Bagaimana aku yakin bahwa aku sungguh-sungguh anak Allah?

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel How May I Have The Assurance That I Am A True Child Of God?, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 16 Januari 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Di artikel yang sebelumnya, kita menekankan pentingnya mengetahui apakah kita sungguh-sungguh orang Kristen. Seorang Kristen yang sejati adalah seseorang yang telah dilahirkan kembali (regenerasi). Tuhan Yesus Kristus memberi tahu Nikodemus: “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yohanes 3:3). Tidak ada yang namanya orang Kristen yang belum lahir baru. Ia entah sudah lahir baru atau mati—mati rohani!

Sekarang, jika Anda tahu bahwa Anda sungguh-sungguh, Anda dapat yakin bahwa Anda akan bertekun dalam iman. Kristus Tuhan kita berkata: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yohanes 10:27-29). Penulis surat Ibrani memberi tahu kita bahwa janji Tuhan akan keselamatan kekal kita tidak dapat digagalkan—karena Tuhan telah mengadakan kovenan dengan Abraham di mana Ia melewati potongan-potongan daging dan dengan itu menjamin dengan seluruh diri-Nya bahwa Ia akan menepati janji-Nya (Ibrani 6:13-20; bdk. Kejadian 15:8-21). Karena itu Rasul Paulus menyatakan dengan yakin bahwa tidak ada yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:34-39).

Ada orang-orang Kristen Arminian yang menolak melihat bahwa janji-janji ilahi ini absolut dan tidak tergantung kepada manusia, dan karena itu mereka tidak punya dasar kepastian keselamatan. Mereka percaya mereka dapat kehilangan keselamatan mereka kapan saja, dan karena itu mereka haruslah hidup dalam ketakutan karena hati manusia begitu mudahnya diombang-ambingkan. Orang-orang Arminian yang malang! Akan tetapi Alkitab jelas, keselamatan kita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Bahkan iman kita adalah pemberian Allah (Efesus 2:8), dan Firman Tuhan mengajar kita dengan jelas bahwa Tuhan akan memelihara iman kita sehingga kita akan tetap selalu menjadi orang percaya. Bagaimana dengan mereka yang murtad? Mereka tidak pernah dilahirbarukan pada awalnya. Rasul Yohanes berkata: “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita” (1Yohanes 2:19a).

Namun demikian, pertanyaan yang kita harus tanyakan kepada diri kita yaitu: Bagaimana saya tahu bahwa iman saya dalam Kristus itu sejati? Bagaimana saya tahu saya tidak sekedar membodohi diri saya sendiri seperti Simon Magus? Bagaimana saya tahu dengan yakin bahwa saya sungguh-sungguh percaya? “Adalah satu hal bagi saya untuk percaya, dan adalah hal yang lain bagi saya untuk percaya saya percaya” (Thomas Brooks).

Westminster Confession of Faith, di antara semua pengakuan iman Reformed, mungkin memiliki pernyataan yang paling instruktif dan alkitabiah yang pernah ditulis mengenai subjek ini. Dalam bab 18, berjudul “Mengenai Kepastian akan Kasih Karunia dan Keselamatan,” para penulisnya mengajarkan: kemungkinan kepastian (§1); dasar kepastian (§2); penumbuhan kepastian (§3); dan pembaruan kepastian ketika kepastian itu hilang (§4).

WCF 18.2, yang secara khusus berhubungan dengan artikel ini, berbunyi: “Kepastian [keselamatan] ini bukanlah sekedar persuasi yang mungkin, yang didasari pengharapan yang bisa salah [Ibrani 6:11, 19]; melainkan kepastian iman yang tidak dapat bersalah yang didasari kebenaran ilahi akan janji-janji keselamatan [Ibrani 6:17-18], bukti-bukti internal akan kasih karunia itu yang kepadanya janji-janji ini dibuat [2Petrus 1:4-5, 10-11; 1Yohanes 2:3; 3:14; 2Korintus 1:12], kesakian Roh adopsi yang bersaksi dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah [Roma 8:15-16], di mana Roh ini adalah jaminan warisan kita, yang olehnya kita dimateraikan untuk hari penebusan [Efesus 1:13-14; 4:30; 2Korintus 1:21-22].”

