Natur pertobatan (12)

Pembaca, adakah hati nurani bekerja ketika engkau membaca baris-baris ini? Sudahkah engkau merenungkan hal-hal ini dalam hatimu? Sudahkah engkau mencari buku di dalam, untuk menguji apakah hal-hal ini benar? Jika tidak, bacalah sekali lagi, dan biarlah nuranimu berbicara, apakah benar demikian denganmu.

Sudahkah engkau menyalibkan dagingmu dengan kesenangan dan nafsunya; dan tidak hanya mengakui, tapi meninggalkan dosa-dosamu, segala dosa yang paling engkau ingini, dan praktek-praktek biasa setiap dosa yang disengaja dalam hidupmu? Jika belum, engkau belum bertobat. Tidakkah nurani terbang ke wajahmu ketika engkau membaca, dan memberi tahu engkau bahwa engkau hidup secara berbohong demi dirimu sendiri? bahwa engkau menggunakan tipu dalam pekerjaanmu? bahwa ada kebobrokan yang engkau hidupi secara rahasia? Buat apa, jangan menipu dirimu sendiri. ‘Hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.’

Apakah lidahmu yang tidak dikekang, nafsumu akan hal-hal yang engkau sukai, teman-temanmu yang jahat, sikapmu yang acuh terhadap doa, pembacaan, dan pendengaran Firman, sekarang bersaksi terhadap engkau, dan berkata, ‘Kami adalah perbuatanmu, dan kami akan mengikuti engkau’? Atau, jika aku belum memukul engkau benar, tidakkah monitor di dalam memberi tahu engkau, ada hal ini dan itu yang engkau tahu jahat, tapi karena alasan kedagingan engkau membiarkannya dalam dirimu? Jika demikian halnya, engkau sampai hari ini belum dilahirbarukan, dan harus diubahkan atau dihukum.

(bersambung…)


About this entry