Asal mula Calvinisme

Artikel berikut ini diterjemahkan dari “The Origins of Calvinism,” Bab I dari buku “Living for God’s Glory: An Introduction to Calvinism,” tulisan Joel Beeke.

Penyebaran Calvinisme tidak begitu biasa. Kontras dengan Katolisisme, yang terpelihara melalui kuasa sipil dan militer, dan Lutheranisme, yang selamat dengan menjadi agama politik, Calvinisme hanya mengandalkan, sebagian besar, pada logika yang konsisten dan kesetiaannya pada Alkitab. Selama satu generasi ia tersebar ke seluruh Eropa. 1 —Charles Miller

Calvinisme berakar dalam pembaruan agama pada abad 16 di Eropa yang kita kenal sebagai Reformasi Protestan. 2 Akan tetapi gerakan besar ini bukanlah fenomena yang terisolasi. Ia tidak dimulai dengan aksi Martin Luther (1483–1546) menempelkan 95 Tesisnya pada pintu gereja di Wittenberg pada tanggal 31 Oktober 1517, meskipun tesis itu segera diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan disebarluaskan. Kita bisa mengatakan bahwa Reformasi bermula dari apa yang kita sebut “pengalaman menara” Luther, yang kemungkinan besar mendahului tesisnya beberapa tahun. Melalui pengalaman ini, Luther memahami doktrin definitif Reformasi: pembenaran melalui iman kasih karunia semata. Tapi dalam pengertian yang lain, Reformasi mengalir dari usaha-usaha awal untuk mengadakan pembaruan, yang paling mencolok antara lain dipimpin oleh Peter Waldo (ca. 1140–ca. 1217) dan pengikut-pengikutnya di wilayah Alpen, 3 John Wycliffe (ca. 1324–1384) dan kaum Lollard di Inggris, 4 dan John Hus (ca. 1372–1415) serta para pengikutnya di Bohemia. 5 Teolog-teolog yang kurang terkenal, seperti Thomas Bradwardine (ca. 1300–1349) 6 dan Gregory dari Rimini (ca. 1300–1358), 7 bahkan lebih dekat lagi kepada apa yang kemudian dikenal dengan teologi Protestan. Semua orang ini pantas disebut pendahulu Reformasi daripada Reformator karena, meskipun mereka mengantisipasi banyak penekanan Reformasi, mereka kurang memiliki pengertian penuh akan doktrin kritis pembenaran melalui iman kasih karunia semata. 8

Para pendahulu Reformasi ini bersatu secara moral, doktrin, dan praktis dalam oposisi mereka terhadap penyelewengan-penyelewengan Katolik Roma zaman pertengahan. Oposisi ini perlu dicermati, karena Reformasi dimulai terutama sebagai reaksi terhadap penyelewengan-penyelewengan Katolisisme Roma. Luther tidak berusaha menghancurkan Gereja Katolik Roma dan mendirikan gereja baru. Maksud awalnya yaitu membersihkan Gereja Katolik Roma dari penyelewengan.

Dengan demikian teologi Reformed tidak dapat sepenuhnya dimengerti tanpa mengerti problem gereja saat itu, seperti:

  • Penyelewengan kepausan. Kepausan zaman pertengahan penuh dengan penyelewengan dalam teologi dan praktek. Perilaku imoral diijinkan bahkan oleh paus, dan kasih karunia menjadi hal yang murah dan dikomersialisasikan di seluruh gereja melalui sistem kompleks sumpah, puasa, ziarah, misa, reliks, mantra, rosario, dan usaha-usaha yang lain. Perintah kepausan ialah “lakukan penebusan dosa” (sebagaimana diterjemahkan dalam Vulgate) ketimbang “bertobatlah,” sebagaimana diperintahkan Yesus.
  • Keangkuhan kepausan. Melalui studi Alkitab dan sejarah, para pendahulu Reformasi mulai mempertanyakan klaim-klaim paus akan otoritas rasuli sebagai kepala gereja. Contohnya, para Reformator menyimpulkan bahwa batu karang yang di atasnya gereja dibangun (Matius 16:18) ialah isi iman Petrus ketimbang Petrus sendiri, yang berarti bahwa uskup Roma tidak memiliki apa-apa lebih daripada posisi kehormatan. Meskipun orang-orang Protestan bersedia menerima kepausan yang direformasi, yang akan secara hormat melayani gereja, tentangan kejam para paus akhirnya mendesak banyak dari mereka untuk menganggap paus Roma sebagai Anti Kristus (bdk. Pengakuan Iman Westminster, 25.6).
  • Pembelengguan Firman. Orang-orang Protestan mengajarkan bahwa Gereja Katolik Roma membelenggu Alkitab, menahannya dari orang awam dan dengan demikian menjadikannya hanya dapat ditafsir oleh konsili, uskup, pelajar, ahli kanon, dan ahli alegori. Orang-orang Protestan bekerja keras untuk membebaskan Alkitab dari belenggu hirarki ini. Tulis Malcolm Watts:
    Gereja Roma merendahkan Kitab Suci dengan mencampur kemurnian Kanon dengan tradisi aprokrifanya, dengan menambah catatan yang diinspirasi dengan sejumlah besar tradisi yang meragukan, dengan menerima hanya interpretasi yang sesuai dengan “persetujuan mutlak para Bapa” dan “Ibu Suci Gereja,” dan, khususnya dengan melemahkan peranan khotbah sementara “imam-imam” mereka menyibukkan diri dengan kisah-kisah mujizat tentang Maria, orang-orang kudus dan berhala-berhala, dan membesarkan pentingnya Misa, dengan upacara-upacara dan ritualnya yang rumit dan berjumlah banyak. Demikianlah khotbah melemah dan, nyatanya, hampir menghilang. Para Reformator dengan gigih memprotes hal ini dan berjuang dengan segenap tenaga mereka untuk memulihkan Firman Suci Allah. 9

  • Pengagungan monastisisme. Orang-orang Protestan menentang konsep Katolik Roma mengenai superioritas apa yang disebut kehidupan keagamaan. Mereka tidak percaya bahwa monastisisme merupakan satu-satunya jalan kepada spiritualitas atau bahkan jalan yang terbaik. Dengan menekankan keimaman semua orang percaya, mereka berjuang keras untuk menyingkirkan pembedaan Katolik Roma antara kehidupan “inferior” seorang Kristen yang terlibat dalam panggilan sekuler dan dunia keagamaan “yang lebih tinggi” yang dimiliki para biarawan dan biarawati.
  • Pengantaraan yang diboikot. Orang-orang Protestan juga menolak ide-ide Katolik Roma mengenai pengantaraan melalui Maria dan syafaat orang-orang kudus, juga pemberian kasih karunia secara otomatis dalam sakramen. Mereka menentang segala bentuk pengantaraan kepada Allah kecuali melalui Kristus. Mereka mengurangi sakramen menjadi dua, baptisan dan Perjamuan Kudus, dengan demikian melucuti para imam dan gereja dari kuasa pengantaraan dan pemberian keselamatan melalui sakramen.
  • Peran perbuatan baik. Orang-orang Protestan menolak ide Semi-Pelagianisme, yang mengatakan bahwa baik kasih karunia dan perbuatan diperlukan bagi keselamatan. Perbedaan teologis ini menjadi bagian utama perlawanan orang-orang Protestan terhadap Katolisisme Roma, meskipun isu tersebut muncul sebagian besar akibat korupsi moral dan praktis.

