Lars and the Real Girl: Sebuah pelajaran tentang penerimaan

Lars and the Real Girl menceritakan seorang pria super pemalu bernama Lars, yang bahkan tidak tahan menerima sentuhan orang lain. Di siang hari, Lars bekerja di kantor sebagaimana layaknya orang biasa, tapi di malam hari Lars memilih untuk tinggal sendiri di garasi rumah. Kakak laki-lakinya, Gus, dan kakak iparnya, Karin, menempati rumah keluarga. Suatu hari Lars memberitahukan kepada Gus dan Karin bahwa ia baru menemukan wanita idamannya, dan begitu tidak sabar ingin segera memperkenalkannya kepada mereka. Gus dan Karin sangat terperanjat ketika menyadari bahwa wanita idaman yang dimaksud Lars adalah sebuah boneka wanita berukuran manusia yang dipesannya melalui internet. Yang membuat mereka lebih terperanjat lagi, Lars memperlakukan boneka ini, yang diperkenalkannya dengan nama Bianca, sebagai wanita sungguhan, yang dikasihinya dengan tulus. Lars membawa Bianca ke mana-mana, bahkan ke gereja. Kehadiran Bianca memberikan Lars seorang pendamping ideal. Bukan saja Bianca tidak dapat menyentuh Lars, ia juga tidak akan pernah bisa mengkritik dan mempertanyakan Lars.

Tidak tahu harus berbuat apa, Gus dan Karin berkonsultasi dengan seorang dokter, Dagmar, yang menyarankan supaya mereka membiarkan Lars hidup dalam delusinya. Ini berarti memperlakukan Bianca sebagai wanita sungguhan, sama seperti Lars memperlakukannya sebagai wanita sungguhan. Seluruh kota pun tidak lama kemudian ikut serta dalam ‘sandiwara’ ini. Film ini mengemas dengan begitu indah perjuangan orang-orang di sekitar Lars dalam menerimanya—perjuangan yang kadang-kadang konyol, namun juga mengharukan.

Bagi Gus dan Karin, tidak mudah untuk menerima keanehan Lars. Bahkan lebih sulit untuk hidup dengan imajinasi Lars dan berpura-pura bahwa Bianca bukan sekedar sebuah boneka. Akan tetapi mereka tidak pernah berhenti berusaha. “Pretend that she’s real? I’m just not gonna do it. … Everyone’s gonna laugh at him,” protes Gus ketika Dagmar menyarankan supaya mereka memperlakukan Bianca seolah-olah ia benar-benar hidup. Suatu kali, ketika Gus dan Karin memandikan Bianca, mereka tidak dapat mempercayai apa yang sedang mereka lakukan: “What are we doing? Why are we doing this for him?” “Oh, come on. It’s funny!” “Is it?” “I don’t know. I don’t know, maybe not.” Sementara Karin sedari awal sudah lebih siap ‘dipermalukan’ demi Lars, perlu waktu yang lama bagi Gus untuk dapat benar-benar bersabar terhadap Lars. Namun, lambat laun, ia pun berubah. Meskipun tidak mudah baginya untuk mengekspresikan kasih sayang dalam kata-kata, Gus sungguh peduli akan adiknya. Menjawab pertanyaan Lars tentang apa yang membuat seseorang itu laki-laki, Gus menjawab, “Well, it’s not like you’re one thing or the other, okay? There’s still a kid inside but you grow up when you decide to do right, okay, and not what’s right for you, what’s right for everybody, even when it hurts.”

Penebusan dalam Lars and the Real Girl hadir melalui penerimaan. Figur Kristus hadir melalui sebuah komunitas, yang diwakili oleh beberapa orang yang instrumental dalam perubahan Lars, seperti Gus dan Karin, yang mengalami pergumulan emosional yang berat dan panjang, namun dari situ mereka juga mengalami pembentukan; Dagmar, yang selalu nampak bijaksana dalam setiap kalimat yang keluar dari mulutnya; Mrs. Gruner, yang selalu percaya akan kebaikan Lars dan menganggapnya seperti anaknya sendiri; serta Margo, yang tidak pernah menganggap keanehan Lars sebagai suatu jarak yang perlu memisahkannya dari Lars.

