Penginjilan zaman sekarang

Artikel berikut ini diterjemahkan dari “Present Day Evangelism,” tulisan Arthur W. Pink.

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”
(1 Korintus 1:18)

Kebanyakan dari apa yang dinamakan penginjilan pada zaman sekarang merupakan hal yang menyedihkan bagi orang-orang Kristen sejati, karena mereka merasa bahwa penginjilan zaman sekarang kurang dukungan Alkitab, tidak menghormati Allah, dan mengisi gereja-gereja dengan petobat-petobat palsu. Mereka tertegun dengan begitu banyaknya superfisialitas yang berbusa, kegembiraan kedagingan, dan godaan duniawi yang harus diasosiasikan dengan nama kudus Tuhan Yesus Kristus. Mereka menyayangkan penurunan derajat Injil, penipuan jiwa-jiwa yang tidak waspada, dan penghinaan dan komersialisasi akan sesuatu yang bagi mereka begitu sakral. Hanya perlu sedikit pertimbangan rohani untuk melihat bahwa aktivitas penginjilan Kristen selama satu abad terakhir telah terus-menerus memburuk dari buruk menjadi semakin buruk, namun sedikit nampaknya yang menyadari akar dari keburukan ini. Akan menjadi usaha kami sekarang untuk mengekspos hal yang sama. Tujuannya salah, dan dengan demikian buahnya salah.

Tujuan Tuhan dalam Penginjilan

Rancangan agung Tuhan, yang tidak pernah dan tidak akan pernah Ia ingkari, adalah untuk memuliakan diri-Nya: untuk menyatakan di hadapan ciptaan-Nya betapa tak terhingga mulianya diri-Nya. Itulah tujuan agung yang Ia miliki dalam semua yang Ia lakukan dan katakan. Karena itulah Ia mengijinkan dosa masuk ke dalam dunia. Karena itulah Ia berkehendak agar Anak yang dikasihi-Nya menjadi daging, menaati secara sempurna Hukum Ilahi, menderita, dan mati. Karena itulah Ia sekarang mengambil dari dunia suatu umat bagi diri-Nya, umat yang akan memuji-Nya selamanya. Karena itulah segala sesuatu diatur oleh providensia-Nya, kepada hal itulah segala sesuatu di atas bumi sekarang diarahkan, dan akan berakhir pada hal tersebut. Tidak ada hal lain yang menjadi prinsip Tuhan dalam segala tindakan-Nya: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).

Tujuan Pengkhotbah

Kebenaran yang agung dan mendasar tersebut ditulis di sepanjang Kitab Suci dengan kejelasan sinar mentari, dan ia yang melihatnya tidak buta. Segala sesuatu ditetapkan Allah untuk tujuan tersebut. Menyelamatkan orang-orang berdosa bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, karena Tuhan tidak akan kalah seandainya setiap mereka binasa. Tidak, penyelamatan-Nya akan orang-orang berdosa hanyalah alat untuk mencapai tujuan: “supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia” (Efesus 1:6). Dari fakta mendasar tersebut sudah seharusnya kita menjadikan hal yang sama sebagai tujuan kita: bahwa Tuhan dimuliakan oleh kita—”apapun yang engkau lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Demikian juga sudah seharusnya hal tersebut menjadi tujuan pengkhotbah, dan segala sesuatu harus berada di bawahnya, karena segala sesuatu yang lain memiliki kepentingan dan nilai sekunder. Tapi apakah demikian yang terjadi sekarang? Ambil slogan terakhir dunia keagamaan, “Pemuda bagi Kristus.” Apa yang salah dengan itu? Penekanannya! Mengapa bukan “Kristus bagi Pemuda”?

Dorongan Menggebu-gebu Penginjilan Modern

Jika seorang penginjil gagal menjadikan kemuliaan Tuhan sebagai tujuannya yang terpenting dan konstan, ia pasti menjadi salah, dan segala usahanya akan menjadi seperti tinju di udara. Ketika ia menjadikan akhir segala sesuatu kurang dari hal tersebut, ia pasti jatuh ke dalam kekeliruan, karena ia tidak lagi memberikan kepada Tuhan tempat yang sebenarnya. Sekali kita menetapkan tujuan kita sendiri, kita siap untuk memakai cara kita sendiri. Pada poin inilah penginjilan gagal dua atau tiga generasi yang lalu, dan dari poin tersebut penginjilan semakin dan semakin jauh menyeleweng. Penginjilan menjadikan “memenangkan jiwa” tujuannya, summum bonum (kebaikan tertinggi)-nya, dan segala sesuatu yang lain dipakai untuk melayani tujuan tersebut. Meskipun kemuliaan Tuhan tidak sesungguhnya disangkal, kemuliaan Tuhan hilang dari penglihatan, hilang dari keramaian, dan dijadikan sekunder. Lebih jauh, hendaknya diingat bahwa Tuhan dihormati sebanding dengan kesetiaan seorang pengkhotbah terhadap Firman-Nya, dan dalam menyerukan “seluruh perintah-Nya,” dan bukan sekedar bagian-bagian yang menarik baginya.

