Bersekutu dan Bekerja

Another article in Indonesian, written by Rev. Billy Kristanto, with minor editing.

Belajar dari sejarah Gereja, kita melihat persoalan seputar bersekutu dan/atau bekerja sebenarnya bukanlah merupakan suatu hal yang baru. Pada Abad Pertengahan orang pada umumnya membedakan antara kehidupan via contemplativa (jalan perenungan) dan via activa (jalan berkarya), di mana dalam pandangan zaman tersebut via contemplativa dianggap lebih baik, lebih tinggi daripada via activa. Dasar yang digunakan untuk menjadi tunjangan tentang hal ini adalah ayat-ayat tentang Maria dan Marta, di mana Maria dianggap mewakili via contemplativa sementara Marta mewakili via activa. Kita tahu bahwa penafsiran seperti ini sebenarnya kurang tepat.

Memang benar bahwa dalam bagian tersebut Maria dipuji, sementara Marta ditegur. Namun ini sama sekali tidak menyatakan bahwa merenung lebih baik daripada bekerja. Karena yang menjadi persoalan dalam perikop tersebut bukanlah perbandingan (baca: kompetisi) antara kehidupan merenung dan kehidupan yang berkarya, melainkan bahwa Marta berusaha menolong Tuhan dalam pelayanan yang dilakukannya. Tentu tidak tepat mengatakan bahwa pelayanan tidak lebih baik daripada mendengarkan firman Tuhan, karena kita mendengarkan firman Tuhan menurut konsep Alkitab tidak mungkin dapat dipisahkan dengan melakukan. To certain extent, Marta gagal bukan karena dia melayani an sich, melainkan karena dia melakukannya tanpa mendengar terlebih dahulu apa yang hendak Tuhan katakan bagi dirinya. Dalam hal ini persekutuan dengan Tuhan (yaitu di mana kita mendengar perkataan firman Tuhan) memang mendahului kita melakukan pekerjaan serta pelayanan kita.

Namun yang bisa menjadi ekses yang tidak perlu adalah ketika kita menekankan yang satu serta mengabaikan yang lain. Dengan demikian hal yang sebenarnya benar, maksudnya memang Alkitab mengajarkan aspek tersebut (dalam hal ini persekutuan dengan Tuhan), lambat laun karena tidak diintegrasikan dengan aspek-aspek yang lain dalam kekayaan hidup Kristen, akhirnya menjadi semacam reduksi dari kehidupan Kristen yang sangat kaya. Sekali lagi, satu aspek itu memang diajarkan dalam Alkitab, namun ketika kita hanya menekankan terus-menerus satu aspek itu tanpa melihat keseluruhan gambaran kehidupan Kristen secara utuh, akibatnya kita bisa menjadi one-sided dan one-sidedness ini jika tidak mengalami pertumbuhan bisa berakibat (seringkali tanpa kita sadar) kita mendiskreditkan aspek-aspek lain dalam hidup Kristen yang sebenarnya juga sama-sama penting, dan sama-sama diajarkan oleh Alkitab.

Saya tertarik dengan pembahasan Roh Kudus yang ditulis oleh Yohanes dalam Injil (Yoh. 16:13). Di situ dikatakan bahwa Roh Kudus/Roh Kebenaran yang datang itu akan memimpin kita menuju seluruh kebenaran (eis ten aletheian pasan). Roh Kudus adalah Roh yang dijanjikan Tuhan Yesus untuk memimpin kita menuju kepada kebenaran yang semakin utuh, semakin komplet, semakin kaya. Kita semua memiliki pengertian kebenaran yang parsial, ini bukanlah dosa, memang setiap orang memiliki takaran kita masing-masing. Namun ketika Tuhan memimpin kita dalam pertumbuhan rohani yang dikerjakan-Nya, Dia akan menolong kita untuk hari demi hari semakin mengerti dan menikmati dan menyaksikan kekayaan faset-faset dalam kehidupan Kristen, sebagaimana diajarkan oleh Alkitab. Di situ kita diubahkan (ditransformasi) dari seorang yang memiliki pengertian yang one-sided menuju orang yang semakin dewasa, dalam satu aspek, ia mengerti kelimpahan firman Tuhan, ia mengerti keindahan aspek-aspek yang lain dalam kehidupan Kristen, bahwa semuanya indah, baik dan benar, dan kita dapat menyaksikan kekayaan tersebut dalam hidup kita.

