Pikiran melayang-layang dalam ibadah

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Wandering Thoughts in Worship, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 16 April 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Di pasal ketujuh surat 1 Korintus, Paulus berbicara kepada orang-orang Kristen di Korintus mengenai pernikahan; tapi karena situasi krisis tertentu yang dialami gereja Korintus (ayat 26) ia menasehati mereka bahwa, dengan keadaan yang sama, akan lebih baik bagi mereka untuk tetap membujang. Konteks nasehat Paulus ini mungkin tidak secara langsung berlaku bagi kita sekarang, dan karena itu pernikahan tidak seharusnya dihindari. Namun, prinsip umum tentang perhatian sepenuhnya kepada Tuhan yang diterapkan Paulus dan diekspresikan dalam kata-kata “melayani Tuhan tanpa gangguan” (ayat 35) bukan saja berlaku melainkan merupakan keharusan bagi kita. Prinsip ini berlaku bagi kita dalam segala situasi di kehidupan kita. Ini merupakan prinsip yang mengajar kita pentingnya kesetiaan yang terfokus saat kita bersekutu dengan Allah. Dengan demikian, ini merupakan prinsip yang harus kita ingat khususnya ketika kita beribadah. Ini karena ibadah memerlukan perhatian sepenuh hati kepada Allah yang adalah Allah yang cemburu (Keluaran 34:14). Apapun yang kurang dari perhatian sepenuh hati menjadi kemunafikan, kaku dan legalistik, dan penghinaan kepada Allah kita yang melihat segala sesuatu, mengetahui segala sesuatu, dan kudus.

Akan tetapi pengalaman mengajar kita bahwa perhatian sepenuh hati seringkali sulit dicapai karena pikiran yang melayang-layang. Ini khususnya begitu akut karena kita hidup dalam zaman penuh gangguan. Telepon, televisi, dan komputer hanyalah beberapa wujud utama persoalan ini. Benda-benda ini tidak tentu jelek meskipun mereka kadang-kadang menganggu kita dari memperhatikan perkara-perkara Allah. Namun mereka membuat kita mati rasa terhadap gangguan: sedemikian hingga kita tidak begitu peduli, ketika kita terganggu oleh pikiran-pikiran yang melayang-layang selama ibadah. Pikiran-pikiran semacam ini muncul dalam berbagai bentuk, seperti: “Apakah harga saham naik hari ini?”; “Mau masak apa hari ini?”; “Bagaimana saya bisa menyelesaikan PR saya sebelum besok?”; “Dasi pengkhotbah itu terlalu mencolok”; “AC-nya terlalu dingin”; “Diaken itu mengantuk, mungkin dia menonton acara televisi sampai larut kemarin malam?”; “Khotbahnya terlalu panjang”; “Kenapa pasangan suami istri itu tidak bisa mendiamkan anak-anak mereka?” dan sebagainya. Bagi beberapa orang, pikiran mereka malah bisa melayang sepenuhnya ke suatu adegan film yang ditonton mereka malam sebelumnya; atau kencan makan malam beberapa waktu lalu. Pikiran-pikiran ini mungkin tidak berdosa pada dirinya sendiri, namun ketika mereka muncul dalam ibadah, mereka jadi begitu berdosa karena mereka mencuri kemuliaan dan kehormatan yang patut diberikan kepada Allah, dan menjadikan orang yang beribadah berlaku munafik.

Sayangnya, masalah yang berdosa ini sering tidak disadari atau dirasakan oleh orang-orang Kristen pada umumnya sehingga banyak yang dapat mengikuti ibadah selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, secara lahiriah menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya memungkiri kekuatannya (2 Timotius 3:5). Lebih menyedihkan lagi, saat masalah ini disadari, banyak dari kita tidak berusaha mengatasinya; karena toh, hati kita tidak dilihat orang lain, dan gangguan-gangguan kecil ini tidak berbahaya, demikian kita mengira. Karena itu banyak orang terus dilanda oleh pikiran-pikiran melayang selama ibadah, menjadi kerugian bagi jiwanya sendiri.

Penyebab

Richard Steele dalam risalah klasiknya yang sangat baik, “A Remedy for Wandering Thought in Worship” (Obat bagi Pikiran Melayang dalam Ibadah), dengan cermat mengidentifikasi dua belas penyebab gangguan dalam ibadah, yaitu:

  1. Ateisme tersembunyi, terdiri dari ateisme di pikiran, hati, dan hidup;
  2. Kerusakan natur kita yang menghasilkan kebodohan dan kebohongan hati;
  3. Ketidaksiapan untuk beribadah, termasuk kelalaian untuk mendapatkan istirahat yang memadai semalam sebelumnya;
  4. Kesuaman dalam sikap kita terhadap Allah dan pelaksanaan devosi kita;
  5. Pikiran duniawi yang menyeret hati kita ke dunia ketika seharusnya ia membumbung ke sorga;
  6. Lemahnya kasih kita kepada Kristus dan Ketetapan-ketetapan-Nya;
  7. Kurangnya berjaga-jaga dalam doa;
  8. Suatu dosa yang dicintai yang mencegah hati kita mendekat pada Allah dengan ketulusan dan keberanian;
  9. Setan (dan bawahan-bawahannya) yang kadang-kadang membawa situasi yang mengganggu;
  10. Pikiran tidak berguna yang ketika dilayani menjadi membekas dalam hati dan dengan gampang memasuki kesadaran pada saat-saat sunyi ibadah;
  11. Hati yang bercabang, seperti saat ibadah diikuti oleh pengertian dan kesadaran tapi tidak dengan kehendak atau emosi; atau ketika hati tidak menentu, goyah, dan tidak tenang; dan
  12. Pendapat bahwa pikiran yang melayang bukanlah kejahatan yang besar.

