Bahan-bahan dasar pernikahan yang saleh

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Elementary Ingredients for Godly Marriages, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 5 Maret 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Pernikahan adalah institusi ilahi dan ketetapan penciptaan. Pernikahan diinstitusikan oleh Allah segera setelah Ia menciptakan Hawa. Nyatanya, Kejadian 2:24 mengajarkan kepada kita bahwa karena Allah telah menciptakan Hawa, “seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Dengan kata lain, karena Allah menciptakan bukan hanya laki-laki tapi juga perempuan, adalah rancangan Allah bagi laki-laki dan perempuan untuk menikah. Argumen ini, tentunya, masuk akal hanya karena manusia diciptakan dalam rupa Allah dan adalah makhluk moral. Fakta bahwa binatang diciptakan jantan dan betina tidak mengimplikasikan bahwa mereka harus menikah. Namun dalam kasus manusia, demikianlah harusnya. Inilah dasar hukum ketujuh.

Apa yang terlibat dalam pernikahan? Secara menakjubkan, ayat sederhana ini yang berbicara mengenai institusi pernikahan juga menyediakan jawabannya bagi kita. Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa pernikahan melibatkan tiga hal:

  1. kepergian dari keluarga orang tua;
  2. kesetiaan kepada satu sama lain;
  3. ikatan dua orang menjadi satu

Kepergian

Apa artinya pergi dari ayah dan ibu? Tentu bukan berarti mengabaikan orang tua seseorang. Hukum Moral Allah menuntut kita menghormati ayah dan ibu kita, dan Firman Allah begitu serius terhadap mereka yang tidak menghormati atau mengabaikan orang tua mereka. Tuhan mengatakan bahwa mereka yang melakukan hal tersebut menyatakan firman Allah tidak berlaku (Markus 7:13); dan Paulus menganggap siapapun yang tidak mau menyediakan kebutuhan orang tuanya sebagai orang “murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Timotius 5:8). Ayat ini juga tidak berarti bahwa kita harus pindah jauh dari orang tua kita setelah kita menikah. Ya, ayat ini memang memiliki konsekuensi membangun rumah tangga kovenan yang terpisah yang hanya mungkin secara praktis jika Anda tidak tinggal di rumah orang tua Anda. Akan tetapi, sama seperti mungkin bagi Anda untuk meninggalkan ayah dan ibu Anda meskipun mereka tinggal hanya di seberang jalan, juga mungkin bagi Anda untuk belum meninggalkan ayah dan ibu Anda meskipun mereka tinggal di belahan bumi yang lain.

Apa artinya pergi dari orang tua? Ini berarti (1) tidak lagi sangat tergantung pada orang tua Anda untuk kasih sayang, persetujuan, nasehat, dan pertolongan; dan (2) sekarang lebih peduli untuk mendapatkan kasih sayang, persetujuan, nasehat, dan pertolongan dari satu sama lain. Dengan kata lain, meskipun Anda masih harus menjadi anak yang baik, Anda harus lebih lagi peduli untuk menjadi suami dan istri yang baik. Atau praktisnya, ketika tiba untuk memilih antara menyenangkan orang tua atau pasangan Anda, Anda harus memilih untuk menyenangkan pasangan Anda; kecuali, tentunya, menyenangkan pasangan Anda dalam situasi tersebut berarti melanggar Hukum Allah. Jika tidak, jika Anda memilih untuk menyenangkan orang tua Anda meskipun Anda telah menikah, Anda telah berdosa terhadap pasangan Anda dan terhadap Allah dengan melanggar ketetapan ilahi ini.

Saudara yang terkasih, jika Anda telah menikah atau berencana untuk menikah, saya harap Anda memperhatikan hal ini dengan serius. Begitu banyak cekcok keluarga terjadi karena kegagalan menaati perintah ilahi ini. Saat Anda menikah, Anda harus belajar untuk memberikan prioritas kepada satu sama lain dalam semua keputusan Anda.

Kesetiaan

Perintah kedua dalam pernikahan yaitu agar suami dan istri setia kepada satu sama lain. Meskipun kebanyakan pasangan yang menikah sekarang berjanji dengan klausa “hingga kematian memisahkan kita,” sangat sedikit yang menganggapnya dengan serius. Sebaliknya, sementara mereka berkata, “hingga kematian memisahkan kita,” mereka sebenarnya bermaksud “hingga masalah-masalah kita yang terlalu besar memisahkan kita.” Orang-orang Kristen yang mawas bisa jadi tidak berpisah dalam perceraian, namun bisa jadi mereka berpisah selagi bersama, yaitu berpisah secara rohani dan emosional.

