Pemilihan tanpa syarat

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Unconditional Election, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 29 Oktober 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Mari kita mulai pembahasan kita akan pokok kedua dari TULIP (Artikel I dalam Kanon Dort), dengan beberapa definisi, karena kita memerlukan istilah-istilah ini dalam studi kita.

Istilah pertama yaitu ‘pemilihan.’ Pemilihan secara sederhana mengacu pada tindakan Allah memilih suatu umat bagi diri-Nya. Atau, dalam istilah yang bersifat pribadi, pemilihan mengacu pada pemilihan Allah atas pribadi-pribadi tertentu untuk diselamatkan. Kanon Dort menaruhnya demikian:

Pemilihan ialah kehendak Allah yang tidak dapat berubah, di mana, sebelum dunia diciptakan, Ia memilih, dari segenap umat manusia, yang jatuh melalui kesalahan mereka sendiri dari integritas asal mereka kepada dosa dan kehancuran, menurut kehendak-Nya sendiri yang paling bebas dan baik, dan karena kasih karunia semata, sejumlah orang, yang tidak lebih baik maupun lebih layak daripada yang lain, namun berada dalam kemalangan yang sama dengan yang lain, kepada keselamatan dalam Kristus; yang telah ditetapkan-Nya, bahkan sebelum kekekalan, sebagai Pengantara dan Kepala segala kaum pilihan, dan fondasi Keselamatan … (Bab 1, Art. 7).

Istilah kedua yaitu ‘predestinasi.’ Arti yang paling jelas dari istilah ini berbicara tentang Allah menetapkan tujuan akhir kita, yaitu tujuan akhir jiwa kita. Akan tetapi ingat bahwa predestinasi alkitabiah meliputi bukan saja tujuan akhir kita, tetapi juga segala sesuatu yang terjadi dalam ruang dan waktu seiring dengan kita menuju tujuan akhir itu. Dengan kata lain, pemilihan menetapkan kaum pilihan, sementara predestinasi menetapkan langkah-langkah mereka (Mazmur 37:23; Amsal 4:18; Ibrani 12:1).

Istilah ketiga juga harus disebut, yaitu ‘reprobasi.’ Ini antitesis pemilihan. Jika Allah memilih sebagian manusia untuk diselamatkan, itu berarti Ia pasti telah menetapkan sebagian sisanya kepada murka karena dosa mereka, dan karena itu melewati mereka ketika Ia memberikan kasih karunia kepada kaum pilihan bagi keselamatan mereka. Rasul Paulus menyebut kaum reprobat “benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan” (Roma 9:22). Pengakuan Iman Westminster menjelaskan reprobasi dan kaum reprobat demikian:

Sebagian sisanya, Allah berkenan, menurut keputusan kehendak-Nya yang tak terselami, yang melaluinya Ia menyatakan atau menahan belas kasih sebagaimana Ia menghendakinya, untuk melewati; dan menetapkan mereka kepada kehinaan dan murka karena dosa mereka, supaya terpujilah keadilan-Nya yang mulia (WCF 3.7).

Pemilihan bersyarat Arminian

Dengan definisi-definisi ini, mari kita mulai mempertimbangkan sebuah definisi doktrin pemilihan, yaitu:

Bahwa Allah, melalui tujuan yang kekal dan tak berubah dalam Yesus Kristus Anak-Nya, sebelum dunia dijadikan, telah menetapkan, dari antara manusia yang jatuh dan berdosa, untuk menyelamatkan dalam Kristus, demi Kristus, dan melalui Kristus, mereka yang, melalui kasih karunia Roh Kudus, akan percaya pada Anak-Nya Yesus ini, dan akan bertekun dalam iman dan ketaatan iman, melalui kasih karunia ini, bahkan sampai akhir; dan, sebaliknya, untuk meninggalkan mereka yang tidak dapat dibenahi dan tidak percaya dalam dosa dan di bawah murka, dan untuk menghukum mereka sebagai terasing dari Kristus, menurut firman Injil dalam Yohanes 3:36: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya,” dan menurut bagian Alkitab lainnya juga.

Jika Anda telah membaca dua artikel pertama dalam seri ini, Anda mungkin akan berhati-hati ketika Anda membaca pernyataan ini. Anda mungkin akan mencurigai bahwa ada sesuatu yang salah dengannya. Dan memang ada, karena pernyataan ini sebenarnya adalah artikel pertama para Remonstrans. Akan tetapi dapatkah Anda mendeteksi letak permasalahannya? Saya takut bahwa tanpa peringatan sebelumnya, banyak dari kita akan dengan mudah menerima pernyataan tersebut sebagai pernyataan yang Alkitabiah, dan bahkan dengan peringatan, banyak dari kita akan kesulitan menunjukkan di mana tepatnya letak kesalahan pernyataan tersebut. Beginilah keacuhan teologi pada zaman kita.