Daftar ini mungkin tidak tuntas, tapi introspeksi sesaat tentu akan mempertegas akurasi pengamatan Steele. Menyadari persoalan kita sendiri akan pikiran yang melayang-layang dan mengenali penyebab gangguan kita merupakan langkah vital dalam usaha kita memastikan bahwa ibadah kita sepenuh hati dan berkenan bagi Tuhan. Mari kita dengan demikian menyelidiki hati kita dengan jujur di hadapan Tuhan, berdoa bersama Pemazmur, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-4). Dan setelah melakukan semuanya mari kita memohon Tuhan memberi kita hikmat dan kekuatan untuk mengatasi masalah ini.

Pengobatan

Alkitab menyediakan pengobatan untuk setiap penyebab gangguan di atas, dan akan sangat baik bagi kita untuk berhati-hati menerapkan pengobatan Alkitabiah kepada penyebab yang paling mempengaruhi kita. Apakah Anda terus-menerus mendapati diri Anda kalah terhadap dosa, dan lebih memilih kenikmatan daging dan pikiran-pikiran berdosa daripada doa dan ibadah? Mungkinkah Anda belum pernah lahir baru?

Atau, apakah masalah Anda ateisme tersembunyi? Kalau begitu bertobatlah dari dosa Anda dan ketidakpercayaan Anda dan berserulah kepada Tuhan untuk memberi anda iman: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus 9:24). Jangan menunda atau berhenti sampai Anda yakin bahwa Kristus menjadi nyata di dalam Anda (Galatia 4:19) dan diam di dalam hatimu (Efesus 3:17). Dan perhatikan hidup Anda. Jangan biarkan dosa tinggal dan memborok dalam diri Anda, dan jangan biarkan hal-hal yang tidak pantas mengisi pikiran Anda kapan pun, karena hal-hal demikian akan kembali untuk menyiksa Anda melalui kesadaran yang jahat yang akan mencegah Anda mendekati Tuhan dengan keberanian dan keyakinan.

Atau, apakah Anda dilanda oleh kesuaman atau kurangnya kasih kepada Kristus dan pikiran-pikiran duniawi? Kalau begitu renungkanlah apa yang telah dilakukan Kristus bagi Anda dan pikirkan betapa Ia mengasihi Anda dengan mati untuk Anda saat Anda masih berdosa (Roma 5:8). Sebagai pertolongan, ambillah sebuah buku yang baik tulisan orang-orang Puritan. Mereka ini adalah orang-orang yang hatinya telah dibakar oleh Roh Kudus, yang tulisannya tentu akan memberikan kehangatan kepada hati kita yang dingin. Biarkan tulisan ini mendorong hati Anda untuk naik ke sorga sehingga Anda bisa mematikan hati Anda terhadap dunia (bdk. 1 Yohanes 5:4) dan beribadah dengan kerinduan yang sepantasnya sesuai dengan kasih Juruselamat kepada Anda.

Atau, Apakah Anda dihalangi oleh ketidaksiapan? Kalau demikian, jangan mengabaikan persiapan yang diperlukan seperti tidur yang cukup semalam sebelum Sabat; dan juga menjaga diri Anda fit dan waspada melalui olahraga dalam seminggu. Begitu sering, dalam masyarakat modern kita yang kompetitif, masalah kelambanan rohani kita diperparah oleh kemalasan fisik sehingga saat-saat sunyi dengan mata tertutup ketika berdoa dan beribadah sering menjadi peluang untuk mencuri-curi tidur. Inilah masalah murid-murid yang menyebabkan kegagalan mereka untuk berjaga-jaga (Matius 26:40).

Atau, apakah masalah Anda bukan saja kurangnya berjaga-jaga tetapi juga hati yang bercabang selama ibadah sehingga Anda dengan gampang dicobai oleh setan untuk berpaling dari khotbah yang disampaikan, Alkitab yang dibacakan, atau sakramen yang dilangsungkan? Jika demikian, mintalah kepada Tuhan ketulusan dan keseriusan dan bertekadlah, dengan pertolongan-Nya, untuk tidak membiarkan apapun mengganggu Anda dari kewajiban Anda berdevosi. Bertekadlah untuk tidak membaca apapun selain yang sedang dibaca. Jangan membaca tulisan di dinding, jangan membaca warta gereja atau apapun juga, selain teks yang sedang dibaca dan dikhotbahkan. Bertekadlah untuk tidak melihat ke manapun selain meja perjamuan ketika roti dipecahkan, dan angkatlah hati Anda dalam kontemplasi kudus bagaimana tubuh Kristus dipecahkan bagi Anda.

Kesimpulan

Pikiran yang melayang-layang dalam ibadah adalah dosa. Jangan meremehkannya. Mengantuk saat khotbah menunjukkan ketidakhormatan kepada Allah karena pengkhotbah berdiri mewakili Kristus untuk membawa Firman Tuhan. Pikiran-pikiran yang melayang tidak berbeda dari tidur, hanya saja dilakukan dengan mata terbuka—yang membuatnya lebih parah, karena itu merupakan kemunafikan. Jadi, saudara yang terkasih, mari kita dengan hati-hati menyelidiki hati kita untuk membersihkan hati kita dari kejahatan ini, dan dengan sungguh beribadah kepada Tuhan dengan gentar dan dalam roh dan kebenaran setiap kali kita datang ke hadapan-Nya dalam ibadah publik dan privat.


About this entry