Natur pertobatan (11)

6: Objek-objek yang kita tinggalkan dalam pertobatan yaitu dosa, Setan, dunia, dan kebaikan kita sendiri.
[1] Kita meninggalkan dosa. Ketika seseorang bertobat, ia selamanya bermusuhan dengan dosa; ya, dengan segala dosa, tapi terutama dengan dosa-dosanya sendiri, dan khususnya dosa yang diketahuinya sendiri. Dosa sekarang merupakan objek kemarahannya. Dosa membesarkan duka citanya. Dosalah yang menusuk dan melukainya; ia merasakannya seperti duri dalam pinggangnya, seperti jarum dalam matanya. Ia mengeluh dan bergumul karenanya, dan bukan secara formal, melainkan dengan penuh perasaan berseru, ‘O manusia celaka!’ Beban yang membuatnya paling tidak sabar yaitu dosanya. Seandainya Tuhan memberinya pilihan, ia akan memilih penderitaan apa pun kalau itu boleh melepaskannya dari dosa; ia merasakannya seperti kerikil tajam di sepatunya, menusuk dan menyakitinya ketika ia berjalan.

Sebelum pertobatan ia tidak serius terhadap dosa. Ia mencintainya dalam hatinya, seperti Uria dan dombanya; ia merawatnya, dan ia tumbuh bersama dengannya; ia makan seperti dari piring dan cawannya sendiri, dan tidur di pangkuannya, dan baginya bagaikan anak perempuannya sendiri. Namun ketika Tuhan membuka matanya melalui pertobatan, ia membuangnya dengan kejijikan, seperti seseorang membuang kodok yang menjijikkan, yang dalam kegelapan dipeluknya erat, dan dikiranya seekor burung yang cantik dan jinak. Ketika seseorang diselamatkan, ia diyakinkan dengan sungguh bukan hanya akan bahaya tapi juga kotornya dosa; dan O, betapa sungguh-sungguh ia ingin Tuhan menyucikannya! Ia membenci dirinya karena dosa-dosanya. Ia berlari kepada Kristus, dan menghempaskan dirinya ke dalam kolam yang dibuka baginya dan bagi kenajisan. Jika ia jatuh ke dalamnya, betapa bahagianya untuk menjadi bersih kembali! Ia tidak akan beristirahat sampai ia lari kepada Firman, dan membasuh, menggosok, serta membilas dirinya di kolam yang tidak terhingga, berusaha membersihkan dirinya dari segala kecemaran baik tubuh maupun roh.

Petobat yang benar dengan sepenuh hati melawan dosa. Ia bergumul dengannya, ia berperang melawannya; ia begitu sering gagal, tapi ia tidak akan menyerah, maupun meletakkan senjata, selama ia memiliki nafas dalam tubuhnya. Ia tidak akan berdamai; ia tidak akan menunjukkan belas kasihan. Ia bisa memaafkan musuh-musuhnya yang lain, ia dapat membelaskasihani mereka dan berdoa bagi mereka; tapi di sini ia tidak dapat berdamai, di sini ia bertekad membasmi mereka. Ia memburu dosa-dosanya seperti demi nyawanya yang berharga; matanya tidak memberi ampun, tangannya tidak membiarkan, meskipun itu tangan kanan atau mata kanan. Apakah itu dosa yang menguntungkan, yang paling menyenangkan bagi naturnya atau menjunjung harga dirinya di hadapan teman-teman duniawinya, ia lebih memilih membuang keuntungannya ke dalam selokan, melihat keuntungannya gagal, atau bunga kesenangannya layu di tangannya, daripada membiarkan dirinya berdosa dengan cara apapun. Ia tidak akan memuaskan dirinya, ia tidak akan memberi toleransi. Ia menghadapi dosa kapanpun ia bertemu dengannya, dan dengan marah berseru, ‘Sudahkah aku menemukan engkau, O musuhku?’

(bersambung…)


About this entry