Tanpa berkata apa-apa tentang penginjil murahan yang tidak punya tujuan lebih tinggi daripada dengan tergesa-gesa membuat orang menyatakan iman secara formal supaya jumlah anggota gereja membengkak, ambillah mereka yang terinspirasi oleh belas kasih yang tulus dan perhatian yang dalam bagi mereka yang akan binasa, dan yang dengan sungguh-sungguh rindu dan berjerih payah untuk melepaskan jiwa mereka dari murka yang akan datang. Namun, jika mereka tidak berhati-hati, mereka pun akan melakukan kekeliruan. Jika mereka tidak terus memandang pertobatan sebagaimana Allah memandangnya—sebagaimana di dalamnya Ia dimuliakan—mereka akan segera berkompromi dalam cara yang mereka gunakan. Desakan menggebu-gebu dari penginjilan modern bukanlah bagaimana memuliakan Allah Tritunggal, melainkan bagaimana melipatgandakan pertobatan. Seluruh arus aktivitas penginjilan selama lima puluh tahun terakhir telah mengambil jalan tersebut. Kehilangan pandangan akan tujuan Allah, gereja-gereja telah menciptakan cara-cara mereka sendiri.

“Hasil” vs. Teologi yang Baik

Bertekad untuk mencapai tujuan tertentu, energi tubuh diberikan kekuasaan yang bebas; dan andaikan tujuan itu benar, penginjil-penginjil telah menyimpulkan bahwa tidak mungkin salah apa pun yang berkontribusi untuk mencapai tujuan tersebut; dan karena usaha-usaha mereka nampaknya sangat berhasil, terlalu banyak gereja dengan diam menyetujui, memberitahu diri mereka sendiri bahwa “hasil membenarkan caranya.” Bukannya diuji dalam terang Kitab Suci, mereka malah diterima atas dasar manfaatnya. Penginjil dipandang bukan karena kebaikan khotbahnya, melainkan dari “hasil” yang nampak yang ia peroleh. Ia dinilai bukan menurut seberapa jauh khotbahnya memuliakan Tuhan, melainkan seberapa banyak jiwa yang bertobat karenanya.

Ketika seseorang membuat pertobatan orang-orang berdosa sebagai tujuan utama dan totalnya, ia sangat cenderung untuk mengambil jalan yang salah. Bukannya berusaha mengkhotbahkan Kebenaran dalam segala kemurniannya, ia akan melunakkannya supaya lebih bisa diterima oleh mereka yang belum dilahirbarukan. Didorong oleh kekuatan tunggal, yang bergerak menuju satu arah yang tetap, tujuannya adalah membuat pertobatan mudah, dan karena itu ayat-ayat favorit (seperti Yohanes 3:16) dibicarakan panjang lebar sementara yang lain diabaikan atau dipotong. Hal ini tentu berefek pada teologinya sendiri, dan berbagai ayat dalam Firman dihindari, jika tidak disingkirkan. Di mana ia akan memberi tempat dalam pikirannya kepada deklarasi-deklarasi semacam “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya?” (Yeremia 13:23), “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku” (Yohanes 6:44), “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16)? Ia akan sangat tergoda untuk memodifikasi kebenaran pemilihan Allah yang berdaulat, penebusan Kristus yang khusus, dan perlunya karya supranatural Roh Kudus.

“Kerusakan Total” Diabaikan

Dalam penginjilan abad ke-20 ada pengabaian yang celaka atas kebenaran serius kerusakan total manusia. Ada peremehan total atas keadaan yang sungguh malang dari orang berdosa. Malah sangat sedikit orang yang telah berhadapan dengan fakta yang tidak enak bahwa setiap manusia seluruhnya korup secara natur, bahwa ia sepenuhnya tidak sadar akan kebobrokan dirinya, bahwa ia buta dan tanpa pertolongan, mati dalam pelanggaran dan dosa. Karena demikianlah keadaannya, karena hatinya dipenuhi dengan kebencian terhadap Allah, ini berarti bahwa tak seorangpun dapat diselamatkan tanpa intervensi khusus dan langsung dari Allah. Menurut pandangan kami di sini, demikian juga halnya di tempat yang lain: memodifikasi kebenaran kerusakan total manusia secara pasti akan berakibat pada pengenceran kebenaran-kebenaran yang berkaitan. Ajaran Kitab Suci tentang poin ini tidak mungkin salah: kemalangan manusia adalah sedemikian hingga keselamatannya tidak mungkin kecuali Allah menunjukkan kuasa-Nya yang besar. Tidak ada penggerakan emosi melalui anekdot-anekdot, tidak ada pemuasan indera melalui musik, tidak ada pidato pengkhotbah, tidak ada ajakan-ajakan persuasif dapat sedikitpun menolong.

