Petunjuk Alkitabiah untuk Menjalin Persahabatan

Artikel berikut ini diterjemahkan dari artikel Biblical Guidelines for Cultivating Friendship, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 16 Juli 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara” (Amsal 18:24).

Hal persahabatan sejati pada umumnya jarang dibahas di zaman ini. Masyarakat zaman sekarang begitu cepat dan materialis sehingga sedikit orang yang memiliki waktu untuk persahabatan yang sejati dan awet, kecuali untuk persiapan pernikahan. Nampaknya banyak orang terlalu sibuk untuk memiliki sahabat-sahabat yang sejati. Akan tetapi, persahabatan yang superfisial begitu banyak. Persahabatan semacam ini dipelihara seringkali karena alasan-alasan ekonomi. Mereka yang kaya atau berada di posisi yang berpengaruh seringkali nampak memiliki banyak sahabat, sementara yang miskin dan tidak siginifikan nampak memiliki sedikit sahabat. Masalah ini jelas terlihat pada hari-hari raya ketika orang yang kaya dan berkedudukan biasanya mendapat banyak hadiah ketika mereka sebenarnya tidak memerlukan itu semua; sementara yang miskin biasanya tidak mendapatkan apa-apa. Situasi yang buruk ini kelihatannya merupakan masalah hanya di zaman dan masyarakat kita sekarang. Tapi sebenarnya tidak demikian; situasi ini adalah masalah dasar umat manusia yang sudah rusak. Salomo, menulis sekitar 3000 tahun yang lalu, telah mengamati masalah ini. Ia berkata, “Juga oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak” (Amsal 14:20); dan “Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya” (Amsal 19:4). Ayat-ayat ini begitu singkat dan padat sehingga upaya menjelaskannya hanya akan mengaburkan arti dan ketajamannya.

Manusia rata-rata egois dan punya tendensi bersahabat dengan orang-orang kaya, karena ia dapat memperoleh keuntungan dari mereka. Tapi masalahnya yaitu “harta benda tidaklah abadi” (Amsal 27:24), harta “tiba-tiba … bersayap, lalu terbang ke angkasa” (Amsal 23:5). Dan ketika itu terjadi, begitu pula halnya dengan persahabatan yang dibangun di atas dasar kekayaan. Karena alasan inilah sahabat-sahabat Ayub muak terhadapnya ketika mala petaka menimpanya (Ayub 19:19). Pada akhirnya hanya empat dari sahabat-sahabatnya yang tinggal, dan mereka pun tidak begitu membantunya.

Menjalin persahabatan dengan motivasi egois jelas-jelas berdosa dan tidak boleh ada di antara orang-orang Kristen. Tapi bagaimana seharusnya seorang anak Tuhan membangun dan memelihara persahabatan? Bagaimana kita menjalin persahabatan yang sejati dan awet? Ijinkan saya menyarankan enam petunjuk dari Alkitab:

Mengerti Kenyataan Perbedaan Tingkatan dalam Persahabatan

Pengalaman mengajarkan kita bahwa persahabatan dapat dibagi secara kasar ke dalam empat tingkatan. Pertama, tingkatan perkenalan. Ini persahabatan di antara mereka yang mengenal satu sama lain dari wajah atau mungkin dari nama, dan itu saja. Kedua, tingkatan persahabatan saudara. Ini persahabatan di antara mereka yang tahu sedikit lebih banyak mengenai satu sama lain, kadang-kadang menghabiskan waktu dengan satu sama lain, dan siap membantu jika diminta. Sahabat Kristen pada tingkatan ini akan berdoa bagi satu sama lain ketika mereka tahu adanya suatu masalah. Tingkatan ketiga bisa disebut sebagai persahabatan membuka diri. Ini persahabatan di antara mereka yang bisa membuka diri satu dengan yang lain, dan akan berdoa bersama dan untuk satu sama lain secara teratur. Bisa dibilang, tiga sahabat Ayub—dengan segala maksud baik mereka yang kurang tepat—dapat dimasukkan dalam kategori ini karena mereka tinggal dengan Ayub bahkan ketika semua sahabatnya yang lain meninggalkannya. Kita berkata ‘bisa dibilang’ karena kesetiaan mereka kepada spekulasi teologi mereka mengenai mala petaka yang menimpa Ayub nampaknya mengaburkan simpati yang sejati yang seharusnya mereka tunjukkan kepada Ayub. Tingkatan yang terakhir bisa disebut sebagai persahabatan sepenuh hati. Pada tingkatan ini, mereka tidak terpisahkan (bahkan oleh jarak), dan bersedia menderita demi satu sama lain. Persahabatan antara suami dan istri harus ada dalam tingkatan ini. Tapi persahabatan ini dapat ditemukan juga di luar pernikahan, misalnya dalam kasus Daud dan Yonatan.

