Natur pertobatan (14)

[3] Kita berpaling dari dunia. Sebelum seseorang memiliki iman yang benar, ia dikuasai oleh dunia. Ia entah menyembah harta, mengidolakan reputasinya, atau pecinta kesenangan lebih daripada Tuhan. Inilah akar kemalangan manusia oleh karena kejatuhan. Ia dipalingkan kepada ciptaan, dan memberikan hormat dan kasih kepada makhluk, yang sebenarnya hanya berhak diberikan kepada Tuhan saja.

O manusia malang, betapa mengerikan dosa telah menjadikan engkau! Tuhan menjadikan engkau ‘sedikit lebih rendah daripada malaikat’; dosa telah membuat engkau sedikit lebih baik daripada iblis, seorang monster yang memiliki kepala dan hati di tempat yang seharusnya ditempati kaki, dan kakinya menendang ke sorga, dan segalanya tidak pada tempatnya. Dunia yang dibentuk untuk melayanimu, sekarang menguasaimu—pesundal telah menarik engkau dengan rayuan-rayuannya, dan membuatmu tunduk dan melayaninya.

Tapi kasih karunia yang mempertobatkan membuat segalanya kembali pada tempatnya, dan menempatkan Tuhan di atas takhta, dan dunia sebagai alas kakinya; Kristus di dalam hati, dan dunia di bawah kaki. ‘Dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia’ (Galatia 6:14). Sebelum perubahan ini, seluruh tangisannya yaitu ‘Siapa yang akan memperlihatkan yang baik (dari dunia) kepada kita?’ tapi sekarang ia berdoa, ‘Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan!’, dan ambillah jagung dan anggur siapapun yang mau (Mazmur 4:6-7). Sebelumnya, kesukaan hatinya ada dalam dunia; lagunya yaitu, ‘Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!’ Namun sekarang semuanya ini layu, dan tidak ada keindahan, sehingga kita menginginkannya; dan ia bernyanyi dengan pemazmur yang manis dari Israel, ‘Tuhan, Engkaulah bagian warisanku; Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.’ Tidak ada lagi yang membuatnya puas. Ia telah melabel kesia-siaan dan gangguan di atas segala kesenangan dunianya, dan kerugian dan sampah segala kehebatan manusiawi. Ia mengejar hidup dan kekekalan sekarang. Ia haus akan kasih karunia dan kemuliaan, dan memandang mahkota yang tidak dapat hancur. Hatinya berketetapan untuk mencari Tuhan. Ia mencari dulu kerajaan Allah dan kebaikan-Nya, dan agama bukan lagi masalah sepele baginya, melainkan kepeduliannya yang paling utama. Sebelumnya, dunia mengendalikannya. Ia bekerja demi keuntungan ketimbang kesalehan—lebih untuk menyenangkan sahabat-sahabatnya atau tubuhnya, daripada Tuhan yang menciptakannya; dan Tuhan harus menunggu sampai dunia lebih dulu dilayani. Tapi sekarang segalanya harus menunggu; ia membenci ayah dan ibunya, hidup, dan segalanya, dibandingkan dengan Kristus.

(bersambung…)


About this entry