Perlunya pertobatan (5)

3: Tanpa pertobatan agamamu sia-sia. Seluruh kegiatan keagamaanmu akan terbuang; karena mereka tidak dapat memperkenan Allah maupun menyelamatkan jiwamu, yang merupakan tujuan akhir agama (Roma 8:8; 1 Korintus 13:2-3). Biarpun pelayananmu begitu memukau, Allah tidak berkenan atasnya (Yesaya 1:14; Maleakhi 1:10). Tidakkah keadaan manusia begitu mengerikan, yang memberikan persembahan sebagai seorang pembunuh, dan yang doanya merupakan nafas yang menjijikkan? (Yesaya 66:3; Amsal 28:9). Banyak orang yang sadar mengira mereka dapat memperbaiki kelakuan mereka, dan bahwa sedikit doa dan amal akan membenahi diri mereka lagi; tapi celakanya, sementara hatimu tetap tidak kudus segala tindakanmu tidak akan lewat. Betapa ketatnya Yehu! namun segala yang dilakukannya ditolak karena hatinya tidak benar (2 Raja-raja 10 dan Hosea 1:4). Betapa tak bercelanya Paulus! namun, saat belum bertobat, segalanya merupakan kerugian (Filipi 3:6-7). Manusia mengira mereka melakukan banyak hal dengan melayani Allah, padahal sementara diri mereka tidak dikuduskan, segala sesuatu yang mereka lakukan tidak dapat diterima.

O jiwa! jangan mengira bahwa ketika dosa-dosamu mengejar engkau, sedikit doa dan membenahi jalanmu akan mendamaikan Allah. Engkau harus mulai dari hatimu. Jika hatimu tidak diperbarui, usahamu untuk memperkenan Allah tidaklah lebih dari seseorang yang, setelah melukaimu, membawa kepadamu sesuatu yang paling menjijikkan untuk mendamaikan engkau; atau seseorang yang telah jatuh ke dalam comberan, namun berpikir dapat berdamai dengan engkau melalui pelukannya yang kotor.

Sungguh kemalangan yang besar untuk berjerih payah dalam api. Para penyair tidak dapat menciptakan neraka yang lebih buruk bagi Sisyphus di mana ia selalu berjerih payah mengangkat batu ke atas bukit, untuk membiarkannya menggelinding lagi ke bawah, dan ia harus mengulangi jerih payahnya tanpa henti. Allah menjadikan hal-hal ini penghakiman sementara yang terbesar, yaitu bahwa mereka harus membangun tanpa menghuni, menanam tanpa menuai, dan bahwa jerih payah mereka harus dimakan oleh orang-orang asing (Ulangan 28:30, 38-41). Apakah kehilangan hasil jerih payah kita, menabur dengan sia-sia, dan membangun dengan sia-sia merupakan kemalangan yang besar? Betapa lebih malang kehilangan jerih payah kita dalam agama—berdoa, mendengar, dan berpuasa dengan sia-sia! Ini adalah kerugian kekal. Jangan tertipu; jika engkau tetap dalam keadaanmu yang berdosa, meskipun engkau menadahkan tanganmu, Allah akan memalingkan muka-Nya; sekalipun engkau berkali-kali berdoa, Ia tidak akan mendengarkannya (Yesaya 1:15). Jika seseorang yang tidak punya keahlian pergi bekerja, dan merusakkan pekerjaan itu, meskipun ia bersusah payah, kita hanya memberinya sedikit terima kasih. Allah disembah sebagaimana mestinya. Jika seorang pembantu mengerjakan sesuatu berlawanan dengan kemauan kita, ia tidak akan mendapat pujian. Pekerjaan Allah semestinya dilakukan menurut pikiran-Nya, atau Ia tidak akan berkenan; dan hanya hati yang kudus yang dapat melakukannya.

(bersambung…)


About this entry