Sola Scriptura

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Sola Scriptura, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 27 Januari 2002. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Beberapa waktu lalu seseorang dari sebuah gereja fundamental, yang menjunjung tinggi Alkitab, menulis kepada saya untuk meminta nasehat. Ia sedang berdebat dengan beberapa orang Katolik Roma mengenai doktrin sola scriptura, dan dipojokkan oleh mereka. Dalam kata-katanya sendiri ia “sedang berjuang dalam peperangan yang kalah.” Mereka memakai Alkitab untuk menunjukkan kepadanya bahwa Alkitab tidak mengajarkan sola scriptura seperti yang ia klaim. Ia menunjukkan kepada saya suatu artikel bertahun 1995 yang nampaknya ditulis oleh seorang Katolik Roma yang dulunya Protestan. Artikel itu dimulai dengan kata-kata:

Doktrin Protestan sola scriptura—bahwa hanya Alkitablah otoritas seorang Kristen dalam persoalan iman dan moral—adalah salah satu doktrin sentral yang mendasari pemisahan diri para Reformator dari Gereja Katolik. Akan tetapi anehnya, sola scriptura belakangan ini telah menjadi salah satu doktrin sentral yang mendasari beberapa orang Protestan Injili untuk kembali ke Roma.

Ketika saya membaca artikel tersebut, dan artikel lain yang ditunjukkan kepada saya, menjadi jelas bahwa kecurigaan saya sekian lama ini—berkenaan dengan sola scriptura—sangat mungkin lebih benar daripada yang saya kira. Tidak, saya tidak ragu bahwa posisi Reformed akan sola scriptura itu Alkitabiah. Kecurigaan saya yaitu bahwa sebagian besar kaum Injili dan fundamental modern telah, kenyataannya, menyimpang dari doktrin sola scriptura yang diajarkan oleh para Reformator, seperti Calvin dan Luther. Saya menemukan bahwa sola scriptura yang menyimpang inilah yang dipertahankan secara mati-matian oleh beberapa orang Protestan, dan bahwa doktrin yang menyimpang ini jugalah yang diabaikan oleh orang-orang yang dulunya Protestan dan sekarang menjadi Katolik Roma.

Tidak lama setelah itu, seorang saudari seiman dengan sangat baik mengirimkan saya sebuah buku tulisan Keith A. Mathison dengan judul “The Shape of Sola Scriptura” (Idaho: Canon Press, 2001). Buku ini pada dasarnya mengkonfirmasi kecurigaan saya dan juga memperkuat keyakinan saya sendiri berkenaan dengan sola scriptura. Dalam artikel ini, saya tidak bermaksud memberikan resensi terhadap buku ini, meskipun saya akan cukup banyak mengutipnya. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk membaca buku ini jika Anda masih memiliki keraguan atau ingin mempelajari isu ini lebih dalam setelah membaca artikel yang singkat ini.

Dalam artikel ini saya ingin mengulas secara singkat empat pandangan berkenaan dengan Alkitab, yang dipegang oleh gereja-gereja yang kelihatan hari ini. Empat macam pandangan ini diulas dengan cukup tuntas dalam buku Mathison.

Tradisi I: Pandangan Reformed
atau Sola Scriptura Klasik

Pandangan Reformed mengenai sola scriptura dapat dibilang memiliki dua aspek. Aspek yang pertama dan primer menegaskan bahwa hanya ada satu sumber wahyu ilahi yang tersedia bagi kita, yaitu Kitab Suci, dan bahwa hanya itulah otoritas ultimat bagi iman dan kehidupan kita. Doktrin ini secara singkat dan jelas diekspresikan dalam Westminster Confession of Faith (WCF) 1.6a:

Seluruh kehendak Allah, mengenai segala sesuatu yang penting bagi kemuliaan-Nya, keselamatan, iman, dan hidup manusia, dituliskan dengan jelas dalam Alkitab, atau dapat disimpulkan dari Alkitab: kepadanya tak suatu apa pun pada waktu kapan pun dapat ditambahkan, apakah melalui wahyu baru Roh Kudus, atau tradisi manusia.

