An Alarm to the Unconverted

Starting from today, I would like to post Indonesian translation of the book “An Alarm to the Unconverted” by Joseph Alleine. The book title in Indonesian is “Peringatan bagi Yang Belum Bertobat.”

Joseph Alleine was a Puritan, born in 1634. He studied at Oxford. As to what kind of man he was, below is an excerpt from the biographical introduction of the book:

Alleine’s whole life was an illustration of his saying, ‘Give me a Christian that counts his time more than gold.’ When the week began he would say, ‘Another week is now before us, let us spend this week for God,’ and each morning, ‘Now let us live this one day well!’ ‘All the time of his health,’ writes his wife, ‘he did rise constantly at or before four o’clock, and on the Sabbath sooner, if he did wake; he would be much troubled if he heard any smiths, or shoemakers, or such tradesmen, at work at their trades before he was in his duties with God; saying to me after, “O how this noise shames me! doth not my master deserve more than theirs?” From four till eight he spent in prayer, holy contemplation, and singing of psalms, which he much delighted in, and did daily practise alone, as well as in his family.’

… [He] spent five afternoons every week following up the urgent calls to the unconverted which sounded forth Sunday by Sunday from beneath the stately tower of Mary Magdalen. He kept a catalogue of the names of the inhabitants of each street and saw that all were visited and catechized. This resulted in a numerous ingathering of souls.

As to what this book is about,

This book embodies the substance of Alleine’s message and in so doing provides a true model of Puritan evangelism. Phraseology must differ from age to age and gifts from man to man, but here, we have no hesitation in saying, are the principles which must be present in any true presentation of the Gospel. More than one great evangelist has had his views moulded by [this book]. George Whitefield, while still a student at Oxford, tells us in his Journals how Alleine’s Alarm ‘much benefited’ him. Charles Haddon Spurgeon records how, when he was a child, his mother would often read a piece of Alleine’s Alarm to them as they sat round the fire on a Sunday evening, and when brought under conviction of sin it was to his old book he turned. ‘I remember,’ he writes, ‘when I used to awake in the morning, the first thing I took up was Alleine’s Alarm, or Baxter’s Call to the Unconverted. Oh those books, those books! I read and devoured them….’ With his heart thus burning with the fire of Puritan divinity, Spurgeon was prepared to follow in the steps of Alleine and Whitefield.

Mulai hari ini, saya akan menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia buku “An Alarm to the Unconverted” karya Joseph Alleine. Judul buku tersebut dalam bahasa Indonesia adalah “Peringatan bagi Yang Belum Bertobat.”

Josepth Alleine adalah seorang Puritan, lahir di tahun 1634. Ia belajar di Oxford. Mengenai orang seperti apa dirinya, di bawah ini adalah cuplikan dari introduksi biografis buku tersebut:

Seluruh hidup Alleine merupakan ilustrasi perkataannya, ‘Berikan kepadaku seorang Kristen yang menghitung waktunya lebih daripada emas.’ Setiap awal minggu ia akan berkata, ‘Minggu yang baru sekarang ada di depan kita, mari kita menggunakan minggu ini untuk Tuhan,’ dan setiap pagi, ‘Sekarang mari kita hidup dengan baik hari ini!’ ‘Selama ia sehat,’ tulis istrinya, ‘ia selalu bangun pada atau sebelum jam empat, dan pada hari Sabat lebih awal, jika ia bangun; ia akan sangat gelisah jika ia mendengar tukang besi, atau tukang sepatu, atau pedagang-pedagang lainnya, bekerja sebelum ia menjalankan tugasnya dengan Tuhan; dan berkata kepadaku, “O betapa suara ini membuat aku malu! tidakkah tuanku layak mendapatkan lebih daripada tuan mereka?” Dari jam empat sampai delapan ia berdoa, merenung, dan menyanyikan mazmur, yang ia sangat sukai, dan mengerjakan latihan rohani sehari-hari baik sendiri maupun dalam keluarganya.’

… [Ia] menghabiskan lima siang setiap minggu untuk menindaklanjuti seruan mendesaknya kepada orang-orang yang belum bertobat yang dikumandangkan Minggu demi Minggu dari bawah menara agung Mary Magdalen. Ia menyimpan sebuah katalog nama-nama penghuni setiap jalan dan memastikan bahwa semuanya dikunjungi dan dikatekisasi. Ini menghasilkan tuaian jiwa-jiwa yang sangat banyak.

Mengenai isi buku ini,

Buku ini mengandung inti khotbah Alleine dan dengan demikian menyediakan sebuah model penginjilan Puritan yang sesungguhnya. Kata-kata berbeda dari zaman ke zaman dan karunia dari orang ke orang, tapi di sini, kita tidak ragu, terdapat prinsip-prinsip yang harus ada dalam setiap penyampaian Injil. Lebih dari seorang penginjil besar telah dibentuk oleh [buku ini]. George Whitefield, ketika masih belajar di Oxford, menceritakan dalam catatan hariannya bagaimana Alarm Alleine ‘sangat bermanfaat’ baginya. Charles Haddon Spurgeon mencatat bagaimana, ketika ia masih anak-anak, ibunya sering membacakan sebagian dari Alarm Alleine kepada mereka sambil mereka duduk di sekitar api di hari Minggu malam, dan ketika dibawa kepada kesadaran akan dosa ia berpaling kepada buku tua ini. ‘Aku ingat,’ ia menulis, ‘ketika aku bangun pagi, hal pertama yang aku ambil adalah Alarm Alleine, atau Panggilan bagi Yang Belum Bertobat Baxter. Oh buku-buku itu, buku-buku itu! Aku membaca dan mengunyahnya….’ Dengan hatinya demikian terbakar dengan api kesalehan Puritan, Spurgeon disiapkan untuk mengikuti jejak Alleine dan Whitefield.


About this entry