Janji-janji Tuhan

Dasar pertama kepastian keselamatan adalah janji yang diberikan dalam Alkitab bahwa semua yang bertobat dari dosanya dan semua yang memiliki Kristus—mempercayai bahwa Ia hidup dan mati bagi manusia berdosa, dan bahwa Ia bangkit kembali, dan bahwa Ia duduk di kanan takhta Allah bersyafaat bagi milik-Nya—akan diselamatkan dan dipelihara dalam iman mereka. Mungkin tidak ada penjelasan yang lebih baik daripada yang diberikan oleh John Murray:

Setiap orang percaya diyakinkan akan realita Allah dan kebenaran Injil. Inilah kepastian-kepastian yang membentuk dasar iman itu sendiri [yang] tidak berada kecuali untuk menerima keyakinan akan kepastian-kepastian ini. Iman tidak kompatibel dengan ketidakpastian sebagai objeknya, meskipun iman bisa berada bersama ketidakpastian berkenaan dengan pemilikan keselamatan yang merupakan hasil iman. Ini tidak berarti bahwa ada ketidakpastian dalam keselamatan mereka yang percaya. Kepastian tidak berdasarkan atas stabilitas keyakinan yang dimiliki orang-orang percaya akan kepastian itu; kepastian tersebut berada dalam kesetiaan Sang Juruselamat (Collected Writings 2:266-7).

Dengan kata lain, janji-janji keselamatan bukan saja merupakan dasar objektif kepastian, melainkan juga dasar utama. Ini merupakan batu karang yang di atasnya kedua dasar kepastian yang lain berdiri. Atau kita bisa mengatakan bahwa Anda hanya mungkin mendapat kepastian keselamatan, jika Anda tahu dan mengerti Injil. Seseorang yang mengerjakan banyak hal di gereja, tapi tidak menghargai Injil, adalah—pada analisa terakhir—seorang yang tidak percaya yang sedang mencoba meraih keselamatan dengan perbuatan. Orang semacam ini harus menguji ulang fondasinya. Sama seperti itu, seseorang yang mengklaim memiliki pengalaman-pengalaman Roh Kudus, tapi tidak rindu untuk mengetahui apa yang diajarkan Kitab Suci, sebenarnya sedang membodohi dirinya sendiri atau ditipu oleh roh yang tidak kudus. Di lain pihak, seseorang yang memiliki iman yang bersandar (fiducia), dan bukan hanya pengetahuan (noetitia), atau persetujuan belaka terhadap kebenaran Injil (assensus), bisa memiliki keyakinan bahwa ia adalah anak Allah.

Akan tetapi “liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu” (Yeremia 17:9a), dan bisa jadi seseorang yang mengklaim percaya kebenaran Injil mungkin sebenarnya tertipu mengenai kesungguhan imannya (bdk. Yakobus 2:18-20). Dasar-dasar sekunder, karena itu, menyediakan keyakinan tambahan apakah iman pribadi itu sungguh-sungguh.

