Catatan dan evaluasi singkat terhadap reformasi mula-mula di Swiss (1)

Artikel berikut ini diterjemahkan dari A Brief Account And Evaluation Of The Early Reformation In Switzerland, yang ditulis oleh Linus Chua sebagai bagian dari studi sejarah gerejanya dengan Whitefield Theological Seminary.

Pendahuluan

Periode awal Reformasi Protestan abad 16 berkaitan erat dengan dua negara di Eropa Barat, yaitu Jerman dan Swiss. Di kedua negara inilah Reformasi pertama kali berakar dan berkembang, dan dari kedua negara inilah banyak cabang utama Kekristenan Injili hari ini dapat ditelusuri. Lebih dari itu, beberapa perbedaan di antara kaum Injili sekarang berasal dari perbedaan antara reformasi Jerman dan Swiss. Dengan demikian, penting bagi semua orang yang termasuk dalam Kekristenan Protestan untuk merenungkan tentang sejarah Reformasi di Jerman dan Swiss. Dalam makalah ini, kita hanya memiliki tempat untuk membahas yang terakhir meskipun kita akan menyebutkan yang pertama seiring dengan berjalannya pembahasan kita.

Akan tetapi sebelum melanjutkan, kita harus mencatat bahwa kepada Perancislah kehormatan diberikan sebagai negara pertama yang memulai pekerjaan Reformasi. Pada tahun 1512, ketika Luther masih seorang biarawan yang tidak dikenal dan Zwingli masih bergerak bersama konfederasi untuk berjuang bagi paus, Lefevre telah mengajarkan di Paris kebenaran-kebenaran vital yang darinya Reformasi timbul. Beza menggambarkan Lefevre sebagai orang yang dengan berani memulai kebangunan agama murni Yesus Kristus dan berkata bahwa dari ruang kelasnya muncul banyak orang terbaik pada zamannya dan dalam gereja.[1] D’Aubigne, menulis di pertengahan abad 19, berkata, “Jika kita hanya melihat tanggal, kita harus mengakui bahwa bukan milik Swiss maupun Jerman kehormatan memulai pekerjaan ini, meskipun, sampai sekarang, hanya kedua negara ini yang memperjuangkannya. Kehormatan ini dimiliki oleh Perancis. Ini kebenaran, sebuah fakta yang kita ingin nyatakan, karena sampai sekarang hal ini mungkin telah diabaikan.”[2]

Sayangnya, sementara Perancis mungkin telah menjadi negara pertama yang mencicipi Reformasi, pekerjaan tersebut tidak diteguhkan di sana, terutama karena penganiayaan dan kurangnya perlindungan.[3] Sebaliknya, di Jerman dan Swisslah kebangunan besar agama sejati pada abad 16 berkembang dengan subur.

Makalah ini akan dimulai dengan gambaran singkat reformasi mula-mula di Swiss dengan melihat tokoh-tokoh yang terlibat, peristiwa-peristiwa dan perkembangan utama sampai sekitar 1530, dan masalah-masalah dan perlawanan yang dihadapai gerakan tersebut. Makalah ini kemudian akan menilai Reformasi Swiss secara perbandingan dengan Reformasi di Jerman.

Sejarah singkat Reformasi Swiss

A. Tiga periode

Reformasi Swiss dapat dibagi menjadi tiga periode di mana cahaya Injil menyebar secara bertahap ke tiga wilayah yang berbeda. Dari 1519-1526, reformasi terletak di bagian Jerman Swiss, yaitu di bagian timur dan utara konfederasi, dengan Zurich sebagai pusat utamanya. Dari 1526-1532, reformasi menyebar ke pusat Swiss dengan Berne sebagai salah satu kota kuncinya. Dari 1532, setelah perang Cappel dan kematian Zwingli, fokus cahaya bergeser ke barat daya ke Geneva, yang ada di bagian Perancis Swiss.

