Catatan dan evaluasi singkat terhadap reformasi mula-mula di Swiss (2)

Artikel berikut ini diterjemahkan dari A Brief Account And Evaluation Of The Early Reformation In Switzerland, yang ditulis oleh Linus Chua sebagai bagian dari studi sejarah gerejanya dengan Whitefield Theological Seminary.

Evaluasi singkat Reformasi Swiss

Dalam mengevaluasi Reformasi Swiss, akan sangat membantu untuk membandingkannya dengan Reformasi Jerman karena ada sejumlah persamaan dan perbedaan yang penting.

A. Masing-masing bersifat independen

Reformasi Jerman dan Swiss berkembang secara independen dari satu sama lain. Sebagaimana ditulis D’Aubigne, “Bukan Jerman yang menyampaikan cahaya kebenaran kepada Swiss, Swiss kepada Perancis, dan Perancis kepada Inggris: semua negara ini menerimanya dari Allah … Satu doktrin yang sama tiba-tiba diteguhkan pada abad 16 di perapian dan altar bangsa-bangsa yang jauh dan berbeda; di mana-mana jiwa dan semangat yang sama menghasilkan iman yang sama.”[1]

Kita tahu hal ini dari fakta bahwa tidak ada kontak antara kedua pemimpin terbesar kedua reformasi tersebut, yaitu Luther dan Zwingli, sampai belakangan ketika masing-masing reformasi telah dimulai. Zwingli sendiri berkata, “Saya mulai memberitakan Injil pada tahun 1516, yaitu ketika nama Luther belum terdengar di negara ini. Bukan dari Luther saya mempelajari doktrin Kristus, melainkan dari Firman Allah. Jika Luther memberitakan Kristus, ia melakukan apa yang saya lakukan dan itu saja.”[2]

B. Pendekatannya

Reformasi Swiss lebih radikal dan komplit daripada Reformasi Jerman. Di Zurich, Zwingli menyerukan dengan keras penghapusan misa dan semua reliks, gambar, dan ornamen. Bahkan organ-organ disingkirkan karena koneksinya dengan praktek-praktek takhayul. Sebagai kontras, ketika Carlstadt dan beberapa nabi-nabi baru menyerukan tindakan ekstrim untuk dilakukan di Wittenberg, Luther menentang mereka dan menghimbau masyarakat untuk mengasihi, sabar, dan menahan diri.

D’Aubigne menyimpulkan perbedaan pendekatan Zwingli dan Luther dengan sangat baik: “Luther ingin mempertahankan di Gereja segala sesuatu yang tidak terang-terangan bertentangan dengan Alkitab, sementara Zwingli menyingkirkan segala sesuatu yang tidak dapat dibuktikan dari Alkitab. Sang Reformator Jerman ingin tetap bersatu dengan Gereja zaman-zaman sebelumnya, dan merasa cukup memurnikannya dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Firman Allah. Sang Reformator Zurich melampaui zaman-zaman tersebut, kembali ke zaman rasuli, dan melaksanakan transformasi menyeluruh terhadap Gereja, untuk memulihkannya kepada kondisi mula-mulanya.”[3] Prinsip Luther yaitu tidak meninggalkan doktrin gereja kecuali bahasa Alkitab dengan mutlak menuntut hal tersebut. Zwingli sebaliknya cenderung tidak ingin mempertahankan koneksinya dengan tradisi-tradisi dahulu dan melihat Alkitab saja.

D’Aubigne lalu menunjukkan bahwa ada dua elemen yang telah memasuki Gereja Roma yang perlu disingkirkan. Yang pertama, dari Yudaisme, yaitu ide Farisi tentang kebenaran diri dan keselamatan dari perbuatan manusia. Kedua, dari Paganisme, yaitu ide bahwa Allah tidaklah serba-cukup dan berdaulat, dan ini mengakibatkan adanya orang-orang suci, gambar-gambar, dan upacara-upacara. Reformasi Luther ditujukan terutama pada elemen Farisi ini sementara reformasi Zwingli khususnya ditujukan terhadap elemen pagan. Roma telah meninggikan manusia dan merendahkan Allah. Luther merendahkan manusia sementara Zwingli meninggikan Allah. Luther meletakkan fondasinya, sementara Zwingli memasang batu mahkotanya dan dalam pengertian ini, keduanya saling melengkapi.

