Natur pertobatan (8)

Pertobatan membalikkan kecenderungan afeksi. Afeksi berjalan di jalur yang baru. Sungai Yordan sekarang dibalikkan, dan airnya mengalir ke atas melawan arah naturalnya. Kristus ialah pengharapannya. Inilah hadiahnya. Di sinilah matanya: di sinilah hatinya. Ia bersedia membuang semua barang keluar kapal, seperti pedagang yang hampir mati dalam badai, sehingga ia boleh mempertahankan permata ini.

Yang pertama dirindukannya bukanlah emas, melainkan kasih karunia. Ia lapar akan kasih karunia, ia mencarinya seperti perak, ia menggalinya seperti harta terpendam. Ia lebih memilih menjadi penuh kasih daripada menjadi besar. Ia lebih memilih menjadi orang yang paling suci dalam dunia daripada menjadi yang paling terpelajar, paling terkenal, paling kaya. Ketika masih duniawi, ia berkata, ‘O jika aku ada dalam kedudukan terpandang, bermandikan harta, dan berenang dalam kenikmatan; jika hutang-hutangku dibayar, dan segala kebutuhanku dan keluargaku tersedia, maka aku akan menjadi seorang yang bahagia.’ Tapi sekarang nadanya berubah. ‘Oh!’ kata orang yang bertobat, ‘jika kebejatanku ditaklukkan, jika aku memiliki kasih karunia, dan persekutuan dengan Tuhan, meskipun aku miskin dan terbuang aku tidak peduli, aku menganggap diriku seorang yang berbahagia.’ Pembaca, inikah bahasa jiwamu?

Sukacitanya diubah. Ia bersukacita dalam peringatan-peringatan Tuhan seperti dalam segala kekayaan. Ia menyukai hukum Tuhan, yang tidak disukainya dulu. Ia tidak memiliki sukacita yang mengalahkan pikiran-pikiran akan Kristus, kepuasan dalam persekutuan dengan-Nya, kebahagiaan umat-Nya.

Kepentingan-kepentingannya berubah. Dunia dulu menjadi tujuannya, dan waktu luang cukup bagi jiwanya. Sekarang seruannya yaitu, ‘Apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ (Kisah Para Rasul 16:30). Kepeduliannya yang besar yaitu bagaimana menyelamatkan jiwanya. O bagaimana ia akan berterima kasih kepadamu, jika engkau dapat sekedar melepaskannya dari keragu-raguan mengenai hal ini!

Ketakutannya akan penderitaan tidak menyamai ketakutannya akan dosa. Dulu yang paling ia takuti yaitu kehilangan harta dan reputasinya; tidak ada yang kedengaran begitu menakutkan baginya seperti sakit, kemiskinan, atau penghinaan. Sekarang hal-hal ini kecil baginya, dibandingkan dengan kegagalan memuliakan atau memperkenan Tuhan. Bagaimana berhati-hati ia berjalan, supaya ia jangan menapaki jebakan! Ia melihat ke depan, dan ke belakang: ia menaruh matanya di hatinya, dan sering memandang ke atas, supaya ia jangan ditaklukkan oleh dosa. Memikirkan kehilangan kasih Tuhan mematikan hatinya; ini sangat ia takuti sebagai satu-satunya sumber kehancurannya. Tidak ada pikiran yang lebih menyakitkan dirinya seperti memikirkan keterpisahan dengan Kristus.

Kasihnya berjalan dalam arah yang baru. ‘Kasihku disalibkan,’ kata Ignatius, maksudnya, Kristusku. ‘Demikianlah kekasihku,’ kata sang suami (Kidung Agung 5:16). Betapa sering Augustine mencurahkan kasihnya kepada Kristus! Ia tidak dapat menemukan kata-kata yang cukup manis. ‘Biarkan aku melihat Engkau, O Cahaya mataku. Datanglah, O Engkau Sukacita rohku; Biarkan aku memandang Engkau, O Kebahagiaan hatiku. Biarkan aku mengasihi Engkau, O Hidup jiwaku. Tampaklah kepadaku, O kesukaanku yang besar, penghiburanku yang manis, O Tuhanku, hidupku, dan segenap kemuliaan jiwaku. Biarkan aku menemukan Engkau, O Kerinduan hatiku; biarkan aku memegang Engkau, O Kasih jiwaku. Biarkan aku memeluk Engkau, O Mempelai Sorgawi. Biarkan aku memiliki Engkau.’

Dukacitanya sekarang memiliki pintu yang baru (2 Korintus 7:9-10). Pemandangan dosa-dosanya, pemandangan Kristus tersalib, yang sebelumnya hampir tidak dapat menggerakkannya, sekarang betapa itu menyentuh hatinya!

Kebenciannya mendidih, kemarahannya terbakar terhadap dosa. Ia tidak memiliki kesabaran terhadap dirinya sendiri; ia menyebut dirinya dungu, dan hewan, dan berpikir nama apapun terlalu baik baginya, ketika kemarahannya dikobarkan terhadap dosa (Mazmur 73:22; Amsal 30:2). Ia dulu bisa berkubang di dalamnya dengan kesenangan yang besar; sekarang ia jijik terhadap pikiran kembali ke situ sejijik menjilat muntahan yang paling kotor.

Bercakaplah dengan hatimu sendiri, dan perhatikan arus afeksimu, apakah itu mengarah kepada Tuhan dalam Kristus melebihi segala urusan. Memang, afeksi yang tiba-tiba dan kuat sering ditemukan dalam orang-orang munafik, khususnya jika temperamen naturalnya hangat. Dan sebaliknya, orang-orang yang disucikan sendiri sering tanpa gerakan afeksi yang disadari, di mana temperamen lebih pelan, kering, dan bosan. Pertanyaan besarnya yaitu, apakah pertimbangan dan kehendak secara mantap berketetapan untuk Tuhan lebih daripada segala kebaikan yang lain, baik yang nyata maupun kelihatan. Jika demikian, dan jika afeksi sungguh-sungguh mengikuti pilihan dan sikap, meskipun tidak sekuat dan seperasaan sebagaimana yang dirindukan, tidak ada keraguan bahwa perubahan yang terjadi benar-benar menyelamatkan.

(bersambung…)


About this entry