B. Masa awal hidup Zwingli

Sama seperti Luther merupakan tokoh kunci Reformasi Jerman, demikian juga Zwingli merupakan tokoh paling utama dalam Reformasi Swiss sampai kematiannya pada tahun 1531. Ulrich Zwingli lahir di rumah gembala yang sederhana di Wildhaus di wilayah Toggenburg pada hari tahun baru 1484, hanya tujuh minggu setelah kelahiran Luther. Ia mendapatkan gelar master of arts pada tahun 1506 di Basle. Zwingli ditahbiskan menjadi imam oleh uskup Constance dan diutus menjadi pastur Glaris, di mana ia melayani dari 1506-1516. Pada tahun 1512, konfederasi pergi berperang di Italia melawan Perancis dan Zwingli terdorong untuk berperang bersama mereka. Sekembalinya dari kampanye itu, ia mulai belajar bahasa Yunani dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Tahun berikutnya, ia mengakui otoritas tidak bersalah Alkitab dan bahwa Alkitab harus menafsirkan Alkitab. Berbeda dari Luther, Zwingli tidak tiba pada kebenaran secara tiba-tiba tapi melalui pengaruh bertahap dan damai dari Alkitab. Menurut Latourette, Zwingli nampaknya tidak pernah mengalami pengalaman keagamaan yang menggoncangkan jiwa yang membentuk Luther.[4] Pada tahun 1515, perang dengan Perancis membawa Zwingli ke Italia sekali lagi dan kunjungan kedua ini membuatnya melihat korupsi para hamba Tuhan dan perlunya reformasi. Sejak saat itu, ia memberitakan Firman dengan lebih jelas dan ia sendiri menganggap periode ini sebagai permulaan Reformasi Swiss.

C. Zwingli di Einsidlen dan Zurich

Pada tahun 1516, Zwingli dipanggil untuk menjadi imam di Einsidlen. Di sana, ia memiliki lebih banyak waktu untuk studi dan ia juga melihat dengan lebih jelas penyelewengan-penyelewengan yang melanda gereja. Tinggalnya Zwingli di Einsidlen, dalam kaitannya dengan pengetahuan tentang penyelewengan-penyelewengan kepausan, menghasilkan efek setara dengan kunjungan Luther ke Roma. Pada tahun 1518, posisi imam muncul di Zurich dan melalui usaha Oswald Myconius, yang adalah sahabat baiknya, Zwingli ditunjuk untuk menempati posisi tersebut. Ia mulai berkhotbah dari teks Yunani Injil Matius dengan cara yang dapat dimengerti semua orang dan segera, banyak orang dari berbagai kelas datang untuk mendengarnya. Zwingli tidak mengenal lelah dalam pelayanannya. Pada tahun 1519, ketika seorang biarawan Fransiscan bernama Samson datang ke Swiss untuk menjual surat pengampunan dosa, Zwingli berkhotbah dengan keras melawan surat pengakuan dosa dan melalui usahanya dan usaha Dean Bullinger, dewan kota Zurich menolak menerima Samson ke dalam kota. Khotbah Zwingli memiliki pengaruh yang kuat di Zurich sehingga banyak pejabat dan penduduk dimenangkan bagi Injil. Pada tahun 1520, otoritas sipil mengeluarkan dekrit yang memerintahkan supaya semua imam dan biarawan tidak mengkhotbahkan apapun selain dari Alkitab.

Sementara itu, Tuhan membangkitkan orang-orang lain di Swiss untuk mengerjakan pekerjaan-Nya seperti Myconius di Lucerne, Berthold Haller di Berne, dan Wolfgang Wissemburger di Basle. Reformasi di Swiss sedang berjalan. Pada tahun 1522, Zwingli mulai berkhotbah tentang perbedaan aturan-aturan Alkitabiah dan manusia. Ia menyerang kewajiban puasa daging pada waktu-waktu tertentu karena Allah tidak memerintahkannya. Ini membawanya ke dalam konflik dengan musuh-musuh Injil namun melalui episode ini, prinsip Reformasi meluas karena hal tersebut membawa para reformator ke dalam konflik dengan Roma di hadapan rakyat. Dalam bulan Juni 1522, Zwingli mengadakan pertemuan para pelayan Injil di Einsidlen. Di sana, mereka menulis sebuah petisi kepada daerah-daerah dan uskup-uskup untuk mengijinkan pemberitaan Injil secara bebas dan menghapuskan kewajiban selibat. Meskipun tidak dipenuhi, tetap hal tersebut merupakan peristiwa yang signifikan sebagaimana ditulis D’Aubigne, “Maka di Einsidlen sendiri, di pusat takhayul kuno itu … Zwingli dan sahabat-sahabatnya dengan berani mengangkat panji kebenaran dan kemerdekaan.”[5]

