Natur pertobatan (17)

7: Objek-objek yang kepadanya kita berpaling dalam pertobatan yaitu Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang diambil seorang petobat sejati sebagai kebahagiaannya yang serba mencukupi dan kekal. Seseorang belum sungguh-sungguh disucikan sampai hatinya sungguh-sungguh tertambat kepada Tuhan di atas segala sesuatu, sebagai bagian dan kebaikannya yang utama. Ini adalah nafas natural hati seorang percaya: ‘Bagianku ialah Tuhan.’ ‘Karena Tuhan jiwaku bermegah.’ ‘Dari pada-Nyalah harapanku; Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah’ (Mazmur 119:57; Mazmur 34:2; Mazmur 62).

Inginkah engkau yakin apakah engkau sudah bertobat atau belum? Sekarang biarkan jiwamu dan segala yang ada di dalam hatimu memperhatikan.

Sudahkah engkau mengambil Tuhan sebagai kebahagiaanmu? Di mana kerinduan hatimu berada? Apa sumber kepuasanmu yang terbesar? Mari, sekarang, bersama Abraham layangkan pandanganmu ke timur, barat, utara, dan selatan, dan lihatlah sekelilingmu; apa yang engkau ingin miliki di sorga atau di bumi untuk membuatmu bahagia? Jika Tuhan memberimu apa yang engkau pilih, seperti Ia memberikannya kepada Salomo, atau berkata kepadamu, seperti Ahasyweros kepada Ester, ‘Apakah permintaanmu? Dan apakah keinginanmu? Niscaya akan dikabulkan.’ apa yang akan engkau minta? Pergi ke taman kenikmatan, dan memetik semua bunga-bunga harum di sana, akankah ini memuaskan engkau? Pergi ke harta benda; seandainya engkau dapat membawa sebanyak yang engkau mau. Pergi ke istana, ke piala-piala kehormatan. Apa pendapatmu tentang menjadi seseorang yang terkenal, dan mempunyai nama seperti nama orang-orang besar di dunia? Akankah satu di antara hal-hal ini, akankah semua hal ini memuaskan engkau, dan membuatmu menganggap dirimu berbahagia? Jika iya, pasti engkau bersifat duniawi dan belum bertobat. Jika tidak, pergilah lebih jauh; pergilah kepada kualitas-kualitas ilahi, gudang belas kasihan-Nya, persembunyian kuasa-Nya, kedalaman yang tak terkira dari kecukupan-Nya. Apakah ini sesuai denganmu dan paling menyenangkan engkau? Apakah engkau berkata, ‘Betapa bahagianya berada di tempat ini. Di sini aku akan berkemah, di sini aku akan hidup dan mati’? Akankah engkau membiarkan seluruh dunia berlalu daripada ini? Jika demikian, baik adanya di antara Tuhan dan engkau: berbahagialah engkau, O manusia—berbahagialah engkau jika engkau pernah dilahirkan. Jika Tuhan dapat membuatmu bahagia, engkau pasti berbahagia; karena engkau telah menjadikan Tuhan sebagai Allahmu. Apakah engkau berkata kepada Kristus seperti Ia kepada kita, ‘Bapa-Mu akan menjadi Bapaku, dan Allah-Mu Allahku’? Di sinilah titik baliknya. Seorang petobat yang tidak sungguh-sungguh tidak pernah beristirahat dalam Tuhan; namun kasih karunia yang mempertobatkan mengerjakan karya ini, dan menyembuhkan kemalangan fatal akibat kejatuhan, dengan memalingkan hati dari berhalanya kepada Allah yang hidup. Sekarang jiwa berkata, ‘Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.’ Di sinilah ia berpusat, di sini ia berdiam. Ini adalah pintu masuk ke sorga baginya; ia melihat bagiannya dalam Tuhan. Ketika ia menemukan hal ini, ia berkata, ‘Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu’ (Mazmur 116:7). Dan ia bahkan siap untuk menafaskan pujian Simeon, ‘Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera’; dan berkata bersama Yakub, ketika hatinya dibangkitkan ketika mendengar salam dari Yusuf, ‘Cukuplah itu’ (Kejadian 45:28). Ketika ia melihat ia mempunyai Tuhan dalam perjanjian kekal yang kepada-Nya ia dapat pergi, inilah segala keselamatannya, dan segala kerinduannya (2 Samuel 23:5).

Apakah demikian halnya dengan engkau? Sudahkan engkau mengalami hal ini? Jika ya, maka ‘diberkatilah engkau oleh Tuhan.’ Tuhan telah bekerja terhadap engkau; Ia telah menangkap hatimu melalui kuasa kasih karunia yang mempertobatkan, atau jika tidak engkau tidak akan pernah dapat melakukan hal ini.

(bersambung…)


About this entry