Kerusakan total

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Total Depravity, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 22 October 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Lima Pokok Calvinisme, yaitu Kerusakan Total, Pemilihan Tanpa Syarat, Penebusan Terbatas, Kasih Karunia Tak Tertolak, dan Ketekunan Orang-orang Kudus, menyediakan cara yang mungkin paling padat, logis, dan alkitabiah untuk mengerti karya Allah dalam menyelamatkan manusia berdosa. Kelima poin ini tidak pernah disampaikan oleh John Calvin dalam cara ini. Kelima poin ini diturunkan, dengan sedikit penyusunan ulang, dari Kanon Dort (contohnya, Kerusakan Total ada di pokok ketiga dari Kanon Dort). Akan tetapi kelima proposisi ini dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Calvin.

Saat kita mengamati kelima poin ini, dua hal akan menjadi jelas. Pertama, poin-poin ini masing-masing dapat diturunkan dari Alkitab dan bukan dari pengalaman manusia. Jadi ketika kita mempelajari poin-poin doktrin ini, kita sedang mempelajari doktrin alkitabiah dengan pertolongan kerangka sistematis. Kedua, poin-poin ini secara logis terikat satu dengan lainnya sehingga sungguh tidak mungkin mengeluarkan salah satu poin atau mengubahnya tanpa jatuh ke dalam irasionalitas. Kekristenan Alkitabiah, kita perlu mengingat, tidak irasional karena Alkitab diinspirasikan oleh Allah dengan tanpa salah. Meskipun kita tidak dapat sepenuhnya memahami Allah, kita tahu bahwa Allah tidak mungkin kontradiktif, atau jika tidak, tidak ada cara bagi manusia untuk mengenal-Nya sama sekali. Jadi tidak ada proposisi kontradiktif yang mungkin ditarik dari Alkitab jika kita melakukan eksegese yang benar. Dengan demikian, karena konsistensi logis kelima poin ini, siapapun yang menyangkal salah satu dari kelima poin ini akan, secara logis, menyangkal keempat poin yang lainnya juga. Kita akan menyatakan hal ini ketika kita melihat Penebusan Terbatas.

Sekarang, jika Anda tidak pernah diajarkan tentang Lima Pokok Calvinisme, Anda boleh meloncati sisa pendahuluan ini dan mulai membaca bagian pertama setelah pendahuluan. Sisa pendahuluan ini memerlukan sedikit pengetahuan tentang doktrin ini. Namun jika Anda pernah diajarkan tentang Calvinisme dan mengetahui sesuatu tentang Kerusakan Total, bacalah terus.

Mari kita memulai dengan sedikit kutipan penting tentang doktrin ini:

  1. Manusia tidak memiliki kasih karunia keselamatan dari dirinya sendiri, maupun dari kekuatan kehendak bebasnya, sehingga ia dapat, dalam keadaannya yang berdosa dan sesat, berpikir, berkehendak, atau melakukan apapun yang sungguh-sungguh baik dari dan oleh dirinya sendiri (sebagaimana ditunjukkan oleh Iman yang menyelamatkan); namun perlu baginya untuk dilahirkan kembali oleh Allah dalam Kristus, melalui Roh Kudus-Nya, dan diperbarui dalam pengertian, kecenderungan, atau kehendak, dan segala kekuatannya, supaya ia dapat mengerti, berpikir, berkehendak dengan benar, dan menghasilkan apa yang sungguh-sungguh baik, sesuai dengan Firman Kristus, Yohanes 15:5: “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
  2. Dalam status manusia setelah Kejatuhan, Kehendak Bebas manusia kepada Allah yang Sejati tidak hanya terluka, lumpuh, cacat, bengkok, dan lemah; namun juga terbelenggu, hancur, dan hilang: Dan kuasanya tidak saja menjadi lemah dan tidak berguna kecuali ditolong oleh kasih karunia, namun ia tidak punya kekuatan apa-apa selain digerakkan oleh kasih karunia Ilahi: Karena Kristus berkata, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Agustinus, setelah dengan rajin merenungkan setiap kata dalam teks ini berbicara demikian: “Kristus tidak berkata, Di luar Aku kamu hanya dapat berbuat sedikit; Ia juga tidak berkata, Di luar Aku kamu tidak dapat melakukan hal yang sulit, atau Di luar Aku kamu pasti kesulitan: Tapi Ia berkata, Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa! Ia juga tidak berkata, Di luar Aku kamu tidak dapat menyelesaikan apa-apa; melainkan Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Dapatkah Anda menyetujui pernyataan-pernyataan di atas? Sekarang perhatikan kutipan berikut:

