Kasih Kristus bagi pendosa yang malang

Artikel berikut ini diterjemahkan dari Christ’s Love to Poor Sinners, tulisan Thomas Brooks.

Mari kita berdiam, mengagumi dan takjub oleh kasih Yesus Kristus bagi para pendosa yang malang; bahwa Kristus rela mati bagi kita, ketimbang bagi para malaikat. Mereka makhluk yang lebih mulia, dan tentunya membawa kemuliaan yang lebih besar bagi Allah: namun Kristus melewati bejana-bejana emas ini, dan menjadikan kita bejana-bejana kemuliaan—oh, betapa kasih yang menakjubkan dan luar biasa! Terhadap hal ini iblis iri, dan malaikat serta orang-orang kudus kagum.

Malaikat adalah makhluk yang lebih terhormat dan sempurna daripada kita. Mereka roh sorgawi; kita tubuh fana, debu dan abu: mereka pelayan-pelayan langsung Tuhan Allah, mereka, saya boleh katakan, ada dalam ruangan pribadi Allah; kita hamba-hamba-Nya dalam rumah yang ada di bawah di dunia ini, jauh dari hadirat-Nya yang mulia: pekerjaan mereka yaitu menyanyikan pujian bagi Allah di sorga; pekerjaan kita merawat taman Eden, yang hanyalah sorga di bumi: mereka berdosa hanya sekali, dan hanya dalam pikiran, begitu umumnya dianggap; namun Adam berdosa dalam pikiran melalui nafsu, dalam perbuatan melalui mencicipi, dan dalam perkataan melalui berdalih. Mengapa Kristus tidak menderita bagi dosa-dosa mereka, seperti bagi dosa-dosa kita? Atau, mengapa tidak mereka saja ketimbang kita? “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Matius 11:26). Kami mempertanyakan ini, bukan karena ingin mencari tahu rahasia-Mu, ya Tuhan, namun supaya kami lebih tenggelam dalam kekaguman akan “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.”

Sang rasul, dalam kekaguman kudus akan kasih Kristus, menekankan bahwa adalah melampaui segala pengetahuan (Efesus 3:18, 19) bahwa Allah, yang adalah Keberadaan kekal, mau mengasihi manusia padahal ia hampir tidak memiliki keberadaan (Amsal 8:30, 31), bahwa Ia mau tertarik oleh kecacatan, bahwa Ia mau mengasihi kita ketika kita berlumuran darah (Yehezkiel 16), bahwa Ia mau merasa sayang kepada kita ketika tidak seorangpun merasa sayang kepada kita, tidak, bahkan kita sendiri pun tidak. Oh, kasih Kristus sedemikian tinggi, hingga keadaan manusia yang begitu malang tidak dapat menguranginya. Kemalangan kondisi manusia justru mengobarkan api kudus kasih Kristus. Kasih-Nya setinggi sorga, siapa dapat menjangkaunya? Kasih-Nya serendah neraka, siapa dapat memahaminya? Sorga, melalui kemuliaannya, tidak dapat menahannya, manusia begitu malang, maupun siksaan neraka tidak dapat mencegahnya, demikianlah kasih-Nya yang tiada tara bagi manusia yang jatuh. Bahwa kasih Kristus rela menjangkau orang-orang durhaka, para pendosa, musuh-musuh yang memberontak terhadap-Nya (Roma 5:6, 8, 10), ya, bukan itu saja, tapi bahwa Ia mau memeluk mereka dengan tangan-Nya, mendekatkan mereka kepada-Nya, membelai mereka di pangkuan-Nya, dan menggendong mereka, supaya mereka dapat dipuaskan, merupakan kasih yang paling tinggi (Yesaya 66:11-13).

Bahwa Kristus mau datang dari pangkuan kekal Bapa-Nya, ke tempat penuh duka dan kematian (Yohanes 1:18), bahwa Allah mau dinyatakan dalam daging, Pencipta dibuat menjadi ciptaan (Yesaya 53:4); bahwa Ia yang berpakaian kemuliaan, harus dibungkus dengan compang-camping yang fana (1 Timotius 3:16); bahwa Ia yang memenuhi sorga, harus diletakkan dalam palungan (Yohanes 17:5); bahwa Allah Israel harus mengungsi ke Mesir (Matius 2:14); bahwa Allah yang perkasa harus menjadi letih; bahwa hakim seluruh manusia harus dihukum; bahwa Allah sumber hidup harus dibunuh (Yohanes 19:41); bahwa Ia yang satu dengan Bapa-Nya, harus berseru dalam penderitaan, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku!” (Matius 26:39); bahwa Ia yang memegang kunci neraka dan kematian (Wahyu 1:18), harus berbaring tanpa daya dalam kuburan orang lain, setelah, dalam masa hidup-Nya, tidak memiliki tempat untuk membaringkan kepala-Nya; maupun setelah kematian, untuk membaringkan tubuh-Nya (Yohanes 19:41, 42); dan semuanya ini bagi manusia, manusia yang jatuh, manusia yang malang, yang tidak berharga, sungguh melampaui pikiran natur ciptaan.