Sedikit komentar dapat diberikan berdasarkan pengamatan ini. Pertama, sementara tidak mungkin dan tidak bijak untuk menjadi sahabat saudara dengan setiap orang yang kita temui, seorang Kristen harus bersedia mengenal sebanyak mungkin orang, termasuk orang-orang yang tidak percaya. Siapa tahu kesempatan yang dibawa Providensia untuk kita bersaksi bagi Tuhan Yesus Kristus—“sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Lukas 7:34). Tapi dalam persahabatan kita dengan orang-orang tidak percaya dalam dunia, kita harus selalu ingat bahwa “persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah” (Yakobus 4:4), yaitu kita tidak boleh pernah menyetujui perbuatan-perbuatan jahat mereka di dalam dunia. Kita harus juga terus ingat peringatan Rasul Paulus: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan [moral dan karakter] yang baik” (1 Korintus 15:33). Menghabiskan banyak waktu dengan sahabat-sahabat duniawi akan selalu menghasilkan buah-buah yang tidak baik. Ada banyak bijaksana dalam nasehat Thomas Watson:

Jangan bersatu dengan perkumpulan orang-orang jahat, atau menjadi terlalu akrab dengan mereka. Orang-orang jahat adalah pembenci Tuhan, dan “Sewajarnyakah engkau … bersahabat dengan mereka yang membenci Tuhan?” (2 Tawarikh 19:2). Seorang Kristen terikat, oleh janji kesetiaannya kepada Tuhan dalam baptisan, untuk tidak bergaul dekat dengan mereka yang adalah musuh-musuh Tuhan. Yang jahat akan segera merusakkan yang baik, ketimbang yang baik merusakkan yang jahat.

Kedua, setiap orang Kristen—khususnya dalam gereja lokal—harus berusaha untuk menjalin persahabatan saudara, jika bukan persahabatan membuka diri, dengan setiap anggota gereja. Jika kita hanya mengenal sesama anggota gereja, akan cukup sulit bagi kita untuk menanggung beban satu sama lain dan dengan demikian memenuhi hukum Kristus (Galatia 6:2); atau “berbuat baik … terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Galatia 6:10); atau mengasihi satu sama lain sehingga semua orang tahu bahwa kita adalah murid-murid Kristus (Yohanes 13:35). Saya katakan persahabatan sulit dikatakan sejati kecuali persahabatan itu paling sedikit bersifat saudara.

Ketiga, jika untuk alasan tertentu, Anda tidak dapat menjali persahabatan yang dekat dengan setiap anggota gereja, Anda harus tahu bahwa kebencian tidak boleh ada dalam gereja. “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20).

Keempat, sementara Anda dapat mencoba untuk menjadi seorang sahabat membuka diri atau sepenuh hati dengan setiap orang di gereja, cukup tidak mungkin, dan karena itu Anda tidak boleh mengharapkan dengan tidak realistis setiap orang di gereja untuk bersahabat dengan Anda seperti itu, atau Anda akan sangat kecewa.