Respon orang-orang Protestan terhadap penyelewengan Katolik Roma secara bertahap menjadi lima semboyan atau seruan perang Reformasi, yang berpusat pada istilah Latin solus, yang berarti “saja.” Seruan perang ini menjadi kontras ajaran Protestan dan Katolik Roma:

Protestan
Alkitab saja (sola Scriptura)
Iman saja (sola fide)
Kasih Karunia saja (sola gratia)
Kristus saja (solus Christus)
Kemuliaan bagi Allah saja (soli Deo gloria)

Katolik Roma
Alkitab dan tradisi
Iman dan perbuatan
Kasih karunia dan jasa
Kristus, Maria, dan syafaat orang-orang kudus
Allah, orang-orang kudus, dan hirarki gereja

Yang pertama dari seruan perang ini berkenaan dengan isu mendasar tentang otoritas, ketiga yang di tengah berkenaan dengan dasar-dasar keselamatan, dan yang terakhir menyangkut ibadah.

Dalam Protestantisme mula-mula, baik orang-orang Lutheran dan Reformed memegang kelima semboyan ini. Sayangnya, Luther dan Ulrich Zwingli (1484-1531), pemimpin mula-mula Reformasi Swiss, berbeda pendapat pada bulan Oktober 1529 dalam Marburg Colloquy yang terkenal, ketika mereka tidak dapat sepakat mengenai natur kehadiran Kristus dalam Perjamuan Kudus. 10 Sejak saat itu, Protestantisme terbagi menjadi dua tradisi, Lutheranisme dan Calvinisme—yang terakhir merupakan tradisi Reformed sebagaimana dimengerti dan diekspresikan dalam tulisan-tulisan John Calvin dan sesama Reformator yang lain.

Penyebaran Iman Reformed (Calvinis)

Tradisi Reformed memiliki akar awalnya di Swiss dengan Zwingli dan Heinrich Bullinger (1504-1575), yang meneguhkan dan mensistematisasikannya setelah kematian Zwingli. 11 Calvin (1509-1564), representatif terbesar dan tokohnya yang paling berpengaruh, meneguhkan Geneva sebagai model kota Reformed. 12 Dalam banyak hal, Geneva merupakan pusat Protestan yang terpenting selama abad 16. Ini bukan saja karena kehadiran Calvin, melainkan juga karena seminari yang didirikan Calvin bertujuan untuk melatih dan mendidik Reformator di seluruh Eropa Barat. Hebatnya—agak memalukan sebagian populasi Geneva—kota tersebut menjadi ibukota percetakan Protestan di Eropa, dengan lebih dari tiga puluh percetakan mencetak literatur dalam berbagai bahasa. Karena kematian mendadak Zwingli di medan perang, fakta bahwa karya-karya Bullinger 13 tidak mudah diakses oleh tradisi Calvinis berikutnya, dan kemampuan Calvin dalam mensistematisasi Protestantisme Reformed melalui “Institutes of the Christian Religion”-nya, komentari, khotbah, dan kepemimpinannya, istilah Reformed dan Calvinisme menjadi hampir tidak ada bedanya. Calvin sendiri lebih memilih Reformed karena ia tidak menyetujui memanggil gerakan tersebut dengan namanya.

Gerakan Reformed kemudian menyebar ke Jerman. Kota Heidelberg, di mana Katekismus Heidelberg berasal, menjadi pusat pemikiran Reformed yang berpengaruh. Meskipun demikian, sebagian besar Jerman tetap memegang Lutheranisme. Sebagian kecil orang-orang Lutheran di Jerman terpengaruh oleh pemikiran Calvin, yang paling terkenal di antaranya yaitu Philip Melancthon (1497-1560), sahabat dekat Luther yang disebut orang-orang pada zamannya sebagai Calvinis terselubung. 14 Akhirnya, sejumlah pengikut Melanchton, karena dikucilkan dari orang-orang Lutheran setelah kematian Luther, bergabung dengan Gereja Reformed di Jerman. 15

Calvinisme juga masuk ke Hungaria, 16 Polandia, dan Negara-negara Lembah, khususnya Belanda, di mana ia memasuki wilayah selatan sekitar 1545 dan utara sekitar 1560. 17 Sejak awal, gerakan Calvinis di Belanda lebih berpengaruh dari jumlahnya yang kelihatan. Namun Calvinisme Belanda tidak bertumbuh pesat sampai abad 17, didorong oleh Sinode Dort yang terkenal pada tahun 1618-1619 dan diteguhkan oleh Reformasi Lanjut Belanda (De Nadere Reformatie), gerakan abad 17 dan awal abad 18 yang paralel dengan Puritanisme Inggris. 18 Reformasi Lanjut Belanda dimulai dari tokoh-tokoh awal seperti Jean Taffin (1528-1602) dan Willem Teellinck (1579-1629), sampai pada Alexander Comrie (1706-1774). 19

Gerakan Reformed juga cukup besar mempengaruhi Perancis. 20 Sebelum kematian Calvin pada tahun 1564, dua puluh persen populasi Perancis—sekitar dua juta jiwa—mengakui iman Reformed. Nyatanya, dua puluh persen ini termasuk separuh dari kelas menengah dan bangsawan di Perancis. Untuk sementara waktu, kelihatannya Perancis mungkin memegang iman Reformed secara resmi. Akan tetapi penganiayaan Katolik Roma dan perang sipil menahan penyebaran ajaran Reformed. Gerakan Reformasi Perancis belum pernah sepenuhnya pulih dari hantaman penganiayaan dan serangan di abad 16 ini. Di lain pihak, Tuhan membawa kebaikan dari kejahatan—orang-orang Reformed yang melarikan diri dari Perancis, yang dikenal dengan nama Huguenot, menularkan vitalitas dan semangat rohani yang segar ke dalam gerakan Reformed di manapun mereka tinggal. 21

Reformasi menyebar dengan cepat ke Skotlandia, secara besar di bawah pimpinan John Knox (1513-1572), yang bekerja 19 bulan sebagai budak kapal sebelum ia pergi ke Inggris dan kemudian ke Geneva. Knox membawa prinsip-prinsip Reformasi dari Geneva ke Skotlandia dan menjadi juru bicaranya yang paling terkenal di sana. 22 Di tahun 1560, Parlemen Skotlandia menolak otoritas paus, dan pada tahun berikutnya, “Kirk,” atau gereja, Reformed Skotlandia, dibentuk. Dalam generasi-generasi berikutnya, banyak orang Skotlandia menjadi orang-orang Calvinis yang kuat, sebagaimana juga banyak orang Irlandia dan Wales.

