 dan 9 dalam kota termahal di dunia. Urban living adalah kota dengan kategori tingkat pendapatan penduduk yang baik, yang dibarengi dengan tingkat kehidupan yang baik, dengan struktur ekosistem yang ramah lingkungan. Secara overall Time Magazine edisi 26 Juni menaruh Swiss di nomor 7 sebagai penghasil patent terbanyak tahun 2006. Swiss pun ada di nomor 8 dalam kategori growth competitiveness, sebuah kategori yang menggambarkan level competitiveness ekonomi sebuah negara dalam persaingan global ini. (Singapore ada di ranking 6). Swiss ada di ranking 7 dalam mutu edukasi terbaik dunia, karena negara sekecil ini memiliki 7 universitas yang masuk ranking 200 universitas terbaik di dunia.

Nah yang menarik adalah, Singapura, maupun Tokyo, London, Hongkong, dan kota-kota besar lainnya memang adalah kota-kota kaya di dunia juga. Tapi kekayaan ini dibarengi dengan penurunan nilai etika dan kualitas “enjoyment” hidup. Pendek kata, di sebuah kota yang mahal dan kaya adalah wajar kalau kita mengharapkan orang-orangnya lebih kasar dan agresif. Sebab kita perlu menggenapi prinsip ekonomi ala “Adam Smith” bahwa ekonomi di-drive oleh ambisi. Nah sulit bagi kita membayangkan bahwa ada kota yang maju dan ramah, dan memiliki kualitas kerja yang baik namun tidak begitu agresifnya sampai melukai atau menyakiti sesama atau orang baru yang datang ke kota itu. Nah Geneva dan Swiss menunjukkan semua kriteria ini. Dan yang lebih mengherankan lagi, Newsweek, Reader’s Digest, bahkan Time Magazine pun mengkategorikan “Geneva” dan “Zurich” sebagai “old player” dalam setiap sampel ini. Ini berarti mereka bukan baru kemarin menjadi kota yang berkualitas dan ramah—mereka telah tersohor sejak dahulu kala.

Jika Roman empire yang hampir 600-an tahun berdiri membawa nama harum ke dalam filsafat Aristoteles-Plato yang Helenistik, atau jika Hegel, Nietzsche terkenal karena membawa Jerman ke ketersohoran selama 100 tahun terakhir, maka Geneva dan Zurich pun menjadi salah satu fakta kekuatan theologia Reformed. Mengapa? Karena menurut saya pribadi sebuah theologi atau doktrin akan perlu diterapkan untuk menjawab konteks atau permasalahan sebuah zaman. Nah jadilah doktrin itu sebagai policy atau law. Kalau nilai-nilai luhur doktrin di dalam aturan atau policy itu mampu diterapkan ke dalam sebuah masyarakat secara spontan, artinya, tanpa melihat banyak rambu, masyarakat mampu dengan spontan melakukan hal-hal yang luhur tadi, maka spontanitas itu menunjukan bahwa kebenaran itu telah menjadi habits. Jika habits bisa diturunkan ke generasi yang berikutnya ini menjadi tradisi, dan kalau tradisi ini bertahan bergenerasi-generasi dan bahkan mempengaruhi tempat yang lain, hal ini menjadi kultur dan budaya (civilization). Nah, doktrin dan pengajaran yang melewati proses bertahun-tahun pengujian memang akhirnya bisa diuji sebagai sesuatu yang berkualitas. Pekerjaan seseorang tidaklah sebuah ambisi pribadi kalau over time nilai-nilai esensinya masih bisa terlihat jelas dalam kehidupan masyarakat di zamannya dan zaman-zaman selanjutnya.

Saya tidak mempunyai statistik berapa orang Geneva yang tahu Calvin, membaca dan mengerti isi pemikirannya, beriman pada Kristus, dan mengamini doktrin Reformed. Mungkin saja mereka telah menjadi atheis atau agnostic. Saya pun tidak coba mengatakan bahwa sepanjang orang itu sopan santun dan berkualitas pekerjaannya, Injil tidaklah penting. Yang coba saya sampaikan adalah Calvin dan Zwingli “singgah” sebentar di Geneva dan menurunkan suatu doktrin yang menjelma menjadi gaya hidup yang mampu diwariskan secara baik ke 500 tahun selanjutnya. Sehingga kalau ada orang yang mempertanyakan pengaruh Reformasi bagi dunia modern secara “nyata”, daripada memperdebatkan “The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism”-nya Max Weber saya akan menjawab, lihat saja Geneva dan Zurich dan bagaimana mereka telah berdiri selama 500 tahun!

Cerita Calvin adalah kisah seseorang yang setia dan peka untuk mengerjakan apa yang dipercayakan kepadanya. Calvin mementingkan suatu “faithfulness to everything that is esteemed to be for the glory of God”. Sebab itulah pekerjaan tangan seorang yang sakit-sakitan dan lemah tubuh ketika searah atau sinkron dengan kehendak Allh yang Mahakuasa menjadi disertai dengan kuasa yang besar, bukan hanya untuk “make thing happen” di saat itu saja, tapi juga untuk memberkati zaman sesudahnya. Calvin mati 500-an tahun yang lalu, tapi pekerjaannya dimulai oleh Tuhan dan Tuhan pula yang menjaga kelanjutannya. Kalau orang dunia berkata, “One man can make a difference,” saya sih lebih setuju bahwa God is always the only one who makes the difference, through whomever person or people who rely on Him. Nah kembali ke persoalan kota yang jalan tercepat, saya Kurang tahu apakah Calvin hari itu ketika di Geneva berjalan pelan atau cepat, tapi menurut saya, satu hal yang pasti adalah Calvin selalu berusaha berjalan seirama dengan Tuhan.

Bukan berarti kita semua harus ramai-ramai tinggal atau meninggalkan Singapura, sebab memang mungkin saja Tuhan mau kita berada di sini atau di tempat lain. Sama seperti kita, Calvin adalah orang biasa, tapi pada intinya setiap orang perlu mencintai Tuhan dan menjadikan kecintaan itu dasar dia meakukan planning atau menentukan arah ke depan. Di kota manapun itu, pekalah terhadap hal-hal yang Tuhan inginkan dan setialah melakukan isi firman Tuhan. Supaya kalau pun tempat itu bukan untuk atau memang untuk kita, ya tidak masalah toh, karena kita juga menjadi orang benar di sana. Yusuf adalah orang diberkati Tuhan bahkan ketika ada di penjara. Nuh adalah orang benar dalam kesetiananya selama 120 tahun menjalankan persiapan menghadapi badai yang besar. Daniel setia ketika menolak makan makanan raja di awal-awal karirnya. Orang Israel pun diminta Tuhan menjadi berkat di tempat mereka dibuang. Mereka semua tidak terkesan bermimpi berada di centre postion dalam society sehingga mereka penuh ambisi, mementingkan kepentingan pribadi dan penuh kebencian sehingga mungkin memang perlu jalan cepat seperti rata-rata orang Singapura karena takut tergilas yang lain kalau kepelanan. Justru yang mereka pentingkan adalah seperti yang Calvin tuliskan di suratnya di atas.

“I have written nothing out of hatred to anyone, but I have always faithfully propounded what is esteemed to be for the glory of God ….”

Alhasil, Tuhanlah yang selalu ada di centre hidup mereka, sehingga hidup mereka menjadi hidup yang memancarkan rencana dan planning Tuhan. Bukankah itu definisi seorang saksi?


About this entry