Bagaimana mengetahui apakah engkau sungguh-sungguh seorang Kristen (2)

Judul asli artikel ini yaitu True Grace Distinguished from the Experience of Devils (Kasih Karunia Sejati Dibedakan dari Pengalaman Setan) tulisan Jonathan Edwards, tahun 1752. Hak cipta versi modern ini (1994) ada pada William Carson. Ijin diberikan untuk memperbanyak, selama tulisan ini tidak diubah, dan catatan ini disertakan dalam setiap kopi, dan tidak dijual demi keuntungan.

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” ~Yakobus 2:19

Keberatan #1 – Manusia berbeda dari iblis
Sekarang mungkin sebagian orang akan mengajukan keberatan dengan berkata bahwa orang-orang jahat di dunia ini cukup berbeda dari iblis. Situasi mereka berbeda dan mereka sendiri makhluk yang berbeda. Seseorang mungkin berkata, “Hal-hal yang sekarang dilihat oleh iblis mungkin tidak kelihatan bagi manusia. Selain itu, manusia memiliki tubuh, yang membatasi jiwa dan mencegah manusia untuk melihat hal-hal rohani secara langsung. Dengan demikian, meskipun iblis memiliki pengetahuan yang banyak dan pengalaman pribadi akan hal-hal Allah, dan tidak memiliki kasih karunia, hal yang sama tidak berlaku bagi saya.” Atau, dengan kata lain: jika manusia memiliki pengetahuan dan pengalaman tersebut dalam hidup sekarang, itu bisa jadi merupakan tanda pasti kasih karunia Allah dalam hati mereka.
Sebagai jawaban, memang tak seorang manusia pun dalam hidup sekarang pernah memiliki hal-hal ini dalam derajat iblis memilikinya. Tak seorangpun pernah gemetar, dengan ketakutan yang sama dengan iblis. Tak seorangpun, dalam kehidupan ini, dapat memiliki pengetahuan seperti yang dimiliki iblis. Jelas bahwa iblis dan manusia yang binasa mengerti luasnya kekekalan, dan pentingnya dunia yang lain, lebih daripada manusia hidup manapun, dan karena itu mereka merindukan keselamatan lebih lagi.
Namun kita dapat melihat bahwa manusia dalam dunia ini bisa memiliki pengalaman semacam yang dimiliki iblis dan manusia binasa. Mereka memiliki cara berpikir yang sama, pendapat dan emosi yang sama, dan kesan pikiran dan hati yang sejenis. Perhatikan, bahwa bagi rasul Yakobus ini merupakan argumen yang meyakinkan. Ia mengklaim bahwa jika manusia mengira percaya pada satu Allah merupakan bukti kasih karunia Allah, itu bukanlah bukti, karena iblis percaya hal yang sama. Yakobus tidak sedang berbicara mengenai tindakan percaya saja, tetapi juga emosi dan aksi yang menyertai kepercayaan tersebut. Gemetar adalah contoh emosi dari hati. Ini menunjukkan bahwa jika manusia memiliki cara berpikir yang sama, dan berespon dari hati secara sama, ini bukanlah tanda kasih karunia yang pasti.
Alkitab tidak mengatakan seberapa jauh manusia dalam dunia ini dapat melihat kemuliaan Allah, dan pada saat yang sama tidak memiliki kasih karunia Allah dalam hati mereka. Kita tidak diberi tahu tepatnya sampai sejauh mana Allah menyatakan diri-Nya kepada orang-orang tertentu, dan seberapa jauh mereka akan berespon dalam hati mereka. Sangat menggoda untuk berkata bahwa jika seseorang memiliki derajat pengalaman rohani tertentu, atau derajat kebenaran tertentu, mereka pasti selamat. Namun mungkin bagi sebagian orang yang tidak selamat untuk memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada sebagian mereka yang memiliki kasih karunia dalam hati mereka! Jadi salah untuk melihat pengalaman atau pengetahuan dalam derajat atau jumlah. Manusia yang memiliki karya sejati Roh Kudus dalam hati mereka mempunyai pengalaman dan pengetahuan macam yang lain.
Keberatan #2 – Manusia bisa memiliki perasaan keagamaan yang tidak dapat dimiliki iblis
Di sini, seseorang bisa menjawab pemikiran ini dengan berkata, “Saya setuju dengan Anda. Saya melihat bahwa percaya pada Allah, melihat kemuliaan dan kekudusan-Nya, dan mengetahui bahwa Yesus mati bagi orang-orang berdosa bukanlah bukti kasih karunia dalam hati saya. Saya setuju bahwa iblis bisa mengetahui hal-hal ini juga. Namun saya memiliki beberapa hal yang tidak mereka miliki. Saya memiliki sukacita, damai, dan kasih. Iblis tidak bisa memilikinya, jadi itu pasti menunjukkan bahwa saya selamat.”