Berkaitan dengan masa lampau, Allah mengerjakan semuanya tanpa pertolongan apapun. Akan tetapi dalam begitu besarnya pekerjaan masa kini, dinyatakan oleh penginjilan Arminian pada zaman sekarang bahwa Ia memerlukan kerja sama orang berdosa. Sungguh, jadinya begini: Allah seolah-olah menolong manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri: orang berdosa harus memulai pekerjaan itu dengan menjadi bersedia, dan kemudian Allah akan menyelesaikan pekerjaan tersebut. Padahal, tak seorangpun selain Roh dapat membuatnya bersedia pada hari kuasa-Nya (Mazmur 110:3). Hanya Dia dapat menghasilkan dukacita yang benar terhadap dosa, dan iman yang menyelamatkan dalam Injil. Hanya Dia dapat melepaskan kita dari cinta diri, dan membawa kita tunduk kepada Ketuhanan Kristus. Sebagai ganti mencari pertolongan penginjil-penginjil luar, biarlah gereja-gereja tersungkur di hadapan Tuhan, mengakui dosa-dosanya, mencari kemuliaan-Nya, dan berseru memohon karya mujizat-Nya. “Bukan dengan keperkasaan [pengkhotbah] dan bukan dengan kekuatan [kemauan orang berdosa], melainkan dengan Roh-Ku, firman Tuhan semesta alam.”

Penghilangan Fatal dalam “Pemberitaan Injil”

Secara umum disadari bahwa kerohanian sedang berada pada gelombang surut dalam kekristenan, dan tidak sedikit yang melihat bahwa doktrin yang sehat secara cepat menurun, namun banyak umat Tuhan merasa terhibur karena mengira bahwa Injil masih diberitakan secara luas dan sejumlah besar diselamatkan melaluinya. Sayang sekali, perkiraan optimis mereka tidak beralasan dan tidak berdasar. Jika “khotbah” yang sekarang diberitakan dalam Gedung-gedung Misi diteliti, jika “traktat-traktat” yang sekarang disebarkan di antara massa yang tidak bergereja dicermati, jika pengkhotbah-pengkhotbah “lapangan terbuka” secara hati-hati didengarkan, jika “Khotbah-khotbah” atau “Pidato-pidato” dari suatu “kampanye memenangkan jiwa” dianalisa; secara singkat, jika “penginjilan” modern ditimbang dengan timbangan Kitab Suci, ia akan didapati kekurangan, dengan tidak adanya hal yang vital bagi pertobatan sejati, tidak adanya apa yang esensial jika orang-orang berdosa perlu ditunjukkan kebutuhan mereka akan seorang Juruselamat, tidak adanya hal yang akan menghasilkan hidup yang diubahkan yang dimiliki manusia baru dalam Kristus Yesus.

Tidak dengan semangat mencari-cari kesalahan kami menulis, berusaha membuat manusia bersalah untuk setiap kata. Kami tidak sedang mencari kesempurnaan, dan mengeluh karena kami tidak dapat menemukannya; kami tidak juga mengkritik orang lain karena mereka tidak melakukan apa yang kami pikir seharusnya mereka lakukan. Tidak, tidak, masalahnya jauh lebih serius daripada itu. “Penginjilan” zaman sekarang bukanlah superfisial sampai derajat terakhir, melainkan rusak secara radikal. Ia sangat kekurangan fondasi untuk mendasari panggilan kepada orang-orang berdosa untuk datang kepada Kristus. Bukan saja ada kekurangan proporsi yang patut diratapi (belas kasihan Allah dijadikan jauh lebih utama daripada kesucian-Nya, kasih-Nya daripada murka-Nya), melainkan ada penghilangan fatal akan apa yang telah diberikan Allah untuk memberikan pengenalan akan dosa. Bukan saja ada kesalahan-kesalahan mempergunakan “nyanyian yang menyenangkan,” humor, dan anekdot-anekdot yang menghibur, melainkan ada penghilangan akan latar belakang gelap yang di atasnya saja Injil dapat bersinar secara efektif.