Komentar D’Aubigne mengenai perbedaan kedua reformasi ini sangat mendalam. Ia menulis, “Kita sekali lagi di sini bisa mengenali tangan berdaulat yang memimpin segala sesuatu, dan tidak mengijinkan apa-apa kecuali rancangan yang paling bijaksana. Luther … konservatif. Zwingli, sebaliknya, radikal. Kedua tendensi yang berlawanan ini perlu. Seandainya Luther dan sahabat-sahabatnya berdiri sendiri pada waktu Reformasi, usahanya akan dihentikan dengan segera, dan prinsip reformasi tidak akan memenuhi tugasnya. Sebaliknya, seandainya hanya ada Zwingli, jalinannya akan diputus dengan terlalu tiba-tiba, dan Reformasi akan terisolasi dari zaman-zaman yang mendahuluinya. Kedua tendensi ini … ditetapkan untuk saling melengkapi; dan setelah berlalu tiga abad kita dapat berkata bahwa mereka telah memenuhi misi mereka.”[4]

C. Doktrinnya

Zwingli dan Luther setuju dengan satu sama lain mengenai tiga prinsip fundamental Protestantisme, yaitu, (1) supremasi Alkitab sebagai aturan iman dan hidup, (2) pembenaran oleh kasih karunia cuma-cuma melalui iman, dan (3) imamat kaum awam.

Di samping tiga prinsip ini, keduanya setuju dengan satu sama lain tentang banyak doktrin penting lainnya. Schaff menulis, “Satu-satunya perbedaan doktrinal yang serius yang memisahkan Luther dan Zwingli di Marburg yaitu modus kehadiran dalam perjamuan kudus ….”[5] Dalam konferensi itu, yang diadakan oleh Philip dari Hesse pada bulan Oktober 1529, Luther menyusun 15 artikel dan memberikannya kepada kedua belah pihak. Keduanya menyetujui 14 dari artikel-artikel tersebut dan bahkan dalam artikel ke-15, mereka setuju dalam bagian yang utama, dan berbeda hanya dalam kehadiran jasmaniah dan pengunyahan. Artikel-artikel ini penting karena menunjukkan bahwa meskipun reformasi berkembang secara independen di Swiss dan Saxon, ada kesatuan yang besar di antara mereka dalam doktrin karena keduanya menerimanya dari sumber Ilahi yang sama. Meskipun demikian, ada perbedaan-perbedaan dalam poin-poin sekunder. Setelah Marburg, kontroversi di antara keduanya menjadi lebih reda. Keuntungan lain dari pertemuan ini yaitu para reformator menyetujui pemisahan mereka dari Roma.

Mengenai Perjamuan Kudus, Zwingli menolak secara total ide kehadiran jasmaniah Kristus. Ia berpandangan bahwa kata “adalah” dalam kalimat Tuhan “Ini adalah tubuh-Ku” berarti ‘melambangkan’ dan harus dimengerti secara figuratif ketimbang literal. Zwingli juga mencemaskan pengertian magis tentang Perjamuan Kudus yang akan merugikan pengudusan. Awalnya, Luther nampaknya memiliki pandangan yang sama dengan Zwingli, namun saat ia melihat orang-orang fanatik dan antusias menolak baptisan dan menyangkal kehadiran Kristus dalam Perjamuan Kudus, ia terkejut dan mengambil arah yang berlawanan dan menaruh kepentingan yang lebih tinggi pada sakramen.

D. Relasinya dengan negara

Kedua reformasi ini membawa Gereja berdekatan dengan Negara namun di bawah Zwingli, “kedekatan Gereja dan negara dicapai lebih daripada Saxon Luther.”[6] Zwingli bekerja secara dekat dengan pemerintah sipil dalam reformasi Gereja di Zurich. Kita melihat hal ini setidaknya dalam dua hal. Di satu sisi, ia memohon dan mempengaruhi dewan sipil untuk mengadakan perubahan-perubahan tertentu, contohnya menghapuskan misa, menyingkirkan segala reliks dan gambar-gambar dari gereja. Di sisi lain, ia mempertahankan dan melindungi gereja-negara dari orang-orang radikal yang berusaha menceraikan relasi di antara keduanya.

Salah satu perbedaan utama reformasi Swiss dan Jerman dalam hal relasi gereja-negara yaitu bahwa di Jerman, prinsip monarkhi berpengaruh besar sedangkan di Swiss, prinsip demokrasi berkuasa. Scharff menulis, “Para Reformator Swiss mengontrol Negara dalam spirit kebebasan republikan, yang akhirnya berakibat terpisahnya kuasa sekuler dan spiritual, atau Gereja yang bebas dalam Negara yang bebas … sementara Luther dan Melanchton, penghormatan mereka terhadap institusi monarkhi dan Kerajaan Jerman, mengajarkan ketaatan pasif dalam politik, dan membawa Gereja di bawah belenggu otoritas sipil.”[7]

