Tujuan pernikahan

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel The Purpose of Marriage, tulisan Pastor Lim Jyh Jang.

Tanyailah sepasang kekasih mengapa mereka ingin menikah, dan Anda mungkin akan mendapat macam-macam jawaban. Sepasang kekasih mungkin akan menjawab, “Oh, kami sangat mencintai satu sama lain!” Tanyakan: “Apa yang kalian maksud dengan cinta?” “Oh, kami begitu menyukai satu sama lain, dan ada chemistry sehingga ketika kami saling melihat atau menyentuh, kami sangat senang. Kami tidak dapat hidup sendiri.” Pasangan yang lain mungkin berkata, “Oh, kami sebenarnya tidak perlu menikah, tapi orang tua dan masyarakat mengharapkan kami menikah, dan lagipula, inilah cara terbaik untuk memastikan kami tetap setia terhadap satu sama lain.”

Bagaimana dengan Anda, pembaca yang terkasih? Apa alasan Anda untuk menikah atau mempertimbangkan pernikahan? Jika Anda tidak memiliki alasan-alasan yang benar, Anda akan sulit memiliki pernikahan yang memuliakan Allah.

Dua orang pemuda masuk sekolah kedokteran dengan alasan yang berbeda. Yang satu berkata, “Oh, saya ingin mendapat banyak uang. Dokter cepat kaya.” Yang lainnya berkata, “Saya rindu menolong sesama saya dalam kelemahan mereka.” Mana yang Anda pikir akan berhasil menjadi dokter yang baik? Jawabannya jelas.

Hal yang sama berlaku dalam pernikahan. Bagaimana Anda dapat mengharapkan pernikahan yang memuliakan Allah kecuali Anda memasukinya, atau membangunnya, dengan tujuan Alkitabiah yang benar? Kalau begitu, apa tujuan pernikahan yang Alkitabiah? Mengapa pernikahan ditetapkan pada mulanya?

Dari Alkitab, kita melihat bahwa tujuan pernikahan dapat dilihat dari dua perspektif: antropologis dan teologis. Yang pertama, untuk memenuhi kebutuhan sementara dari manusia dan masyarakat. Yang kedua, untuk mengilustrasikan relasi antara Kristus dan Gereja-Nya.

Tujuan antropologis

Mari kita mulai dari perspektif antropologis atau tujuan pernikahan berkaitan dengan kebutuhan sementara manusia dan masyarakat. Pengakuan Iman Westminster 1648 meringkas ajaran Alkitab mengenai hal ini dengan sangat baik dalam Bab 24, bagian 2:

Pernikahan ditetapkan [1] supaya suami dan istri saling menolong, [2] supaya umat manusia bertambah banyak melalui keturunan yang sah, dan Gereja bertumbuh melalui keturunan suci; dan [3] untuk mencegah kenajisan.

Masing-masing tujuan ini didasarkan atas ajaran Alkitab mengenai pernikahan dan kita harus melihatnya secara lebih mendetil.

1. Supaya suami istri dapat saling menolong

Ketika kita melihat bahwa Hawa secara khusus dibentuk oleh Allah untuk menjadi penolong yang sepadan bagi Adam: “TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia'” (Kejadian 2:18).

Frase “penolong yang sepadan” menunjukkan kepada kita bahwa Adam tidak lengkap tanpa Hawa. Adam memerlukan pertolongan Hawa. Demikian juga, kita dapat mengatakan bahwa Hawa tidak lengkap tanpa Adam. Demikianlah Pengakuan kita memberi tahu kita bahwa tujuan pertama pernikahan ialah untuk menyediakan pertolongan timbal balik antara suami dan istri.

Pertolongan macam apa yang diberikan oleh istri kepada suami dan sebaliknya? Ijinkan saya menyarankan dua macam:

  1. Pertolongan emosional — Companionship

    Ingatlah bahwa kalimat “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja,” dibuat di Eden sebelum dosa masuk ke dalam dunia. Kalimat Tuhan menunjukkan bahwa Adam mungkin merasa kesepian. Jika ini benar, ini berarti kesepian Adam tidak disebabkan oleh dosa, namun sesungguhnya merupakan bagian dirinya. Akan tetapi Adam diciptakan sempurna! Bagaimana mungkin ia kesepian? Satu-satunya cara kita dapat menjawab pertanyaan ini dengan memuaskan yaitu dengan melihat bahwa kesempurnaan Adam meliputi kebutuhannya akan companionship. Tentu saja, kebutuhan ini akan menjadi suatu kecacatan dalam ciptaan Allah yang sempurna, jika saja Allah menyelesaikan karya penciptaan-Nya sebelum Ia memenuhi kebutuhan itu. Namun bukan demikian halnya. Adam diciptakan dengan suatu kebutuhan, dan kebutuhan itu dipenuhi, sebelum Allah menyatakan bahwa segalanya “sungguh amat baik.”

