Prinsip-prinsip Alkitabiah dalam berpacaran

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Biblical principles for Courtship, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 3 September 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Beberapa tahun lalu ketika istri saya dan saya mulai berpacaran, pemimpin KTB istri saya memberikannya sebuah buku tentang berpacaran. Buku ini, ditulis oleh Barry St. Clair dan Bill Jones, punya judul yang sangat menarik: Dating: Picking (and being) a Winner (Here’s Life Publishers, 1987). Pada saat itu, saya tidak berpikir banyak mengenai buku tersebut. Sekarang ketika melihat ke belakang saya senang istri saya tidak menerapkan prinsip-prinsip yang diajarkan di situ, atau saya mungkin tidak jadi menikah dengannya!

Problema pacaran

Buku tersebut mendukung praktek umum berpacaran Amerika. Berpacaran didefinisikan sebagai “Persahabatan yang bertumbuh antara laki-laki dan perempuan yang menghormati Yesus Kristus dengan meletakkan kebutuhan yang lain lebih dahulu” (hal. 23). Namun, selanjutnya menjadi jelas bahwa para penulisnya sekedar berusaha memaksakan prinsip-prinsip alkitabiah ke dalam praktek duniawi yang meragukan, yang paling buruk merupakan eksperimen sensual dan tidak berarti, dan paling baik merupakan metode yang cukup egois untuk mengail pasangan secara uji coba. Perhatikan bagaimana penulisnya menjunjung non-komitmen dalam berpacaran dan mencela komitmen. Menurut mereka, ada empat level berpacaran: “pacaran berkelompok,” “pacaran berpasangan,” “pacaran konsisten,” dan “pacaran komitmen.”

“Pacaran berpasangan” didefiniskan seperti ini: “… laki-laki dan perempuan pergi berkencan sendirian. Ini bisa merupakan kencan satu kali, atau mereka bisa berkencan kadang-kadang. Akan tetapi, tidak ada yang berkomitmen kepada satu sama lain. Jika mereka berkencan cukup sering, mereka berkencan dengan orang lain juga. Ini adalah tahap pacaran yang paling sehat, karena seseorang membangun persahabatan dengan banyak orang yang berbeda …” (hal. 126).

“Pacaran komitmen” didefinisikan seperti ini: “… pasangan tersebut berkencan tidak dengan orang lain karena mereka memiliki komitmen untuk berkencan hanya dengan satu sama lain. Mereka bisa jadi belum membicarakan komitmen mereka. Tetapi mereka berdua mengerti bahwa mereka tidak akan mengejar hubungan dengan laki-laki atau perempuan lain” (hal. 126).

Seseorang mungkin bertanya-tanya bagaimana mungkin suatu komitmen dibuat tanpa berkata apa-apa sementara mereka berdua sudah sekian lama berkencan tanpa komitmen apapun kepada satu sama lain. Apapun jawabannya para penulis buku tersebut nampaknya tidak menghimbau komitmen karena mereka segera mendaftarkan 4 kelebihan dan 8 kekurangan pacaran komitmen! Yang pertama dari kelebihannya yaitu “Engkau tidak perlu lagi khawatir mencari seseorang untuk berkencan”! Salah satu kekurangannya yaitu “Engkau dibatasi dalam siapa yang dapat engkau kencani. … Engkau berkomitmen, jadi engkau tidak lagi memiliki kebebasan untuk berkencan dengan orang lain. Ini bisa menjadi masalah jika seorang laki-laki suci atau rubah rohani muncul” (hal. 128).

Tidak, saya tidak berpikir semua pacaran itu berdosa. Kita akan kesulitan membuktikan bahwa pacaran selalu berdosa. Tapi saya percaya bahwa praktek pacaran sambil lalu adalah salah satu penyebab kelonggaran moral dalam budaya Amerika. Saya juga percaya bahwa pacaran tanpa tujuan pernikahan mendukung keegoisan, yang seringkali menyebabkan putusnya relasi yang sangat menyakitkan di antara pasangan.

