Natur pertobatan (7)

Pertobatan membalikkan bias kehendak baik cara maupun tujuannya. Keinginan kehendak diubahkan. Sekarang ia memiliki tujuan dan cara yang baru. Ia sekarang mengingini Tuhan lebih daripada semuanya, dan tidak merindukan serta mencari apapun dalam dunia, sebagaimana ia menginginkan Kristus dimuliakan dalam dirinya. Ia menganggap dirinya lebih berbahagia dalam hal ini daripada segala sesuatu yang dapat diberikan oleh bumi, yaitu bahwa ia boleh melayani Kristus, dan membawa kemuliaan bagi-Nya. Inilah sasaran yang ia tuju, yaitu supaya nama Yesus dibesarkan di dunia.

Pembaca, apakah engkau membaca ini tanpa bertanya kepada dirimu sendiri apakah demikian halnya denganmu? Berhentilah sejenak, dan selidikilah dirimu.

Pilihannya juga berubah. Ia memilih Tuhan sebagai kebahagiaannya, dan Kristus dan kesucian sebagai cara membawanya kepada Tuhan. Ia memilih Yesus sebagai Tuhannya. Ia tidak sekedar dipaksa kepada Kristus oleh badai, atau mengambil Kristus sebagai kebutuhan belaka, tapi ia datang dengan rela. Pilihannya tidak dibuat dalam ketakutan, seperti dengan hati nurani yang ngeri, atau orang berdosa yang sekarat yang sepertinya mau melakukan apapun untuk Kristus, melainkan ia hanya menginginkan Kristus ketimbang neraka. Ia dengan sengaja bertekad bahwa Kristus adalah pilihan terbaiknya, dan lebih memilih Dia daripada segala kebaikan dunia, yang bisa ia nikmati selagi ia mau (Filipi 1:23). Lagipula, ia mengambil kesucian sebagai jalannya; ia tidak tunduk kepadanya karena keharusan belaka, tetapi ia menyukainya dan mencintainya. ‘Aku memilih titah-titah-Mu’ (Mazmur 119:173). Ia mengambil peringatan-peringatan Tuhan bukan sebagai ikatannya, tapi warisannya; ya, warisan selamanya. Ia menganggapnya bukan sebagai beban, melainkan bahagia; bukan pengikat, melainkan pemikat (1 Yohanes 5:3; Mazmur 119:14, 16, 47). Ia tidak hanya memikul, melainkan bersedia mengambil kuk Kristus. Ia tidak mengambil kesucian seperti perut menerima obat yang memuakkan, yang dipilih seseorang daripada ia mati, melainkan seperti seorang lapar mengambil makanan yang disukainya. Tidak ada waktu yang berlalu sedemikian manis, ketika ia sendiri, seperti waktu yang dilaluinya dalam latihan kekudusan. Latihan-latihan ini merupakan makanan dan habitat naturalnya, kerinduan matanya dan sukacita hatinya.

Taruhlah dalam hati nuranimu apakah engkau orang sedemikian. O berbahagialah, jika ini engkau! Tapi pastikan bahwa engkau total dan tidak berat sebelah dalam penyelidikanmu.

(bersambung…)


About this entry