Kembali kepada aspek yang kita bahas tadi, saya percaya Alkitab memang mengajarkan bahwa persekutuan yang intim dengan Tuhan adalah sangat penting. Dalam Alkitab kita mendapati ayat-ayat seperti “Hanya dekat Allah saja aku tenang …” (Mzm. 62:1) dan masih banyak ayat-ayat yang lain yang menekankan betapa pentingnya hubungan yang dekat dengan Tuhan. Namun di ayat yang lain sekaligus kita membaca, “Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah yang dari jauh juga?” (Yer. 23:23). Jika pada yang pertama kita membaca aspek kedekatan dengan Allah (dalam bahasa teologi disebut imanensi Allah), maka pada yang terakhir kita membaca transendensi Allah, Allah adalah Allah yang berbeda dan mengatasi ciptaan-Nya. Demikian juga dalam Yesaya 6 yang mencatat bagaimana Yesaya menerima visi dari Tuhan. Di situ kita membaca pemandangan akan Allah yang Mahakudus justru membawa Yesaya menyadari bahwa ia adalah seorang yang sangat tidak kudus. Sekali lagi di sini yang ditekankan adalah transendensi Allah. Kita senantiasa perlu seimbang dalam menekankan kedua aspek ini karena Alkitab menekankan dan mengajarkan kedua-duanya. Jika kita terus-menerus hanya menyaksikan dan menekankan satu aspek saja (entah itu imanensi atau transendensi Allah), saya khawatir pengertian yang parsial itu akan membawa kepada banyak ekses, bahkan bisa membahayakan (baik diri kita maupun orang yang mendengarkan kita). Pertumbuhan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus akan terus menolong dan membawa serta memimpin kita untuk masuk ke dalam kelimpahan kebenaran firman Tuhan.

Kembali kepada pembahasan via contemplativa dan via activa, saya percaya firman Tuhan mengajarkan bahwa kedua-duanya baik, dan bukan satu lebih tinggi atau lebih superior daripada yang lain (kita harus senantiasa waspada dan ingat akan hal ini, yaitu ketika kita berusaha untuk menekankan satu aspek lebih daripada aspek yang lain, tanpa sadar kita sendiri menjadi korban dari ekstrim yang sedang terjadi, yang sedang kita amati di sekitar kita). Saya mengambil contoh sederhana: jika saya melihat seseorang mengendarai mobil terlalu ke kanan, maka saya tidak bisa mengimbangi dia dengan membawa mobil saya terlalu ke kiri (supaya jika kedua mobil dijumlah dan dirata-rata hasilnya adalah sama-sama berjalan di tengah). Dalam kehidupan sehari-hari ini tidak dapat kita lakukan, dalam iman Kristen prinsip ini pun sebenarnya sama. Namun yang sering terjadi adalah kita sendiri terbawa tanpa sadar untuk menekankan secara tidak proporsional karena kita melihat orang lain sedang berada pada pendulum yang satunya (sejarah mengajar kepada kita bahwa seringkali terjadi pergerakan pendulum bukan? Ini berarti memang manusia sering tidak sadar bahwa respon kita sangat dipengaruhi oleh keadaan negatif yang terjadi di sekitar kita).

Saya juga menyesalkan banyak penilaian pertumbuhan rohani yang diukur berdasarkan fenomena-fenomena yang seringkali mengelabui manusia. Kita patut bersedih melihat keadaan demikian terjadi dalam gereja (mis. kesibukan dalam pelayanan otomatis dinilai sebagai rohani yang baik). Namun, belajar dari firman Tuhan, kita sadar bahwa saya tidak boleh mengimbangi ekstrim kanan dengan melakukan ekstrim kiri. Firman Tuhan mengajarkan agar kita tetap mengatakan dan menyaksikan kekayaan seluruh aspek, sebab jika tidak demikian kita hanya akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi dalam sejarah.

Kita tahu bahwa Reformasi yang Tuhan gerakkan melalui hamba-Nya Martin Luther, to certain extent telah mengoreksi konsep Abad Pertengahan bahwa via contemplativa lebih superior daripada via activa. Salah satu keunikan dari teologi Luther adalah refleksinya tentang theology of work, konsep tentang Beruf (vocation), Stand, dan sebagainya. Di situ ia memberikan satu pendobrakan bahwa pekerjaan juga dapat menjadi suatu pelayanan yang kudus di hadapan Allah, bahkan menyatakan relasi serta persekutuan yang dekat dengan Allah, justru ketika melakukan pekerjaan kita bagi kemuliaan Allah.

Dengan demikian kita melihat bahwa Alkitab juga menekankan perlunya konsep pekerjaan yang diintegrasikan dengan relasi yang benar di hadapan Tuhan. Sebenarnya istilah contemplative life berarti menyadari God’s presence dalam kehidupan kita. Dalam saat-saat di mana kita menyediakan waktu serta tempat yang khusus kita bersekutu dengan Tuhan dengan merenungkan firman-Nya serta berdoa kepada-Nya, di situ kita melatih contemplative life. Namun contemplative life tidak berhenti di situ. Ketika saya memasuki dunia pekerjaan saya, ketika saya belajar, bahkan ketika saya berekreasi dan mengisi waktu senggang saya, di situ pun saya dituntut untuk menghidupi contemplative life, dalam pengertian saya harus sadar bahwa pada saat itu pun Allah hadir dan melihat apa yang sedang saya kerjakan. Dengan demikian via contemplativa bukanlah suatu pilihan pada tingkat atas terhadap via activa (via contemplativa lantai 2, via activa lantai 1), melainkan keduanya terintegrasi dengan sempurna dalam kehidupan Kristen yang taat. Kiranya Tuhan yang telah menjanjikan kepada kita hidup dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10) berkenan untuk terus memperkaya kehidupan kita, dan kita mengalami dalam hidup kita bahwa Roh Kebenaran itu memang adalah Roh yang memimpin kita untuk masuk dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Terpujilah Tuhan.


About this entry