Di Inggris, Henry VIII (1491-1547) memberontak melawan kekuasaan paus supaya ia dapat bercerai secara hukum, menikah lagi, dan berharap untuk mendapatkan keturunan laki-laki. Ia menoleransi reformasi lunak namun meneguhkan dirinya sendiri sebagai kepala agung Gereja Inggris, bahkan ketika ia masih Katolik Roma dalam teologinya. 23 Selama kekuasaan singkat putranya yang masih muda Edward VI (1547-1553), yang, bersama dewannya, memiliki hati bagi reformasi sejati, beberapa kemajuan dicapai, khususnya oleh Uskup Kepala Thomas Cranmer (1489-1559) melalui buku-bukunya “Homilies,” “Book of Common Prayer,” dan “Forty-Two Articles of Religion.” Kesemuanya ini nampaknya diputarbalikkan semasa kekuasaan berdarah Mary Tudor (1553-1558), yang menjalankan kembali Misa Latin dan memaksakan ketaatan kepada paus dengan harga hampir tiga ratus nyawa orang-orang Protestan. Akan tetapi darah para martir ini, termasuk Cranmer, akan menjadi bibit gerakan Protestan di Inggris.

Ketika saudara tiri Mary, Elizabeth (1533-1603) menggantikannya, banyak orang-orang Protestan berharap bahwa reformasi yang dimulai di bawah Edward VI akan bertumbuh dengan berlipat ganda. Akan tetapi, Elizabeth puas dengan iklim Protestantisme Inggris dan berusaha mendiamkan seruan-seruan protes. Mereka yang berjuang terlalu giat demi reformasi dalam hal ibadah, kesalehan, politik, dan budaya dianiaya dan dirampas hak hidup mereka. Reformasi moderat dan berhati-hati Elizabeth mengecewakan banyak orang dan akhirnya mendorong timbulnya Calvinisme yang lebih menyeluruh dan kuat yang disebut dengan Puritanisme.

Puritanisme berlangsung dari tahun 1560-an sampai awal 1700-an. Orang-orang Puritan percaya Gereja Inggris belum cukup jauh dalam reformasinya, karena ibadah dan pemerintahannya tidak sepenuhnya sesuai dengan pola yang ditemukan di Alkitab. Mereka berseru bagi khotbah murni Firman Allah; bagi kemurnian ibadah sebagaimana diperintahkan Allah dalam Alkitab; dan bagi kemurnian pemerintahan gereja, menggantikan kekuasaan uskup dengan Presbyterianisme. Di atas semuanya, mereka berseru demi kemurnian atau kekudusan hidup di antara orang-orang Kristen. Seperti dikatakan J. I. Packer, “Puritanisme adalah gerakan kekudusan injili yang bertujuan untuk mewujudkan visi pembaruan rohani, nasional dan pribadi, dalam gereja, negara, dan rumah tangga; dalam pendidikan, penginjilan, dan ekonomi; dalam pemuridan dan devosi pribadi, dan dalam penggembalaan dan kompetensi para hamba Tuhan.” 24 Secara doktrin, Puritanisme adalah semacam Calvinisme yang hidup; secara pengalaman, ia hangat dan menular; secara injili, ia agresif, namun lembut; secara gereja, ia teosentris dan bersifat ibadah; dan secara politik, ia berusaha menjadikan relasi antara raja, Parlemen, dan rakyat alkitabiah, seimbang, dan diikat oleh nurani. 25

Gereja Presbyterian, Episcopalian, dan Kongregasionalis semuanya bagian dari gerakan Calvinis. Sebagian orang-orang Puritan meninggalkan Gereja Inggris pada masa kekuasaan Raja James I (1603-1625). Mereka dikenal dengan separatis atau dissenter dan biasanya membentuk gereja-gereja Kongregasionalis. Konformis Puritan tetap tinggal dalam gereja Anglikan.

Akhirnya, Calvinisme menyeberangi Atlantik ke koloni Inggris di Amerika Utara, di mana orang-orang Puritan New England mengambil pimpinan dalam mengulas teologi Reformed dan dalam mendirikan institusi gerejawi, pendidikan, dan politik. 26 Orang-orang Puritan yang mendiami Koloni Massachusetts Bay terus mendukung Gereja Inggris sampai tahapan tertentu, sementara orang-orang Pilgrim yang berlayar ke Amerika dalam Mayflower dan bermukim di Plymouth (1620) adalah separatis. 27 Meskipun ada perbedaan ini, semua orang Puritan adalah orang-orang Calvinis yang berapi-api. Sebagaimana diamati John Gerstner, “New England, sejak didirikannya Plymouth pada tahun 1620 sampai akhir abad 18, pada umumnya Calvinis. 28

Empat gelombang imigran lagi membawa Calvinisme ke Amerika. Orang-orang Reformed Belanda, dari tahun 1620-an, bertanggung jawab dalam pemukiman New Netherlands, yang kemudian dikenal dengan New York. Ribuan orang Huguenot Perancis tiba di New York, Virginia, dan wilayah Carolina pada akhir abad 17. Dari 1690 sampai 1777, lebih dari dua ratus ribu orang Jerman, banyak dari mereka adalah orang-orang Reformed, kebanyakan mendiami Middle Colonies. Gelombang terakhir adalah orang-orang Skotlandia dan Skotlandia-Irlandia, semuanya Presbyterian. Sebagian tinggal di New England, tapi lebih banyak lagi tinggal di New York, Pennsylvania, dan wilayah Carolina. “Sebagai akibat imigrasi dan pertumbuhan ekstensif ini diperkirakan bahwa dari populasi total tiga juta jiwa di Amerika pada tahun 1776, dua pertiga darinya setidaknya orang-orang Calvinis,” John Bratt menyimpulkan. “Pada saat pecahnya Perang Revolusioner, denominasi-denominasi terbesar yaitu, secara berurutan: Kongregasionalis, Anglikan, Presbyterian, Baptis, Lutheran, Reformed Jerman, dan Reformed Belanda. Katolisisme Roma kesepuluh dan Metodisme kedua belas dalam jumlah.” 29

Dengan pengecualian migrasi-migrasi ke Amerika, semua penyebaran iman Reformed ini terjadi sebelum akhir abad 16. 30 Daerah-daerah Reformed yang paling ekstensif dan bertahan yaitu Belanda, Jerman, Hungaria, Inggris, dan Amerika Utara.