Kerusakan total tidak berarti bahwa manusia tidak dapat berbuat baik kepada sesamanya. Akan tetapi itu berarti bahwa natur manusia sepenuhnya berdosa, korup, dan menyimpang sampai pada tahap dosa telah mempengaruhi seluruh dirinya sehingga ia sepenuhnya tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari penghakiman yang akan datang … Bahkan ketika manusia melakukan perbuatan baik, motifnya sering tidak murni.

Bandingkan kutipan yang terakhir dengan dua yang sebelumnya, dan saya yakin bahwa bahkan jika Anda hanya memiliki sedikit ide mengenai Kerusakan Total, Anda akan merasa dua kutipan yang awal merupakan ekspresi yang lebih kuat akan doktrin ini. Akan tetapi, yang mengejutkan yaitu kutipan ketiga adalah dari seorang teolog yang mengaku Calvinis, sementara kutipan pertama adalah Artikel ketiga dari Remonstrans, dan kutipan kedua adalah dari Jacobus Arminius (The Works of James Arminius, vol. 2, terjemahan James Nichols [Baker, reprinted 1996], 192)! Saya curiga mungkin orang Ariminian sejati bahkan akan menganggap kutipan ketiga lebih Pelagian daripada Arminius sendiri.

Saya semakin menyadari bahwa banyak yang mengklaim diri mereka Calvinistik atau mengklaim mereka mengerti lima pokok Calvinisme hanya memiliki pengertian yang sangat kabur tentang doktrin ini, dan sebagai akibatnya, mereka entah membuat karikatur atas orang-orang Arminian atau mempromosikan bentuk Calvinisme yang tidak alkitabiah ataupun konfesional.

Artikel ini dan artikel-artikel berikutnya berusaha mempresentasikan lima poin ini dengan sejelas dan setepat mungkin. Akan tetapi familiaritas menghasilkan kebencian, dan saya takut, jika Anda tidak memberikan perhatian dan pemikiran saat Anda membaca, Anda mungkin tidak akan mendapat apa-apa dari artikel-artikel ini, dan pengertian Anda mengenai Calvinisme tetap kabur atau bersifat Arminian.

Namun sebelum saya meninggalkan pendahuluan ini untuk menjelaskan doktrin Kerusakan Total, saya harus segera membuat catatan bahwa meskipun Arminius dan orang-orang Arminian memang memegang kejatuhan total manusia (tidak seperti orang-orang Pelagian), mereka juga percaya bahwa manusia yang telah jatuh dapat bekerja sama dengan Roh Kudus untuk menghasilkan regenerasi. Meskipun kehendak manusia pada dirinya sendiri tidak dapat mencapai kebaikan sejati, ia dapat—dengan pertolongan kasih karunia pendahuluan (yaitu kasih karunia yang mendahului keselamatan) atau kasih karunia umum (yang dibeli oleh kematian Kristus bagi semua manusia)—berespon kepada panggilan Injil. Ingat bahwa ketika orang-orang Arminian berbicara tentang “lahir kembali” mereka tidak mengertinya sebagaimana orang-orang Calvinis mengertinya: bahwa itu adalah tindakan berdaulat Allah, yang tidak dapat dibalikkan. Arminius menjadikan ini jelas ketika ia mengajarkan bahwa “regenerasi dan iluminasi tidak digenapkan dalam sekejap; tapi semakin bertumbuh dan berkembang, dari waktu ke waktu, dengan penambahan setiap hari” (Op. Cit., 195). Dalam konteks ini, ‘iluminasi’ diartikan oleh Arminius sebagai panggilan internal oleh Allah kepada orang yang belum lahir baru untuk memeluk Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Bagi orang Calvinis, panggilan ini tidak dapat ditolak. Akan tetapi bagi Arminius:

Panggilan internal diberikan bahkan kepada mereka yang tidak mengikuti panggilan tersebut.

Semua orang yang belum lahir baru memiliki kebebasan kehendak, dan kemampuan untuk menolak Roh Kudus, menolak tawaran kasih karunia Allah, membenci nasehat Allah kepada mereka, menolak menerima Injil kasih karunia, dan tidak membuka pintu hati bagi Dia yang mengetuk; dan ini semua sebenarnya dapat mereka lakukan, tanpa ada perbedaan antara kaum Pilihan dan Reprobat.

Kedua pernyataan Arminian yang dikutip terlebih dahulu di atas terdengar sangat ortodoks karena tidak menyebutkan fakta-fakta tambahan ini. Akan tetapi Anda dapat melihat bagaimana pernyataan-pernyataan yang sama mendukung apa yang kita nyatakan secara eksplisit di sini (lihat Kanon, Bab 3 dan 4, Penolakan 5).

Kerusakan Total didefinisikan

Kerusakan Total mengacu kepada fakta bahwa natur moral manusia sejak kejatuhan bersifat korup, menyeleweng, dan berdosa seluruhnya, sehingga apa yang ia kerjakan, pikirkan, atau katakan tidak ada yang baik atau berkenan di hadapan Allah sama sekali. Perhatikan bahwa Kerusakan Total tidak berarti bahwa sejak kejatuhan, manusia telah menjadi serusak yang ia bisa, atau jika tidak, dunia akan dipenuhi dengan orang-orang sangat jahat. Doktrin ini juga tidak berkenaan sama sekali dengan apakah suatu perbuatan dapat terlihat penuh kasih dan baik di mata manusia. Namun, Kerusakan Total berarti bahwa segala sesuatu yang dikerjakan manusia natural, termasuk apa yang nampak baik di hadapan manusia, adalah berdosa di hadapan Allah (lihat Kanon, Bab 3 dan 4, Artikel 4). Bahkan kesalehannya adalah seperti kain kotor di hadapan Allah (Yesaya 64:6). Manusia natural diperbudak dosa dan Setan, buta kebenaran dan memberontak terhadap Allah. Ia mati dalam dosa, bukan hanya sakit secara moral.

Cara lain memikirkan tentang Kerusakan Total ialah dengan memikirkannya sebagai Ketidakmampuan Total, yaitu bahwa manusia natural tidak sanggup melakukan apa-apa yang dapat dianggap Allah sebagai baik, dan karena itu berkontribusi bagi keselamatannya. Pengakuan Iman Westminster (WCF 9.3) memandang Kerusakan Total dari sudut ini:

Manusia, melalui kejatuhannya ke dalam status dosa, telah sepenuhnya kehilangan segala kemampuan menghendaki kebaikan rohani apapun yang menyertai keselamatan [Roma 5:6; 8:7; Yohanes 15:5]; sehingga seorang manusia natural, dalam kebenciannya terhadap kebaikan itu [Roma 3:10, 12], dan kematiannya dalam dosa [Efesus 2:1, 5; Kolose 2:13], tidak mampu, dengan kekuatannya sendiri, untuk mempertobatkan dirinya sendiri, atau mempersiapkan dirinya kepada pertobatan [Yohanes 6:44. 65; Efesus 2:2-5; 1 Korintus 2:14; Titus 3:3-5].