Meskipun serius dakwaan di atas, itu hanyalah setengahnya—sisi negatif dari apa yang kurang. Lebih buruk lagi apa yang sedang ditawarkan oleh penginjil-penginjil murahan zaman sekarang. Isi positif pesan mereka tidak lain hanyalah melemparkan debu di mata seorang berdosa. Jiwanya ditidurkan oleh opium Setan, yang diberikan dalam bentuk yang sangat tidak tercurigai. Mereka yang sungguh-sungguh menerima “pesan” yang disampaikan dari kebanyakan mimbar “ortodoks” sekarang sedang tertipu secara fatal. Jalannya nampak baik bagi manusia, namun kecuali Allah secara berdaulat turun tangan dengan mujizat kasih karunia, semua yang mengikutinya pasti menemui ujungnya menuju kebinasaan. Puluhan ribu yang secara konfiden membayangkan bahwa mereka sedang menuju Sorga akan mendapati bahwa mereka tertipu secara mengerikan ketika mereka bangun di Neraka!

Apakah Injil?

Apakah Injil adalah pesan kabar baik dari Sorga untuk membuat pemberontak-pemberontak yang melawan Allah leluasa dalam kejahatan mereka? Apakah Injil diberikan dengan tujuan meyakinkan orang-orang muda yang gila kenikmatan bahwa dengan syarat mereka “percaya” saja, tidak ada yang perlu mereka takuti pada masa yang akan datang? Seseorang pasti mengira demikian dari cara Injil diberitakan, atau lebih tepatnya diputarbalikkan, oleh kebanyakan “penginjil,” dan lebih lagi ketika kita melihat kehidupan “petobat-petobat” mereka. Tentu saja mereka yang mempunyai kebijakan rohani seharusnya melihat bahwa meyakinkan orang-orang tersebut bahwa Allah mengasihi mereka dan Anak-Nya mati bagi mereka, dan bahwa pengampunan total bagi segala dosa mereka (yang lampau, sekarang, dan akan datang) dapat diperoleh hanya dengan “menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi mereka” adalah tidak lain dari membuang mutiara kepada babi.

Bertambah Banyaknya Pengkhotbah-pengkhotbah Amatir

Injil bukanlah sesuatu yang terpisah. Injil bukan sesuatu yang berdiri sendiri di luar hukum Allah yang diwahyukan sebelumnya. Injil bukan pengumuman bahwa Allah telah mengurangi keadilan-Nya atau menurunkan standar kesucian-Nya. Sangat jauh dari itu, ketika dipaparkan secara alkitabiah Injil menyatakan dengan jelas dan merupakan bukti yang kritis akan keadilan Allah yang tidak dapat diganggu gugat dan kebencian-Nya yang tidak terhingga terhadap dosa. Akan tetapi untuk memaparkan Injil secara Alkitabiah, banyak pemuda dan pebisnis yang memberikan waktu luangnya bagi “usaha penginjilan” tidak cukup berkualifikasi. Sayangnya keangkuhan daging memberi jalan kepada begitu banyak orang yang tidak kompeten untuk buru-buru mengambil posisi di mana orang-orang yang lebih bijaksana gentar untuk mengambilnya. Bertambah banyaknya orang-orang yang tidak berpengalaman inilah yang berperan besar terhadap situasi celaka yang sekarang menghadapi kita, dan karena “gereja-gereja” dan “persekutuan-persekutuan” begitu banyak dipenuhi oleh “petobat-petobat” mereka, mereka begitu tidak rohani dan begitu duniawi.

Tidak, pembaca, Injil sangat sangat jauh dari meremehkan dosa. Injil menunjukkan kita bagaimana ketatnya Allah berurusan dengan dosa. Injil menyatakan kepada kita pedang keadilan-Nya yang mengerikan memukul Anak-Nya yang dikasihi-Nya supaya penebusan dapat dibuat bagi pelanggaran-pelanggaran umat-Nya. Sangat jauh dari Injil mengesampingkan Taurat, Injil menampilkan Juruselamat menerima kutukan Taurat. Kalvari menunjukkan kebencian Allah yang paling menggentarkan dan menakjubkan terhadap dosa yang tidak akan pernah ditunjukkan dalam waktu atau kekekalan. Dan menurut Anda apakah Injil diagungkan atau Allah dimuliakan dengan pergi kepada orang-orang di dunia dan memberi tahu mereka bahwa mereka “dapat diselamatkan saat ini juga dengan hanya menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi mereka” sementara mereka masih terikat kepada berhala-berhala mereka dan hati mereka masih mencintai dosa? Jika saya melakukannya, saya memberi tahu mereka suatu kebohongan, memalsukan Injil, menghina Kristus, dan menjadikan kasih karunia Allah kebebasan yang liar.