D. Reformasi di Zurich

Menjelang akhir 1522, Leo Juda datang ke Zurich untuk menggembalakan Gereja St. Peter. Tidak lama setelah kedatangannya, ia mengobarkan gangguan besar dalam gereja dengan menentang kesalahan seorang biarawan Augustine. Zwingli meminta ijin dari dewan agung untuk menjelaskan doktrinnya di hadapan deputi-deputi uskup. Dewan tersebut, karena ingin mengakhiri gangguan ini, mengadakan konferensi pada tanggal 29 Januari 1523, dan berita tentang hal ini tersebar dengan cepat ke seluruh Swiss. Dalam persiapannya, Zwingli mengeluarkan 67 tesisnya di mana ia dengan berani menyerang Paus dan teologi Roma. Dalam konferensi itu, undangan diberikan kepada siapa saja untuk membantah Zwingli namun tak seorangpun berkata apa-apa dan dewan menyatakan bahwa Zwingli diperbolehkan untuk terus berkhotbah. Tidak mampu mengalahkan Zwingli melalui debat, para pendukung Kepausan berusaha untuk merayunya dengan menawarkan kehormatan dan kekayaan namun tawaran mereka tidak efektif. Pada bulan Oktober 1523, perdebatan kedua diadakan oleh para pejabat untuk membahas pertanyaan tentang gambar dan misa. Pertemuan tersebut berlangsung tiga hari dan sekali lagi, para musuh Injil dikalahkan. Sebaliknya, banyak yang setuju dengan Zwingli. Debat ini berpengaruh besar di seluruh Swiss dan gereja Zurich sepenuhnya bebas dari Paus dan memulihkan hak-haknya yang telah diambil oleh Roma. Myconius, yang telah diusir dari Lucerne, diundang ke Zurich, di mana setiap hari, ia menguraikan Perjanjian Baru kepada masyarakat yang rindu dan penuh perhatian.

Setidaknya pada bulan Juni 1524, gereja-gereja Zurich telah dibersihkan dari semua gambar, reliks, altar, lilin, salib, ornamen, dan sebagainya di hadapan baik otoritas Gereja maupun Negara. Bahkan organ-organ disingkirkan dan nyanyian-nyanyian Latin dari koor diberhentikan. Perkembangan utama berikutnya tiba pada bulan April 1525 ketika misa dihapuskan dan digantikan dengan Perjamuan Kudus. Dikembalikannya Perjamuan Kudus membawa pemulihan kasih di antara masyarakat sehingga kasih dan kesatuan tersebar di kota itu. Meskipun demikian, ada beberapa, baik di dalam dan di luar kota, yang menentang Zwingli namun serangan mereka tidak dapat menghentikan reformasi yang telah dimulai di Zurich dan sedang mulai menggoncang seluruh Swiss. Melalui khotbah mereka, Haller dan Oecolampadius memajukan reformasi di Berne dan Basle.

E. Reformasi radikal

Seperti di Jerman, Reformasi Swiss harus berurusan dengan fanatisisme sebagian reformator radikal, yang mengancam reformasi itu sendiri. Gerakan radikal dimulai di Zurich pada tahun 1523 dan berlangsung hingga 1532. Salah satu pemimpinnya yaitu Conrad Grebel, yang berusaha menarik Zwingli dan memintanya untuk membentuk sebuah gereja tanpa dosa. Zwingli menjawab bahwa lalang harus tumbuh bersama gandum. Ditolak Zwingli, Grebel diterima oleh pastur lainnya seperti Rubli dan Brodtlein, dan mereka berketetapan untuk membentuk jemaat independen di mana hanya orang-orang dewasa yang dibaptis. Dewan kota Zurich digelisahkan dan mulai menekan orang-orang ini, namun ini hanya semakin mengobarkan semangat mereka. Orang-orang ini melarikan diri ke tempat-tempat lain dan segera Saint Gall terbanjiri. Fanatisisme ini dinyatakan dalam kekacauan yang parah, yang membahayakan masyarakat itu sendiri. Otoritas sipil, dalam kegelisahan mereka, mengambil tindakan keras terhadap mereka meskipun Zwingli tidak mengambil bagian dalam kekerasan ini.

F. Reformasi menyebar

Perkembangan penting berikutnya di Swiss yaitu konferensi yang diadakan di Baden pada bulan Mei 1526. Pendukung Roma berusaha memakai pertemuan ini untuk melawan Zurich. Mereka dibantu oleh John Eck. Dewan kota Zurich menolak membiarkan Zwingli pergi karena ancaman terhadap nyawanya. Oecolampadius memimpin kubu Protestan. Perdebatan ini berlangsung 18 hari dengan Eck berbicara dengan keras mempertahankan doktrin-doktrin Roma sementara Oecolampadius berbicara dengan tenang namun berani. Orang-orang Protestan kalah suara karena orang-orang Katolik yang mayoritas dan pertemuan itu kemudian memutuskan supaya Zwingli dan pelayan-pelayan yang lain diusir dari Gereja. Ironisnya, akibat dari konferensi ini yaitu tujuan Roma menjadi rusak sementara impuls segar diberikan kepada Reformasi. Sejak saat itu, Berne, Basle, dan kota-kota lain mulai bergerak semakin jauh dari Kepausan.