Alternatif pacaran

Jika bukan pacaran, lalu apa alternatifnya? Karena pernikahan merupakan ketetapan Allah, pastilah ada aktivitas yang dapat diterima yang memimpin kepada pernikahan. Fakta bahwa Alkitab tidak mengajarkan satu metode tertentu menunjukkan bahwa ini adalah perkara kebebasan Kristen. Tapi, dua contoh alkitabiah yaitu perjodohan dan pacaran (courtship). Pernikahan Ishak dan Ribka diatur secara sebagian. Dalam pengertian tertentu, pernikahan Yakub dan Rahel adalah melalui pacaran (meskipun pernikahannya dengan Lea adalah karena ditipu!). Sekarang, dengan bertambah kompleksnya masyarakat modern, perjodohan hampir tidak ada lagi. Sedikit orang tua yang bersedia menjodohkan anak-anak mereka; dan sedikit anak-anak yang senang dipaksa menikah oleh orang tua mereka. Gereja, lagipula, tidak memiliki alasan alkitabiah untuk menjodohkan. Apa yang tertinggal bagi kita yaitu pacaran (courtship).

Saya mendefinisikan pacaran (courtship)—dalam perbedaannya dengan pacaran (dating)—sebagai aktivitas antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan pernikahan di hadapan mereka. Dengan kata lain, pacaran melibatkan laki-laki dan perempuan pergi bersama sebagai pasangan dengan tujuan yang jelas akan pernikahan. Saya kira kita tidak dapat menemukan alasan alkitabiah untuk seorang laki-laki dan perempuan pergi berkencan hanya untuk kesenangan atau berteman. Ada cara-cara lain untuk berteman.

Kehendak Allah dalam pacaran

Seseorang mungkin bertanya: Tapi bagaimana engkau tahu bahwa adalah kehendak Allah bagimu untuk menikahi seseorang yang tidak pernah engkau kencani secara konsisten untuk mengenalnya dengan sangat baik? Jika tidak, bagaimana mungkin engkau memasuki suatu relasi dengan tujuan pernikahan? Jawaban saya: bagaimana engkau tahu adalah kehendak Allah bagimu untuk menikahi seseorang yang telah engkau kenal dengan sangat baik melalui kencan secara konsisten? Poinnya yaitu, tidak mungkin engkau mengetahui apakah itu kehendak Allah bagimu untuk menikahi seseorang sampai engkau menikahi orang itu. Saya, tentu, sedang berbicara tentang kehendak rahasia Allah, karena apa lagi yang ada di pikiran penanya kita?

Sejauh kehendak moral Allah yang dibicarakan, “Pernikahan tidak boleh berlangsung antara orang-orang yang berhubungan keluarga dekat sebagaimana dilarang oleh Firman” (WCF 24.4; baca Imamat 18; 1 Korintus 5:1), dan “adalah kewajiban orang-orang Kristen untuk menikah hanya dalam Tuhan” (WCF 24.3; baca 1 Korintus 7:39; bdk. 2 Korintus 6:14-18). Firman Allah mengajarkan kita: “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ulangan 29:29). Dengan kata lain, kita tidak boleh berusaha mencari tahu kehendak rahasia Allah, atau mengambil keputusan berdasarkan kehendak rahasia-Nya. Jika demikian, jika engkau masih bujang dan orang yang engkau kencani adalah seorang percaya yang tidak berhubungan keluarga dekat denganmu, engkau tahu bahwa tidaklah melawan kehendak moral Allah bagimu untuk menikahinya.

Karakter Kristen yang saleh dengan rasa takut akan Allah dan kerinduan untuk setia kepada Firman Allah, adalah kualitas-kualitas yang dapat kita cari. Preferensi pribadi dan ketertarikan bisa juga mempengaruhi pilihan kita. Dalam sebuah surat kepada William Farel, John Calvin menjelaskan apa yang ia cari dalam seorang istri:

Aku bukanlah orang-orang gila cinta yang menerima bahkan kejahatan, sekali mereka terpesona oleh seorang sosok yang menawan. Satu-satunya kecantikan yang menarik hatiku ialah ini: jika ia sederhana, suka menolong, tidak sombong, hemat, sabar, dan ada harapan ia peduli dengan kesehatanku.

