Kesalahan-kesalahan mengenai pertobatan (3)

Pertobatan tidak terletak dalam kebajikan moral. Kebajikan moral tidak melebihi kebajikan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dan karena itu tidak dapat membawa kita kepada kerajaan Allah (Matius 5:20). Paulus, ketika belum bertobat, dalam hal kebenaran mentaati hukum Taurat, adalah seorang yang tidak bercacat (Filipi 3:6). Orang Farisi dapat berkata, ‘Aku bukanlah perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah,’ dan lain-lain. (Lukas 18:11). Engkau harus memiliki sesuatu lebih daripada semua ini, atau jika tidak, bagaimanapun engkau membenarkan dirimu, Tuhan akan menghukum engkau. Aku tidak menghina moral, tapi aku memperingatkan engkau untuk tidak beristirahat di dalamnya. Kesalehan mengandung moral, sebagaimana kekristenan mengandung kemanusiaan, dan sebagaimana amugerah mengandung akal budi; tapi kita tidak boleh menjadikannya terpisah.

Pertobatan tidak terdiri dari konformitas eksternal kepada aturan-auturan kesalehan. Nyata bahwa orang bisa secara lahiriah menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya memungkiri kekuatannya (2 Timotius 3:5). Orang bisa berdoa panjang (Matius 23:14), dan sering berpuasa (Lukas 18:12), dan mendengar dengan senang (Markus 6:20), dan sangat giat dalam melayani Tuhan, meskipun memerlukan banyak pengorbanan dan biaya (Yesaya 1:11), namun tidak terhitung di antara mereka yang bertobat. Mereka harus punya lebih dari sekedar pergi ke gereja, memberi persembahan, dan berdoa, untuk membuktikan diri mereka petobat-petobat yang sejati. Tidak ada pelayanan secara lahiriah yang tidak dapat dilakukan oleh seorang munafik, bahkan sampai membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padanya, bahkan menyerahkan tubuhnya untuk dibakar (1 Korintus 13:3).

(bersambung…)


About this entry