Inilah doktrin yang mendapat dukungan yang tidak dapat disangkal dari Alkitab. Menulis di bawah pengawasan ilahi yang tidak akan disangkal oleh seorang anak Tuhan yang sejati, Rasul Paulus menegaskan:

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:16-17).

Alkitab, dengan kata lain, diilhamkan Allah dan diberikan terutama untuk mengajar kita apa yang harus kita percayai mengenai Allah dan tugas apa yang dituntut Allah dari kita. Kita harus mengakui bahwa ayat ini sendiri tidak membuktikan bahwa Alkitab cukup dan merupakan otoritas satu-satunya bagi Gereja. Meskipun demikian, jika dilihat bersama dengan ayat-ayat lainnya, inilah kesimpulan yang kita capai. Ada banyak tempat di Perjanjian Baru yang mengajarkan kita untuk menguji dan membuktikan segala yang kita dengar atau baca (contohnya, Galatia 1:8-9; 2 Tesalonika 2:2; 1 Tesalonika 5:21; dan 1 Yohanes 4:1). Dari ayat-ayat ini, kita harus menyimpulkan bahwa harus ada tempat penyimpanan wahyu ilahi yang berotoritas, yang tanpanya kita tidak mungkin memverifikasi apa pun hari ini. Dan Gereja tidak pernah mengenal tempat penyimpanan yang dapat dipercaya, asli, atau diterima secara universal selain 66 kitab dalam Alkitab kanonikal. Dari Kanon ini, 39 kitab Perjanjian Lama menerima persetujuan implisit dari Tuhan Yesus sendiri, sementara 27 kitab Perjanjian Baru ditulis oleh Rasul-rasul atau orang-orang rasuli, dan dianggap berotoritas ketika karunia supranatural untuk membeda-bedakan roh belum ditarik. Karena alasan inilah Gereja harus menerima sebagai kebenaran apa pun yang dituliskan dalam Kanon, tidak peduli apa perkiraan kita akan sumber-sumber mereka: apakah itu wahyu langsung dari Allah, tarikh raja-raja, catatan peperangan, daftar perjalanan, surat, atau tradisi lisan. Apa pun yang ditemukan dalam Alkitab ada di situ oleh karena inspirasi Allah. Alkitab karena itu harus menjadi otoritas ultimat doktrin dan praksis kita.

Aspek kedua dan sekunder dari sola scriptura, diberikan dalam WCF 1.6b dan WCF 31.3, yaitu

Meskipun demikian, kita mengakui pencerahan Roh Allah perlu untuk mengerti hal-hal yang diwahyukan dalam Firman; dan bahwa ada hal-hal mengenai ibadah, pemerintahan Gereja, yang lazim bagi manusia dan masyarakat, yang diatur oleh alam dan kebijaksanaan Kristen, menurut aturan-aturan umum Firman, yang harus selalu diperhatikan.

Menjadi bagian sinode dan konsili untuk secara berotoritas mengambil keputusan dalam kontroversi yang menyangkut iman, dan kasus-kasus hati nurani; untuk merumuskan peraturan dan arahan demi pengaturan yang lebih baik akan ibadah publik kepada Allah, dan pemerintahan Gereja-Nya; untuk menerima pengaduan dalam kasus-kasus administrasi yang tidak beres, dan untuk memutuskan hal serupa: ketetapan-ketetapan yang mana, jika sesuai dengan Firman Allah, harus diterima dengan hormat dan taat; bukan saja karena kesesuaiannya dengan Firman, tetapi juga karena kuasa yang olehnya itu semua dibuat, sebagai ketetapan Allah, yang ditentukan dalam Firman-Nya.

Ini berarti sola scriptura tidak menyangkal bahwa pencerahan Roh Kudus perlu untuk mengerti Alkitab, juga tidak menyangkal bahwa ada otoritas selain Alkitab. Alkitab merupakan satu-satunya otoritas yang tidak bersalah, namun melalui penetapan Kristus dan karya pencerahan Roh Kudus, Gereja, dan juga Konsili serta Pengakuan Iman memiliki otoritas subordinat (meskipun tidak tanpa salah, lihat WCF 31.4). Gereja, menurut Paulus, adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Timotius 3:15). Ia bukanlah kebenaran itu sendiri. Kristus dan Firman Allah adalah kebenaran (Yohanes 14:6; 17:17). Tapi gereja ialah di mana kebenaran diajarkan dan dijunjung. Dengan kata lain, sola scriptura Reformed menyangkal bahwa kita harus mengabaikan semua tradisi dan interpretasi yang telah dibuat dalam Gereja. Mathison mengatakannya dengan baik:

Kita bisa berkata bahwa otoritas final kita ialah Alkitab saja, tapi bukan Alkitab yang tersendiri. Hanya Alkitab sumber wahyu. Hanya Alkitab yang diinspirasikan dan dalam dirinya tanpa salah. Hanya Alkitab standar normatif yang tertinggi. Akan tetapi Alkitab tidak eksis dalam vakum. Alkitab diberikan kepada Gereja dalam konteks doktrinal dari Injil rasuli. Hanya Alkitab standar final, tetapi Alkitab merupakan standar final yang harus digunakan, diinterpretasi, dan dikhotbahkan oleh Gereja dalam konteks Kristennya. Jika Alkitab tidak diinterpretasikan dengan benar dalam konteksnya yang wajar, Alkitab berhenti berfungsi secara wajar sebagai standar (op. cit., 259).

Pengertian sola scriptura ini merupakan konsensus gereja mula-mula sejak zaman Rasul-rasul sampai awal abad 14, ketika teori wahyu dua sumber (Tradisi II) dicetuskan oleh William dari Ockham (ca. 1280-1349) (ibid., 19-81). Ketika Reformasi mulai di abad 16, Gereja Katolik Roma masih belum memiliki pandangan dogmatik mengenai kedua tradisi. Sebagian memegang Tradisi I, yang lain memegang Tradisi II secara eksplisit atau implisit. Para Reformator berargumen menurut Tradisi I untuk menunjukkan seberapa jauh Gereja telah menyimpang dari Firman Allah, akan tetapi mereka tidak memperkenalkan doktrin Alkitab yang baru. Ini merupakan pandangan yang ada selama itu (ibid., 83-121). Hanya sebagai reaksi terhadap ajaran para Reformator, Roma, pada Konsili Trente (1545-1563), menjadikan Tradisi II sebagai dogma (ibid., 128-129).

Tradisi II: Pandangan Roma
atau Teori Dua Sumber

Pandangan Roma mengenai Alkitab dapat disimpulkan secara paling baik dalam pernyataan Konsili Trente, bahwa Gereja Katolik Roma

Dengan jelas berpandangan bahwa semua kebenaran yang menyelamatkan dan disiplin moral terkandung dalam kitab-kitab yang tertulis dan tradisi-tradisi yang tidak tertulis, yang, diterima oleh Rasul-rasul dari mulut Kristus sendiri, atau dari Rasul-rasul sendiri, dan didikte oleh Roh Kudus, telah diterima oleh kita, disampaikan seolah-olah dari tangan ke tangan: (Sinode), kemudian, mengikuti contoh Bapa-bapa ortodoks, menerima dan meninggikan … Perjanjian Lama dan … Baru—melihat bahwa satu Allahlah penulis keduanya—sebagaimana juga tradisi-tradisi tersebut, serta hal-hal yang menyangkut iman dan moral, sebagai yang telah didikte, baik oleh kata-kata langsung Kristus, atau oleh Roh Kudus, dan dipelihara dalam Gereja Katolik melalui suksesi yang berkelanjutan (penekanan dari saya; Philip Schaff, Pengakuan-pengakuan Iman Kekristenan, II.80).

Nampaknya, dalam debat-debat awalnya, ada rancangan awal yang mengusulkan bahwa wahyu dikandung “sebagian dalam kitab-kitab tertulis dan sebagian dalam tradisi yang tidak tertulis.” Usulan ini ditolak karena berbagai alasan, namun sebagaimana ditunjukkan oleh Mathison dengan cukup meyakinkan, perancang-perancang pengakuan iman tersebut memang bermaksud mengajarkan teori dua sumber meskipun keambiguan kata-kata yang akhirnya dipilih (lihat op. cit., 129-132).

Ada banyak masalah dan keberatan terhadap teori ini (lihat detilnya di ibid., 211-216).