Bukti kasih karunia

Yang pertama dari dua dasar sekunder ini yaitu bukti kasih karunia internal. Orang-orang Puritan termasuk teolog-teolog Westminster, membedakan dua aspek bukti kasih karunia internal yang berkaitan erat. Yang pertama berkaitan dengan keberadaan dan peningkatan tanda-tanda kasih karunia dalam jiwa, yaitu kasih, kelemahlembutan, kemiskinan rohani (atau kerendahan hati), kebencian akan dosa, kelaparan dan kehausan akan kebenaran, dan sebagainya (bdk. Galatia 5:22-23; Matius 5:3-6). Yang kedua berkaitan dengan perbuatan-perbuatan baik yang mengalir dari hati yang mengasihi dan taat (bdk. Matius 7:16; Ibrani 6:10). Dengan kata lain, yang pertama tidak kelihatan di hadapan orang lain, yang kedua kelihatan. Orang-orang Puritan berbicara mengenai kedua aspek ini dengan istilah “silogisme mistis” dan “silogisme praktis.” Pada dasarnya, ini berarti bahwa karena Alkitab menyatakan tanda-tanda ini sebagai bukti-bukti kelahiran baru, kita dapat menyimpulkan bahwa kita sudah lahir baru jika kita dapat menemukan tanda-tanda ini dalam hidup kita. Benar bahwa ketika orang-orang Puritan membahas aspek kepastian ini, mereka mendorong introspeksi. Tapi mereka tidak berhenti di situ. Jonathan Edwards, contohnya, mengajar bahwa “kepastian tidak didapat melalui pemeriksaan diri sebanyak melalui tindakan.” Dengan kata lain, kita tidak boleh berpikir bahwa kita bisa mendapat kepastian hanya dengan pemeriksaan diri. Kepastian yang sejati hanya dapat ditemukan dalam anak-anak Tuhan yang berjalan di jalan hidup yang sempit, dan secara aktif menaati kehendak Tuhan yang diberikan dalam Hukum Moral. “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya” (1Yohanes 2:3), kata Yohanes.

Apapun yang terjadi, bagaimana seharusnya kita mengevaluasi diri kita? Dr. John H. Gerstner memberi kita tiga langkah:

  1. Introspeksi—selidiki hati Anda dengan disertai doa dan evaluasi buah-buah yang kelihatan dari hati Anda. Joseph Hall menggambarkan ide ini demikian: “Gerakan adalah penguji kehidupan yang paling sempurna. Ia yang dapat menggerakkan tangan dan kakinya, tentu tidak mati. Kaki jiwa ialah afeksi. Apakah Anda menemukan dalam diri Anda kebencian terhadap dosa yang menyesatkan Anda? Apakah Anda menemukan dalam diri Anda penyesalan yang sejati, atas keengganan Anda kepada segala hal yang baik? Tanpa hidup yang sungguh-sungguh menerima kasih karunia, hal-hal ini tidak akan mungkin.”
  2. Retrospeksi—lihatlah apakah ada bukti pertumbuhan rohani sejak pertama kali Anda mengakui iman Anda. Anda mungkin ingat hari Anda membuat pengakuan iman atau hari Anda dibaptis. Ini mungkin penting bagi kepastian Anda, tapi ingatlah bahwa lebih penting bagi Anda untuk melihat apakah ada bukti pertumbuhan rohani sejak saat itu. Dan
  3. Ekstrospeksi—apa yang dikatakan orang-orang percaya yang lain tentang Anda? Tanyakanlah!

Sudahkah Anda menguji diri Anda dengan kritis seperti ini?

Tentu saja, penyelidikan diri semacam ini tidak boleh terlalu ditekankan sedemikian hingga kita lupa akan kepastian janji-janji Tuhan, dan juga tidak seharusnya dilakukan kecuali oleh mereka yang memiliki pengertian yang jelas akan Injil.

