Natur pertobatan (6)

[1] Pikiran.
Pertobatan membalikkan neraca keputusan, sehingga Tuhan dan kemuliaan-Nya lebih berat daripada segala keinginan kedagingan dan keduniawian. Pertobatan membuka mata pikiran, dan membuat selaput ketidakpeduliannya gugur, dan memalingkan manusia dari kegelapan menuju terang. Orang yang sebelumnya tidak melihat bahaya dalam kondisinya, sekarang menyimpulkan dirinya terhilang dan selamanya binasa (Kisah Para Rasul 2:37) kecuali diperbarui oleh kuasa kasih karunia. Ia yang sebelumnya berpikir hanya ada sedikit kejahatan dalam dosa, sekarang melihatnya sebagai kejahatan terbesar. Ia melihat dosa sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, tidak benar, rusak, dan jijik; sehingga ia takut, benci, lari darinya, dan bahkan merasa mual terhadap dirinya sendiri karenanya (Roma 7:15; Ayub 42:6; Yehezkiel 36:31). Ia yang dapat melihat sedikit dosa dalam dirinya, dan tidak menemukan sesuatu untuk diakui, sekarang melihat kebusukan hatinya, kekotoran seluruh naturnya yang tak tertolong dan mendalam. Ia berseru, ‘Najis! Najis! Tuhan, bersihkanlah aku dengan hisop, basuhlah aku dengan menyeluruh, jadikanlah hatiku tahir.’ Ia melihat dirinya seluruhnya bejat, korup baik akar maupun ranting (Mazmur 14:3; Matius 7:17-18). Ia menulis ‘najis’ di atas semua anggota tubuhnya, dan kekuatan, dan kelakuannya (Yesaya 64:6; Roma 7:18). Ia menemukan sudut-sudut bejat yang tidak pernah ia sadari, dan melihat hujat, pencurian, pembunuhan, dan perzinahan, yang ada dalam hatinya, yang sebelumnya ia tidak peduli. Sebelumnya ia tidak melihat keindahan dalam Kristus, sehingga ia harus merindukan-Nya; namun sekarang ia menemukan Harta Terpendam, dan bersedia menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu. Kristus adalah Mutiara yang ia cari.

Sekarang, menurut pencerahan yang baru ini, orang tersebut mempunyai pikiran yang lain, keputusan yang lain, dari yang ia punyai sebelumnya. Sekarang Tuhan bersamanya, ia tidak memiliki siapapun di sorga atau di bumi seperti Dia; ia betul-betul menginginkan Dia lebih dari segala dunia. Perkenanan Tuhan adalah hidupnya, cahaya wajah-Nya melebihi jagung, anggur, dan minyak (hal-hal baik yang sebelumnya ia kejar, dan atasnya ia menaruh hatinya. Mazmur 4:6-7). Seorang munafik bisa datang kepada persetujuan umum bahwa Tuhan adalah kebaikan yang paling utama; bahkan, orang-orang kafir yang bijak, sedikit dari mereka, paling tidak mereka pernah menemukan kebenaran ini. Namun tidak ada orang munafik datang sejauh melihat Tuhan sebagai kebaikan yang paling dirindukan dan diperlukannya, dan berserah kepada-Nya. Inilah suara seorang petobat: ‘Tuhan adalah bagianku, kata jiwaku. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya’ (Ratapan 3:24; Mazmur 73:25-26).

(bersambung…)


About this entry