Pertama, dan terutama, tidak mungkin bagi manusia yang telah jatuh untuk mengetahui apa yang diajarkan oleh Rasul-rasul dan bahkan Tuhan selain dari apa yang dapat kita pelajari dari Alkitab. Rasul-rasul dan orang-orang rasuli mungkin telah merujuk atau mempergunakan tradisi-tradisi lisan dalam beberapa kasus, dan melalui tulisan-tulisan kanonikal mereka mereka menyatakan hal-hal tersebut sebagai kebenaran (contohnya 2 Timotius 3:8; Yudas 9); namun mereka hanya dapat melakukannya di bawah karya khusus Roh Kudus dalam inspirasi (2 Petrus 1:20-21).

Kedua, tidak ada janji oleh Tuhan untuk berintervensi dalam pemeliharaan tradisi lisan, tidak seperti janji-Nya untuk memelihara Gereja-Nya atau Firman Kudus-Nya.

Ketiga, jika tradisi sejajar dengan Alkitab sebagai sumber wahyu, maka tidak ada cara untuk mengetahui apakah sesuatu yang diajarkan secara lisan itu benar atau salah. Jadi, bagaimana kita tahu kita tidak beribadah kepada Allah dengan sia-sia dan mengajarkan perintah manusia (Matius 15:9)?

Keempat, Roma tidak pernah menghasilkan bukti apapun bahwa ada tradisi lisan yang disampaikan dari zaman Rasul-rasul. Dan bahkan jika tradisi-tradisi baru dapat dibuat dari zaman ke zaman, tidak ada jalan bagi orang Kristen untuk mengecek keaslian dan otoritas tradisi tersebut.

Kelima, menjadikan tradisi sejajar dengan Alkitab sering mengharuskan perendahan otoritas Alkitab. Satu contoh yang jelas yaitu doktrin Roma bahwa Maria adalah perantara bersama Kristus. Namun ini berkontradiksi dengan Alkitab, yang mengajar kita bahwa “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Timotius 2:5). Mempercayai Roma berarti menyangkal Alkitab. Contoh mengejutkan yang lain mengenai bagaimana tradisi Roma bertabrakan dengan Alkitab bisa ditemukan dalam Pengakuan Konsili Trente mengenai Dosa Asal, yang mendogmatisasi bahwa baptisan mencuci Dosa Asal:

Nafsu ini, yang kadang-kadang disebut rasul sebagai dosa, dinyatakan oleh Sinode kudus bahwa Gereja Katolik tidak pernah mengertinya disebut sebagai dosa, dalam arti sungguh-sungguh dan secara wajar merupakan dosa dalam mereka yang lahir kembali, namun karena ia berasal dari dosa, dan berkecenderungan kepada dosa. Dan jika siapapun berpandangan lain, biarlah ia terkutuk (Pengakuan-pengakuan, II.88).

Pernyataan ini secara efektif menyatakan bahwa Rasul Paulus tidak mengerti nafsu sebagaimana dimengerti Gereja, dan kemudian melanjutkan dengan mengutuk siapa saja yang berusaha mengajar sebagaimana Paulus mengajar!

Dengan begitu banyak argumen-argumen kuat terhadap teori ini, masuk akal untuk menganggap bahwa teori ini tidak stabil dan akan ditolak oleh orang-orang yang mau memikirkannya atau berusaha mempertahankannya secara rasional atau secara alkitabiah. Inilah kenyataannya, sebagaimana diamati Mathison:

Kebanyakan teolog Katolik Roma modern telah mengakui problem-problem Tradisi II dan menolak konsep tradisi dua sumber. Sebagai gantinya, banyak yang telah mengadopsi konsep tradisi di mana pemegang otoritas Gereja ialah sumber wahyu yang sebenarnya. Tidak dapat dihindarkan bahwa problem-problem yang terkandung dalam Tradisi II akan mengakibatkan Tradisi III (ibid., 216).

Tradisi III: Pandangan Roma yang Baru

Kita tidak akan berbicara banyak mengenai Tradisi III karena pandangan ini paling sedikit relevansinya bagi kita, meskipun hal ini menunjukkan bahwa apologet-apologet Roma yang mendukung Tradisi II sebenarnya sedikit ketinggalan!