Kesalahannya terletak pada fakta bahwa meskipun orang-orang Arminian mengakui bahwa predestinasi diajarkan dalam Alkitab, mereka menolak untuk mengakui arti dan implikasi jelas doktrin tersebut sebagaimana diturunkan dari Alkitab: yaitu, bahwa kehendak Allah dan bukan kehendak kita sendirilah Penyebab Pertama satu-satunya keselamatan kita. Dengan kata lain, ketika orang-orang Arminian mengatakan bahwa Allah “telah menetapkan” untuk menyelamatkan mereka yang “melalui kasih karunia Roh Kudus, akan percaya pada Anak-Nya Yesus, dan akan bertekun dalam iman dan ketaatan iman, melalui kasih karunia ini, bahkan sampai akhir,” apa yang mereka maksudkan yaitu bahwa Allah telah menetapkan untuk menyelamatkan mereka yang telah Ia ketahui akan beriman (dengan pertolongan kasih karunia yang mendahului [prevenient]) untuk percaya dan bertekun dalam Tuhan Yesus Kristus.

Ayat favorit Arminian untuk mendukung pandangan mereka yaitu Roma 8:29-30:

Sebab semua orang yang [diketahui-Nya] dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Argumennya yaitu karena Rasul Paulus menempatkan prapengetahuan sebelum predestinasi, maka pastilah prapengetahuan (akan iman seseorang) merupakan basis predestinasi. Akan tetapi, ini jauh dari apa yang dikatakan Paulus.

Pertama, interpretasi yang jelas dari ayat tersebut menyarankan bahwa prapengetahuan di sini pada dasarnya mengacu pada pemilihan dalam Kristus atau dikasihi dalam Kristus (Efesus 1:4). Paulus sedang mengatakan bahwa Allah mempredestinasikan mereka yang Ia pilih, dan karena itu kasihi dan ketahui.

Kedua, Paulus kemudian berbicara tentang apa yang akan Allah lakukan bagi mereka yang Ia ketahui, yaitu: dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan. Perhatikan bahwa Paulus menggunakan bentuk waktu lampau untuk setiap tindakan ini, termasuk ‘dimuliakan.’ Ini menunjukkan bahwa tindakan-tindakan tersebut mengikuti satu sama lain dalam rantai yang tak terputus sehingga tak seorangpun yang diketahui tidak akan dipanggil, dibenarkan, atau dimuliakan. Tidak ada ruang bagi persyaratan yang didasarkan atas respon manusia dalam rantai tersebut. Bahkan panggilan ini harus mengacu pada panggilan efektual yang menghasilkan pembenaran, karena jika itu mengacu pada panggilan eksternal khotbah, maka semua yang mendengar Injil akan diselamatkan. Dengan kata lain, Paulus sedang berkata bahwa keselamatan merupakan karya Allah dari awal sampai akhir. Sungguh tidak masuk akal baginya untuk mengatakan bahwa Allah mempredestinasikan mereka yang Ia ketahui akan beriman dan bertekun. Bahkan jika orang-orang Arminian tidak setuju dengan doktrin Kerusakan Total yang telah kita jelaskan, teks ini (Roma 8:29-30) tidak membiarkan kontribusi apapun dari pihak manusia bagi keselamatannya.

Ketiga, jika Paulus bermaksud bahwa predestinasi ialah menurut prapengetahuan Allah, maka predestinasi secara efektif tidak berarti apa-apa, karena kaum pilihan akan mencapai tujuan akhir mereka berdasarkan usaha mereka sendiri (meskipun ditolong oleh kasih karunia pendahuluan).

Predestinasi Absolut Alkitab

Doktrin pemilihan tanpa syarat memiliki fondasi bukan saja dalam kasih kekal Allah dalam Kristus, namun juga dalam fakta bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi menurut keputusan kehendak-Nya. Doktrin ini nyatanya disarankan oleh Rasul Paulus hanya satu ayat di atas teks yang digunakan oleh orang-orang Arminian untuk membuktikan doktrin pemilihan melalui prapengetahuan mereka, karena ia berkata: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28, penekanan dari saya). Tidak mungkin segala sesuatu … mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” jika Allah tidak berdaulat atas segala sesuatu. Jika Allah tidak berdaulat atas satu hal saja, proposisi bahwa “segala sesuatu … mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” tidak lagi benar.