    Kapan Allah mengatakan bahwa segala sesuatu yang Ia ciptakan sungguh amat baik? Pada akhir hari ke-6: “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam” (Kejadian 1:31). Kapankah Hawa diciptakan? Kita membaca penciptaannya di ayat 27: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27). Ia diciptakan pada hari ke-6 itu sendiri. Pasal 2, ayat 4 dan seterusnya merupakan cuplikan salah satu peristiwa yang terjadi pada hari ke-6. Dengan kata lain, Allah menciptakan Adam dengan suatu kapasitas untuk merasa kesepian, dan meskipun kesepian bukanlah suatu kebajikan, itu bukan dosa, melainkan emosi alami manusia, dan juga merupakan bagian manusia yang dicipta dalam peta dan teladan Allah.

    Atau ijinkan saya menaruhnya demikian. Anda tidak perlu merasa bersalah jika Anda merasa kesepian. Misionaris besar Hudson Taylor pernah berdoa untuk seorang istri begini: “Tuhan, saya tahu saya memiliki Engkau, dan saya tidak seharusnya merasa kesepian, tapi ini lain.” Tuhan mengabulkan kerinduan hatinya, Maria Jane Dyer—seorang guru yang dibesarkan dalam kesusteran, dan mereka menikmati pernikahan yang sangat bahagia. Percaya atau tidak, meskipun sering dikatakan bahwa John Calvin bersikap utilitarian dalam hal kenikmatan hidup, salah satu alasannya untuk memiliki istri adalah juga perasaan kesepian. Philip Schaff, sejarawan gereja, mencatat bahwa Calvin sama sekali tidak tergesa-gesa untuk menikah. Apa yang akhirnya menyebabkannya memikirkan tentang pernikahan yaitu “perasaan kesepian dan kebutuhan akan seseorang yang dapat merawatnya, sehingga ia dapat melayani Gereja dengan lebih baik.”

    Kesepian, atau kebutuhan akan companionship merupakan bagian integral dari desain seorang manusia. Akan tidak natural bagi seorang laki-laki atau perempuan untuk tidak merasa kesepian. Dan pernikahan ditetapkan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan companionship ini dalam cara yang paling intim dan menyeluruh.

    Jadi, aritmetika pernikahan yaitu satu tambah satu sama dengan satu: karena Tuhan berkata, “keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24). Ketika Anda mengerti fakta ini, Anda akan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan pernikahan Anda jika sahabat terbaik Anda bukan suami atau istri Anda. Jika demikian halnya dengan pernikahan Anda, tidakkah Anda akan memulai untuk dengan serius memperdalam pernikahan Anda?

  2. Pertolongan fungsional — Peran

    Pertolongan macam kedua yang diberikan secara timbal balik oleh suami dan istri yaitu pertolongan fungsional. Laki-laki dan perempuan dirancang untuk bersifat saling melengkapi. Anda akan melihat dari common sense dan observasi bahwa pada umumnya, laki-laki diciptakan berotot, sementara perempuan diciptakan penuh perhatian. Laki-laki logis dan apa adanya, sementara perempuan intuitif dan sensitif. Laki-laki lebih tidak emosional dan lebih tegas, perempuan lebih dapat mengerti perasaan orang lain dan lebih emosional. Saya tahu ini tidak selalu benar, tapi saya percaya Anda akan setuju bahwa demikianlah pada umumnya; dan demikianlah seorang suami dan istri saling melengkapi.

    Laki-laki umumnya sangat cuek dalam hal kerapian rumah mereka, sementara perempuan umumnya teliti—ini natur mereka. Martin Luther, Reformator besar itu, dikatakan tidak membereskan tempat tidurnya atau mengganti spreinya selama setahun penuh! Setelah ia menikah dengan Katherine von Bora, ia secara literal mereformasi Luther secara domestik. Sebaliknya, istri-istri cenderung emosional atas persoalan yang ada sementara suami-suami cenderung berpikir secara logis untuk membuat keputusan. Tentu saja, ini tidak selalu benar. Sebuah ilustrasi dari Luther dan Katie akan mencukupi:

    Luther cenderung terlalu khawatir, meskipun ia selalu memberi tahu istrinya untuk tidak mengkhawatirkan dirinya. Suatu ketika, Luther begitu khawatir akan sesuatu yang terjadi dalam pekerjaannya, dan merasa depresi dan mendung. Suatu pagi, istrinya turun dari loteng dengan pakaian hitam dan terlihat sangat sedih. Luther bertanya, “Ada apa? Apakah ada yang meninggal?” Katie menjawab, “Tuhan meninggal!” Luther begitu terperanjat dan hampir mau mengoreksinya, ketika ia menjelaskan, “Tuhan pasti telah meninggal karena engkau telah bersedih dan khawatir, seolah-olah tidak ada Tuhan.” Luther saat itu juga terbangun dari ketidakpercayaannya.