Apa yang diajarkan Tradisi III pada dasarnya yaitu bahwa apapun yang diajarkan gereja Roma sekarang ini merupakan tradisi secara definisi.

Walter Burghardt, seorang teolog Katolik Roma, menjelaskan bagaimana posisi ini bekerja berkenaan dengan doktrin Asumsi Maria:

Argumen yang valid bagi tradisi dogmatik, bagi ajaran Gereja di masa lampau dapat dibangun dari ajarannya pada masa sekarang. Dan itulah sebenarnya pendekatan yang diambil teologi terhadap definisi asumsi sebelum 1 November 1950. Hal ini dimulai dengan sebuah fakta: konsensus sekarang, dalam pengajaran Gereja dan dalam Gereja mengajarkan, bahwa Asumsi Korporeal diwahyukan Allah. Jika itu benar, jika itu merupakan ajaran magisterium sekarang, jika itu adalah tradisi Gereja, maka itu selalu merupakan bagian tradisi Gereja, bagian ajaran Gereja, bagian tradisi (dikutip oleh Heiko Oberman, The Dawn of the Reformation [T&T Clark, 1986], 295).

Penilaian Mathison begitu tajam:

Tanpa dibilang lagi pandangan tentang tradisi ini merupakan deklarasi akan otonomi gereja Roma, dan ketika digabungkan dengan doktrin ketidakbersalahan Paus, hasilnya yaitu suatu Gereja yang baginya Alkitab dan tradisi pada dasarnya tidak relevan. Jika apapun yang diajarkan Gereja sekarang secara definisi merupakan iman rasuli yang murni, dukungan dalam Alkitab atau bapa-bapa gereja sesungguhnya tidak perlu lagi. Dengan Tradisi III Roma telah, sebagai akibatnya, membebaskan dirinya bukan saja dari Alkitab melainkan juga dari beban keputusan-keputusan otoritasnya di masa lalu (op. cit., 135).

Tradisi 0: Pandangan Anabaptis
atau Solo Scriptura

Hati manusia begitu gampang menjadi ekstrim. Dan pengalaman mengajarkan kita bahwa setiap kali otonomi manusia diperhitungkan, gravitasi menuju otonomi dapat diharapkan terjadi. Sebagaimana Roma telah belakangan ini bergravitasi menuju otonomi (dari Allah) sebagai gereja, demikian pula ada orang-orang yang mengaku Protestan yang tanpa disadari telah bergerak menuju otonomi manusia, mengira bahwa mereka sedang mempertahankan sola scriptura.

Pada masa Reformasi, orang-orang Protestan ini dikenal sebagai “Reformator Radikal” atau lebih umum “Anabaptis,” karena penolakan mereka akan baptisan anak-anak dan karena itu menuntut baptisan ulang orang-orang dewasa yang pernah dibaptis sebagai anak-anak. Akan tetapi perbedaan antara Reformator Garis Utama dan Magisterial dan Reformator Radikal lebih dari masalah baptisan, meskipun mereka dikenal dengan nama populer mereka. Perbedaan mereka sebenarnya yaitu pengertian mereka akan Alkitab dan otoritas.

Reformator Radikal setuju dengan Reformator Magisterial bahwa Alkitab merupakan satu-satunya otoritas yang tidak bersalah, tapi berbeda dari Reformator Magisterial yang menghargai otoritas sekunder, seperti Pengakuan-pengakuan Iman masa lampau dan pandangan para bapa gereja, Reformator Radikal bersikeras bahwa segala tradisi tidak relevan dan tidak perlu. Menurut mereka, Alkitab ialah segala yang mereka perlu dan setiap pribadi tidak saja memiliki hak, tapi juga harus, menafsir Alkitab sendiri dan bagi dirinya sendiri dalam cara apapun yang nampak benar baginya. Jadi, “menurut para radikal, Reformator magisterial telah menyingkirkan banyak tambahan-tambahan teologi skolastik, namun mereka dengan keliru bersikeras dalam mengikuti formulasi pengakuan-pengakuan iman Kekristenan masa lampau” (Mathison, op. cit., 126). Para Radikal, dengan kata lain, tidak memegang konsep sola scriptura yang diajarkan para Reformator. Tidak seperti Reformator Magisterial, mereka tidak hanya mengabaikan “tradisi” zaman pertengahan, namun juga membuang “tradisi dalam arti regula fidei [yaitu “aturan iman” atau pengakuan-pengakuan iman yang harus diakui semua katekumen sebelum diterima oleh gereja], kesaksian bapa-bapa gereja, penafsiran Alkitab tradisional, dan pertimbangan bersama gereja” (ibid., 128). Mereka dapat dibilang memegang “solo scriptura,” memakai istilah Douglas Jones (ibid., 238), atau “Tradisi 0,” memakai istilah Alister McGrath (ibid., 126).