Memulai dan Memelihara Persahabatan

“Seseorang yang memiliki sahabat harus menunjukkan dirinya bersahabat” (Amsal 18:24a). Instruksi sederhana ini (diterjemahkan dari Authorised Version) mengingatkan kita dua fakta tentang memulai dan memelihara persahabatan. Pertama, instruksi ini mengingatkan kita bahwa persahabatan melibatkan lebih dari satu pihak. Anda tidak dapat mengharapkan banyak sahabat jika Anda sendiri, dengan tindakan dan kata-kata Anda, menolak untuk bersahabat atau memelihara persahabatan yang sudah dibangun. Contohnya, tidak seorangpun suka orang yang gampang marah. Kita bahkan dinasehati oleh Firman Allah untuk tidak bersahabat dengan orang seperti itu: “Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah” (Amsal 22:24). Karena itu, jika Anda ingin menjadi seorang sahabat sejati buat seseorang, kita harus belajar mengontrol kemarahan kita. Kedua, instruksi ini menyarankan kita bahwa setiap orang punya tanggung jawab untuk membangun dan menjalin persahabatan. Ini bagian dari menunjukkan diri kita bersahabat. Kita harus ingat bahwa setiap kali Alkitab memerintahkan kita, perintah itu harus dilakukan seperti kepada Tuhan, dan bukan saja untuk manusia. Hal yang sama berlaku untuk persahabatan. Meskipun beberapa dari kita mungkin secara natur sangat pendiam dan kesulitan memulai persahabatan, kita harus mencoba atau menempatkan diri kita di situasi di mana kita dapat didekati oleh orang lain.

Bagaimana kita melakukannya? Pertama-tama, saya menyarankan supaya kita menghadiri sebanyak mungkin pertemuan gereja. Jika Anda merasa canggung di kebaktian pagi hari Sabat karena terlalu banyak orang, tidakkah Anda mau datang ke kebaktian sore dan pertemuan doa? Kebanyakan orang yang menghadiri pertemuan-pertemuan ini menemukan lebih banyak kesempatan untuk bersahabat. Jelas, kita seharusnya tidak datang ke alat-alat kasih karunia yang ditetapkan ini dengan tujuan utama bersekutu. Sebaliknya kita harus datang untuk beribadah, berdoa, dan belajar. Tapi saya ingin mengingatkan Anda bahwa Anda berada di posisi untuk membantu diri Anda sendiri jika Anda kesulitan memulai persahabatan di gereja. Kedua, saya menyarankan supaya kapan pun kita memiliki kesempatan untuk bersekutu, kita memakai kesempatan-kesempatan itu dengan menghampiri orang lain untuk berbicara kepada mereka. Suami istri, pasangan, dan mereka yang sudah memiliki kelompok harus berhati-hati untuk tidak memberikan kesan bahwa mereka tertutup bagi siapa pun untuk bergabung dengan mereka dalam percakapan mereka. Malah, mereka harus berusaha untuk melibatkan siapapun yang berdiri di dekat mereka ke dalam percakapan. Lebih dari itu, jika mungkin, mereka yang sudah punya sahabat-sahabat dekat seharusnya tidak menghabiskan seluruh waktu mereka berbicara dengan mereka, tapi harus menjangkau siapapun yang berdiri atau duduk sendiri dan bersahabat dengannya.

Betapa saya ingin melihat dalam persekutuan, tidak seorangpun yang tertinggal. Ini menjadi tanda bahwa jemaat semakin dewasa.