Pengakuan Iman Westminster (§3.1–2) menyatakan doktrin ini dengan sangat padat:

I. Allah dari semenjak kekekalan telah, dengan keputusan kehendak-Nya yang paling bijak dan suci, dengan bebas dan tanpa berubah menetapkan segala sesuatu yang terjadi: namun sedemikian hingga Allah bukan pencipta dosa, tidak ada paksaan pada kehendak makhluk-makhluk ciptaan-Nya, juga kebebasan atau ketergantungan penyebab-penyebab kedua tidak dihilangkan, sebaliknya justru diteguhkan.

II. Meskipun Allah mengetahui segala sesuatu yang bisa atau dapat terjadi dalam kondisi manapun; Ia tidak menetapkan segala sesuatu karena Ia melihatnya sebelumnya, atau melihatnya akan terjadi jika kondisinya terpenuhi.

Doktrin predestinasi absolut ini dipertanyakan oleh banyak orang karena kelihatannya melawan intuisi, dan nampaknya menjadikan manusia robot. Namun demikian, fakta bahwa ini adalah doktrin Alkitabiah tidak dapat diragukan. Contohnya, Allah berkata melalui Yesaya:

Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan (Yesaya 46:9-10).

Bahwa keputusan Allah meliputi dan menentukan segala sesuatu dan segala kejadian apapun juga, baik besar maupun kecil, baik atau jahat—juga jelas dari Alkitab. Pertama-tama, bahkan kejadian-kejadian yang kelihatannya tidak berarti, seperti jatuhnya rambut dari kepala kita, terjadi menurut keputusan kehendak Allah (Matius 10:30). Kedua, bahkan hal-hal yang nampaknya terjadi secara kebetulan telah ditetapkan dan terjadi karena keputusan Tuhan: “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN” (Amsal 16:33). Ketiga, bencana ditetapkan Allah: “yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini” (Yesaya 45:7; bdk. Amos 3:6b). Keempat, bahkan tindakan orang jahat pun ditetapkan Allah: “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka” (Amsal 16:4). Ini dilakukan Allah tanpa melanggar kebebasan dan tanggung jawab makhluk ciptaan-Nya. Demikianlah Yudas ditegur meskipun ditetapkan bahwa Kristus akan diserahkan olehnya (lihat Matius 26:24). Demikianlah Petrus, dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, mempersalahkan orang-orang Yahudi karena kejahatan mereka membunuh Tuhan meskipun Ia “diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya” (Kisah Para Rasul 2:23; lihat juga Kisah Para Rasul 4:28).

Jelas bahwa apapun yang terjadi dalam dunia ini, dibawa Allah menurut keputusan kehendak-Nya. Keputusan Allah ialah kehendak-Nya yang hidup. Keputusan ini memiliki efek yang berdaulat. Tidak ada hal apapun yang dapat menggagalkan kehendak Allah karena segala kuasa adalah milik-Nya (Mazmur 62:11b). Sangat sulit memikirkan bahwa pilihan Allah terhadap kaum pilihan itu tergantung atas prapengetahuan-Nya akan apa yang akan dikerjakan manusia. Tentu, Allah tahu segala sesuatu karena Ia dengan berdaulat menetapkan mereka dan membawa mereka terjadi. Allah orang Arminian yang konsisten, yang mengetahui apa yang akan terjadi, bukan karena ia menetapkan segala sesuatu, melainkan karena ia melihat segala sesuatu sebelumnya, bukanlah Allah yang kita kenal melalui Alkitab, melainkan allah yang tidak berkuasa hasil imajinasi manusia.

Pemilihan Tidak Bersyarat menurut Alkitab

Pertimbangan akan kedaulatan Allah yang absolut patut meyakinkan kita bahwa pemilihan kita tidak bersyarat. Akan tetapi ada lagi. Alkitab secara eksplisit memberi tahu kita fakta tersebut, untuk membunuh sisa kesombongan yang mungkin kita pertahankan.

Pertama, Rasul Paulus secara eksplisit menyatakan bahwa pemilihan kita dibuat sebelum dunia dijadikan, menurut kerelaan kehendak Allah dan kasih kekal-Nya kepada kita atas dasar diwakilinya kita oleh Kristus:

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. … di dalam Dialah [kita] mendapat bagian yang dijanjikan—[kita] yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:3-6, 11).

Kedua, Alkitab menekankan bahwa pemilihan tidak bersyaratkan perbuatan baik kita (termasuk respon kita kepada Injil). Paulus membuat poin ini ketika ia memberi tahu kita bahwa Allah telah menyatakan kasih-Nya kepada Yakub ketimbang Esau (yang adalah kembar) bahkan sebelum mereka dilahirkan maupun mampu mengerjakan perbuatan baik atau jahat apapun:

Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat,—supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya—dikatakan kepada Ribka: “Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda” (Roma 9:11-12).