    Poinnya yaitu, setiap suami dan istri harus menemukan bagaimana mereka melengkapi satu sama lain. Dengan demikian, Anda akan mulai menikmati perbedaan-perbedaan Anda ketimbang membiarkan masalah ketidakcocokan menjadi pemisah antara Anda dan pasangan Anda.

    Jangan kaku. Jika istri Anda lebih baik dalam mengatur keuangan, ijinkan istri Anda melakukannya. Luther adalah bankir yang kacau. Ia selalu memberikan uangnya kepada orang lain, sehingga ia mengijinkan istrinya menangani keuangannya. Saya melakukan hal yang sama juga. Jika suami Anda lebih mengerti warna, biarkan suami Anda memilih warna untuk mengecat rumah Anda, tapi jika ia kacau dalam warna, mintalah ia untuk mengecat, tapi sarankan warna yang cocok kepadanya.

    Sekarang, jika Anda sedang berpacaran, atau sedang memikirkan pacaran, ingatlah bahwa Anda hanya dapat mempertimbangkan putus jika Anda memiliki alasan Alkitabiah; dan ketidakcocokan sama sekali bukanlah alasan yang baik. Sebaliknya Anda harus berusaha mengasihi satu sama lain di samping perbedaan-perbedaan yang ada. Secara alami, ini tidak berarti Anda tidak perlu mendorong satu sama lain untuk bertumbuh dalam Kristus.

2. Prokreasi: supaya manusia bertambah banyak melalui keturunan yang sah, dan supaya Gereja berkembang melalui keturunan yang kudus

Catatan Kejadian 1 mengenai penciptaan Adam dan Hawa menunjukkan tujuan pernikahan yang ini: “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” (Kejadian 1:28a).

Instruksi kepada Adam dan Hawa ini merupakan perintah ketiga berkenaan dengan pernikahan mereka. Yang pertama yaitu “Pergi” (2:24a); yang kedua yaitu “Setia” (2:24b); dan sekarang yang ketiga yaitu “Bertambah banyak.” Saya ingin mengingatkan Anda bahwa karena instruksi ini diberikan kepada orang tua perwakilan kita sebelum kejatuhan, instruksi ini bersifat mengikat bagi kita juga.

Maleakhi, nabi terakhir Perjanjian Lama, merujuk kepada penciptaan Hawa untuk memberi tahu kita bahwa tugas bertambah banyak ini khususnya ditujukan kepada orang-orang Kristen:

Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya” (Maleakhi 2:15).

Ayat yang penting ini mengajarkan kita tiga hal. Pertama, ayat ini berbicara melawan poligami—hanya satu istri diciptakan bagi Adam meskipun Allah bisa saja menciptakan lebih. Fakta bahwa banyak bapa-bapa dan raja-raja Yehuda yang saleh memiliki lebih dari satu istri tidak menjadikan poligami benar. Banyak kejahatan bermula dari kepemilikian mereka akan banyak istri. Kedua, ayat ini juga berbicara melawan perceraian. Perceraian tidak kurang dari pengkhianatan. Karena itu Tuhan berkata, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6).

Ketiga—dan yang perlu menjadi perhatian kita dalam artikel ini—, ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa salah satu tujuan pernikahan yaitu agar Allah mendapatkan “keturunan ilahi.” Dengan kata lain, salah satu tujuan awal pernikahan bukan saja untuk mengisi bumi dengan manusia, melainkan untuk menghadirkan ke dalam dunia laki-laki dan perempuan yang saleh, atau, umat pilihan Allah. Ingatlah bahwa allah tahu dan mengasihi umat pilihan sejak kekekalan dan adalah tujuan-Nya untuk menebus mereka dari belenggu dosa supaya terpujilah kemuliaan-Nya.

Inilah mengapa tidak salah untuk berkata bahwa gereja harus bertumbuh dalam dua cara: dengan penginjilan dan prokreasi. Tentu, ini tidak berarti bahwa semua anak-anak kita adalah kaum pilihan. Namun Allah telah berjanji untuk menjadi Allah atas kita dan anak-anak kita, dan dengan demikian sepasang pasangan Kristen dapat berharap untuk melahirkan anak-anak pilihan. Inilah alasan mengapa banyak teolog Reformed, baik masa lalu maupun kini, menentang keluarga berencana. Kita tidak akan membahas apakah mereka benar atau salah, tapi fakta bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah prokreasi dan bahwa “anak-anak … adalah milik pusaka dari pada Tuhan” (Mazmur 127:3) mengajarkan kita bahwa setiap pasangan Kristen tidak seharusnya menikah tanpa kerinduan untuk memiliki anak. Siapa yang melakukan hal ini bukan saja mementingkan diri sendiri tapi juga melanggar rancangan Allah bagi pernikahan.