Penting untuk dicatat bahwa semua orang Reformed ini menyetujui bahwa Kekristenan di sebagian besar Eropa sebelum Reformasi hanya sedikit melebihi suatu superfisialitas. Saat orang-orang Reformed ini meninjau Eropa, mereka melihat apa yang hanya dapat mereka anggap sebagai sisa-sisa paganisme. Penanaman gereja-gereja alkitabiah yang solid sangat diperlukan. Ini banyak menjelaskan fokus misionari para Reformator terhadap Eropa.

Selanjutnya, gerakan Reformed berkembang menjadi dua sistem teologi yang sangat mirip: Reformed Kontinental, diwakili terutama di Belanda dengan Tiga Bentuk Kesatuannya (Three Forms of Unity)—Pengakuan Belgic, Katekismus Heidelberg, dan Kanon Dort; dan Presbyterianisme Inggris-Amerika, yang diekspresikan dalam standar Westminster (Westminster standards)—Pengakuan Iman Westminster, Katekismus Besar, dan Katekismus Singkat. 31 Akan tetapi, kedua sistem ini tidak berlawanan atau terpisah satu dari yang lain. Contohnya, orang-orang Puritan Inggris banyak mempengaruhi Reformasi Lanjut Belanda di abad 17. Demikian juga, teolog Italia-Swiss Francis Turretin (1623-1687) banyak mempengaruhi Presbyterianisme Amerika. 32 Teologi sistematika Turretin diajarkan di Seminari Princeton sampai tahun 1870-an, ketika ia digantikan oleh teologi sistematika Charles Hodge.

Calvinisme dan Lutheranisme

Kedua sistem teologi tersebut tidak sama dengan Lutheranisme. Pada akhir abad 16, Calvinisme berbeda dari Lutheranisme dalam hal-hal berikut ini:

  • Pendekatan Perjamuan Kudus. Orang-orang Lutheran memegang doktrin konsubstansiasi, yang memandang bahwa Kristus secara jasmani hadir dalam, dengan, dan di bawah elemen-elemen Perjamuan Kudus. Mereka menolak usaha apapun untuk menjelaskan pernyataan Yesus “inilah tubuh-Ku” sebagai metafora, dan berkata bahwa usaha-usaha seperti itu membuka pintu bagi alegorisasi injil itu sendiri. Lebih jauh, mereka berkata, jika segala yang diberikan dalam Perjamuan ialah Kristus rohani, sakramen tersebut memberikan injil yang terpotong yang tidak memberikan penghiburan bagi orang-orang percaya yang tubuh mereka akhirnya akan mati. Orang-orang Lutheran hanya dipuaskan dengan Kristus yang konkrit dan historis.
    Para pemimpin Reformed mengatakan bahwa Kristus yang berinkarnasi dan historis sekarang telah bangkit dan naik ke sorga, dan karena itu tidak hadir dalam Perjamuan Kudus seperti sebelum kenaikan-Nya. Lebih lanjut, konsep kehadiran rohani Kristus tidak berarti kurang dari sempurna; sebaliknya, itu menunjukkan karya-Nya yang berlanjut melalui Roh-Nya. Orang Reformed percaya mereka meneguhkan segala sesuatu yang ingin dilindungi orang-orang Lutheran, namun dalam cara yang lebih jelas dan alkitabiah.
  • Fungsi utama hukum Taurat. Luther umumnya menganggap hukum sebagai sesuatu yang negatif dan berhubungan erat dengan dosa, kematian, atau Iblis. Ia percaya bahwa fungsi utama hukum yaitu merendahkan orang berdosa dengan meyakinkannya akan dosa dan mendorongnya kepada Kristus untuk mendapatkan kelepasan. Calvin menganggap hukum lebih sebagai penuntun bagi orang percaya, suatu alat untuk mendorongnya untuk berpegang kepada Allah dan menaati-Nya lebih sungguh. Orang percaya harus berusaha melakukan hukum Allah bukan sebagai suatu kewajiban, tapi sebagai respon ketaatan yang penuh syukur. Dengan pertolongan Roh, hukum menyediakan jalan bagi orang percaya untuk menyatakan rasa syukurnya.
  • Pendekatan akan keselamatan. Baik orang-orang Lutheran maupun Calvinis menjawab pertanyaan “Apa yang harus aku lakukan untuk diselamatkan?” dengan mengatakan bahwa pertobatan kepada Allah yang dikerjakan Roh dan iman dalam Tuhan Yesus Kristus dan karya penebusannya yang bersifat menggantikan merupakan hal-hal yang perlu. Namun orang-orang Lutheran punya kecenderungan untuk tetap berfokus pada doktrin justifikasi, sementara orang-orang Calvinis, tanpa mengecilkan justifikasi, menekankan pengudusan lebih daripada orang-orang Lutheran dengan bertanya, “Setelah dibenarkan oleh kasih karunia Allah, bagaimana aku harus hidup bagi kemuliaan Allah?” Calvinisme dengan demikian lebih komprehensif daripada Lutheranisme dalam menjelaskan bagaimana keselamatan dikerjakan dalam hidup seorang percaya.
  • Pengertian tentang predestinasi. Pada akhir abad 16, kebanyakan orang Lutheran meninggalkan Luther dan orang-orang Calvinis, yang menekankan predestinasi atas baik orang-orang pilihan maupun reprobat ketimbang predestinasi orang-orang pilihan saja. Teolog-teolog Reformed percaya bahwa pergeseran pemikiran ini tidak sesuai dengan isi Roma 9 dan bagian-bagian Alkitab yang mirip, serta dengan kedaulatan Allah yang komprehensif.
    Orang-orang Calvinis yakin bahwa pemilihan bersifat berdaulat dan penuh kasih karunia, dan bahwa reprobasi bersifat berdaulat dan adil. Tak seorangpun yang masuk ke sorga layak berada di sana; tak seorangpun yang masuk neraka layak mendapatkan sesuatu yang lain. Sebagaimana kata Calvin, “Pujian keselamatan ialah milik Allah, sementara tuduhan kebinasaan dilemparkan kepada mereka yang atas kemauan mereka sendiri menimpakannya pada diri mereka.” 33
  • Pengertian tentang ibadah. Reformasi Luther mempertahankan liturgi zaman pertengahan, sehingga lebih moderat dibandingkan Calvin. Mengikuti para pemimpin mereka, orang-orang Lutheran dan Calvinis berbeda dalam pandangan mereka tentang bagaimana Alkitab mengatur ibadah. Orang-orang Lutheran mengajarkan bahwa kita boleh memasukkan ke dalam ibadah apa yang tidak dilarang dalam Alkitab; orang-orang Calvinis mempertahankan bahwa kita tidak boleh memasukkan dalam ibadah apa yang tidak diperintahkan oleh Perjanjian Baru.

