Perlunya pertobatan (2)

1: Tanpa pertobatan keberadaanmu sia-sia.

Tidakkah suatu hal yang begitu malang jika engkau tidak memiliki kegunaan apa-apa, menjadi beban yang tidak menguntungkan bagi bumi ini, sekedar borok dalam segenap alam semesta ini? Begitulah engkau, selagi belum bertobat, karena engkau tidak dapat menjawab tujuan keberadaanmu. Bukankah bagi perkenan ilahi jika engkau ada dan diciptakan? Tidakkah Allah membuat engkau bagi diri-Nya sendiri? Apakah engkau seorang manusia, dan apakah engkau memiliki pengertian? Jika iya, pikirkan bagaimana engkau berada dan mengapa engkau ada. Lihatlah karya Allah dalam tubuhmu, dan tanyakanlah kepada dirimu untuk apa Allah menenun engkau? Pikirkan fungsi-fungsi mulia jiwamu. Untuk apa Allah memberikan semua kemuliaan ini? Apakah tidak ada tujuan lain selain supaya engkau dapat menyenangkan dirimu sendiri, dan memuaskan inderamu? Apakah Allah mengirim manusia ke dalam dunia, hanya seperti burung, untuk mengumpulkan sedikit ranting dan lumpur, dan membangun sarang mereka, dan membesarkan anak-anak mereka, dan kemudian mati? Orang kafir pun dapat melihat lebih jauh daripada ini. Apakah begitu ‘dahsyat dan ajaib kejadianmu,’ dan masih belumkah engkau berpikir—tentu, untuk tujuan yang mulia dan agung?

O manusia! berpikirlah. Tidakkah malang jika suatu tenunan yang begitu indah harus diciptakan untuk kesia-siaan? Sungguh engkau sia-sia, kecuali engkau ada bagi Allah. Adalah lebih baik bagimu untuk tidak berada daripada tidak berada bagi-Nya. Apakah engkau akan melayani tujuanmu? Engkau harus menyesal dan bertobat; tanpa hal ini engkau tidak memiliki tujuan; sungguh, hanya tujuan yang merugikan.

Engkau tidak memiliki tujuan. Seorang yang belum bertobat adalah seperti alat musik pilihan yang setiap senarnya putus atau sumbang. Roh Allah yang hidup harus memperbaiki dan menyelaraskan nadanya melalui kasih karunia kelahiran baru, dan dengan manis menggerakkannya dengan kuasa kasih karunia, atau jika tidak doa-doamu hanyalah merupakan gonggongan, dan seluruh pelayananmu tidak akan menghasilkan musik di telinga yang Maha Suci. Segala kekuatan dan fungsi-fungsimu begitu rusak dalam keadaan naturalmu sehingga, kecuali engkau dibersihkan dari usaha-usaha yang mati, engkau tidak dapat melayani Allah yang hidup. Seorang manusia yang tidak dikuduskan tidak dapat mengerjakan pekerjaan Allah.

[1] Ia tidak mempunyai keahlian di dalamnya. Ia sepenuhnya tidak ahli di dalam pekerjaan tersebut sebagaimana dalam kebenaran. Ada misteri-misteri besar dalam praktek maupun prinsip-prinsip kesalehan. Orang yang belum dilahirkan kembali tidak tahu misteri-misteri kerajaan sorga. Engkau lebih baik mengharapkan seseorang yang tidak pernah belajar alfabet untuk membaca, atau mengharapkan musik yang indah dari seseorang yang tidak pernah menyentuh satu pun alat musik, daripada seorang manusia natural memberikan pelayanan yang memperkenan Tuhan. Ia harus terlebih dahulu diajar oleh Tuhan (Yohanes 6:45), diajar berdoa (Lukas 11:1), diajar tentang apa yang memberi faedah (Yesaya 48:17), diajar berjalan (Hosea 11:3), atau jika tidak ia akan sepenuhnya tidak tahu apa-apa.

[2] Ia tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Betapa lemahnya hatinya! (Yehezkiel 16:30). Ia segera letih. Hari Sabat, alangkah susah payahnya! (Maleakhi 1:13). Ia lemah (Roma 5:6), ya, mati dalam dosa (Efesus 2:5).

[3] Ia tidak mempunyai pikiran untuk itu. Ia tidak suka mengetahui jalan-jalan Allah (Ayub 21:14). Ia tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa (Mazmur 82:5). Ia tidak tahu, demikian pula ia tidak akan mengerti.

[4] Ia tidak mempunyai peralatan maupun materi untuk itu. Seseorang lebih baik memahat marmer tanpa peralatan, atau melukis tanpa warna dan kuas, atau membangun tanpa materi, daripada melakukan pelayanan yang memperkenan Allah tanpa kasih karunia Roh, yang merupakan materi dan peralatan dalam pekerjaan tersebut. Pemberian amal bukanlah pelayanan bagi Allah melainkan kesia-siaan, jika tidak berasal dari kasih kepada Allah. Apakah artinya doa di mulut tanpa kasih karunia di hati, kalau bukan bangkai tanpa nyawa? Apakah artinya seluruh pengakuan kita, jika tidak dinyatakan dengan kesedihan yang saleh dan penyesalan yang tulus? Apa artinya permohonan-permohonan kita, jika tidak digerakkan oleh kerinduan kudus dan iman dalam atribut-atribut dan janji-janji Allah? Apa artinya pujian dan ucapan syukur kita, jika tidak berasal dari kasih kepada Allah, dan rasa syukur yang kudus dan perasaan akan belas kasihan Allah di dalam hati? Seseorang lebih baik mengharapkan pohon-pohon berbicara, atau gerakan dari kematian, daripada mengharapkan pelayanan apapun, yang kudus dan memperkenan Allah, dari seorang yang belum bertobat. Jika pohonnya jahat, bagaimana mungkin buahnya baik?

(bersambung…)


About this entry