Penekanan “Aku dan Alkitabku” ini menyebabkan para Radikal tidak hanya menolak baptisan anak-anak, tetapi, seperti dicatat oleh Timothy George, juga “menyebabkan banyak dari mereka mempertanyakan dogma-dogma tradisional gereja kuno tentang Tritunggal dan Kristologi” (Theology of the Reformers [Broadman Press, 1988], 255).

Meskipun banyak dari kita merasa ngeri akan bagaimana orang-orang Katolik Roma dan Protestan menindak orang-orang Radikal, sedikit dari kita yang membaca tentang praktek-praktek mereka yang memecah belah dan mengganggu, akan segan untuk menyetujui bahwa mereka adalah orang-orang fanatik pada zaman tersebut.

Meskipun demikian, sedikit dari kita akan menyadari bahwa, kenyataannya, banyak, jika bukan kebanyakan, orang-orang injili modern sekarang memegang suatu konsep Alkitab yang sebenarnya lebih dekat dengan solo scriptura kaum Radikal ketimbang sola scriptura kaum Reformed.

Namun demikian, kemunculan ulang solo scriptura ini tidak dapat ditelusuri secara historis sampai ke kaum Radikal, melainkan ke rasionalisme filosofis humanistik Pencerahan (atau “Penggelapan” seperti disebut John Gerstner) abad ke-17. Komentar singkat dan padat dari Colin Brown meringkas pengaruh ini dengan baik:

Motto pencerahan yaitu: beranilah memakai pengertianmu sendiri. Ini berlaku khususnya pada agama. Generasi manapun tidak seharusnya diikat oleh pengakuan-pengakuan iman dan dogma-dogma generasi-generasi terdahulu (Philosophy and the Christian Faith [IVP, 1968], 91; dikutip oleh Mathison, op. cit., 142).

Meskipun banyak dari kita tidak mengetahui perkembangan sejarah Pencerahan, tentu kebanyakan, jika bukan semua, dari kita yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Barat modern telah ditanamkan filsafat Pencerahan sejak kecil. Meskipun mungkin dapat dikatakan bahwa filsafat otonomi pemikiran ini berfaedah bagi masyarakat dalam berbagai hal, adalah benar juga bahwa aplikasinya yang tidak dikekang dalam wilayah iman Kristen merupakan penyebab utama kebingungan, individualisme, dan sikap merendahkan otoritas dalam banyak gereja modern.

Sayangnya, aplikasi ini telah masuk ke dalam Gereja dengan kedok sola scriptura dan semangat Berea. Perhatikan kutipan-kutipan berikut ini (diambil dari Nathan O. Hatch, The Democratization of American Christianity [Yale University Press, 1989], 6; dikutip oleh Mathison, op. cit., 144):

Dalam iman keagamaan kita hanya memiliki satu Bapa dan satu Tuan, dan Alkitab, Alkitab adalah satu-satunya buku pengakuan iman yang kita akui—(A.B. Grosh, pendeta Universalis).

Kenapa saya tidak boleh pergi ke Alkitab untuk mempelajari doktrin-doktrin Kekristenan sebagaimana Sidang Para Teolog?—(Jeremy Belknap, pelayan Liberal Boston).

Singkirkan segala ikatan dengan sistem-sistem manusia, segala keberpihakan kepada nama-nama, konsili-konsili dan gereja-gereja, dan dengan jujur tanyakan, “apa kata Alkitab”—(Simeon Howard, pelayan Liberal).

Seluruhnya ditulis dari catatan Alkitab mengenainya dan bukan dari skema manusia manapun—(Charles Chauncy, mengenai pembelaan universalismenya).

