Perlunya pertobatan (7)

[2] Tanpa pertobatan sejati, pengharapan akan keselamatan akan sia-sia. Pengharapan seperti ini paling menghina Allah dan paling menghina dirimu. Ada kematian, keputusasaan, dan penghujatan dalam pengharapan ini.

Ada kematian di dalamnya. Keyakinanmu akan diseret dari kemahmu, tempat engkau merasa aman, dan dibawa kepada raja kedahsyatan (Ayub 18:14). Meskipun engkau bersandar pada keyakinan ini, ia tidak akan berdiri, melainkan akan menjadi bangunan yang porak poranda; ketika engkau bersandar padanya, ia tidak tetap tegak; ketika engkau menjadikannya tempat berpegang, ia tidak tahan (Ayub 8:15).

Ada keputusasaan di dalamnya. ‘… apakah harapan orang durhaka, kalau Allah menghabisinya, kalau Ia menuntut nyawanya?’ (Ayub 27:8). Saat itu berakhirlah pengharapannya untuk selama-lamanya. Memang, pengharapan orang benar ada akhirnya, tapi bukan akhir yang hancur, melainkan akhir yang sempurna. Pengharapannya berakhir pada buah, sedangkan pengharapan orang berdosa berakhir pada frustrasi. Orang yang saleh dapat berkata saat kematian, ‘Sudah selesai’; namun orang jahat, ‘Sudah binasa,’ dan sungguh-sungguh meratapi dirinya, seperti Ayub dalam kekeliruan, ‘Ia membongkar aku di semua tempat, sehingga aku lenyap, dan seperti pohon harapanku dicabut-Nya’ (Ayub 19:10). ‘… orang benar memiliki pengharapan pada kematiannya’ (Amsal 14:32, diterjemahkan dari King James Version). Ketika alam sekarat, pengharapannya hidup; ketika tubuhnya melemah, pengharapannya tumbuh subur; pengharapannya adalah pengharapan yang hidup, tapi pengharapan orang jahat adalah pengharapan yang sekarat, ya, yang menghukum, dan membinasakan. ‘Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya, dan harapan orang jahat menjadi sia-sia’ (Amsal 11:7). Ia akan dipotong dan terbukti seperti sarang laba-laba (Ayub 8:14) yang dipintalnya dari perutnya sendiri; namun kemudian datang kematian dan menghancurkan segalanya, dan karena itu ada akhir kekal atas pengharapan yang diyakininya. ‘… mata orang fasik akan menjadi rabun, mereka tidak dapat melarikan diri lagi; pengharapan mereka akan seperti nafas mereka yang terakhir’ (Ayub 11:20, diterjemahkan dari King James Version). Orang fasik begitu teguh dalam pengharapan duniawi mereka, dan tidak akan dapat dipukul sehingga mereka meninggalkannya; mereka memegangnya erat, mereka tidak akan melepaskannya, akan tetapi kematian akan memukul lepas jari-jari mereka. Meskipun kita tidak dapat melepaskan mereka dari keadaan mereka yang tertipu, kematian dan penghakiman akan. Ketika kematian meluncurkan panahnya menembus hatimu, ia akan menghancurkan jiwa dan pengharapanmu sekalian. Orang yang tidak disucikan memiliki pengharapan hanya dalam dunia ini saja, dan karena itu dari semua manusia mereka paling malang. Ketika kematian datang, kematian melepaskan mereka ke dalam gurun keputusasaan yang tiada batas.

Ada penghujatan di dalamnya. Untuk berharap bahwa kita akan diselamatkan, meskipun terus tidak bertobat, adalah berharap membuktikan Allah seorang pembohong. Ia telah memberi tahu engkau bahwa, meskipun Ia penuh belas kasih, Ia tidak akan pernah menyelamatkanmu jika engkau terus berjalan dalam ketidakpedulian atau dosa. Dengan kata lain, Ia telah memberi tahu engkau bahwa apapun keadaanmu atau apapun yang engkau lakukan, tidak ada yang dapat menolongmu kepada keselamatan kecuali engkau menjadi ciptaan baru. Mengatakan bahwa Allah penuh kasih dan berharap Ia akan menyelamatkan kita tanpa pertobatan, ialah sama saja dengan mengatakan ‘Kita berharap Allah tidak akan melakukan sesuai yang Ia firmankan.’ Kita tidak boleh mempermainkan atribut Allah. Allah telah berketetapan untuk memuliakan belas kasih-Nya, tapi tidak dengan mengabaikan kebenaran-Nya, sebagaimana orang berdosa akan mendapati pada waktu ia telah menyesal dan menyesal untuk selama-lamanya.

(bersambung…)


About this entry