Calvinisme Hari Ini

Calvinisme telah bertahan diuji waktu. Kebanyakan denominasi Protestan yang bermula dari Reformasi didirikan atas pengakuan-pengakuan iman Calvinis, seperti Tiga Puluh Sembilan Artikel (Anglikanisme), Kanon Dort (Reformed), Standar Westminster (Presbyterianisme), Deklarasi Savoy (Kongregasionalisme), dan Pengakuan Baptis 1689 (Baptis). Semua pengakuan ini pada dasarnya sependapat, dengan poin utama ketidaksetujuan terletak pada doktrin baptisan anak.

Teologi Reformasi bertahan, kebanyakan, di Injili Protestan selama berpuluh-puluh tahun, namun dicemarkan pada abad 19 karena beberapa pengaruh, seperti Pencerahan di Eropa dan Finneyisme di Amerika. Memasuki pertengahan abad 20, teologi Calvinis telah merosot secara dramatis di dunia Barat, setelah diserang oleh teologi liberal abad 19 dan Arminianisme yang bangkit kembali.

Sekitar dua abad lalu, William Ellery Channing, bapak Unitarianisme Amerika, menulis: “Calvinisme, kami yakin, memberikan tempatnya kepada pandangan-pandangan yang lebih baik. Ia telah melewati titik tertingginya, dan sedang tenggelam untuk tidak bangkit lagi. Ia harus berperang dengan musuh-musuh yang lebih kuat daripada teolog; dengan musuh-musuh yang tidak dapat ditangkis dalam hal misteri dan kerumitan metafisis—maksud kami kemajuan pikiran manusia, dan kemajuan roh injil. Masyarakat sedang bergerak maju dalam kepandaian dan amal, dan tentunya sedang meninggalkan teologi abad 16 di belakangnya.” 34

Channing adalah seorang nabi palsu. Hari ini, meskipun dunia pada umumnya menjadi lebih anti Allah dan lebih jahat daripada yang pernah ada, Calvinisme sedang bangkit kembali, meskipun, sayangnya, ia masih menempati posisi minoritas. Kelaparan yang segar akan doktrin dan spiritualitas Alkitabiah Calvinisme sedang menyebabkan akar-akar teologi Reformed menyebar ke seluruh dunia. Dalam beberapa puluh tahun terakhir, gereja-gereja dan denominasi Calvinis telah dilahirkan di seluruh dunia dalam jumlah yang signifikan. Hari ini, gereja-gereja Reformed ada di Belanda, Jerman, Hungaria, Polandia, Italia, Inggris, Amerika Utara, Brazil, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, China, Filipina, Rusia, Mesir, Pakistan, India, Israel, dan berbagai negara Afrika dan Asia lainnya. Juga, sejak tahun 1960an, telah timbul kembali ketertarikan akan literatur Calvinis. Konferensi-konferensi Calvinis diadakan di banyak negara; di banyak negara ini, jumlah orang-orang Calvinis terus bertumbuh di millennium yang baru ini.

Calvinisme memiliki masa depan yang cerah, karena ia menawarkan banyak hal kepada orang-orang yang berusaha mempercayai dan mempraktekkan seluruh perintah Allah. Calvinisme bertujuan untuk melakukannya baik dengan iman yang jelas dan spiritualitas yang antusias, yang ketika digabungkan, menghasilkan kehidupan yang penuh vitalitas di keluarga, gereja, dan masyarakat bagi kemuliaan Allah. Ia mengakui bersama Paulus, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). Bukankah itulah sebenarnya Alkitab, Calvinisme, dan hidup itu sendiri?

Pertanyaan Diskusi

  1. Apa akar historis dari Calvinisme?
  2. Ke mana saja Calvinisme menyebar dalam dua abad pertama setelah Reformasi?
  3. Apa beda Calvinisme dan Lutheranisme?

Catatan

1 Charles Miller, “The Spread of Calvinism in Switzerland, Germany, and France,” dalam “The Rise and Development of Calvinism,” ed. John H. Bratt (Grand Rapids: Eerdmans, 1959), 27.

2 Untuk sejarah Reformasi, baca Owen Chadwick, “The Reformation” (Harmondsworth, Middlesex: Penguin Books, 1972); Hans J. Hillerbrand, “The Reformation: A narrative history related by contemporary observers and participants” (Grand Rapids: Baker, 1978) dan “The Protestant Reformation” (New York: Harper Perennial, 2007); Bernard M. G. Reardon, “Religious Thought in the Reformation” (London: Longman Group, 1981); Lewis William Spitz, “The Protestant Reformation, 1517–1559” (New York: Harper & Row, 1985); Andrew Pettegree, “The Early Reformation in Europe” (Cambridge: Cambridge University Press, 1992) dan “The Reformation World” (London: Routledge, 2000); Carter Lindberg, “The European Reformations” (Cambridge: Blackwell Publishers, 1996) dan “The European Reformations Sourcebook” (Oxford: Blackwell, 2000); Diarmaid MacCulloch, “Reformation: Europe’s House Divided 1490–1700” (London: Penguin, 2003); Heiko Oberman dan Donald Weinstein, “The Two Reformations: The Journey from the Last Days to the New World” (New Haven: Yale University Press, 2003); dan Patrick Collinson, “The Reformation: A History” (New York: Modern Library, 2004).

Untuk teologi Reformasi, baca Timothy George, “Theology of the Reformers” (Nashville: Broadman Press, 1988); Carter Lindberg, “The Reformation Theologians: An Introduction to Theology in the Early Modern Period” (Oxford: Blackwell, 2002); dan David V. N. Bagchi dan David Curtis Steinmetz, “The Cambridge Companion to Reformation Theology” (Cambridge: Cambridge University Press, 2004). Untuk ensiklopedia yang membantu tentang Reformasi, baca Hans Joachim Hillerbrand, ed., “The Oxford Encyclopedia of the Reformation,” 4 vols. (Oxford: Oxford University Press, 1996), dan “The Encylopedia of Protestantism,” 4 vols. (New York: Routledge, 2004).

Untuk bibliografi dan riset tentang Reformasi, baca Roland H. Bainton dan Eric Gritsch, “Bibliography of the Continental Reformation,” 2nd ed. (Hamden, Conn.: Archon Books, 1972); Steven E. Ozment, “Reformation Europe: A Guide to Research” (St. Louis: Center for Reformation Research, 1982); William S. Maltby, “Reformation Europe: A Guide to Research II” (St. Louis: Center for Reformation Research, 1992) dan David M. Whitford, ed., “Reformation and Early Modern Europe; a guide to research” (Kirksville, Mo.: Truman State University Press, 2008).

Untuk historiografi Reformasi, baca Lewis Spitz, ed., “The Reformation: Basic Interpretations” (Lexington, Mass.: Heath, 1972).