Juga tidak salah untuk tertarik dengan penampilan eksternal, selama pikiran tidak dikaburkan olehnya. Lagi, Calvin punya catatan yang menyegarkan:

… kita melihat bagaimana alamiahnya afeksi rahasia menghasilkan kasih dari kedua belah pihak. Hanya ekses harus dihindari, dan lebih lagi, karena sulit mengekang afeksi-afeksi semacam ini, sehingga mereka tidak menang atas akal budi. Jadi ia yang ingin memilih seorang istri, karena keindahan tubuhnya, belum tentu berdosa, selama akal budi selalu berada di atas, dan nafsu tunduk padanya (Komentari Calvin atas Kejadian 29:18).

Bagaimanapun, jelas bahwa pacaran (dating) tidak akan membantu engkau menentukan apakah adalah kehendak Allah untuk menikahi orang tertentu. Sebaliknya, pacaran (dating) didasari atas pengertian yang tidak alkitabiah dan tidak bertanggung jawab bahwa kecocokan dan ‘chemistry’ sangatlah penting, dan bahwa hilangnya “perasaan awan kesembilan” merupakan dasar yang cukup untuk memutuskan bahkan relasi yang telah dijalin bertahun-tahun.

Apakah kehendak Allah mengenai pacaran (courtship)? Saya percaya secara sederhana ini: “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak” (Yakobus 5:12; bdk. Matius 5:37). Dengan kata lain, pacaran haruslah didasari atas komitmen kepada pernikahan sejak dari awalnya. Ya, pacaran harus dimasuki dengan pengertian bahwa bisa jadi ada alasan-alasan yang baik untuk akhirnya memutuskan relasi tersebut; tapi alasan-alasannya harus alkitabiah. Kehilangan “perasaan awan kesembilan,” munculnya “laki-laki suci atau rubah rohani,” atau bahkan pertengkaran tentu bukanlah alasan-alasan yang baik. Alasan-alasan alkitabiah yang mungkin berakhir kepada putusnya suatu relasi di antaranya: (1) jika engkau menemukan pasanganmu memiliki moral yang longgar yang berkecenderungan kepada perzinahan sebelum pernikahan dimungkinkan; (2) jika engkau mendapati semakin sulit untuk menahan godaan dan pernikahan pasti tidak mungkin di masa yang dekat; (3) pasanganmu meninggalkanmu; (4) jika engkau menemukan pasanganmu tidak jujur dalam komitmen kalian kepada satu sama lain; (5) jika orang tuamu berkeberatan terhadap relasi kalian, khususnya dalam kasus di mana alasan rasional atau alkitabiah diajukan; (6) jika engkau menemukan bahwa pasanganmu bukanlah seorang percaya; (7) jika engkau menemukan komitmenmu kepada Kristus sangat dirugikan oleh relasimu.

Kapan mulai pacaran?

Banyak remaja masuk ke dalam suatu bentuk relasi yang berkomitmen pada usia 12 atau 13 tahun. Namun ini bukan pacaran (courtship). Ini lebih seperti suatu bentuk prematur pacaran karena pernikahan hampir pasti tidak ada dalam tujuan relasi seperti ini.

Jadi, berapakah usia yang tepat untuk mulai berpacaran? Saya percaya bahwa mengingat tujuan pacaran—yaitu pernikahan—ada dua faktor yang seharusnya menentukan kapankah waktunya untuk memulai: (1) kedewasaan kedua orang tersebut sebagaimana ditentukan oleh apakah mereka dapat mengambil keputusan-keputusan secara independen dan bertanggung jawab; dan (2) ketika pernikahan merupakan kemungkinan pada masa yang tidak terlalu jauh, katakanlah dalam 5 tahun. Dengan kata lain, saya tidak percaya bahwa pacaran diperuntukkan bagi remaja. Saya tidak memiliki alasan-alasan dogmatis untuk melandasi pemikiran saya, tapi sungguh tidak ada landasan alkitabiah bagi dua orang muda untuk berhubungan secara romantis kecuali pernikahan ada dalam pandangan. Lagipula, studi statistik mengindikasikan bahwa semakin awal seorang muda memulai pacaran, semakin mungkin ia melakukan perzinahan (lihat Clair dan Jones, Dating, 27).

