Sungguhkah aku?

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Am I for Real?, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 9 Januari 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Setiap orang Kristen tahu apa bedanya sorga dan neraka. Tentu saja, setiap orang Kristen harus rindu untuk diyakinkan bahwa ia sungguh sedang menuju sorga. Akibatnya, kita tentu bisa menemui dalam gereja ada orang yang digelisahkan oleh keraguan dan kemungkinan mereka tidak selamat. Akan tetapi, anehnya, ini adalah sesuatu yang sangat jarang sekarang ini. John R. DeWitt (yang menulis buklet kecil “What is the Reformed Faith?”) setuju: “Kita jauh lebih peduli tentang hal-hal lain daripada tentang kepastian keselamatan. Ada waktu-waktu di masa yang lampau ketika keinginan kepastian di antara orang-orang yang serius dan berpikiran rohani begitu tersebar luas. Umumnya, tidak demikian halnya sekarang.” Mengapa demikian? Apakah iman orang Kristen hari ini lebih besar daripada mereka yang mendahului kita? Saya khawatir tidak. Saya tidak dapat tidak menyetujui pengakuan Dewitt: “Faktanya adalah jika saya mulai menemui orang yang sungguh-sungguh digelisahkan dengan keraguan tentang keselamatan mereka, saya harus menganggapnya sebagai tanda yang sehat.”

Adalah suatu fakta yang memedihkan kalau sebagian besar gereja hari ini humanistik di satu sisi dan puas diri di sisi yang lain. Penginjilan Pelagian yang dipopulerkan oleh Charles Finney telah membuat kerusakan yang dalam bagi begitu banyak gereja hari ini sampai nyaris tidak ada yang menyadari bahwa ada yang namanya petobat palsu, karena kepercayaan yang umum adalah bahwa seseorang yang telah “menerima Kristus” atau “berdoa menerima Kristus” adalah seorang Kristen. Sedikit yang peduli bahwa dalam Alkitab, pertobatan bukan sekedar masalah pengakuan, atau doa, tapi renovasi sepenuh hati yang dikerjakan secara berdaulat dan bukan dikerjakan oleh kehendak bebas manusia. Lebih parahnya, penyelewengan atas poin ke-5 Calvinisme, yang dipopulerkan sebagai “keamanan kekal” telah diterima dengan penuh kegembiraan oleh banyak orang termasuk mereka yang menganut teologi Arminian. Begitulah kasusnya sampai-sampai banyak orang diajarkan: “Sekali engkau berdoa menerima Kristus, engkau tidak akan pernah kehilangan keselamatanmu.” Ini, tentu saja, jelas-jelas salah. Berdoa menerima Kristus tidak menjadikan seseorang Kristen. Calvin mengajarkan bahwa orang percaya yang sejati atau yang telah dilahirbarukan, akan bertekun dalam iman karena pertobatan adalah sepenuhnya pekerjaan Allah, dan anugerah Allah tidak dapat digagalkan. Ia tidak mengajarkan “pemeliharaan (preservation) orang-orang berdosa” atau keamanan duniawi yang didasari oleh doa yang diucapkan. Tapi semua tendensi dalam gereja hari ini telah menyebabkan doktrin kepastian keselamatan tidak dipedulikan. “Kenapa aku perlu tahu doktrin itu? Kenapa aku perlu ragu-ragu? Sekali selamat selalu selamat! Aku berdoa menerima Kristus bertahun-tahun lalu.” Begitu dalamnya pemikiran ini terukir dalam hati banyak orang Kristen hari ini sehingga kita sering tetap merasa puas diri tentang keadaan rohani kita, lama setelah kita menjadi yakin akan Calvinisme yang diajarkan Calvin, Sinode Dort, atau kaum Puritan.

Saya berbicara dari pengalaman. Dulu, saya akan secara total menutup telinga saya ketika doktrin kepastian dibicarakan. Bagaimana dengan Anda? Tuhan memperingatkan bahwa dalam dunia dan dalam gereja yang kelihatan akan ada gandum dan lalang; tanah yang baik dan jelek; ikan yang baik dan tidak; pohon yang baik dan rusak; pembangun yang bijaksana dan bodoh; dan domba dan kambing. Jadi Ia memperingatkan: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat. 7:21). Sudahkah Anda mempertimbangkan kalau Tuhan mungkin sedang berbicara tentang Anda? Sudahkah Anda merenungkan apakah Anda sungguh-sungguh—sungguh-sungguh seorang Kristen?

Para rasul mengerti pentingnya pertanyaan ini. Paulus mendorong orang-orang Korintus: “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” (2 Korintus 13:5). Petrus menasehati pembacanya seperti itu juga: “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung” (2 Petrus 1:10). Yohanes menulis seluruh surat untuk mengajar para pembacanya bagaimana mereka bisa mengetahui dengan yakin bahwa mereka memiliki hidup kekal (1 Yohanes 5:13). Yakobus memperingatkan para pembacanya bahwa ada yang disebut iman yang intelektual yang mati: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? … Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yakobus 2:14, 19-20). Yudas menulis sebuah surat yang mendesak untuk berhati-hati terhadap saudara palsu dan guru palsu: “… aku ingin mengingatkan kamu bahwa memang Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari tanah Mesir, namun sekali lagi membinasakan mereka yang tidak percaya” (Yudas 5). Penulis surat Ibrani memberitahu kita bahwa akan ada mereka yang memiliki penampakan dan bahkan pengalaman orang Kristen, yang tidak sungguh-sungguh bertobat: “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat …” (Ibrani 6:4-6a).