3 Untuk studi tentang Waldo dan orang-orang Waldensian, baca Gabriel Audisio, “The Waldensian Dissent: Persecution and Survival, ca. 1170–ca. 1570” (Cambridge: Cambridge University Press, 1999); Peter Biller, “The Waldenses, 1170–1530: Between a Religious Order and a Church” (Aldershot, U.K.: Ashgate, 2001); Euan Cameron, “Waldenses: Rejections of Holy Church in Medieval Europe” (Oxford: Blackwell, 2000); Giorgio Tourn, et al., “You Are My Witnesses: The Waldensians Across 800 Years” (Torino: Claudiana, 1989); J. N. Worsfold dan B. Tron, “Peter Waldo, The Reformer of Lyons: His Life and Labours” (London: John F. Shaw, 1880); dan J. A. Wylie, “The Story of the Waldenses” (Altamont, Tenn.: Pilgrim Books, 1995).

4 Untuk buku-buku tentang Wycliffe dan orang-orang Lollard, baca Ellen W. Caughey, “John Wycliffe: Herald of the Reformation” (Ulrichsville, Ohio: Barbour Publishing, 2001); G. R. Evans, “John Wyclif: Myth & Reality” (Downers Grove, Ill.: IVP Academic, 2005); Anthony John Patrick Kenny, “Wyclif in His Times” (Oxford: Clarendon Press, 1986); Ian Christopher Levy, “A Companion to John Wyclif: Late Medieval Theologian” (Leiden: Brill, 2006); G. H. W. Parker, “The Morning Star: Wycliffe and the Dawn of the Reformation” (Grand Rapids: Eerdmans, 1966); dan Fiona Somerset, Jill C. Havens, dan Derrick G. Pitard, “Lollards and Their Influence in Late Medieval England” (Woodbridge, U.K.: Boydell Press, 2003).

5 Untuk buku-buku tentang Hus dan orang-orang Hussites, baca Poggio Bracciolini, “The Trial and Burning of John Huss: An Eye-Witness Account” (Toronto: Wittenburg Publications, 1991); E. H. Gillett, “The Life and Times of John Huss: Or, The Bohemian Reformation of the Fifteenth Century” (New York: AMS Press, 1978); “The Letters of John Hus” (Manchester: University Press, 1972); Matthew Spinka, “John Hus, a Biography” (Westport, Conn.: Greenwood Press, 1979); dan Jarold Knox Zeman, “The Hussite Movement and the Reformation in Bohemia, Moravia, and Slovakia (1350–1650): A Bibliographical Study Guide (with Particular Reference to Resources in North America)” (Ann Arbor, Mich.: Michigan Slavic Publications, 1977).

6 Baca Heiko A. Oberman, “Archbishop Thomas Bradwardine: A Fourteenth-Century Augustinian” (Ph.D. dissertation, Utrecht, 1957), dan Gordon Leff, “Bradwardine and the Pelagians” (Cambridge: Cambridge University Press, 1957).

7 Baca Gordon Leff, “Gregory of Rimini” (Manchester: Manchester University Press, 1961).

8 Untuk studi yang baik tentang para perintis Reformasi serta beberapa tulisan mereka, baca Heiko A. Oberman, “Forerunners of the Reformation: The Shape of Late Medieval Thought Illustrated by Key Documents,” terjemahan Paul L. Nyhus (New York: Holt, Rinehart, & Winston, 1966).

9 Malcolm Watts, “What is a Reformed Church?” Banner of Sovereign Grace Truth, 16, no. 3 (March 2008): 73.

10 Untuk Luther, baca studi klasik oleh Roland H. Bainton, “Here I Stand: A Life of Martin Luther” (Nashville: Abingdon Press, 1950); James M. Kittelson, “Luther the Reformer” (Minneapolis: Augsburg, 1986); dan Heiko A. Oberman, “Luther: Man Between God and the Devil,” terjemahan Eileen Walliser-Schwarzbart (New Haven: Yale University Press, 1989). Untuk studi singkat, baca W. Robert Godfrey, “Martin Luther: German Reformer,” dalam John D. Woodbridge, ed., “Great Leaders of the Christian Church” (Chicago: Moody Press, 1988), 187–196.

11 Untuk Zwingli, baca Jaques Courvoisier, “Zwingli: A Reformed Theologian” (Richmond: John Knox Press, 1963); Gottfried Locher, “Zwingli’s Thought: New Perspectives” (Leiden: Brill, 1981); G. R. Potter, ed., “Huldrych Zwingli” (New York: St. Martin’s Press, 1978); Robert C. Walton, “Zwingli: Founding Father of the Reformed Churches,” dalam “Leaders of the Reformation,” ed. Richard L. DeMolen (Selinsgrove, Pa.: Susquehanna University Press, 1984), 69–98; dan W. P. Stephens, “The Theology of Huldrych Zwingli” (Oxford: Clarendon Press, 1986) dan “Zwingli: An Introduction to His Thought” (Oxford: Clarendon Press, 1992).

Untuk Bullinger, baca khususnya Cornelis P. Venema, “Heinrich Bullinger and the Doctrine of Predestination: Author of ‘the Other Reformed Tradition’?” (Grand Rapids: Baker, 2002). Karya Venema merupakan respon terhadap J. Wayne Baker, “Heinrich Bullinger and the Covenant: The Other Reformed Tradition” (Athens, Ohio: Ohio University Press, 1980), dan Charles S. McCoy dan J. Wayne Baker, “Fountainhead of Federalism: Heinrich Bullinger and the Covenantal Tradition” (Louisville: Westminster/John Knox Press, 1991). Karya McCoy dan Baker mengandung terjemahan mereka akan tulisan Bullinger “A Brief Exposition of the One and Eternal Testament or Covenant of God” (1534).

12 Untuk hidup dan pelayanan Calvin, baca khususnya François Wendel, “Calvin” (New York: Harper & Row, 1963); T. H. L. Parker, “Portrait of Calvin” (London: SCM Press. 1954), dan “John Calvin: A Biography” (Philadelphia: The Westminster Press, 1975); Ronald S. Wallace, “Calvin, Geneva and the Reformation” (Grand Rapids: Baker, 1988); Timothy George, ed., “John Calvin and the Church. A Prism of Reform” (Louisville: Westminster/John Knox Press, 1990); dan Alister E. McGrath, “A Life of John Calvin: A Study in the Shaping of Western Culture” (Oxford: Blackwell, 1990).

Untuk panduan bibliografis (dilengkapi dengan keterangan) kepada karya Calvin yang luas dan tulisan mengenai kehidupan dan teologinya yang diterbitkan sebelum 1964, baca Lester de Koster, “Living Themes in the Thought of John Calvin: A Bibliographical Study” (Ph.D. dissertation, University of Michigan, 1964). Untuk bibliografi tentang Calvin dan Calvinisme sejak 1960an, baca artikel-artikel tahunan tulisan Peter De Klerk dan Paul Field dalam “Calvin Theological Journal.” Baca juga D. Kempff, “A Bibliography of Calvinism, 1959–1974” (Potchefstroom, South Africa: I. A. C., 1975), dan Michael Bihary, ed., “Bibliographia Calviniana” (Prague: n.p., 2000). Daftar terbaik mengenai sumber-sumber Calvin dan Calvinisme ada di kumpulan data Henry Meeter Center, Calvin College Library, Grand Rapids, Mich. Saya ingin berterima kasih kepada staf di sana yang telah menyediakan daftar 662 buku dan 6081 artikel tentang Calvinisme, dan untuk pertolongan mereka yang kompeten dan bersahabat.