Penderitaan Tuhan kita Yesus Kristus yang pedih, universal, dan terus-menerus, dari palungan ke salib, sungguh, melebihi segala sesuatu, mengatakan kasih Yesus Kristus yang transenden bagi para pendosa yang malang. Murka itu, murka yang besar, murka yang ganas, murka yang suci, murka yang tidak terhingga, murka yang tiada tara dari Allah yang marah, yang menekan jiwa Kristus dengan berat, dengan cepat menguras kekuatan natural-Nya, dan mengeringkan sumsum-Nya seperti oleh teriknya musim panas (Mazmur 32:4); namun demikian seluruh murka ini Ia tanggung dengan sabar, supaya orang-orang berdosa dapat diselamatkan, dan supaya Ia “membawa banyak orang kepada kemuliaan” (Ibrani 2:10).

Oh kasih yang menakjubkan! Kasih itu taat, ia memampukan penderitaan. Para Curtii memberikan nyawanya bagi orang-orang Romawi, karena kasih; demikian juga kasihlah yang membuat Tuhan Yesus memberikan nyawa-Nya, untuk menyelamatkan kita dari neraka dan membawa kita ke sorga. Seperti pelikan, karena kasihnya kepada anak-anaknya, ketika mereka dipatuk ular, memberi mereka makan darahnya sendiri untuk memulihkan mereka lagi; demikian pula ketika kita dipatuk oleh si ular tua, dan luka kita tidak tersembuhkan, dan kita berada dalam bahaya kebinasaan kekal, Tuhan Yesus, demi memulihkan kita dan menyembuhkan kita, memberi makan kita darah-Nya sendiri (Kejadian 3:15; Yohanes 6:53-56). Oh kasih tak terkira! Ini menjadikan Bernard berseru, “Tuhan, Engkau telah mengasihiku lebih daripada diri-Mu; karena Engkau telah memberikan nyawa-Mu bagiku.”

Hanya mata rantai kasih yang mengikat Kristus pada salib (Yohanes 10:17), dan itu membuat-Nya rela mati bagi kita, dan itu membuatnya rela “terhitung di antara pemberontak-pemberontak” (Yesaya 53:12), sehingga kita dapat terhitung di antara “jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga” (Ibrani 12:23). Jika kasih Yonatan kepada Daud ajaib (2 Samuel 1:26), betapa ajaib kasih Kristus bagi kita, yang memimpin-Nya untuk menjadikan diri-Nya sendiri korban bagi kita (Ibrani 10:10), yang tidak pernah dilakukan Yonatan bagi Daud: karena meskipun Yonatan mengasihi hidup dan keamanan Daud, ia lebih mengasihi dirinya; karena ketika ayahnya melemparkan tombak kepadanya untuk membunuhnya, ia menghindar, dan tidak menanggung kemarahan ayahnya, tidak mau terluka, meskipun kasihnya ajaib kepada Daud (1 Samuel 20:33-35); menyatakan apa yang dicetuskan oleh filsuf, bahwa manusia ialah pencinta hidup.

Kasih Kristus seperti nama-Nya, dan itu Ajaib (Yesaya 9:6); ya, begitu ajaib, bahwa kasih-Nya mengatasi segala makhluk, melampaui segala takaran, berlawanan dengan segala natur. Kasih-Nya mengatasi segala makhluk, karena mengatasi para malaikat, dan karena itu mengatasi segala yang lain. Kasih-Nya melampaui segala takaran, karena waktu tidak memulainya, dan waktu tidak akan pernah mengakhirinya; tempat tidak mengikatnya, dosa tidak melampauinya, ia tidak memandang keadaan, usia, maupun jenis kelamin, bahasa tidak dapat mengutarakannya, pengertian tidak dapat memahaminya: dan ia berlawanan dengan segala natur; karena natur apa yang dapat mengasihi ketika ia dibenci? Natur apa yang dapat mengampuni ketika dilanggar? Natur apa yang dapat memberikan pendamaian ketika ia menerima kejahatan? Natur apa yang dapat menimbun kemurahan di atas kebencian, kasih di atas penolakan, belas kasih di atas dosa? Namun demikian kasih Kristus telah memimpin-Nya kepada semuanya ini; sehingga sepantasnyalah kita menghabiskan seluruh hidup kita mengagumi dan memuji kasih yang ajaib ini, dan selalu memikirkannya.


About this entry