Setia, Tidak Egois, dan Jujur

Salah satu sifat paling penting yang kita harus tumbuhkan untuk menjadi seorang sahabat sejati yaitu menjadi setia, tidak egois, dan jujur dalam persahabatan kita. Praktisnya, ini berarti bahwa Anda harus tetap menjadi seorang sahabat sekalipun persahabatan tersebut telah kehilangan nilai-nilai sementara yang pernah ada. Yonatan adalah seorang sahabat yang setia bagi Daud karena ia tetap menjadi sahabatnya meskipun ia tahu bahwa Daud akan suatu hari mengambil takhta sebagai ganti dirinya. Aturan pertama dan paling penting untuk menjalin persahabatan yang sejati bukanlah melihat persahabatan tersebut untuk diri Anda sendiri, tapi untuk kebaikan sahabat Anda. Maka Amsal memberi tahu kita bahwa seseorang yang memiliki keinginan egois dalam persahabatan akan menyendiri: “Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan” (Amsal 18:1). Menjadi seorang sahabat yang jujur dan setia juga berarti menjadi seorang sahabat setiap waktu, dan dengan demikian memperlakukan sahabat Anda seperti seorang saudara: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Amsal 17:17); dan “ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara” (Amsal 18:24b). Kita harus selalu berusaha menjalin persahabatan seperti ini di gereja.

Tuhan Yesus adalah teladan kita yang paling sempurna. Meskipun Ia Tuhan kita, Ia memanggil kita sahabat-sahabat-Nya (Yohanes 15:15), dan Ia memberikan nyawa-Nya bagi kita: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Anda yang adalah milik Kristus harus belajar dari teladan-Nya, untuk setia dan jujur kepada saudara Anda dalam Kristus. Meskipun kita mungkin tidak dapat membuka diri kepada setiap orang di gereja, kita harus berusaha untuk mengasihi setiap orang seperti Kristus mengasihi kita: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” (1 Yohanes 3:16).

Belajar Membagi Berkat & Beban dan Berempati atau Bersimpati

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Roma 12:15). Ayat yang sering dikutip ini tidak hanya memerintahkan sebuah tugas Kristen yang penting dalam persekutuan orang-orang kudus, tapi juga memberikan kita suatu prinsip penting untuk membangun persahabatan. Persahabatan dibangun melalui perhatian timbal balik. Akan tetapi, persahabatan yang dalam dibangun berdasarkan saling membagi suka dan duka. Pepatah tua, “Berkat yang dibagi digandakan dan beban yang dibagi dijadikan setengah,” mencerminkan apa yang ditunjukkan pengalaman kepada kita mengenai keuntungan menaati instruksi rohani ini. Ketika kita merasakan sukacita seseorang yang bersukacita, kita menambah sukacitanya dalam keyakinan bahwa ia tidak bahagia secara egois sementara orang lain disakiti atau disedihkan dengan apa yang terjadi atau tercapai (bdk. Pengkhotbah 4:9). Ketika kita ikut menanggung beban seseorang, kita menghibur ia yang sedang bersedih, dalam pengetahuan bahwa ada orang-orang lain yang peduli dan bersimpati dan akan berdoa dengannya (bdk. Pengkhotbah 4:10).

Anda mungkin tidak selalu dapat berempati dengan sahabat-sahabat yang bersedih karena Anda mungkin tidak pernah mengalami masalah yang sama, tapi Anda dapat belajar bersimpati dengan mereka melalui kata-kata dan tindakan Anda. “Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa” (Ayub 6:14). Belajarlah untuk mengatakan kalimat-kalimat yang menguatkan: “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Amsal 25:11). Belajarlah mengerjakan atau memberikan sesuatu yang dapat membangun. Memberikan sebuah kartu kepada seseorang yang sedang depresi mungkin tidak memerlukan banyak usaha tapi dapat berarti banyak kepada orang tersebut dan akan berdampak jangka panjang dalam membangun persahabatan Anda. Di lain pihak, adalah hal yang bisa jadi sangat jahat untuk bercanda tentang situasi yang sedang dilalui sahabat Anda, meskipun ia mungkin kelihatan sangat tegar. Hargai sahabat Anda. Berhati-hatilah dengan perlakuan Anda kepadanya. Sadarilah bahwa meskipun maksud Anda mungkin baik, tindakan Anda pada saat yang kurang tepat tidak akan dihargai. Lagi, Amsal mengatakan dengan jelas: “Siapa pagi-pagi sekali memberi selamat dengan suara nyaring, hal itu akan dianggap sebagai kutuk baginya” (Amsal 27:14); dan “Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu” (Amsal 25:17).