Kesaksian Roh Kudus

Dasar keselamatan yang ketiga adalah dalam Roh Kudus bersaksi kepada roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dr. Joel Beeke dengan benar mencatat bahwa teolog-teolog Westminster tidak semuanya sependapat tentang apa yang dimaksud dengan hal ini. Kelompok pertama dengan teolog-teolog seperti Jeremiah Burroughs, Anthony Burgess, dan George Gillespie percaya bahwa Roh bekerja melalui nurani dalam konteks silogisme (di atas). Kelompok kedua dengan teolog-teolog seperti Samuel Rutherford, Henry Scudder, William Twisse memegang bahwa Roh kadang-kadang bersaksi kepada roh orang percaya melalui aplikasi langsung Firman. Kelompok ketiga yang dipimpin oleh Thomas Goodwin memegang bahwa ini adalah kesaksian luar biasa dari Roh Tuhan dalam roh orang-orang percaya untuk memberi mereka kepastian penuh akan kasih Tuhan dan sukacita yang tidak terkatakan. Saya pribadi cenderung setuju dengan kelompok kedua. Meskipun saya tidak mengabaikan pengalaman-pengalaman mereka yang berada di kelompok ketiga, saya percaya pengalaman-pengalaman ini merupakan pengalaman yang sungguh-sungguh mendalam akan karya iluminasi (pencerahan) Roh Kudus. Saya percaya Roh Kudus bersaksi dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah dengan meyakinkan kita akan kasih Allah Bapa ketika kita membaca Kitab Suci atau merenungkan Kitab Suci yang sudah dihafal. Ketika kepastian akan kasih ini membanjiri hati kita, respon natural kita yaitu berteriak kepada Tuhan, memanggil-Nya “Abba, Bapa.” Kita harus ingat bahwa iluminasi semacam ini bukan “wahyu yang luar biasa” (lihat WCF 18.3, WLC 81). Kalau begitu, kalau Anda ingin memiliki kesaksian Roh seperti ini, Anda harus membaca dan merenungkan Firman ketimbang mengharapkan pengalaman mistis tertentu.

Kesimpulan

Menutup artikel ini, saya percaya bahwa Anda telah dilengkapi dengan lebih baik sekarang untuk mengetahui apakah Anda sungguh-sungguh. Ketiga aspek harus diterapkan seperti tali tiga lembar untuk menguji hidup Anda sebelum Anda dapat memiliki kepastian penuh akan keselamatan. Tapi ingatlah bahwa kepastian penuh tidak dimiliki oleh keberadaan iman sebanyak dimiliki oleh keberadaan iman yang sehat. Orang-orang percaya mungkin memiliki iman yang menyelamatkan tanpa mengetahui dengan pasti bahwa mereka memang memilikinya. “Seorang anak Tuhan bisa jadi memiliki Kerajaan kasih karunia dalam hatinya, tapi tidak mengetahuinya. Piala ada dalam karung Benyamin, meskipun ia tidak tahu piala itu ada di situ” (Thomas Watson). Namun demikian, karena setiap orang percaya diperintahkan untuk berusaha sungguh-sungguh supaya panggilan dan pilihannya makin teguh (2Petrus 1:10), bukan saja baik, tapi merupakan kewajiban setiap orang percaya untuk mendapatkan kepastian iman. Pikirkanlah hal ini. Pikirkan janji-janji Tuhan: apakah Anda percaya dan bersandar kepada janji-janji tersebut? Ujilah hidup Anda: apakah Anda menemukan tanda-tanda kasih karunia? Ingatlah pembacaan dan perenungan Anda akan Firman Allah, dan kesempatan-kesempatan ketika Anda mendengar Injil dikhotbahkan dalam kemurnian: apakah hati Anda berkobar-kobar (Lukas 24:32)? Apakah Anda merasakan kasih Bapa sorgawi dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus (Roma 5:5)? Jika Anda dapat menjawab dengan positif dengan derajat keyakinan tertentu ketiga pertanyaan ini, Anda bisa, oleh kasih karunia Tuhan, meyimpulkan bahwa Anda benar-benar anak Tuhan. Tapi jangan menjadi puas diri. Tidak seorang anak Tuhan akan menjadi puas diri. Teruslah mencari Dia, dan mintalah kepada-Nya untuk memelihara kepastian Anda ketika Anda berjalan dalam ketaatan dan dengan tekun menggunakan alat-alat kasih karunia. Jika, di lain pihak, Anda sama sekali tidak peduli untuk memiliki kepastian, atau jika Anda menemukan bahwa ketika Anda memperhatikan ketiga dasar kepastian, Anda tidak memiliki alasan untuk mengklaim satu pun dari ketiganya, maka saya takut, kemungkinan Anda masih berada dalam dosa-dosa Anda, dan ijinkan saya mendorong Anda untuk pergi kepada Tuhan dalam pertobatan disertai kerendahan hati, meminta pengampunan dari-Nya. Kenyataan bahwa Anda telah bertekun untuk membaca sampai sejauh ini menunjukkan pengharapan bagi Anda, saya percaya.


About this entry