Sahabat, saya menulis artikel ini karena saya peduli akan keadaan rohani Anda. Saya tidak tahu berapa banyak yang memegang artikel ini akan menyediakan waktu membacanya. Saya berdoa semua akan membaca, tapi sering sekali, mereka yang seharusnya dikejutkan dan dibangunkan tidak tertarik untuk membaca esai-esai bernilai rohani seperti ini. Seandainya tulisan ini adalah ulasan program televisi glamor tertentu, mungkin lebih banyak orang yang akan membacanya. Tetapi apa nilai sebuah ulasan televisi dibanding dengan jiwa-jiwa yang menuju kebinasaan? Tidak ada televisi di neraka!

Bukan merupakan maksud saya, pembaca yang terkasih, untuk membuat anak Tuhan meragukan keselamatannya. Saya tahu tidak ada apa pun yang akhirnya dapat menyakiti kaum pilihan Tuhan. Dan saya tahu bahwa jika Anda telah membaca dengan seksama sampai poin ini, dan sungguh-sungguh peduli apakah Anda bukan seorang munafik, Anda tidak perlu meragukan apakah Anda adalah seorang anak Tuhan yang sejati. Mungkin Anda sedang melalui suatu masa kelesuan, dan Anda punya keraguan yang mengganggu tentang kesungguhan keselamatan Anda; tapi jika Anda dapat berkata, “Ya, aku percaya dan mencintai Tuhan Yesus Kristus, dan aku rindu untuk menaati-Nya,” atau jika Anda dapat berkata dengan air mata atau emosi, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk. 9:24), maka saya akan cukup menasehati Anda untuk tidak ragu lagi. Pergilah, kepada Kristus, menyesali keraguan Anda dan dosa-dosa yang telah menyulut keragu-raguan Anda. Mohonlah pengampunan kepada Tuhan—dengan mempercayai firman-Nya bahwa “barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). Mintalah Dia untuk menguatkan iman Anda, dan memberi Anda keteguhan hati dan pertolongan untuk menghidupi hidup Kristen—dengan percaya bahwa Ia setia kepada firman-Nya: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Mat. 7:7-8).

Sebaliknya, jika Anda tidak begitu peduli tentang hal-hal rohani, dan bahkan tidak terganggu oleh kegagalan-kegagalan Anda untuk hidup sesuai ketentuan-ketentuan Firman Tuhan; atau jika Anda tidak mempertimbangkan apa yang dituntut Tuhan dari kita; atau jika khotbah-khotbah yang Alkitabiah yang mengharuskan Anda untuk mengubah cara hidup Anda yang sekarang tidak Anda sukai; atau jika daya tarik dan kesenangan dunia memberi Anda kesenangan lebih daripada hal-hal mengenai Tuhan, maka sepatutnya Anda meragukan keselamatan Anda. Anda mungkin membaca artikel ini karena keingintahuan, atau karena seseorang memaksa Anda untuk membacanya. Jika saya sedang menggambarkan Anda, Anda kemungkinan besar sedang membaca artikel ini tanpa perasaan. Jika demikian, ijinkanlah saya mendesak Anda untuk mempertimbangkan kenyataan bahwa Anda mungkin sedang menipu diri Anda sendiri, atau bermain-main ketika Anda menyebut diri Anda seorang Kristen. Anda mungkin adalah seorang “hampir Kristen” yang dilukiskan oleh Matthew Mead (di buku The Almost Christian Discovered; or, The False Professor Tried and Cast). Jika Anda adalah orang semacam itu, apapun alasan Anda membaca sampai poin ini, sadarilah bahwa Anda lebih tidak dapat dimaafkan karena kekerasan hati Anda, mengetahui sekarang bahwa ada yang namanya orang beriman yang palsu. Hanya ada satu hal untuk Anda lakukan: Bertobat atau binasa! Kiranya Tuhan berkenan membangunkan Anda dari tidur atau kematian rohani Anda ketika Anda berseru kepada-Nya.

Namun, jika Anda adalah seorang Kristen yang sungguh-sungguh, mengenal Kristus dan berusaha menaati-Nya, saya percaya bahwa artikel ini dan berikutnya akan dipakai Tuhan untuk menguatkan iman Anda dan memberikan Anda kepastian keselamatan dan ketekunan dalam iman yang tidak sekedar berdasarkan atas perasaan subjektif, namun secara teguh berfondasikan pengajaran Firman Allah. Kepastian ini diekspresikan paling baik dalam Pengakuan Iman Westminster, bab 18, bagian 2. Bagian ini terdiri dari tiga bagian: (1) dasar objektif, yaitu, “kebenaran ilahi tentang janji-janji keselamatan” (Ibrani 6:17-18); (2) dasar subjektif, yaitu “bukti internal atas kasih karunia yang mengenainya janji-janji ini dibuat” (2Petrus 1:4-5; 1Yohanes 2:3; 3:14; 2Korintus 1:12); dan (3) “kesaksian Roh adopsi yang bersaksi bersama roh kita bahwa kita anak-anak Allah” (Roma 8:15-16). Sementara itu, ingatlah perintah Tuhan: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Lukas 13:24). Berdoalah, mintalah Tuhan untuk menolongmu melakukan hal itu dengan mengerjakan keselamatan Anda dengan takut dan gentar, karena “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp. 2:12-13). Tidak ada orang Kristen sejati yang bisa seenaknya atau tidak peduli dengan keadaan rohaninya.


About this entry