Mungkin benar bahwa ini semua merupakan pengecualian ketimbang apa yang umumnya berlaku. Namun, tidakkah benar bahwa kebebasan individualistis yang sama telah menimbulkan begitu banyaknya teologi yang memecah belah, yang tidak dikenal pada masa lalu? Kita mengingat Dispensasionalisme, dan betapa banyak kebingungan yang telah diakibatkannya selama 170 tahun terakhir keberadaannya. Pikirkan debat Ketuhanan Kristus dan iman-gampang yang didukung secara teologi. Pikirkan betapa banyaknya waktu dan usaha yang telah dihabiskan untuk mendebatkan apakah pengangkatan pre-tribulasi, pengangkatan mid-tribulasi, atau pengangkatan pos-tribulasi yang benar. Pikirkan tentang betapa panasnya debat mengenai berapa banyak Bait Suci akan dibangun ulang dan kapan dan apa yang akan dilakukan di dalamnya, dan sebagainya.

Konsep solo scriptura, lebih lagi, memiliki banyak masalah dan menyebabkan banyak problem dalam gereja modern (lihat detilnya di ibid., 237-). Gereja seperti ini sama dengan “suatu bangsa dengan konstitusi namun tanpa mahkamah untuk menafsir konstitusinya” (ibid., 251). Kecenderungannya yaitu meninggikan penafsiran pribadi dan individualis di atas penafsiran pengakuan iman dan juga penafsiran otoritas gereja yang diinstitusikan oleh Kristus.

Benar bahwa banyak pendukung solo scriptura berusaha untuk setia kepada Alkitab, yang mereka percaya dapat ditafsirkan dengan benar melalui pertolongan iluminasi Roh Kudus (bdk. 1 Yohanes 2:27). Tetapi apa yang sering terjadi yaitu dalam antusiasme mereka untuk menerapkan hak pribadi mereka dalam menafsir Alkitab, mereka lupa atau menyangkal beberapa prinsip Alkitab yang penting. Pertama, mereka melupakan efek dosa terhadap akal budi, dan bahwa tak seorangpun dapat mendekati Alkitab sebagai pengamat yang netral absolut tanpa bias, asumsi, wawasan dunia, dan filsafat apapun. Kedua, mereka melewatkan fakta bahwa Gereja bukan saja suatu kumpulan sukarela dari pribadi-pribadi, melainkan oleh penetapan Allah merupakan suatu tubuh kovenan yang bersama-sama berfungsi sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Timotius 3:15). Ketiga, mereka cenderung lupa bahwa Allah bisa memberikan talenta lebih banyak yang berguna bagi pembelajaran Kitab Suci, dan memberikan Roh Kudus dalam takaran yang lebih besar kepada orang lain (seperti hamba-hamba Tuhan yang saleh yang berkumpul untuk merumuskan pengakuan-pengakuan iman Gereja). Dan akhirnya, cara penganut solo scriptura dalam mempelajari Alkitab entah mengabaikan semua penafsiran lainnya atau menilai penafsiran orang-orang Kristen lainnya, siapapun mereka, dengan standar penafsiran pribadinya sendiri. Secara natural, sering sekali ini menimbulkan anarki hermeneutis. Seperti dikatakan Mathison:

Bukannya meletakkan otoritas final dalam Alkitab sebagaimana diinginkan, konsep Alkitab semacam ini meletakkan otoritas final dalam pikiran dan pertimbangan setiap individu. Hasilnya yaitu relativisme, subjektivisme, dan kekacauan teologis yang kita lihat dalam Injili modern hari ini (op. cit., 240).

Kebingungan ini tidak terhindarkan, karena solo scriptura bukanlah doktrin Alkitab! Ini tidak diajarkan oleh para Rasul, bapa-bapa gereja mula-mula, maupun para Reformator. Nyatanya solo scriptura tidak memiliki pembelaan Alkitabiah! (lihat bagaimana teolog-teolog Katolik Roma dan Ortodoks Timur berargumen melawannya dalam ibid., 285-310). Alkitab, dan mereka yang memegang sola scriptura, mengajarkan bahwa Alkitab adalah otoritas final segala iman dan kewajiban Kristen, namun Kristus juga menetapkan gembala-gembala-Nya yang Ia lengkapi dengan Roh-Nya dan dengan karunia dan keahlian untuk menafsir firman kebenaran secara benar. Kadang-kadang gembala-gembala ini bisa salah, secara bersama-sama (dalam konsili dan sidang) dan pribadi, namun kecuali mereka terbukti salah mereka harus dipatuhi.