Alkitab Diputarbalikkan dari Konteksnya

Tentu sebagian pembaca siap untuk menyatakan keberatan terhadap pernyataan-pernyataan yang “kejam” dan “sarkastis” di atas dengan bertanya, Ketika mendengar pertanyaan “Apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” (Kisah Rasul 16:30) bukankah Rasul berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat”? Masakan kita bersalah, kalau begitu, jika kita memberitahu orang-orang berdosa hal yang sama hari ini? Tidakkah kita punya dukungan Ilahi untuk melakukannya? Benar, kata-kata itu ada dalam Kitab Suci, dan karena itu, banyak orang-orang yang superfisial dan tidak terlatih menyimpulkan bahwa mereka bisa mengulanginya kepada siapa saja dan kapan saja. Tapi kiranya diperhatikan bahwa Kisah Rasul 16:31 tidak ditujukan kepada sembarang orang, melainkan kepada satu orang tertentu, yang secara langsung menunjukkan bahwa pesan tersebut bukan untuk sembarangan dikatakan, melainkan merupakan kata-kata yang khusus untuk mereka yang menunjukkan sikap seperti orang yang kepadanya kalimat tersebut pertama kali dikatakan.

Ayat-ayat Alkitab tidak boleh diputarbalikkan dari konteksnya, tapi harus ditimbang, ditafsir, dan diaplikasikan sesuai dengan konteksnya; dan ini memerlukan doa, meditasi, dan studi yang panjang; dan kegagalan dalam poin inilah yang menjelaskan “khotbah-khotbah” murahan dan tidak berharga dalam zaman serba instan ini. Lihatlah konteks Kisah Rasul 16:31, dan apa yang kita temukan? Apa yang terjadi, dan kepada siapa Rasul berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus?” Tujuh jawaban diberikan di situ, yang menyediakan garis pembatas yang mencolok dan komplit akan karakter mereka yang kepadanya kita diijinkan untuk menyampaikan kata-kata yang sungguh injili ini. Saat kita secara singkat menyebutkan ketujuh detil ini, biarlah pembaca merenungkannya dengan hati-hati.

Pertama, orang yang kepadanya kata-kata ini disampaikan baru saja menyaksikan kuasa mujizat Allah. “Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua” (Kisah Rasul 16:26). Kedua, akibatnya orang tersebut sangat tergerak, bahkan sampai ke titik putus asa: “Ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri” (ayat 27). Ketiga, ia merasakan perlunya pencerahan: “Kemudian ia berseru meminta cahaya” (ayat 29, diterjemahkan dari King James Version). Keempat, kecukupan dirinya hancur total, karena ia “berlari masuk … dengan gemetar” (ayat 29). Kelima, ia mengambil tempat yang sepatutnya (di hadapan Allah)—dalam debu—karena “tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas” (ayat 29). Keenam, ia menunjukkan hormat dan perhatian kepada hamba-hamba Allah, karena ia “mengantar mereka ke luar” (ayat 30). Ketujuh, kemudian, dengan kepedulian yang mendalam terhadap jiwanya, ia bertanya, “Apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?”

Di sini, dengan demikian, ada sesuatu yang jelas untuk pembimbing kita, jika kita bersedia dibimbing. Bukan orang yang tidak serius, ceroboh, dan tidak peduli yang dinasehati untuk “sekedar” percaya; melainkan, seorang yang memberikan bukti jelas bahwa karya Allah yang berkuasa telah dikerjakan dalam dirinya. Ia adalah jiwa yang dibangunkan (ayat 27). Dalam kasusnya tidak ada keperluan untuk menekankan kondisinya yang terhilang, karena ia jelas merasakannya; para rasul juga tidak diperlukan untuk mendesaknya bertobat, karena keseluruhan sikapnya menunjukkan penyesalannya. Akan tetapi menerapkan kata-kata yang disampaikan kepadanya kepada mereka yang buta total terhadap kondisi mereka yang rusak, dan benar-benar mati terhadap Allah, akan lebih konyol daripada meletakkan sebotol garam berbau di dekat hidung seseorang pingsan yang baru ditarik dari dalam air. Biarlah pengkritik artikel ini membaca sepanjang Kisah Rasul dan melihat kalau ia dapat menemukan satu peristiwa di mana para rasul berbicara kepada sembarang orang atau kumpulan penyembah berhala dengan “sekedar” memberi tahu mereka untuk percaya Kristus.

“Oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”

Sama seperti dunia tidak siap menerima Perjanjian Baru sebelum menerima yang Lama, sama seperti orang-orang Yahudi tidak siap menerima pelayanan Kristus sampai Yohanes Pembaptis pergi mendahului-Nya dengan seruan lantangnya supaya orang-orang bertobat, demikian pula orang yang belum diselamatkan tidak berada dalam kondisi siap menerima Injil sampai Taurat diaplikasikan kepada hati mereka, karena “oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20). Adalah membuang waktu untuk menabur benih di tanah yang tidak pernah dibajak atau dicangkul! Menyatakan pengorbanan substitusi Kristus kepada mereka yang keinginan terbesarnya yaitu memuaskan keberdosaannya, adalah sama dengan memberikan apa yang suci kepada anjing-anjing. Apa yang perlu didengar oleh mereka yang belum bertobat yaitu karakter-Nya yang dengannya mereka bertanggung jawab, klaim-klaim-Nya atas mereka, tuntutan-tuntutan-Nya yang adil, dan bahwa mengabaikan-Nya dan memilih jalan mereka sendiri merupakan kejahatan yang tidak terkira.

Ia akan Menyelamatkan Umat-Nya “dari Dosa-dosa Mereka”

Natur keselamatan Kristus dinyatakan dengan begitu salah oleh “penginjil” zaman sekarang. Ia memberitakan seorang Juruselamat dari Neraka ketimbang Juruselamat dari dosa. Dan itulah mengapa begitu banyak orang secara fatal tertipu, karena banyak sekali yang ingin selamat dari Lautan Api namun yang tidak ingin dilepaskan dari kedagingan dan keduniawian. Hal pertama yang dikatakan tentang Dia di Perjanjian Baru yaitu, “engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya (bukan “dari murka yang akan datang,” melainkan) dari dosa mereka” (Matius 1:21). Kristus adalah Juruselamat bagi mereka yang menyadari betapa berdosanya dosa, yang merasakan beban dosa yang sangat tidak mengenakkan atas nurani mereka, yang muak terhadap diri mereka sendiri karenanya, yang rindu untuk dibebaskan dari kuasanya yang mengerikan; dan Ia bukan Juruselamat bagi yang lain. Seandainya Ia “menyelamatkan dari Neraka” mereka yang masih mencintai dosa, Ia akan menjadi Hamba dosa, merestui kejahatan mereka dan berpihak dengan mereka melawan Allah. Betapa mengerikan dan menghujat untuk berbicara demikian terhadap Yang Mahakudus!

Seandainya pembaca berkata, Aku tidak menyadari kengerian dosa maupun tersungkur dengan rasa bersalah ketika Kristus menyelamatkan aku. Maka kami tanpa ragu menjawab, Entah engkau belum pernah diselamatkan sama sekali, atau engkau tidak diselamatkan seawal yang engkau kira. Benar, ketika orang Kristen bertumbuh dalam kasih karunia ia memiliki kesadaran yang lebih jelas akan apa itu dosa—pemberontakan terhadap Allah—dan kebencian dan kedukaan yang lebih mendalam terhadapnya; tetapi mengira bahwa seseorang dapat diselamatkan oleh Kristus sementara nuraninya tidak pernah dipukul oleh Roh, dan hatinya belum dibuat menyesal di hadapan Allah, adalah membayangkan sesuatu yang tidak eksis di dunia kenyataan. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Matius 9:12): mereka yang sungguh-sungguh mencari pertolongan dari Tabib agung hanyalah mereka yang sakit akan dosa—yang rindu untuk dilepaskan dari pekerjaannya yang tidak memuliakan Allah dan polusinya yang mencemarkan jiwa.

Khotbah yang akan Membuat Orang Pergi

Dengan demikian, karena keselamatan Kristus ialah keselamatan dari dosa—dari cinta akan dosa, dari kuasanya, dari rasa bersalah akibat dosa dan hukumannya—maka tentu tugas pertama dan utama seorang penginjil yaitu berkhotbah tentang DOSA: menjelaskan apa sesungguhnya dosa itu, menunjukkan di mana letak kejahatannya yang tidak terhingga; menelusuri pekerjaannya yang kompleks dalam hati; menunjukkan bahwa tidak kurang dari hukuman kekal adalah ganjarannya. Ah, dan berkhotbah tentang dosa—tidak sekedar mengutarakan beberapa kalimat klise mengenainya, melainkan memberikan khotbah demi khotbah untuk menjelaskan apa dosa itu di hadapan Allah—tidak akan menjadikannya populer maupun menarik khalayak ramai, bukan? Tidak, tidak akan, dan mengetahui hal ini, mereka yang mencintai pujian manusia lebih daripada perkenan Allah, dan yang menghargai gaji mereka di atas jiwa-jiwa kekal, akan secara otomatis menyesuaikan layar mereka. “Tapi khotbah seperti itu akan membuat orang pergi!” Kami menjawab, jauh lebih baik membuat orang pergi dengan khotbah yang setia daripada membuat Roh Kudus pergi dengan melayani daging.

