Natur pertobatan (16)

[4] Kita berpaling dari kebenaran kita sendiri. Sebelum bertobat, manusia berusaha untuk menutupi dirinya dengan daun pohon aranya sendiri, dan berusaha menyembuhkan dirinya dengan usahanya sendiri. Ia cenderung bersandar kepada dirinya sendiri, dan menunjukkan kebenarannya, dan tidak tunduk kepada kebenaran Allah. Akan tetapi pertobatan mengubah pikirannya; sekarang ia menganggap kebenarannya sebagai kain kotor. Ia menjauhinya, seperti seseorang menjauhi compang-camping menjijikkan seorang pengemis yang bau. Sekarang ia dibawa kepada kemiskinan rohani, mengeluh dan mempersalahkan dirinya sendiri, dan segala miliknya adalah ‘melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.’ Ia melihat kejahatan dalam hal-hal baik miliknya, dan menyebut kebenaran diri yang pernah diidolakannya sebagai kekotoran dan kerugian; dan tidak mau ditemukan di dalamnya. Sekarang ia mulai meletakkan harga yang tinggi di atas kebenaran Kristus. Ia melihat kebutuhannya akan Kristus dalam setiap usaha, untuk membenarkan pribadinya dan menyucikan apa yang dilakukannya; ia tidak dapat hidup tanpa-Nya; ia tidak dapat berdoa tanpa-Nya. Kristus harus pergi bersamanya, atau ia tidak dapat datang ke hadapan Tuhan; ia bersandar pada Kristus, dan membungkukkan dirinya dalam bait Allahnya. Ia menganggap dirinya sebagai orang terhilang yang pantas binasa tanpa-Nya; hidupnya tersembunyi di dalam Kristus, seperti akar pohon tersebar dalam tanah untuk kekuatan dan makanan. Sebelumnya, berita Kristus terasa hambar; namun sekarang, betapa manisnya Kristus! Augustine tidak dapat menyukai Cicero yang pernah dikaguminya, karena ia tidak dapat menemukan dalam tulisan-tulisannya nama Kristus. Betapa tegasnya ia berseru, ‘O yang paling manis, paling mengasihi, paling baik, paling terkasih, paling berharga, paling diingini, paling indah, paling bagus!’ (Meditat c 37) semuanya dalam satu tarikan nafas, ketika ia berbicara tentang dan kepada Kristus. Singkatnya, seruan seorang petobat yaitu, bersama sang martir, ‘Tiada lain kecuali Kristus.’

(bersambung…)


About this entry