Batasan antara menerima dan membiarkan kadang sangat tipis. Yang jelas, menerima tidak sama dengan membiarkan. Membiarkan berarti tidak peduli apakah orang itu mau berubah atau tidak. Menerima berarti sadar kita tidak dapat mengubah orang lain, tapi kita percaya dia dapat berubah dengan kerelaan dan kemauannya sendiri. “[Kasih] menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor. 13:7). Kadang penerimaan perlu melibatkan teguran dan kemarahan, tapi tidak pernah kehilangan unsur-unsur di atas. Karin, yang sangat peduli terhadap Lars, adalah justru orang yang sangat pantas memarahi Lars, dan kemarahannya tulus, karena ia memarahi dalam kasih: “Every person in this town bends over backward to make Bianca feel at home. Why do you think she has so many places to go and so much to do? Huh? Huh? Because of you! Because… all these people… love you! We push her wheelchair. We drive her to work. We drive her home. We wash her. We dress her. We get her up, and put her to bed. We carry her. And she is not petite, Lars. Bianca is a big, big girl! None of this is easy—for any of us—but we do it… Oh! We do it for you! So don’t you dare tell me how we don’t care.” Saya pribadi sering gagal dalam hal ini. Sering kemarahan saya timbul karena saya, dan bukan karena dia. Kemarahan saya timbul karena saya tidak mau dirugikan, dan bukan karena saya ingin orang lain lebih baik. Hasilnya, jarang ada kemarahan yang tulus tanpa mengkritik atau menyerang orang lain. Film ini membuktikan kekuatan sebuah komunitas untuk mengubah melalui penerimaan. Ini tentu saja merupakan bahan perenungan bagi gereja sebagai agen penebusan dalam masyarakat.

Ketika kita melihat Lars, kita pun sebenarnya dapat belajar sesuatu darinya. Kasih sayang Lars terhadap Bianca mengajarkan kita tentang kasih tanpa syarat. Bianca adalah sebuah boneka—yang mati—tapi Lars terus memberikan perhatian kepadanya walaupun ia tidak mampu berespon. Kita sering merasa sudah seharusnya orang yang kita kasihi mengasihi kita kembali—karena kasih dan persahabatan sudah seharusnya bersifat timbal balik. Akan tetapi, bagaimana jika orang yang kita kasihi tidak mampu mengasihi kita kembali—karena sakit yang parah, misalnya? Dapatkah kita tetap mengasihinya?

Dari Lars, kita juga menyadari bahwa setiap manusia punya penjaranya masing-masing. Bagi Lars, kerumitan kepribadiannya menjadi penjara, tetapi ia tidak sadar bahwa dirinya sedang berada dalam penjara. Dalam pikirannya, Karinlah yang bermasalah: “I’m worried about her. I think she has a little problem. … I think it’s because she’s insecure, … she’s just always trying to hug everybody. You know, some people don’t like that. … But she doesn’t realize that.” Padahal, sebenarnya Lars-lah yang tidak dapat menerima sentuhan fisik dari siapapun. “It does not feel good. It, it hurts. … Like a burn.” Karena itulah ia merasa aman dengan Bianca. Sebagian dari kita mungkin menyadari kelemahan—maupun keanehan—kita, tapi sebagian kita tidak, dan siapa tahu kita termasuk kelompok yang terakhir. Menyadari hal ini—bahwa kita pun belum tentu lebih ‘normal’ daripada orang lain—kita seharusnya lebih siap menerima orang lain dalam segala keberbedaannya dengan kita.

Lars and the Real Girl begitu sederhana. Namun, unsur penebusan dihadirkan dengan kuat. Keajaiban film ini terletak pada bagaimana orang-orang dalam komunitas Lars tiba pada kesepakatan bersama untuk memperlakukan Bianca sama seperti Lars memperlakukannya. Meski memakan waktu yang cukup panjang, melalui penerimaan mereka terhadap Lars, Lars pun perlahan-lahan keluar dari kepompongnya dan akhirnya bebas.

Ketika kita mengingat kasih Tuhan yang rela turun menjadi serupa dengan manusia, kiranya kita juga menyadari bahwa tidak ada penebusan tanpa inkarnasi. Film ini merupakan contoh yang baik untuk mengilustrasikan kebenaran ini. Orang-orang di sekitar Lars berinkarnasi, dan melalui inkarnasi, penebusan terjadi. Bagaimana dengan kita? Dalam kesempatan Natal tahun ini, mari kita merenungkan sekali lagi, sudahkah kita menghadirkan penebusan di mana pun kita berada?

Diadaptasi dari “Penebusan dalam The Shawshank Redemption dan Lars and the Real Girl,” Pillar No. 53, Desember 2007.


About this entry