“Kasih Karunia” Tidak Pernah Berkompromi dengan Dosa

Ketentuan-ketentuan keselamatan Kristus dinyatakan dengan salah oleh penginjil zaman sekarang. Ia memberi tahu para pendengarnya bahwa keselamatan adalah oleh kasih karunia dan diterima sebagai pemberian yang cuma-cuma; bahwa Kristus telah melakukan segala sesuatu bagi orang berdosa, dan tidak ada yang perlu dilakukannya kecuali “percaya”—bersandar di dalam jasa yang tak terhingga dari darah-Nya. Dan begitu luasnya konsep ini sekarang berpengaruh dalam lingkungan “ortodoks”, begitu seringnya konsep ini diperdengarkan di telinga mereka, begitu dalamnya ia telah berakar dalam pikiran mereka, sehingga bagi seseorang untuk sekarang menantangnya dan menolaknya karena itu sungguh tidak cukup dan berat sebelah sehingga menipu dan salah, adalah baginya untuk dengan segera dilabel sesat, dan dituduh tidak menghormati karya sempurna Kristus karena mengajarkan keselamatan melalui usaha. Meskipun demikian, penulis cukup siap untuk menanggung resiko tersebut.

Keselamatan ialah oleh kasih karunia, oleh kasih karunia saja, karena ciptaan yang telah jatuh tidak mungkin melakukan apapun untuk mendapatkan perkenan Allah. Meskipun demikian, kasih karunia Ilahi tidak diberikan dengan membuang kekudusan, karena kasih karunia tidak pernah berkompromi dengan dosa. Juga benar bahwa keselamatan ialah pemberian cuma-cuma, tapi tangan yang kosong harus menerimanya, dan bukan tangan yang masih memegang erat dunia! Akan tetapi tidak benar bahwa “Kristus telah melakukan segala sesuatu bagi orang berdosa.” Ia tidak mengisi perut-Nya dengan makanan yang dimakan babi dan mendapati makanan tersebut tidak dapat memuaskan. Ia tidak memalingkan punggungnya terhadap negeri yang jauh, bangkit, pergi kepada Bapa, dan mengakui dosa-dosa-Nya—ini semua adalah tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh orang berdosa itu sendiri. Benar, ia tidak akan diselamatkan karena melakukan hal-hal tersebut, sama seperti anak yang hilang tidak dapat menerima ciuman dan cincin Sang Bapa sementara ia tetap dipisahkan dari-Nya oleh kebersalahannya!

Pendosa Harus Bertobat

Sesuatu yang lebih daripada “percaya” diperlukan untuk keselamatan. Hati yang memberontak terhadap Allah tidak dapat percaya: ia harus lebih dahulu dipecahkan. Tertulis, “jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Lukas 13:3). Pertobatan sama pentingnya dengan iman, ya, yang terakhir tidak bisa ada tanpa yang pertama: “kamu tidak menyesal sehingga kamu bisa percaya kepadanya” (Matius 21:32, diterjemahkan dari King James Version). Urutannya dengan cukup jelas diberikan oleh Kristus: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15). Pertobatan ialah menyesal atas dosa. Pertobatan ialah penolakan di dalam hati terhadap dosa. Pertobatan ialah tekad hati untuk meninggalkan dosa. Dan di mana ada pertobatan sejati kasih karunia bebas berkarya, karena ketentuan kekudusan terpelihara saat dosa ditinggalkan. Karena itu, merupakan tugas penginjil untuk berseru, “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya” (Yesaya 55:7). Tugasnya yaitu memanggil para pendengarnya untuk meletakkan senjata perseteruan mereka terhadap Allah, dan kemudian memohon belas kasihan melalui Kristus.