Namun yang dituntut Firman Allah yaitu agar suami dan istri setia kepada satu sama lain. Ini artinya mereka harus berpegang teguh kepada satu sama lain secara permanen sampai kematian salah satu pihak memisahkan mereka. Nabi Maleakhi memberi tahu kita bahwa pernikahan adalah suatu kovenan dan siapa pun yang menceraikan istrinya bersalah mengkhianati Allah (Maleakhi 2:15). Tuhan menekankan kembali kebenaran ini dalam Markus 10:7-9.

Pernikahan merupakan suatu komitmen permanen dalam bentuk ikatan kovenan kasih. Meskipun demikian, saya tahu dari pengalaman bahwa bahkan pernikahan-pernikahan yang terbaik dapat memasuki masa-masa ketegangan karena laki-laki dan perempuan dibentuk secara begitu berbeda. Bahkan bisa ada masa-masa di mana ketegangan yang terjadi begitu besar sehingga suami istri yang baru menikah bertanya-tanya apakah mereka sudah seharusnya menikah pada awalnya, atau mereka mulai bertanya-tanya apakah mereka telah menikahi orang yang tepat. Saudara yang terkasih, apakah Anda berencana menikah? Bersiaplah secara mental dan berdoalah menghadapi kemungkinan ujian-ujian seperti itu sehingga Anda tidak akan dicobai untuk berdosa terhadap pasangan Anda dan terhadap Allah ketika badai mulai melanda pernikahan Anda. Ingatlah bahwa hampir setiap pernikahan melibatkan besi menajamkan besi (Amsal 27:17), dan bunga api seringkali terbang dalam proses. Ketahuilah, bagaimanapun, bahwa besi yang kasar akan segera menjadi halus, dan jika Anda berhati-hati memelihara buah Roh Kudus dalam hidup Anda, maka pada saatnya Anda akan sanggup tertawa terhadap kelemahan-kelemahan satu sama lain dan berusaha untuk menolong satu sama lain untuk bertumbuh dalam kasih karunia ketimbang mencari-cari kesalahan satu sama lain.

Jadi, ijinkan saya mengingatkan Anda, suami hendaklah tetap setia dan mengasihi istri Anda bahkan jika suatu hari Anda merasa ia penuh omelan dan tidak secantik ketika Anda pertama kali berkencan dengannya. Ingatlah bahwa adalah perintah Allah untuk mengasihi istri Anda seperti Kristus mengasihi Gereja-Nya (Efesus 5:25). Jangan pernah berkompromi dengan berkata, “Saya tidak lagi merasakan cinta kepadanya, jadi saya tidak bisa mencintainya.” Ide alkitabiah mengenai cinta adalah lebih dari perasaan, atau itu tidak akan dapat diperintahkan. Kasih adalah kata kerja! Jika Anda tidak merasa mencintai, cintai lebih lagi! Kasihilah dalam perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yohanes 3:18), dan saya yakinkan Anda, perasaan cinta akan kembali dengan segera.

Dan ijinkan saya mengingatkan Anda, istri hendaklah tetap setia dan tunduk kepada suami Anda (Efesus 5:22, Titus 2:5) bahkan jika Anda mendapatinya tenggelam dalam karir dan komitmen gerejanya sehingga ia nampak tidak peduli tentang Anda seperti ketika ia berpacaran dengan Anda. Ingatlah bahwa dari sudut pandang Anda, ketaatan haruslah tanpa syarat. Itu tidak seharusnya diberikan setelah suami Anda menyatakan cintanya kepada Anda. Ya, Anda harus belajar tunduk meskipun Anda percaya Anda memiliki suami yang jelek (bdk. 1 Petrus 3:1). “Istri yang sedia memaafkan menyenangkan suami yang baik, dan mendiamkan suami yang jelek” (George Swinnock).

Namun suami, jika Anda ingin istri Anda tunduk kepada Anda, Anda harus mendapatkannya. Anda mendapatkannya dengan mencintainya tanpa syarat. Cobalah! Saya tidak pernah mengetahuinya gagal. Jangan, jangan pernah menuntut istri Anda tunduk; atau Anda akan kehilangan hormat dari istri Anda.