Bagaimana memulai pacaran?

Karena suami akan menjadi pemimpin keluarga (Efesus 5:23) dan istri harus memiliki “roh yang lemah lembut dan tenteram” (1 Petrus 3:4), cukup penting bahwa pacaran diinisiasikan oleh laki-laki. Seorang laki-laki yang gagal mengambil inisiatif dalam pacaran mungkin juga akan gagal mengambil pimpinan dalam pernikahan. Seorang perempuan yang menginisiasikan pacaran mungkin akhirnya mengambil alih kedudukan suaminya sebagai kepala. Tentu saja, ini semua adalah kemungkinan, tapi kegagalan mengenali peran suami dan istri dan kegagalan bertekad untuk mengikuti peran ini dari awal mungkin mengakibatkan masalah nanti dalam relasi.

Jadi, ketika seorang laki-laki siap untuk berpacaran, ia harus mengatakan kepada perempuan pilihannya (setelah berdoa dan mencari bimbingan). Ia harus secara alamiah telah mengamatinya selama beberapa waktu dalam situasi sosial, seperti di gereja atau di tempat kerja. Ia harus juga mengetahui karakter Kristen perempuan tersebut, sebelum mengajaknya berkomitmen.

Di pihak perempuan, saat seorang laki-laki mengajaknya berpacaran, ia seharusnya tidak langsung menerima tawaran tersebut. Ingat, pacaran adalah relasi berkomitmen yang seharusnya memimpin kepada pernikahan. Penting bagi perempuan, karena itu, untuk menyediakan waktu untuk berpikir, berdoa, dan mencari nasehat tentang ajakan tersebut sebelum menyetujuinya. Ia tentu harus mempertimbangkan komitmen laki-laki tersebut kepada Kristus.

Peranan orang tua dan gereja

Pada titik ini, akan sangat membantu bagi orang tua untuk terlibat. Seorang laki-laki yang menghormati orang tuanya akan secara natural ingin memberi tahu mereka dan mendapat persetujuan mereka atas relasinya dengan pacarnya. Seorang anak perempuan yang mengasihi orang tuanya akan melakukan hal yang sama. Karena itu adalah bijak bagi pasangan yang berpacaran untuk bertemu dengan orang tua dari kedua belah pihak pada saat yang paling awal. Jika mungkin, keterlibatan orang tua harus lebih dari sekedar persetujuan atas relasi tersebut. Mereka juga seharusnya mengambil peranan untuk menasehati dan menuntut tanggung jawab. Ini khususnya jika mereka sendiri adalah orang-orang percaya. Tapi bagaimana jika mereka bukan orang percaya? Saudara yang lebih tua juga dapat memenuhi peran ini. Dalam Kidung Agung, kita memiliki gambaran yang sangat indah bagaimana saudara-saudara si gadis melindunginya hingga ia dinikahkan:

Kami mempunyai seorang adik perempuan, yang belum mempunyai buah dada. Apakah yang akan kami perbuat dengan adik perempuan kami pada hari ia dipinang? Bila ia tembok, akan kami dirikan atap perak di atasnya; bila ia pintu, akan kami palangi dia dengan palang kayu aras.

Apa artinya tembok? Mungkin, itu berarti bahwa ia adalah seseorang yang berkarakter teguh. Jika demikian, saudara-saudaranya bertekad untuk menghiasinya. Tapi apa artinya pintu? Mungkin, itu berarti bahwa ia adalah seseorang yang lemah dan longgar dalam moral. Jika demikian, mereka akan melindungi kesuciannya dari orang-orang laki-laki yang akan mencemarinya.

Akan tetapi bagaimana jika baik orang tua maupun saudara-saudaranya belum percaya? Dalam kasus ini, saya percaya, pasangan tersebut harus mencari bimbingan dan nasehat dari pendeta dan penatua di gereja mereka beribadah. Ini tidak meniadakan persetujuan orang tua bagi relasi tersebut, namun ini menyediakan pertanggungjawaban atas relasi yang berpusat pada Kristus yang hanya dapat disediakan oleh orang-orang percaya.