Pada dasarnya, ini juga mengeliminasi pandangan Arminian bahwa manusia natural dapat beriman dan dengan demikian bekerja sama dengan Roh Kudus untuk berespon kepada panggilan Injil. Cara satu-satunya manusia dapat diselamatkan yaitu jika Allah secara berdaulat dan monergistis (Allah bekerja sendiri) membebaskannya dari belenggu naturalnya oleh dosa, dan mengangkatnya ke dalam status kasih karunia sehingga ia dimampukan secara bebas untuk menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani, termasuk pertobatan dan iman injili (baca WCF 9.4).

Cara lain lagi untuk melihat Kerusakan Total yaitu untuk memikirkannya sebagai Korupsi Radikal. Ini mengacu pada fakta bahwa manusia natural korup dalam hati atau inti keberadaannya. Hati ialah sumber segala sesuatu yang dilakukan, dipikirkan, atau dikatakan seseorang. Demikian Salomo memberi tahu kita: “Dari [hatimu] terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Tuhan sendiri berkata: “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat” (Matius 12:35; bdk. 7:18; 15:19). Sekarang, jika hati korup, tidak ada yang baik yang dapat dilakukan oleh kehendak.

Kita harus mengingat bahwa kebebasan kehendak manusia tidak terpengaruh oleh Kejatuhan. Akan tetapi kehendak tidak bebas bertindak secara independen. Ia selalu terikat pada hati seseorang, dan selalu melakukan apa yang paling diinginkan oleh hati. Karena hati manusia natural itu korup dan membenci Allah, ia tidak pernah dapat menginginkan Allah, dan karena itu kehendak tak akan pernah memilih Allah. Dan karena kasih dan kemuliaan Allah tidak pernah berada dalam hati manusia natural, motivasinya tidak pernah dapat murni, dan ia tidak pernah gagal berdosa dalam melakukan setiap kehendaknya. Ketika kita memikirkan Kerusakan Total sebagai Korupsi Radikal, kita langsung melihat bahwa pintu keselamatan tidak tertutup bagi siapapun. Akan tetapi manusia natural membenci pemilik rumah dan melarikan diri dari pintu, kecuali hatinya diubahkan.

Fakta ini saja akan menghancurkan argumen Arminian bahwa kemampuan menaati Injil haruslah universal, yaitu: (1) Allah tidak dapat memerintahkan kita untuk melakukan apapun di luar kemampuan kita, karena jika tidak Ia tidak dapat menuntut kita karena tidak taat. (2) Firman Allah memerintahkan semua manusia tanpa terkecuali untuk menaati Injil. (3) Jadi kemampuan menaati Injil haruslah universal.

Tanpa berbicara tentang predestinasi berdaulat Allah, ketidakmampuan orang reprobat untuk menaati Injil terletak dalam hati mereka. Namun ada lagi, karena Alkitab membuktikan tanpa keraguan bahwa manusia natural rusak total.

Kerusakan Total dibuktikan

Doktrin Kerusakan Total terlihat di seluruh Alkitab. Secara khusus, ada ayat-ayat dan bagian yang berbicara tentang sumber dan perkembangannya; dan ada ayat-ayat yang berbicara tentang universalitasnya; dan ada ayat-ayat yang secara jelas mengindikasikan kedalaman kerusakan kita.

Sumber dan perkembangannya

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka tidak jatuh sebagai individu-individu tersendiri. Adam ialah wakil yang ditetapkan Allah bagi seluruh umat manusia yang akan turun darinya melalui generasi natural.

Saat Adam jatuh, Kejatuhannya mempengaruhi seluruh umat manusia dalam dua cara utama—yang dimengerti dalam istilah teologis sebagai Dosa Asal—yaitu: (1) semua manusia diimputasikan kesalahan Adam dan karena itu dianggap bersalah di hadapan Allah; (2) semua manusia mewarisi natur jatuh Adam. Katekismus kita mengekspresikan doktrin ini dengan elegan:

Keberdosaan keadaan kejatuhan manusia terdiri atas kesalahan dosa pertama Adam, tidak adanya kebenaran asli, dan korupsi seluruh naturnya—yang secara umum disebut Dosa Asal; serta seluruh pelanggaran aktual yang lahir darinya (WSC 18).