E. Penggunaan senjata

Salah satu perbedaan yang paling utama di antara kedua reformasi ini ditemukan pada penggunaan senjata untuk membela tujuannya. Reformasi Jerman menolak pertolongan kuasa sementara dan kekuatan senjata, dan mencari kemenangan dalam Injil. Kita melihat ini contohnya pada tahun 1529, ketika Kaisar kelihatannya akan berperang dengan orang-orang Protestan, Pangeran Jerman berkonsultasi dengan teolog-teolog Wittenber dan Luther menjawab, “Kami lebih memilih mati sepuluh kali daripada menyaksikan Injil kami menyebabkan keluarnya satu tetes darah. Bagian kami ialah menjadi seperti domba-domba ke pembantaian … Kiranya paduka tidak takut … Hanya jangan biarkan tanganmu dikotori oleh darah saudara-saudaramu … Paduka tidak dapat membela iman kami: setiap orang harus percaya dengan resiko dan bahayanya sendiri.”[8] Sekali lagi pada tahun 1530, Luther, yang tidak mengingini intervensi senjata dalam perkara gereja, memberi tahu sang pangeran, “Jika kaisar memutuskan untuk memerangi kami, kiranya tak seorang pangeranpun membela kami. Allah itu setia: Ia tidak akan meninggalkan kami.”[9]

Sebagai kontras, Zwingli dan Reformasi Swiss beralih kepada pedang dan kepada orang-orang berkuasa di bumi untuk membela tujuan mereka melawan Wilayah-wilayah Katolik. Berkali-kali Zwingli berusaha menghimbau orang-orang Protestan di Swiss untuk menyandang senjata dalam perang agama. Ia membenarkan dirinya dengan berkata, “Tentu bukan dengan kekuatan manusia. Hanya dengan kekuatan Allah saja Firman Tuhan harus dijunjung. Namun Allah sering memakai manusia sebagai alat untuk membantu manusia. Mari kita dengan demikian bersatu … dan mari kita membentuk satu umat dan satu kesatuan.”[10] Dengan demikian, sementara Luther mendukung ketaatan pasif, Zwingli mendukung perlawanan terhadap tirani.

Sebagai akibat perang agama di Swiss, seluruh Reformasi dikompromikan. Namun demikian, meskipun direndahkan untuk satu masa, tujuan injil tidak hancur, melainkan ditetapkan untuk akhirnya meraih kemenangan. Allah memakai bencana ini untuk membawa Reformasi kembali pada jalannya yang benar dan mengingatkan umat-Nya bahwa senjata mereka tidak duniawi melainkan rohani, dan bahwa mereka hanya akan menang dengan kuasa Firman-Nya.

Menulis tentang akhir hidup Zwingli, Schaff berkata, “Kematian Zwingli merupakan suatu tragedi heroik. Ia mati bagi Allah dan negaranya. Ia seorang martir bagi kebebasan beragama dan kemerdekaan Swiss. Ia benar dalam tujuannya mendapat kebebasan berkhotbah di seluruh wilayah … Namun ia tidak punya hak untuk memaksa orang-orang Katolik, dan menggunakan pedang. Ia salah dalam caranya ….”[11]

Kesimpulan

Kita telah menggambarkan secara singkat permulaan Reformasi Swiss dan mengevaluasinya dalam perbandingan dengan Reformasi Jerman. Berdasarkan atas kelima poin evaluasi kita, kita diingatkan akan lima hal.

Pertama, dari sifat independennya, kita diingatkan bahwa Allahlah, bukan manusia, sumber kebenaran-kebenaran dan prinsip-prinsip reformasi. Kedua, dari pendekatannya, kita melihat bagaimana Allah dengan berdaulat menggunakan kedua cabang Protestantisme, meskipun penekanan mereka berbeda, untuk melengkapi satu sama lain dan memajukan tujuan-Nya di dunia. Ketiga, dari doktrinnya, kita diingatkan bahwa ada kesatuan (dalam doktrin-doktrin penting keselamatan) dalam perbedaan (dalam masalah-masalah sekunder) dalam Gereja Kristus. Keempat, dari relasinya dengan Negara, kita diingatkan bahwa Gereja dan Negara, meskipun berbeda, harus bekerja sama bagi kemuliaan Allah dalam lingkupnya masing-masing. Kelima, dari penggunaan senjata, kita diingatkan bahwa “memang [kita] masih hidup di dunia, tetapi [kita] tidak berjuang secara duniawi, karena senjata [kita] dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. [Kita] mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. [Kita] menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:3-5).

[1] D’Aubigne, History of the Reformation Vol II, 280-281.

[2] D’Aubigne, History of the Reformation Vol II, 281.

[3] D’Aubigne, History of the Reformation Vol III, 243.

[4] D’Aubigne, History of the Reformation Vol III, 305.

[5] Philip Schaff, History of the Christian Church Volume 8 (Hendrickson Publishers, 2006), 8.

[6] Latourette, A History of Christianity Volume II, 749.

[7] Schaff, History of the Christian Church Volume 8, 10-11.

[8] D’Aubigne, History of the Reformation Vol IV, 111.

[9] D’Aubigne, History of the Reformation Vol IV, 117-118.

[10] D’Aubigne, History of the Reformation Vol IV, 389.

[11] Schaff, History of the Christian Church Volume 8, 189.

Advertisements

About this entry