Pikiran yang sama mengenai pemilihan tidak bersyarat muncul di bagian yang lain, contohnya “Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia” (Roma 11:5-6); dan “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2 Timotius 1:9, penekanan dari saya).

Ketiga, Alkitab mengajarkan di banyak bagian bahwa iman dan pertobatan merupakan buah pemilihan. Contohnya, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10; bdk. Efesus 1:4). Karena itu Tuhan Yesus Kristus menyatakan bahwa semua yang datang kepada-Nya adalah mereka yang Bapa telah berikan kepada-Nya, yaitu mereka yang terpilih sebelum dunia dijadikan: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yohanes 6:37). Kita percaya karena Kristus lebih dahulu memberikan nyawa-Nya bagi kita: “tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” (Yohanes 10:26, bdk. 10:14-15). Kebenaran yang sama ini ditegaskan oleh Lukas: “… dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya” (Kisah Para Rasul 13:48b).

Jika iman dan pertobatan merupakan buah pemilihan, pemilihan kita tentu tidak tergantung pada mereka.

Keempat, Allah mengklaim memiliki kedaulatan untuk memilihi siapa yang Ia kehendaki:

Seperti ada tertulis: “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. … Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. … Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? (Roma 9:13, 16, 21).

Bukti-bukti Alkitabiah dari keempat sudut ini jelas, dan kesimpulannya tidak dapat dihindari: Pemilihan kita sepenuhnya karena kasih karunia, dan berdasarkan atas kerelaan kehendak Allah yang berdaulat. Dengan kata lain, pemilihan kita tanpa syarat.

Kesimpulan

Doktrin pemilihan tanpa syarat dan predestinasi berdaulat ini kontroversial hanya karena manusia menolak untuk tunduk kepada pernyataan Allah akan kedaulatan-Nya yang agung dan ketidakadaan manusia yang malang. Karena inilah, banyak keberatan ditujukan pada doktrin ini.

Beberapa orang berkata, “Doktrin ini tidak masuk akal karena menjadikan Allah menyeret secara paksa para pendosa yang tidak tahu berterima kasih masuk ke dalam kerajaan, sementara melarang masuk mereka yang sungguh-sungguh ingin masuk ke dalamnya.” Tidak sulit untuk menjawab keberatan ini, karena tak seorangpun diseret secara paksa ke dalam kerajaan. Siapapun yang masuk ke dalam kerajaan memasukinya sebagai seseorang yang telah lahir baru dan mendapati Kristus indah melebihi segala sesuatu (Yohanes 3:3). Sebaliknya, tak seorangpun dilarang masuk ke dalam kerajaan yang ingin masuk ke dalamnya, karena tidak ada manusia yang telah jatuh yang akan pernah ingin masuk, kecuali orang-orang pilihan yang Tuhan beri kasih karunia efektif.

Sebagian yang lain mengajukan keberatan bahwa pemilihan tanpa syarat membuat Allah melakukan imoralitas ketika Ia menuntut tanggung jawab mereka yang menolak Injil karena ketidakpercayaan mereka. Ini sekali lagi dengan mudah dijawab, karena tak seorangpun yang menolak Injil dapat dengan jujur berkata: “Allah mencegah saya percaya.”

Yang lain lagi berkata, “Allah tidak adil menyelamatkan sebagian saja.” Rasul Paulus mengantisipasi pertanyaan ini dan menjawabnya dalam Roma 9:14-15:

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.”

Poinnya yaitu, kita diselamatkan oleh belas kasih dan kasih karunia Allah yang tidak layak kita dapatkan. Jika kita sungguh menginginkan keadilan, kita sebenarnya sedang meminta keadilan yang adil, di mana semuanya layak binasa. Apakah seorang tawanan yang menanti hukuman mati karena kudeta memiliki hak untuk menuntut raja atas ketidakadilan jika ia memilih, menurut belas kasihannya, untuk melepaskan tawanan yang lain yang melakukan kejahatan yang sama? Orang seperti itu tentu layak mendapatkan hukuman yang lebih berat.

O kasih karunia yang mulia! Aku mati dalam pelanggaran dan dosa, tanpa pengharapan dalam dunia ini, tidak layak mendapatkan apapun selain murka Allah. Aku membenci Penciptaku, dan satu-satunya yang dapat menyelamatkanku. Namun Allah, dalam kasih-Nya yang tidak terkira, mengirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk menderita dan mati bagiku, dan kemudian, pada waktu yang genap, mengirim Roh-Nya untuk membuka mataku sehingga aku dapat melihat Juruselamatku yang mengalirkan darah dipaku di atas salib demi kejahatanku. Apa responku selain bertanya, “Kenapa aku, Tuhan?”


About this entry