Akan tetapi tentu saja, kita sedang berada dalam tahap dalam sejarah Gereja di mana prinsip mengenai tradisi atau regula fidei telah diabaikan dalam sebagian besar Protestantisme sama seperti sola scriptura diabaikan dalam gereja Katolik Roma. Dan dengan demikian “gembala-gembala” sekarang yang memegang Tradisi 0 dan telah menyeleweng dari Kekristenan historis, seperti kaum liberal yang dikutip di atas, tidak dapat dipercayai. Apa yang harus kita lakukan? Saya percaya apa yang kita harus lakukan yaitu bertobat dari kesombongan kita dan kembali ke jalan-jalan yang dahulu kala melalui tulisan-tulisan para pendahulu kita yang sungguh-sungguh berpegang pada sola scriptura.

Kesimpulan

Kita memulai artikel ini dengan mencatat bagaimana banyak orang yang dulunya Protestan berpindah ke Katolik Roma karena mereka sampai kepada kesimpulan bahwa sola scriptura tidak Alkitabiah. Akan tetapi membaca beberapa argumen mereka telah membawa kita menyimpulkan bahwa mereka sesungguhnya bereaksi terhadap solo scriptura ketimbang sola scriptura. Namun, sebagaimana kita telah tunjukkan, baik Tradisi II dan III Romanisme tidaklah alkitabiah maupun tradisional dalam arti keduanya tidak pernah merupakan pengertian sebagian besar bapa-bapa gereja sebelum korupsi besar-besaran melanda Gereja pada zaman pertengahan. Karena itu kami beranggapan bahwa mereka yang beralih ke Roma seolah-olah melompat dari belanga ke dalam api.

Akan tetapi apa yang harus kita lakukan yang tinggal dalam Protestantisme? Saya percaya kita harus dengan hati-hati menguji tendensi kita sendiri dan menjaga diri terhadap semangat individualis dan rasionalis zaman sekarang. Kita harus menjaga diri terhadap memegang solo scriptura atas nama sola scriptura. Kita harus bertobat dan kembali kepada jalan alkitabiah jika kita telah melakukan kesalahan tersebut. Jika kita gagal, saya yakin bahwa gereja ini entah akan menuju kepada Karismatisme atau liberalisme. Sungguh, saya tidak ragu bahwa dari sudut pandang manusia Mathison benar ketika ia berkata: “Protestantisme tidak dapat terus berjalan di bawah prinsip-prinsip individualis solo scriptura, atau Protestantisme sebagai cabang Gereja sejati yang kelihatan akan akhirnya berhenti berada” (ibid., 336). Dan karena itu biarkan saya berseru sekali lagi supaya kita tidak mengolok-olok setiap kali Pengakuan Iman diacu ketimbang Alkitab secara langsung. Apakah Anda mengernyitkan dahi saat saya mengutip Pengakuan Iman Westminster ketika memperkenalkan sola scriptura? Mungkin Anda memiliki pandangan solo scriptura terhadap Pengakuan Iman. Terhadap sikap semacam ini, kita harus menganggap Pengakuan Iman kita memiliki otoritas turunan, dan dengan demikian tidak boleh malu menggunakannya. Bukanlah kebetulan bahwa teolog Reformed Princeton Samuel Miller pernah berkata bahwa “penentang-penentang [Pengakuan-pengakuan Iman] yang paling keras pada umumnya yaitu mereka yang menoleransi pandangan apapun dan mereka yang sesat” (The Utility and Importance of Creeds and Confessions [Greenville: A Press, 1991], 15; dikutip dalam Mathison, op. cit., 273).

Tuhan Yesus Kristus pasti akan memelihara Gereja-Nya seperti yang dijanjikan-Nya (Matius 16:18), namun akankah kita mendengar suara-Nya dan mengikuti-Nya (Yohanes 10:27) di jalan yang telah ditetapkan-Nya bagi Gereja-Nya?


About this entry