Natur pertobatan (10)

[3] Hidup dan tingkah laku.
Orang yang baru mengambil jalan yang baru (Efesus 2:2-3). Percakapannya ada di dalam sorga (Filipi 3:20). Ketika Kristus memanggil dengan kasih karunia yang efektif, pada saat itu juga ia menjadi pengikut-Nya. Ketika Tuhan memberinya hati yang baru, dan menuliskan hukum-Nya dalam pikirannya, ia segera berjalan dalam ketetapan-ketetapan-Nya dan melakukan perintah-perintah-Nya.

Meskipun dosa mungkin tinggal dalam dirinya—sungguh tamu yang melelahkan dan tidak dikehendaki—dosa tidak lagi berkuasa atasnya. Ia berbuah bagi kesucian, dan meskipun ia membuat banyak noda, hukum dan hidup Yesus adalah apa yang ia lihat sebagai polanya, dan ia memiliki rasa hormat yang tulus terhadap semua perintah Tuhan. Ia sadar bahkan akan dosa-dosa kecil dan tugas-tugas kecil. Kelemahan-kelemahannya yang tidak dapat ia hindari, meskipun ia ingin, merupakan beban jiwanya, dan bagaikan debu di mata seseorang, yang meskipun kecil, membuat masalah yang tidak kecil. (O manusia, apakah engkau membaca ini, dan tidak berhenti menyelidiki dirimu sendiri?) Petobat yang tulus bukan orang yang satu di gereja dan orang yang lain di rumah. Ia bukan seorang kudus di atas lututnya dan seorang penipu di tokonya. Ia tidak akan memberikan persepuluhan dari selasih dan jintan, dan mengabaikan belas kasihan dan keadilan, dan hal-hal yang lebih penting dalam hukum Taurat. Ia tidak berpura-pura saleh dan mengabaikan moralitas. Namun ia berpaling dari segala dosa-dosanya dan melakukan seluruh ketetapan-ketetapan Tuhan, meskipun tidak sempurna kecuali dalam keinginan dan jerih payah, namun dengan tulus, tidak membiarkan dirinya melanggar satupun. Sekarang ia menyukai Firman, dan menyediakan dirinya bagi doa, dan membuka tangannya dan mengeluarkan jiwanya bagi orang-orang lapar. Ia mematahkan dosa-dosanya dengan melakukan kebenaran, dan pelanggaran-pelanggarannya dengan menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang miskin (Daniel 4:27). Ia memiliki hati nurani yang baik, dalam segala hal menginginkan hidup yang baik (Ibrani 13:18), dan tidak menyakiti Tuhan maupun manusia.

Di sini sekali lagi engkau menemukan ketidaklengkapan banyak orang yang menganggap diri mereka orang-orang Kristen yang baik. Mereka memandang bulu dalam hukum Taurat (Maleakhi 2:9), dan mengambil tugas-tugas keagamaan yang ringan dan mudah, tapi mereka tidak menyelesaikannya. Mereka seumpama kue yang setengah masak dan setengah mentah. Mungkin engkau menjumpai mereka jujur dalam perkataan mereka, tepat waktu, tapi mereka tidak melatih diri mereka dalam kesalehan; dan dalam menguji diri dan menguasai hati mereka, mereka asing. Engkau mungkin melihat mereka taat di gereja; tapi ikutilah mereka ke keluarga mereka, dan di sana engkau akan melihat sedikit selain orang yang berpikiran duniawi; atau jika mereka menjalankan kewajiban-kewajiban keluarga, ikutilah mereka ke kamar mereka, dan di sana engkau akan menjumpai jiwa mereka sedikit dipelihara. Mungkin mereka kelihatan beribadah, tetapi mereka tidak mengekang lidah mereka, dan dengan demikian seluruh ibadah mereka sia-sia (Yakobus 1:26). Mungkin mereka datang ke kamar dan doa keluarga; tapi ikutilah mereka ke toko mereka, dan di sana engkau menemukan mereka dalam kebiasaan berbohong, atau cara menipu yang modern. Jadi orang munafik tidak menyeluruh dalam ketaatannya.

(bersambung…)


About this entry