Pertama, fakta bahwa kita diimputasikan kesalahan Adam secara jelas diajarkan khususnya oleh Rasul Paulus, seperti ketika ia menekankan: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang [yaitu Adam], dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12); dan “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1 Korintus 15:22).

Sama seperti kebenaran Kristus diimputasikan kepada kaum pilihan-Nya yang Ia wakili, kesalahan Adam diimputasikan kepada dunia. Sekarang, jika Anda memikirkan Kerusakan Total dari sudut Ketidakmampuan Total atau Korupsi Radikal, mungkin terpikir oleh Anda bahwa kesalahan Adam tidak secara langsung mempengaruhi tindakan kita dalam hidup. Tapi pikirkan sejenak tentang bayi-bayi yang meninggal ketika masih bayi atau dalam kandungan. Mereka mungkin tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran aktual, namun tidakkah mereka dianggap sebagai pendosa di hadapan Allah juga? Ya, karena “semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12). Bahkan bayi-bayi yang dipilih yang meninggal ketika masih bayi harus “diregenerasi [untuk menghilangkan kecenderungan asli untuk berdosa], dan diselamatkan oleh Kristus [melalui aplikasi darah-Nya], melalui Roh” (WCF 10.3).

Kedua, fakta bahwa seluruh umat manusia yang dilahirkan dari Adam melalui generasi biasa (yaitu tidak secara supernatural dikandung) mewarisi natur jatuh Adam diakui oleh Ayub: “Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!” (Ayub 14:4). Sahabatnya, Elifas, dengan benar menyetujui: “Masakan manusia bersih, masakan benar yang lahir dari perempuan?” (Ayub 15:14).

Daud pada dasarnya mengungkapkan ide yang sama dalam mazmur penyesalannya: “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mazmur 51:7). Perhatikan bahwa Daud tidak sedang mengacu kepada dosa ibunya, seolah-olah mempersalahkan ibunya atas keberdosaannya. Sebaliknya ia sedang mengacu kepada fakta bahwa ia adalah seorang pendosa sejak lahir. Kita berdosa karena kita adalah pendosa, kita tidak menjadi pendosa karena kita berdosa. “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat,” kata Daud (Mazmur 58:4).

Universalitasnya

Fakta bahwa kerusakan Adam diturunkan kepada semua manusia haruslah cukup untuk meyakinkan kita akan universalitasnya—bahwa ia mempengaruhi semua manusia kecuali Tuhan Yesus Kristus yang tidak lahir melalui generasi biasa. Namun Alkitab meyakinkan kita dengan pernyataan-pernyataan jelas yang secara spesifik berfokus pada universalitas kerusakan. Pemazmur merenungkan pemikiran ini dalam berbagai ayat, seperti: “Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?” (Mazmur 130:3) dan “Janganlah beperkara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapan-Mu” (Mazmur 143:2). Poinnya yaitu, jika Allah hendak menghakimi manusia tanpa belas kasihan, tak seorangpun akan ditemukan tidak bersalah karena semuanya telah berdosa. Paulus mengkonfirmasi doktrin ini dalam suratnya kepada jemaat di Roma:

… di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. … Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak (Roma 3:9-10, 12).

Kedalamannya

Kita telah melihat bahwa Kerusakan Total meliputi seluruh dunia tanpa pengecualian. Kita harus membuktikan sekarang bahwa Kerusakan Total meliputi seluruh keberadaan manusia. Ini dengan sangat jelas diajarkan dalam Alkitab melalui penggunaan lukisan.