“Ketuhanan” Juruselamat

Jalan keselamatan disalahartikan. Seringkali “penginjil” modern meyakinkan jemaatnya bahwa satu-satunya hal yang harus dilakukan seorang berdosa untuk melepaskan diri dari Neraka dan memastikan Sorga yaitu “menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya.” Tapi pengajaran seperti ini sungguh menyesatkan. Tak seorangpun dapat menerima Kristus sebagai Juruselamatnya sementara ia menolak-Nya sebagai Tuhan! Benar ditambahkan bahwa ia yang menerima Kristus harus juga berserah kepada-Nya sebagai Tuhan, tapi ia seketika merusakkannya dengan menegaskan bahwa meskipun petobat tersebut gagal dalam hal tersebut, Sorga dijamin baginya. Ini adalah salah satu tipuan Setan. Hanya mereka yang buta rohani akan menyatakan bahwa Kristus menyelamatkan siapapun yang membenci otoritas-Nya dan menolak kuk-Nya: oh, pembaca, itu bukan kasih karunia (grace) melainkan sesuatu yang memalukan (disgrace)—menyatakan Kristus dengan memberi peluang bagi keberdosaan.

Dalam jabatan-Nya sebagai Tuhan Kristus memelihara kemuliaan Allah, pemerintahan-Nya, Hukum-Nya; dan jika pembaca membaca ayat-ayat (Lukas 1:46, 47; Kisah Rasul 5:31; 2 Petrus 1:11; 2:20; 3:18) di mana kedua gelar muncul, pembaca akan mendapati bahwa urutannya selalu “Tuhan dan Juruselamat” dan bukan “Juruselamat dan Tuhan.” Karena itu, mereka yang belum tunduk kepada tongkat Kristus dan memuliakan-Nya sebagai Raja dalam hati dan hidup mereka, namun mengira mereka percaya kepada-Nya sebagai Juruselamat mereka, sedang tertipu, dan kecuali Allah menyadarkan mereka, mereka akan pergi ke api yang kekal dengan kebohongan di tangan kanan mereka (Yesaya 44:20). Kristus ialah “pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibrani 5:9), namun sikap mereka yang tidak tunduk kepada Ketuhanan-Nya yaitu “Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami” (Lukas 19:14). Berhentilah sejenak, pembaca, dan dengan jujur hadapilah pertanyaan: Apakah aku tunduk pada kehendak-Nya? Apakah aku sungguh-sungguh berusaha untuk menjaga perintah-perintah-Nya?

Kondisi yang Jauh Lebih Celaka daripada yang Kita Kira

Sayang sekali, “jalan keselamatan” Allah hampir sepenuhnya tidak diketahui hari ini, natur keselamatan Kristus disalah mengerti hampir secara universal, dan ketentuan-ketentuan keselamatan-Nya diputarbalikkan. “Injil” yang sekarang dikumandangkan hanyalah, sembilan dari sepuluh, penyimpangan dari Kebenaran, dan puluhan ribu, yakin mereka sedang menuju Sorga, sekarang sedang mempercepat langkah mereka ke Neraka secepat waktu dapat membawa mereka. Keadaan Kekristenan jauh, jauh lebih celaka daripada yang dikira oleh bahkan orang-orang “pesimis” dan “alarmis”. Kami bukan nabi, dan kami tidak akan berspekulasi mengenai nubuat alkitabiah—orang-orang lebih berhikmat dari penulis telah seringkali membodohi diri mereka sendiri dengan melakukannya. Dengan jujur kami berkata bahwa kami tidak tahu apa yang akan diperbuat Allah. Kondisi keagamaan jauh lebih buruk, bahkan di Inggris, 150 tahun lalu. Tapi kami sangat gentar atas hal ini: kecuali Allah berkenan memberikan kebangunan rohani sejati, tidak akan lama sebelum “kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa” (Yesaya 60:2), karena cahaya Injil sejati secara cepat menghilang. “Penginjilan” modern merupakan, dalam pertimbangan kami, “tanda-tanda zaman” yang paling serius di antara semuanya.

Jalan bagi Mereka yang Peduli

Apa yang harus dilakukan umat Allah mengetahui situasi yang ada saat ini? Efesus 5:11 menyediakan jawaban Ilahi: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu”; dan segala sesuatu yang melawan cahaya Firman adalah “kegelapan.” Adalah kewajiban setiap orang Kristen untuk tidak berurusan dengan kengerian “penginjilan” zaman sekarang: untuk tidak memberikan dukungan moral dan finansial terhadap hal tersebut, untuk tidak menghadiri pertemuan-pertemuan mereka, untuk tidak mengedarkan traktat-traktat mereka. Pengkhotbah-pengkhotbah yang memberi tahu orang-orang berdosa bahwa mereka dapat diselamatkan tanpa membuang berhala-berhala mereka, tanpa bertobat, tanpa tunduk kepada Ketuhanan Kristus, sama bersalah dan berbahayanya seperti mereka yang bersikeras bahwa keselamatan diperoleh karena usaha, dan bahwa Sorga harus didapatkan melalui usaha kita sendiri.


About this entry