13 Hanya belakangan ini karya Bullinger diakui hampir sama pengaruhnya seperti karya Calvin pada zaman mereka. Baca khususnya Pamela Biel, “Doorkeepers at the House of Righteousness: Heinrich Bullinger and the Zurich Clergy, 1535–1575” (Bern: Peter Lang, 1991); Thomas Harding, ed., “The Decades of Henry Bullinger,” 4 vols. in 2, intro. George Ella dan Joel R. Beeke (Grand Rapids: Reformation Heritage Books, 2004); Bruce Gordon dan Emidio Campi, ed., “Architect of Reformation: An Introduction to Heinrich Bullinger, 1504–1575” (Grand Rapids: Baker, 2004); dan George Ella, “Henry Bullinger” (Eggleston, England: Go Publications, 2007).

14 Baca Michael Rogness, “Philip Melanchthon: Reformer Without Honor” (Minneapolis: Augsburg, 1969), dan Karin Maag, ed., “Melanchthon in Europe: His Work and Influence Beyond Wittenberg” (Carlisle, U.K.: Paternoster, 1999).

15 Untuk rangkuman tentang gereja Reformed di Jerman, baca R. W. Scribner, “The German Reformation” (London: Macmillan, 1986), dan James N. Hardin dan Max Reinhart, “German Writers of the Renaissance and Reformation, 1280–1580” (Detroit: Gale Research, 1997).

16 Baca Laszló Ravasz et al., “Hungarian Protestantism” (Budapest: Sylvester Nyomda, 1927); Imre Révész, “History of the Hungarian Reformed Church,” ed. G. N. Knight (Washington: Hungarian Reformed Federation, 1956); Gyula Combos, “The Lean Years: A Study of Hungarian Calvinism in Crisis” (New York: Kossuth Foundation, 1960); Alexander Sándor Unghváry, “The Hungarian Protestant Reformation in the Sixteenth Century” (New York: Edwin Mellen Press, 1990); dan Graeme Murdock, “Calvinism on the Frontier 1600–1660: International Calvinism and the Reformed Church in Hungary and Transylvania” (Oxford: Clarendon Press, 2000).

17 Untuk rangkuman tentang gereja Reformed di Belanda, baca Maurice G. Hansen, “The Reformed Church in the Netherlands” (New York: Board of Publication of the RCA, 1884); Jerry D. van der Veen, “Adoption of Calvinism in the Reformed Church in the Netherlands” (B.S.T. thesis, Biblical Seminary in New York, 1951); Walter Lagerway, “The History of Calvinism in the Netherlands,” dalam “The Rise and Development of Calvinism,” ed. John Bratt (Grand Rapids: Eerdmans, 1959); W. Robert Godfrey, “Calvin and Calvinism in the Netherlands,” dalam “John Calvin: His Influence in the Western World,” ed. W. Stanford Reid (Grand Rapids: Zondervan, 1982), 95–120; J. P. Elliott, “Protestantization in the Northern Netherlands: A Case Study—The Classis of Dordrecht, 1572–1640,” 2 vols. (Ph.D. dissertation, Columbia University, 1990); dan A. C. Duke, “Reformation and Revolt in the Low Countries” (London: Hambledon, 2003).

18 Untuk sumber-sumber sekunder berbahasa Inggris tentang Reformasi Lanjut Belanda, baca F. Ernest Stoeffler, “The Rise of Evangelical Pietism” (Leiden: Brill, 1973); Cornelius Pronk, “The Dutch Puritans,” The Banner of Truth, nos. 154–155 (July–Aug. 1976): 1–10; Martin H. Prozesky, “The Emergence of Dutch Pietism,” Journal of Ecclesiastical History, no. 28 (1977): 29–37; Jonathan Neil Gerstner, “The Thousand Generation Covenant: Dutch Reformed Covenant Theology and Group Identity in Colonial South Africa, 1652–1814” (Leiden: Brill, 1991); Fred Van Lieburg, “From Pure Church to Pious Culture: The Further Reformation in the Seventeenth-Century Dutch Republic,” dalam “Later Calvinism: International Perspectives,” ed. W. Fred Graham (Kirksville, Mo.: Sixteenth Century Journal Publishers, 1994), 09–430; Arie de Reuver, “Sweet Communion: Trajectories of Spirituality from the Middle Ages through the Further Reformation,” terjemahan James A. de Jong (Grand Rapids: Baker Academic, 2007); dan Joel R. Beeke, “Insights for the Church from the Dutch Second Reformation,” Calvin Theological Journal, 28, no. 2 (Nov. 1993): 420–424, dan “Gisbertus Voetius: Toward a Reformed Marriage of Knowledge and Piety,” dalam “Protestant Scholasticism: Essays in Reassessment,” ed. Carl Trueman dan R. Scott Clark (Carlisle, U.K.: Paternoster, 1998), dan “Appendix: The Dutch Second Reformation,” dalam “The Quest for Full Assurance: The Legacy of Calvin and His Successors” (Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1999), 286–309, dan “Assurance of Faith: A Comparison of English Puritanism and the Nadere Reformatie,” dalam “Puritan Reformed Spirituality” (Darlington, England: Evangelical Press, 2006), 288–308, dan bersama Randall Pederson, “Meet the Puritans” (Grand Rapids: Reformation Heritage Books, 2006), 739–823, dan “Evangelicalism in the Dutch Further Reformation,” dalam “The Emergence of Evangelicalism: Exploring Historical Continuities,” ed. Michael A. G. Haykin dan Kenneth J. Stewart (Nottingham, U.K.: Apollos, 2008), 146-168.

19 Baca Jean Taffin, “The Marks of God’s Children,” terjemahan Peter Y. de Jong, ed. James A. de Jong (Grand Rapids: Baker, 2003); Willem Teellinck, “The Path of True Godliness,” terjemahan Annemie Godbehere, ed. Joel R. Beeke (Grand Rapids: Reformation Heritage Books, 2007); dan Alexander Comrie, “The ABC of Faith,” terjemahan J. Marcus Banfield (Ossett, West Yorkshire: Zoar Publications, 1978).

20 Untuk penyebaran Calvinisme di Perancis, baca khususnya Jean-Marc Berthoud, “John Calvin and the Spread of the Gospel in France,” dalam “Fulfilling the Great Commission” (London: The Westminster Conference, 1992), 1–53; W. Stanford Reid, “Calvin’s Geneva: A Missionary Centre,” The Reformed Theological Review, 42, no. 3 (Sept–Dec 1983): 65–74; dan Mack P. Holt, “Renaissance and Reformation France, 1500–1648” (Oxford: Oxford University Press, 2002).