Ikatan

Ketiga, apa artinya “keduanya menjadi satu daging”? Pada tingkatan yang paling dasar, ini mengacu pada kesatuan tubuh dalam pernikahan. Penulis Ibrani memberi tahu kita “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibrani 13:4). Kesatuan fisik begitu penting dalam pernikahan (1 Korintus 7:3-5).

Akan tetapi menjadi satu daging melibatkan lebih daripada kesatuan tubuh. Kesatuan tubuh dalam pengertian tertentu merupakan simbol kesatuan suami dan istri karena lebih daripada segala sesuatu yang lain itu menyatakan tanggung jawab istri untuk memberikan seluruh dirinya kepada suaminya dan tanggung jawab suami untuk memberikan seluruh dirinya kepada istrinya. “Pernikahan merupakan suatu komitmen total dan persekutuan total pribadi total dengan pribadi yang lain sampai kematian” (Wayne Mack).

Apakah Anda telah menikah atau berencana untuk menikah? Ingatlah bahwa sekali Anda menikah, Anda seolah-olah menjadi satu pribadi dengan pasangan yang Anda cintai. Anda harus berbagi segalanya: tubuh Anda, harta milik Anda, sahabat-sahabat Anda, ide-ide Anda, masalah-masalah Anda, sukacita Anda, dukacita Anda, kesakitan Anda, sukses Anda, dan kegagalan Anda. Anda berdua haruslah lebih dari sekedar tim atau partner. Anda satu. Secara praktis, Anda harus memiliki nama yang sama. Karena itu, istri tidak lagi menggunakan nama belakangnya. Secara praktis juga Anda harus memiliki rekening bank yang sama; dan frase “ini uangku” atau “ini uangmu” seharusnya tidak pernah terdengar dalam pernikahan Anda. Juga, suami harus merawat istrinya seperti, jika bukan lebih dari, ia merawat dirinya sendiri; dan istri harus merawat suaminya seperti, jika bukan lebih dari, ia merawat dirinya sendiri. Suami, Anda harus menjadi orang terpenting bagi istri Anda dalam hidupnya, selain Allah. Demikian juga, istri, Anda harus menjadi orang terpenting bagi suami Anda. Anda harus menjadi lebih dari sahabat yang paling baik. Anda satu.

Menjadi satu dalam pernikahan, tentunya, tidak berarti bahwa Anda menjadi identik. Menjadi satu bisa melibatkan memelihara hobi yang sama sehingga memperkuat ikatan pernikahan dan menikmati satu sama lain, namun itu tidak berarti Anda harus memiliki temperamen yang sama atau memiliki selera yang sama akan jenis makanan yang sama, dan lain-lain.

Tidak, saya tidak sedang mendukung hikmat dunia bahwa istri harus menerima suaminya sebagaimana adanya; dan suami menerima istrinya sebagaimana adanya dan tidak berusaha mengubah satu sama lain. Saya percaya ada tempat untuk membentuk satu sama lain—khususnya ketika pasangan Anda tidak selaras dengan Firman Tuhan. Apa yang saya katakan yaitu bahwa ada tempat untuk perbedaan-perbedaan dalam pernikahan, dan di mana perbedaan-perbedaan ini tidak bersifat moral secara natur, Anda harus belajar untuk membangun persatuan ikatan pernikahan dalam konteks perbedaan-perbedaan ini. Tapi jika Anda melihat kesalahan-kesalahan satu sama lain ketika dibandingkan dengan Firman Tuhan, Anda harus dengan kasih sayang membenahi satu sama lain—mengetahui bahwa Anda berdua adalah musafir-musafir yang berjalan bersama-sama menuju kota sorgawi.

Kesimpulan

Pernikahan merupakan institusi ilahi yang sangat penting. Keluarga yang dibangun dari pernikahan merupakan elemen dasar gereja, dan merupakan sarana Allah mendapatkan “keturunan ilahi” (Maleakhi 2:15). Pernikahan juga menyediakan tempat latihan bagi para pelayan gereja (1 Timotius 3:4, 11, 12). Di atas semua, pernikahan juga menjadi ilustrasi kesatuan antara Kristus dan mempelai-Nya, yaitu Gereja (Efesus 5:32). Tidak heran Alkitab penuh dengan instruksi dan prinsip bagaimana pernikahan harus diatur dan dinikmati. Jika Allah menghendaki, kita akan memiliki kesempatan untuk membahas lebih lanjut, namun untuk sekarang, marilah kita memeriksa dan membentuk pernikahan kita atas dasar model paling primitif yang diberikan Allah—pergi, setia, dan diikat.


About this entry