Pertama, Rasul Paulus menyatakan bahwa saat kita manusia natural, kita “mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa” (Efesus 2:1; bdk. Kolose 2:13). Ini adalah lukisan yang paling penting, yang harus selalu ada di pikiran kita. Seorang yang belum lahir baru mati secara rohani. Ia dapat dibandingkan dengan Lazarus dalam kuburan, tapi tidak dengan seorang sakit yang dapat mengulurkan tangannya untuk mengambil pil yang dapat menyelamatkan nyawanya.

Kedua, hati manusia natural itu buta dan pengertiannya gelap: “pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka” (Efesus 4:18). “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu” (Yeremia 17:9). Dan ia tidak bisa mengerti hal-hal rohani sehingga selamat: “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (1 Korintus 2:14).

Ketiga, manusia natural dilukiskan sebagai seteru Allah (Roma 5:10) yang “keinginan daging[nya] adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya” (Roma 8:7). Ia merupakan hamba dosa (Roma 6:20) dan tawanan Setan untuk mengerjakan kehendaknya (2 Timotius 2:26; bdk. 1 Yohanes 3:10). Melalui lukisan ini, kita melihat bahwa manusia natural tidak mungkin dapat melakukan apa pun untuk memperkenan Allah. Ia korup secara radikal dan secara total tidak sanggup.

Konsekuensi Kerusakan Total

Apa konsekuensi Kerusakan Total? Secara sederhana: manusia telah “seutuhnya kehilangan segala kemampuan untuk menghendaki kebaikan rohani apapun yang menyertai keselamatan [dan] tidak mampu, dengan kekuatannya sendiri, untuk mempertobatkan dirinya, atau mempersiapkan dirinya untuk itu” (WCF 9.3). Fakta ini juga diajarkan dengan sangat jelas dalam Alkitab: “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” (Yeremia 13:23). Faktanya, karena manusia natural tidak dapat memahami hal-hal rohani, ia tidak mencari Allah: “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Roma 3:11).

Fakta ini menunjukkan bahwa intervensi berdaulat Allah diperlukan bagi seseorang untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Tuhan Yesus sendiri memberi tahu kita: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku” (Yohanes 6:44a) dan “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yohanes 3:3). Hanya dalam kelahiran baru karunia iman keselamatan diberikan.

Kita akan melihat lagi ayat-ayat tentang regenerasi ini dan yang lainnya dalam artikel kita tentang Kasih Karunia Tak Tertolak. Namun untuk sekarang, kita seharusnya sudah menyadari bahwa jika bukan karena intervensi Allah, tak seorangpun dari kita akan pernah mempercayai Injil. Pikiran seperti ini harus merendahkan kita kepada debu sementara pada saat yang sama mengisi hati kita dengan syukur kepada Allah Tritunggal yang mengasihi kita dengan kasih yang tidak berkesudahan, menyediakan penebusan bagi dosa-dosa kita, dan mengubah kita dengan berdaulat.

Kesimpulan

Orang-orang Arminian bersalah ketika mengatakan bahwa manusia dapat bekerja sama dengan Roh Kudus untuk menghasilkan regenerasi. Bagaimana mungkin ia melakukannya ketika kehendaknya tertawan oleh hatinya yang rusak secara radikal dan Alkitab bersaksi bahwa tidak ada yang dilakukannya dalam status natural dapat memperkenan Allah? Orang-orang Arminian mungkin memerlukan hanya satu sulaman pada kain keselamatan, namun menurut mereka nasib kita ada pada sulaman itu; sementara menurut Alkitab, sulaman itu jika ditambahkan akan mengotori kebenaran yang diperlukan bagi keselamatan kita, dan akan menjadikan kematian Kristus tidak cukup untuk menyelamatkan siapapun.

Puji Tuhan untuk doktrin Kerusakan Total, karena melaluinya saya menyadari diri saya hanyalah cacing, dan dengan berlutut di hadapan Tuhan dan Juruselamat saya Yesus Kristus, saya dapat berkata bersama pemazmur: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:5).


About this entry