Panggilan yang serius bagi orang-orang berdosa untuk berpaling kepada Tuhan

Berikut ini adalah bagian Pendahuluan dari buku “An Alarm to the Unconverted” (Peringatan bagi Yang Belum Bertobat), karya Joseph Alleine.

Saudara yang terkasih, aku dengan senang hati mengakui diriku berhutang kepadamu, dan aku ingin, supaya aku didapati sebagai seorang pelayan yang baik dalam rumah Allah, untuk memberi setiap orang bagiannya. Tapi seorang dokter paling prihatin kepada pasien-pasien yang paling meragukan dan berbahaya; dan belas kasih seorang ayah secara khusus ditujukan kepada anaknya yang hampir meninggal. Demikian juga jiwa-jiwa yang belum bertobat menuntut belas kasih dan kerja keras secepatnya untuk menarik mereka seperti ranting-ranting dari api (Yudas 23). Karena itu bagi merekalah aku terutama menulis dalam halaman-halaman ini.

Tapi dari manakah aku harus memulai? Dengan apa aku harus memenangkan mereka? O sekiranya saja aku dapat mengetahui! Aku akan menulis kepada mereka dalam air mata, aku akan menangiskan semua argumen, aku akan mengeringkan pembuluh darahku untuk tinta, aku akan memohon bagi mereka dengan berlutut. O betapa bersyukurnya aku jika mereka dapat diyakinkan untuk bertobat dan berpaling.

Betapa lama aku bekerja bagimu! Betapa sering aku mengumpulkan engkau? Ini yang aku doakan dan pelajari bertahun-tahun, yaitu supaya aku dapat membawamu kepada Allah. O sekiranya aku dapat melakukannya sekarang! Akankah engkau mendengar?

‘Tapi, Tuhan, betapa tidak mampunya aku bagi pekerjaan ini. Dengan apa aku akan menusuk sisik Lewiatan, atau membuat hati yang keras seperti batu kilangan dapat merasa? Dapatkah aku pergi dan berkata kepada kuburan, dan mengharapkan yang mati akan taat dan bangkit? Dapatkah aku berkhotbah kepada batu-batu, atau berpidato kepada gunung-gunung, dan mengira dapat menggerakkan mereka dengan argumen-argumen? Dapatkah aku membuat yang buta melihat? Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta (Yohanes 9:32). Tapi, O Tuhan, Engkau dapat menembus hati seorang berdosa. Aku hanya dapat menarik panah dan menembak dengan sembarangan saja, tapi Engkau mengarahkan anak panah di antara sambungan baju zirahnya. Matikanlah dosa, dan selamatkanlah jiwa orang berdosa yang menaruh matanya pada halaman-halaman ini.’

Tidak ada jalan masuk ke sorga selain jalan yang sempit dari kelahiran kedua; tanpa kesucian engkau tidak akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14). Karena itu berikan dirimu kepada Tuhan sekarang. Carilah Dia sekarang. Biarlah Tuhan Yesus ada dalam hatimu, dan biarlah Ia ada dalam rumahmu. Ciumlah Sang Anak (Mazmur 2:11) dan peluklah kelembutan belas kasih; sentuhlah tongkat-Nya dan hiduplah; karena buat apa engkau mati? Aku tidak memohon bagi diriku, tapi aku ingin engkau bahagia: inilah hadiah yang kukejar. Keinginan hatiku dan doaku ialah, supaya engkau diselamatkan (Roma 10:1).

Aku memohon engkau mengijinkanku untuk berbicara dengan keterbukaan dan kebebasan kepadamu dalam kepedulianmu yang terdalam. Aku tidak sedang bermain sebagai orator untuk membuat pidato yang terpelajar kepadamu, atau menghiasi pinggan dengan kefasihan demi menyenangkanmu. Baris-baris ini sangat penting memang—untuk meyakinkan, dan mempertobatkan, dan menyelamatkanmu. Aku tidak memasang umpan di kailku dengan retorika, atau memancing tepuk tanganmu, tapi untuk jiwamu. Pekerjaanku bukan untuk menyenangkanmu, tapi untuk menyelamatkanmu; urusanku bukanlah dengan seleramu, tapi dengan hatimu. Jika aku tidak memiliki hatimu, aku tidak memiliki apa-apa. Jika aku ingin menyenangkan telingamu, aku akan menyanyikan lagu. Jika aku ingin mengkhotbahkan diriku, aku akan memakai cara lain. Aku dapat menceritakan cerita yang lebih halus; aku akan membuat bantal bagimu dan berbicara damai, karena bagaimana Ahab dapat menyenangi Mikha, yang selalu menubuatkan malapetaka tentang dirinya? (1 Raja-raja 22:8). Tapi betapa lebih baiknya luka yang dibuat seorang sahabat, daripada kata-kata pelacur, yang menggoda dengan bibirnya, sampai anak panah menembus hati? (Amsal 7:21-23 dan 6:26). Jika aku ingin menenangkan bayi yang menangis, aku dapat bernyanyi supaya ia gembira, atau menggoyangkannya supaya ia tidur; tapi ketika anak itu jatuh ke dalam api, orang tuanya akan mengambil jalan lain; ia tidak akan mencoba menenangkannya dengan lagu atau hal sepele. Aku tahu, jika kami tidak berhasil, engkau terhilang; jika kami tidak dapat mendapat persetujuanmu untuk bangkit dan datang, engkau akan binasa selamanya. Tanpa pertobatan—tanpa keselamatan! Aku harus mendapatkan niat baikmu, atau meninggalkanmu sengsara.

Tapi di sini kesulitan tugasku sekali lagi mendapatiku. ‘O Tuhan, pilihlah batu-batuku dari dasar sungai (1 Samuel 17:40,45). Aku datang dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel. Aku datang, seperti Daud yang masih muda melawan Goliat, untuk bergulat, bukan melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini (Efesus 6:12). Hari ini kiranya Tuhan memukul kalah orang-orang Filistin, merampas baju zirah dari orang kuat, dan memberikan kepadaku para tawanan dari tangannya. Tuhan, pilihlah perkataanku, pilihlah senjataku bagiku; dan ketika aku memasukkan tanganku ke dalam kantong, dan mengambil sebuah batu dan menembakkannya, Engkau membawanya ke sasaran, dan membuatnya terbenam, bukan ke dalam dahi, tapi ke dalam hati orang berdosa yang belum bertobat, dan memukulnya jatuh ke tanah seperti Saulus dari Tarsus (Kisah Para Rasul 9:4).’

Beberapa dari kalian tidak tahu apa yang aku maksudkan dengan pertobatan, dan sia-sia aku mencoba meyakinkan engkau kepada sesuatu yang tidak engkau pahami. Karena itu demi engkau aku akan menunjukkan apa itu pertobatan.

Yang lain mengharapkan belas kasihan, meskipun mereka tetap seperti diri mereka. Kepada mereka aku harus menunjukkan perlunya pertobatan.

Yang lain mungkin mengeraskan hati mereka dengan kebohongan sia-sia bahwa mereka sudah bertobat. Kepada mereka aku harus menunjukkan tanda-tanda orang yang belum bertobat.

Yang lain, karena merasa aman, tidak takut apa pun, dan karena itu tertidur seperti di pucuk sebuah tiang. Kepada mereka aku harus menunjukkan kemalangan orang yang belum bertobat.

Yang lain duduk diam, karena mereka tidak melihat jalan keluar. Kepada mereka aku akan menunjukkan cara-cara pertobatan.

Dan akhirnya, untuk menghidupkan semuanya, aku akan menutup dengan motif-motif pertobatan.


About this entry