Pada tahun 1527, pemilihan di Berne menempatkan banyak pendukung reformasi di Dewan Agung dan menyingkirkan sebagian pendukung kuat Roma. Momen yang menentukan telah tiba bagi kota ini dan pemerintahnya bertekad untuk berpihak kepada mayoritas Protestan. Sebuah perdebatan diadakan pada bulan Januari 1528 dan kedua belah pihak mendebatkan berbagai doktrin seperti misa, tradisi, doa kepada orang-orang kudus, dan lain-lain. Di akhir konferensi tersebut, kedua dewan pemerintah memutuskan bahwa misa harus dihapuskan dan setiap orang dapat menyingkirkan ornamen-ornamen dari gereja-gereja. Pada tanggal 7 Februari, dewan mengeluarkan maklumat umum Reformasi. Reformasi Berne berpengaruh besar terhadap beberapa wilayah, seperti St. Gall, Glaris, Wesen, Appenzell, Schaffhausen, Thurgovia, dan yang paling penting Basle. Reformasi Berne juga berpengaruh kepada banyak gereja di Swiss Perancis. Farel, dengan dukungan Berne, pergi ke daerah itu untuk berkhotbah dan mengalami sukses di Neufchatel.

G. Politik, Perang, dan Kematian Zwingli

Menjelang akhir tahun 1520an, titik puncak Reformasi Zwingli tercapai. Reformasi diteguhkan di kota-kota dan wilayah penting yaitu Zurich, Berne, dan Basle. Akan tetapi para pendukung Roma tidak akan membiarkan sukses reformasi. Mereka memperkuat tekanan terhadap kaum injili di wilayah mereka dan berusaha bekerja sama dengan orang-orang Austria. Wilayah-wilayah yang tidak termasuk di dalam persekutuan ini berkumpul di Zurich untuk mengadakan kongres. Pada bulan Mei 1529 ketika Jacques Keyer, seorang pendeta Zurich, ditangkap dalam ekspedisi khotbah dan mati martir di Schwyz, kematiannya menjadi tanda peperangan. Zwingli, melihat awan berkumpul di sekitar Reformasi, menjadi yakin bahwa aksi politis dan perang perlu untuk menyelamatkan tujuan mereka. Ia berpartisipasi aktif dalam politik dan melalui khotbah dan tulisannya, mengobarkan semangat perang. Dalam berbagai hal, ia memerankan peranan baik sebagai pendeta Zurich maupun kepala wilayah. Pada bulan Juni, Zurich menyatakan perang dan tentara dari kedua belah pihak bertemu di Arau dan tidak ada yang menang. Sebuah perjanjian damai dibuat dan kedua tentara ditarik kembali.

Sementara itu, daerah-daerah Katolik meningkatkan kemarahan dan kebencian mereka terhadap kemajuan injil dan mengadakan pertemuan di Baden pada bulan Januari 1531. Mereka terus menekan orang-orang injili di antara mereka, dan mengobarkan rakyat untuk melawan reformasi dan berusaha bersekutu dengan Paus dan Kaisar. Kota-kota injili bertemu pada Kongres Arau pada bulan Mei 1531 untuk berunding. Sementara Zwingli dan Zurich menyerukan perang, orang-orang Berne menyarankan jalan tengah antara perang dan damai dan menyerukan embargo terhadap daerah-daerah Katolik. Zwingli menolaknya namun sidang mendukungnya. Embargo ini gagal mencapai tujuannya, yaitu membiarkan pemberitaan Firman secara bebas di wilayah Katolik. Sebaliknya, hal tersebut menggerakkan mereka untuk berperang. Akhirnya, daerah-daerah Katolik menyerbu Zurich pada bulan Oktober 1531. Orang-orang Zurich, yang sepenuhnya tidak siap kali ini, menderita kekalahan besar di Cappel. Zwingli dan banyak pendeta lain dan orang-orang penting Zurich pergi berperang namun gugur dalam peperangan. Perjanjian damai dibuat pada tanggal 16 November 1531 di mana Zurich dan sekutunya dapat terus memeluk iman mereka namun Balliwicks diserahkan kepada wilayah Katolik. Setelah kekalahan ini, pengajaran Katolik Roma dipulihkan di banyak bagian Swiss. Orang-orang Protestan dianiaya sementara misa, altar, dan gambar-gambar di mana-mana dikembalikan.

(bersambung…)

[1] J. H. Merle D’Aubigne, History of the Reformation Vol III (Sprinkle Publications, 2003), 347.

[2] D’Aubigne, History of the Reformation Vol III, 348.

[3] The story of the early French Reformation may be found in D’Aubigne’s History of the Reformation Vol 3 Book XII.

[4] Kenneth Scott Latourette, A History of Christianity Volume II (Harper San Francisco, 1975), 747.

[5] D’Aubigne, History of the Reformation Vol II, 395.


About this entry