Natur pertobatan (21)

(iii) Pilihan kehendaknya yang bebas dan bulat adalah jalan-jalan Kristus, di atas segala kenikmatan dosa dan kekayaan duniawi. Persetujuannya bukanlah dipaksa oleh siksaan atau ketakutan, bukan pula sekedar tekad yang buru-buru, melainkan ia mempertimbangkannya, dan tiba dengan tanpa paksaan pada pilihan tersebut. Benar, daging akan memberontak, tapi bagian dominan dari kehendaknya adalah untuk hukum-hukum Kristus dan pemerintahan-Nya, sehingga ia tidak menganggap mereka sebagai beban, melainkan sukacita. Sementara mereka yang tidak dikuduskan berjalan dalam hukum-hukum Kristus seperti dalam rantai dan belenggu, petobat sejati melakukannya dengan sepenuh hati, dan menganggap hukum-hukum Kristus memerdekakan. Ia bersuka dalam keindahan kesucian, dan memiliki tanda yang tidak dapat dipisahkan ini. Ia lebih memilih, jika ia boleh mendapatkan pilihannya, hidup ketat dan suci, daripada hidup kaya dan nikmat. ‘Bersama-sama dengan [Saul] ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah’ (1 Samuel 10:26). Saat Allah menggerakkan hati mereka yang dipilih-Nya, mereka sekarang mengikut Kristus, dan, meskipun ditarik, berlari dengan bebas kepada-Nya, dan bersedia mempersembahkan diri mereka bagi pelayanan Allah, mencari-Nya dengan segenap kerinduan mereka. Ketakutan memiliki kegunaannya; tapi ini bukanlah penggerak utama bagi hati yang dikuduskan. Kristus tidak mengontrol hamba-hamba-Nya dengan paksaan, tetapi Ia adalah Raja umat yang rela. Mereka, oleh karena kasih karunia-Nya, dengan rela setia melayani-Nya. Mereka melayani karena pilihan, bukan seperti budak, tapi seperti anak atau istri, dari kasih dan pikiran yang setia. Singkatnya, hukum-hukum Kristus adalah cinta, kesukaan, dan pembelajaran senantiasa seorang petobat.

(bersambung…)


About this entry