Ingatlah juga bahwa berbagi beban dan sukacita di antara sahabat haruslah timbal balik. Biasanya tidak seorangpun akan membagi bebannya dengan kita sampai kita terlebih dulu membagi beban kita dengannya.

Bersedia untuk Menegur jika Perlu

Menjadi seorang sahabat, tentu saja, tidak berarti Anda harus menghindari segala konfrontasi. Malah, apa yang membedakan seorang sahabat yang sejati dan setia dari sahabat yang palsu yaitu apakah ia bersedia mengkoreksi kesalahan-kesalahan Anda: “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah” (Amsal 27:6).

Kita harus selalu jujur ketika berbicara kepada satu sama lain. Jika saudara Anda melanggar, kita harus mengkoreksi. Kita tidak boleh memuji, atau kita tidak hanya akan mendatangkan kerugian kepada sahabat kita, tapi kita akan berdosa kepada Tuhan (Yehezkiel 3:18-19). Tentu, bersikap jujur dengan satu sama lain tidak berarti kita harus kasar terhadap satu sama lain. Jika kita tidak sedang berhadapan dengan seseorang yang sangat dikeraskan oleh dosa, belajarlah untuk berbicara dengan menasehati daripada memarahi: “Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, begitu pula keharuman seorang sahabat dengan nasehat yang sepenuh hati” (Amsal 27:9, diterjemahkan dari Authorised Version).

Selalu Bersedia Mengampuni

“Besi menajamkan besi” (Amsal 27:17) merupakan metafora yang sangat tepat untuk menggambarkan perkembangan persahabatan di antara dua pihak. Sahabat tidak hanya menajamkan satu sama lain; tapi proses penajaman juga kadang-kadang menghasilkan bunga api karena kita tidak sempurna, makhluk berdosa. Tapi dengan alasan yang sama, konflik yang timbul dalam persahabatan dapat memisahkan bahkan sahabat-sahabat yang paling dekat jika tidak ditangani dengan semestinya. Kita telah mendiskusikan masalah kemarahan. Tapi ijinkan saya menekankan satu poin yang krusial bagi pemeliharaan persahabatan, yaitu perlunya kesediaan untuk mengampuni. Salomo sekedar menekankan fakta kehidupan ketika ia berkata di bawah inspirasi: “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib” (Amsal 17:9).

Ini merupakan Amsal yang begitu indah. Anda harus mengasihi sahabat-sahabat Anda, dan jika Anda mengasihi sahabat-sahabat Anda, maka Anda harus bersedia untuk menutupi dan mengampuni setiap pelanggaran yang mereka buat terhadap Anda. Hal yang tidak boleh pernah Anda lakukan jika Anda menghargai persahabatan yaitu mengatakan kesalahan sahabat Anda kepada orang lain. Jika Anda melakukannya, Anda dapat yakin itu akan menjadi akhir persahabatan Anda apakah sahabat Anda mengetahuinya atau tidak.

Kesimpulan

Apa yang kita bahas di artikel ini mungkin tidak baru bagi kebanyakan dari kita. Tapi kita perlu terus diingatkan karena kita sering menjadi begitu nyaman dengan diri kita sendiri dan sahabat-sahabat kita sekarang sehingga kita mengabaikan orang-orang lain yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita; atau kita tidak menghargai sahabat-sahabat yang kita sudah miliki. Mari kita belajar untuk memulai dan memelihara persahabatan kita.

Tapi mari kita juga mengingat bahwa jika karena alasan-alasan tertentu kita ditinggalkan oleh sahabat-sahabat kita, Tuhan tidak meninggalkan kita dan kita dapat selalu berpaling kepada-Nya yang sungguh-sungguh adalah seorang sahabat, dan sahabat yang tidak pernah berubah. Belajarlah hal ini dari Ayub: “Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis” (Ayub 16:20). Amen.


About this entry