Membangun relasi yang baik dengan sesama orang percaya

Tanya jawab di bawah ini diambil dari kolom “Now, That is a Good Question!”, PCC Bulletin, 18 Mei 2008. Ayat-ayat Alkitab dicantumkan juga. Semoga berguna bagi pembaca.

T: Secara singkat, apa yang Anda sarankan untuk membangun relasi yang baik dengan sesama orang percaya?

J: Saya harus mengaku bahwa saya masih belajar dalam hal ini, sehingga saya sulit berbicara secara otoritatif tentang hal ini. Tapi ijinkan saya mencoba memberi daftar poin-poin dari Alkitab yang saya pakai untuk mengingatkan diri saya sendiri. Saya harap ini akan berguna buat Anda juga.

  1. Berpikirlah mengenai orang lain sebisa mungkin dengan penuh kasih. Jangan gampang menyimpulkan kejahatan atau maksud tersembunyi dalam mereka yang berinteraksi dengan Anda ([Jangan] mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.–Filipi 2:3-4)
  2. Peliharalah sikap memaafkan. Bahkan jika Anda percaya seseorang bersalah terhadap Anda, berusahalah untuk tidak mendendam bahkan jika ia tidak meminta maaf (Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.–Lukas 23:34; Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.–Roma 12:19)
  3. Jangan berbicara jelek tentang siapa saja, jangan membalas fitnah dengan fitnah. Berbahagialah yang lemah lembut (Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.–Titus 3:2). Jika Anda tidak punya sesuatu yang baik untuk dikatakan, lebih baik tidak berkata apa-apa.
  4. Cepatlah mendengar, lambatlah untuk berkata-kata (Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.–Yakobus 1:19)
  5. Berusahalah membangun daripada meruntuhkan dengan lidah (Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.–Efesus 4:29; Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.–Yakobus 1:26). Sebelum berkata apa-apa kepada siapapun, tanyakan kepada diri Anda (a) Apakah perlu dikatakan? (b) Apakah benar? (c) Apakah baik?
  6. Buatlah sedikit janji, dan berusahalah untuk menepatinya dan dengan sesegera mungkin (Jadi, adakah aku bertindak serampangan dalam merencanakan hal ini? Atau adakah aku membuat rencanaku itu menurut keinginanku sendiri, sehingga padaku serentak terdapat “ya” dan “tidak”?–2 Korintus 1:17). Lebih baik mengerjakan apa yang Anda tidak setujui, daripada menyetujui sesuatu dan kemudian lupa mengerjakannya (“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”–Matius 21:28-32)
  7. Jangan memuji dengan tidak jujur, tapi jangan biarkan setiap kesempatan untuk memuji atau mengatakan sesuatu yang membangun berlalu begitu saja (Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya.–Amsal 29:5; bdk. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.–Matius 25:21; Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu, berkatilah mereka yang mengutuk kamu, berbuat baiklah kepada mereka yang membenci kamu, dan berdoalah bagi mereka yang dengan jahat mempergunakan kamu, dan menganiaya kamu.–Matius 5:44 (diterjemahkan dari King James Version), di mana ‘berkatilah’ dapat diartikan ‘pujilah’)
  8. Berikan teguran kalau perlu, tapi lakukanlah dengan batasan, menyadari bahwa Anda dapat melihat selumbar di mata saudara Anda lebih jelas daripada balok di mata Anda sendiri (Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.–Amsal 29:1; Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?–Matius 7:3). Jangan menegur jika Anda pihak yang dirugikan. Biarkan orang lain yang melakukannya.
  9. Jangan membela diri ketika ditegur. Rendahkan hati Anda dan katakanlah, “Terima kasih sudah menegur, aku akan memikirkannya.” (Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.–Amsal 29:23; Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.–Matius 23:12; Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”–Yakobus 4:6). Kemudian telitilah diri Anda di hadapan Tuhan, dan berusahalah berubah jika apa yang dikatakan itu benar.
  10. Jangan menonjolkan diri Anda ketika Anda berada di bawah otoritas orang lain, tapi selalu bersikaplah hormat kepada mereka yang mempunyai otoritas terhadap Anda bahkan jika Anda merasa mereka tidak layak mendapatkan penghormatan Anda (Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”–1 Petrus 5:1-5).

About this entry