21 Baca Philip Conner, “Huguenot Heartland: Montauban and Southern French Calvinism during the Wars of Religion” (Aldershot, England: Ashgate, 2002).

22 Untuk tulisan-tulisan Knox, baca David Laing, ed., “The Works of John Knox,” 6 vols. (Edinburgh: J. Thin, 1895). Untuk kehidupan dan pelayanan Knox, baca Thomas M’Crie, “The Life of John Knox” (Philadelphia: Wm. S. Young, 1842); W. Stanford Reid, “Trumpeter of God: A Biography of John Knox” (New York: Charles Scribner’s Sons, 1974); Richard L. Greaves, “Theology and Revolution in the Scottish Reformation: Studies in the Thought of John Knox” (Grand Rapids: Christian University Press, 1980); Richard G. Kyle, “The Ministry of John Knox: Pastor, Preacher, and Prophet” (Lewiston, N.Y.: E. Mellen Press, 2002); Roger Mason, “John Knox and the British Reformations” (Aldershot, U.K.: Ashgate, 1998); dan Douglas Wilson, “For Kirk & Covenant: The Stalwart Courage of John Knox” (Nashville: Cumberland House, 2000).

23 Untuk sejarah Reformasi di Inggris, baca W. H. Beckett, “The English Reformation of the Sixteenth Century: With Chapters on Monastic England and the Wycliffite Reformation” (London: Religious Tract Society, 1890); Charles Davis Cremeans, “The Reception of Calvinistic Thought in England” (Urbana, Ill.: University of Illinois Press, 1949); Gordon Crosse, “A Short History of the English Reformation” (New York: Morehouse Gorham Co., 1950); Merle d’Aubigné, “The Reformation in England,” 2 vols. (London: Banner of Truth Trust, 1962); dan Rosemary O’Day, “The Debate on the English Reformation” (London: Methuen, 1986).

24 J. I. Packer, “An Anglican to Remember—William Perkins: Puritan Popularizer” (London: St. Antholin’s, 1996), 1–2.

25 Untuk sumber-sumber yang akan memperkenalkan Anda kepada orang-orang Puritan, teologi Calvinis mereka, dan gaya hidup mereka, baca Martyn Lloyd-Jones, “The Puritans: Their Origins and Successors” (Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1987); J. I. Packer, “A Quest for Godliness: The Puritan Vision of the Christian Life” (Wheaton, Ill.: Crossway, 1990); Leland Ryken, “Worldly Saints: The Puritans as They Really Were” (Grand Rapids: Zondervan, 1990); Benjamin Brook, “The Lives of the Puritans,” 3 vols. (Morgan, Pa.: Soli Deo Gloria, 1994); Ralph Martin, “A Guide to the Puritans” (Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1997); Peter Lewis, “The Genius of Puritanism” (Morgan, Pa.: Soli Deo Gloria, 1997); Erroll Hulse, “Who are the Puritans? And what do they teach?” (Darlington, England: Evangelical Press, 2000); Kelly M. Kapic dan Randall C. Gleason, eds., “The Devoted Life: An Invitation to the Puritan Classics” (Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 2004); Joel R. Beeke dan Randall J. Pederson, “Meet the Puritans, with a Guide to Modern Reprints” (Grand Rapids: Reformation Heritage Books, 2006); Francis J. Bremer dan Tom Webster, eds., “Puritans and Puritanism in Europe and America: A Comprehensive Encyclopedia,” 2 vols. (Santa Barbara, Calif.: ABC CIIO, 2006); dan Charles Pastoor dan Galen K. Johnson, “Historical Dictionary of the Puritans” (Lanham, Md.: Scarecrow Press, 2007).

26 Untuk Puritanisme New England, baca Andrew Delbanco, “The Puritan Ordeal” (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1989); David Hall, “Worlds of Wonder, Days of Judgment: Popular Religious Belief in Early New England” (Cambridge: Harvard University Press, 1989); Charles E. Hambrick-Stowe, “The Practice of Piety: Puritan Devotional Disciplines in Seventeenth-Century New England” (Chapel Hill, N.C.: University of North Carolina Press, 1982); Perry Miller, “The New England Mind: From Colony to Province” (Cambridge: Harvard University Press, 1939) dan “The New England Mind: The Seventeenth Century” (Cambridge: Harvard University Press, 1953); Darrett Rutman, “American Puritanism: Faith and Practice” (Philadelphia: Lippincott, 1970); Alden T. Vaughan dan Francis J. Bremer, eds., “Puritan New England: Essays on Religion, Society, and Culture” (New York: St. Martin’s Press, 1977); dan Larzer Ziff, “Puritanism In America: New Culture In A New World” (New York: Viking Press, 1973).

27 Baca William Bradford, “Of Plymouth Plantation, 1620–1647,” ed. Samuel Eliot Morison, 2 vols. (New York: Russell and Russell, 1968), dan George F. Willison, “Saints and Strangers” (Reynal and Hitchcock, 1945).

28 John Gerstner, “American Calvinism until the Twentieth Century,” dalam “American Calvinism,” ed. Jacob T. Hoogstra (Grand Rapids: Eerdmans, 1957), 16.

29 John H. Bratt, “The Rise and Development of Calvinism” (Grand Rapids: Eerdmans, 1959), 114–122.

30 Untuk perkembangan Calvinisme selama abad 16 dan 17, baca John T. McNeill, “The History and Character of Calvinism” (New York: Oxford University Press, 1954), 235–350; W. Stanford Reid, ed., “John Calvin: His Influence in the Western World” (Grand Rapids: Zondervan, 1982); Menna Prestwich, ed., “International Calvinism 1541–1715” (Oxford: Clarendon Press, 1985); dan Alastair Duke, Gillian Lewis, dan Andrew Pettegree, terjemahan dan eds., “Calvinism in Europe, 1540–1620: A collection of documents” (Cambridge: Cambridge University Press, 1996). Baca juga Richard Gamble, ed., “Articles on Calvin and Calvinism,” 14 vols. (New York: Garland, 1992).

31 Untuk rangkuman historis singkat tentang pengakuan-pengakuan iman ini, baca bab berikutnya.

32 Untuk teologi sistematikanya dalam bahasa Inggris, baca Francis Turretin, “Institutes of Elenctic Theology,”terjemahan George Musgrave Giger, ed. James T. Dennison Jr., 3 vols. (Phillipsburg, N.J.: P&R, 1992–1997).

33 Bdk. John Calvin, “Institutes of the Christian Religion” (selanjutnya, Inst.), ed. John T. McNeill, terjemahan Ford Lewis Battles (Philadelphia: Westminster Press, 1960), 3.24.7–11.

34 Dikutip dalam Bratt, “The Rise and Development of Calvinism,” 134–135.


About this entry