Apakah itu orang tua, saudara-saudara, atau gereja, akan sangat membantu bagi pemeliharaan kesucian dan arah pacaran mereka jika pasangan tersebut bertanggung jawab kepada seseorang yang tertarik untuk memastikan bahwa relasi tersebut menghormati Kristus. Orang atau orang-orang ini harus diberi tahu bagaimana relasi mereka bertumbuh dan harus bertemu dengan pasangan ini secara berkala untuk konseling jika perlu.

Aktivitas dalam pacaran

Karena pacaran dilakukan dengan pandangan pada pernikahan, akan berguna jika aktivitas dalam pacaran dirancang untuk mengenal satu sama lain. Pergi nonton atau tidur siang bersama, contohnya, tidak akan dapat membantu pasangan tersebut untuk mengenal satu sama lain, belum lagi menjadi peluang bagi pencobaan. Sebaliknya, melakukan aktivitas yang berarti bersama-sama seperti berjalan, PA, mengasuh bayi bersama, membesuk orang sakit, membagikan traktat, memasak, dan lain-lain, bisa sangat membantu membangun relasi.

Secara natural, demi memelihara kesucian dalam pacaran, pasangan tersebut harus menyadari bahwa keintiman fisik seharusnya dikhususkan bagi pernikahan. Apakah engkau sedang berpacaran? Jagalah kesucian pacaranmu. Jauhilah segala situasi yang dapat mendatangkan pencobaan. Jika kalian berada di kamar sendirian selama beberapa waktu, kecuali hanya sebentar saja atau kalian sedang menunggu seseorang datang segera, kalian mendatangkan masalah. Dengarlah nasehat rasul Paulus: “… siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12). Dan ingat: “Jauhkanlah dirimu dari percabulan!” (1 Korintus 6:18a; bdk. 2 Timotius 2:22; 1 Tesalonika 5:22). Jika engkau berada dalam situasi pencobaan, menjauhlah. Menjauhlah seperti Yusuf ketika istri Potifar mencoba merayunya.

Kontak fisik seperti berpegangan tangan dalam pacaran pada umumnya menyenangkan dan biasanya tidak apa-apa. Akan tetapi, pasangan-pasangan harus berhati-hati untuk tidak membiarkan kontak fisik tumbuh menjadi nafsu sensual. Sungguh, jika pasangan tersebut, khususnya sang laki-laki mendapati dirinya digairahkan hanya dengan berpegangan tangan, ia harus menghindarinya. Prinsip yang harus diingat yaitu bahwa kesucian melibatkan bukan hanya tindakan fisik, melainkan juga hati.

Perhatikan bagaimana Tuhan kita memberi petunjuk tentang keterlibatan mata dan tangan ketika ada kegagalan memelihara kesucian:

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu … (Matius 5:28-30).

Tentu, Tuhan tidak sedang memberi tahu kita untuk secara hurufiah mencungkil mata kita atau memenggal tangan kita. Namun tindakan drastis kadang-kadang diperlukan untuk memelihara kesucian. Dalam pacaran, ini bisa jadi termasuk menghindari sentuhan dan berpegangan tangan.

Juga, setiap pasangan sebaiknya tidak menunda pernikahan jika mereka mendapati diri mereka semakin sulit memelihara kesucian (1 Korintus 7:9).

Kesimpulan

Artikel pendek ini tidak cukup untuk membahas soal pacaran secara menyeluruh. Akan tetapi, saya berharap introduksi ini akan menjadi peringatan untuk mereformasi dan mengkonformasi hidup kita, termasuk pacaran kita, sesuai dengan standar Alkitab. Mereka yang ingin membaca lebih lanjut tentang memelihara kesucian dalam pacaran dapat membaca buklet yang berguna dari David W. Merck, berjudul Maintaining Dating Purity (Truth For Eternity Ministries, 1996).


About this entry