Ya, benar bahwa engkau memiliki sesuatu lebih daripada yang dapat dimiliki iblis, tapi tidak lebih baik daripada yang dapat dimiliki iblis. Pengalaman seseorang akan kasih, sukacita, dan lain-lain, mungkin bukan berasal dari sebab yang berbeda dari iblis, melainkan hanya dari situasi yang berbeda. Penyebab, atau asal, perasaan-perasaan mereka sama. Inilah mengapa pengalaman-pengalaman ini tidak lebih baik daripada pengalaman-pengalaman iblis. Untuk menjelaskan lebih lanjut:
Segala hal yang didiskusikan sebelumnya tentang iblis dan manusia binasa, timbul dari dua penyebab utama, pengertian natural dan cinta diri. Saat mereka berpikir tentang diri mereka sendiri, kedua hal inilah yang menentukan perasaan dan respon mereka. Pengertian natural menunjukkan kepada mereka bahwa Allah itu kudus, sementara mereka jahat. Allah tidak terbatas, namun mereka terbatas. Allah berkuasa, dan mereka lemah. Cinta diri memberi mereka pengertian pentingnya agama, dunia yang kekal, dan kerinduan keselamatan. Ketika kedua penyebab ini bekerja bersamaan, iblis dan manusia yang binasa menjadi sadar akan kemuliaan Allah, yang mereka tahu akan menjadi Hakim mereka. Mereka tahu bahwa penghakiman Allah akan sempurna dan hukuman mereka akan selamanya. Karena itu kedua penyebab ini bersama dengan perasaan mereka akan menghasilkan kengerian mereka pada hari penghakiman itu, saat mereka melihat kemuliaan Kristus dan orang-orang kudus-Nya.
Alasan mengapa banyak orang merasakan sukacita, damai, dan kasih hari ini, sementara iblis tidak, mungkin lebih karena situasi mereka ketimbang karena suatu perbedaan dalam hati mereka. Penyebab dalam hati mereka sama. Contohnya, Roh Kudus sekarang bekerja dalam dunia menahan manusia menjadi sejahat yang mereka bisa. Ini kontras dengan iblis, yang jahat sejahat yang mereka bisa setiap saat. Lebih lagi, Allah dalam belas kasihan-Nya memberi kepada semua orang, seperti hujan bagi tanaman (Matius 5:45), panas dari matahari, dan lain-lain. Bukan itu saja, sering manusia menerima banyak hal dalam hidup yang membahagiakan mereka, seperti pergaulan, kesenangan, musik, kesehatan, dan sebagainya. Yang terpenting, banyak orang telah mendengar kabar pengharapan: Allah telah mengirim seorang Juruselamat, Yesus Kristus, yang mati untuk menyelamatkan manusia berdosa. Di situasi-situasi ini, pengertian natural manusia bisa menyebabkan mereka merasakan hal-hal yang iblis tidak dapat rasakan.
Cinta diri merupakan tenaga yang kuat dalam hati manusia, cukup kuat tanpa kasih karunia untuk menyebabkan manusia mengasihi mereka yang mengasihi mereka. “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka” (Lukas 6:32). Merupakan sesuatu yang natural bagi seseorang yang melihat Allah penuh belas kasih, dan yang tahu bahwa mereka tidak sejahat yang mereka bisa, untuk meyakini bahwa Allah mengasihi mereka. Jika kasihmu kepada Allah datang hanya dari perasaan bahwa Allah mengasihi engkau, atau karena engkau telah mendengar Kristus mati bagimu, atau sesuatu yang mirip, sumber kasihmu kepada Allah hanyalah cinta diri. Hal ini bertakhta dalam hati iblis juga.
Bayangkan situasi iblis. Mereka tahu mereka tidak ditahan dalam kejahatan mereka. Mereka tahu Allah adalah musuh mereka dan selalu demikian. Meskipun mereka tidak punya harapan apapun, mereka tetap aktif dan berperang. Coba pikirkan, bagaimana jika mereka memiliki pengharapan yang dimiliki manusia? Bagaimana jika iblis, dengan pengetahuan mereka akan Allah, ditahan kejahatannya? Bayangkan jika iblis, setelah segala ketakutannya akan penghakiman Allah, tiba-tiba berpikir bahwa Allah mungkin adalah Sahabatnya? Bahwa Allah mungkin mengampuninya dan membiarkannya, dengan dosa dan kejahatannya, ke dalam sorga? Oh sukacita, keheranan, syukur akan kita lihat! Tidakkah iblis ini akan mengasihi Allah, karena bukankah setiap orang mengasihi orang yang menolongnya? Apa lagi yang dapat menyebabkan perasaan yang begitu kuat dan tulus? Apakah mengherankan jika begitu banyak manusia tertipu dengan cara ini? Khususnya jika manusia semakin ditipu lagi oleh iblis. Iblis telah melakukan tipuan ini selama berabad-abad, dan celakanya mereka sangat pandai dalam hal ini.

(bersambung…)


About this entry