Adalah hal yang lain, tentunya, jika Tuhan berkehendak untuk tidak memberikan anak kepada sepasang suami istri: dalam kasus ini kita harus belajar untuk bersandar kepada Tuhan bahwa Ia tahu yang terbaik.

3. Pencegahan percabulan atau kenajisan.

Tujuan terakhir pernikahan dari perspektif kebutuhan manusia dan masyarakat yaitu untuk mencegah percabulan. Salah satu aspek menjadi satu dalam daging ialah tindakan perkawinan. Karena alasan inilah, laki-laki dan perempuan diberikan kebutuhan natural akan keintiman fisik. Namun demikian, di luar pernikahan, keintiman seksual antara laki-laki dan perempuan merupakan dosa yang buruk dan rendah.

Karena itu, rasul Paulus berkata, “Mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (1 Korintus 7:2) dan “kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu” (1 Korintus 7:9).

Paulus berkata dengan sangat jelas: Pasangan yang tidak dapat menahan nafsu mereka terhadap satu sama lain seharusnya tidak menunda pernikahan. Saya tidak perlu menjelaskannya lebih jauh.

Namun, saya ingin memberikan sepatah kata bagi para pemuda. Sadarilah bahwa Anda diciptakan dengan keinginan natural akan keintiman fisik. Sadarilah juga bahwa keinginan ini diberikan kepada Anda untuk pernikahan Anda. Karena itu Anda memiliki tanggung jawab untuk memelihara kesucian Anda sampai Anda memasuki ikatan permanen pernikahan. Kalau Anda jatuh ke dalam pencobaan dan menyerahkan kesucian Anda, Anda tidak hanya akan berdosa begitu rupa tetapi juga membawa rasa bersalah ke dalam pernikahan Anda.

Paulus memberi tahu kita dalam 1 Korintus 6:18, “Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan [yaitu keintiman seksual di luar pernikahan] berdosa terhadap dirinya sendiri.” Dan ia melanjutkan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,—dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:19-20).

Karena itu, pemuda dan pemudi, ketahuilah keterbatasan dan kelemahan Anda dan perhatikanlah peringatan-peringatan Alkitab. “Jauhkanlah dirimu dari percabulan!” (1 Korintus 6:18a). Instruksi ini bukan hanya ditujukan untuk mereka yang lemah moralnya, tetapi juga untuk mereka yang kuat. Paulus, menulis kepada pendeta muda Timotius, menasehatinya untuk menjauhi “nafsu orang muda” (2 Timotius 2:22). Jika Anda berada dalam situasi pencobaan, sahabat yang terkasih, larilah! Larilah seperti Yusuf ketika istri Potifar berusaha merayunya. Dan ya, jangan, jangan pernah membiarkan diri Anda berada dalam situasi yang bisa membawa pencobaan.

Sepasang pasangan yang sedang berpacaran, yang berada di satu kamar sendirian, sedang mengundang masalah, bagaimanapun mereka berpikir diri mereka kuat. Ikutilah contoh pendeta Puritan, Richard Baxter. Ia biasa mengunjungi jemaatnya untuk mengkatekisasi mereka. Dan kalau ia harus mengkatekisasi jemaat perempuan, ia akan memastikan ada perempuan lain di kamar yang sama bersama mereka. Jika Anda sedang berpacaran, cobalah untuk tidak berada dalam kamar atau rumah sendirian kecuali sangat sebentar saja atau ada orang lain yang akan datang segera.

Dengarkanlah nasehat Paulus: “Siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12). Saudara yang terkasih, ingatlah, Anda akan selalu menilai kekuatan Anda melawan dosa lebih tinggi dari yang sebenarnya, jadi jangan membiarkan diri Anda dicobai. Sekali lagi Paulus berkata, “Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan” (1 Tesalonika 5:22). Jauhkanlah dirimu dari segala situasi yang berpotensi menyebabkan Anda berdosa. Berusahalah sebisa mungkin untuk memelihara kesucian satu sama lain demi pernikahan. Hanya dengan demikianlah Anda dapat memperkenan Tuhan dalam relasi Anda.

Tujuan Teologis

Tujuan ini tidak diberikan secara langsung dalam Kejadian 1 dan 2, namun rasul Paulus mengutip Kejadian 2:24 dalam Efesus 5:31 untuk membuktikan bahwa ada tujuan demikian bagi institusi pernikahan:

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya (Efesus 5:22-33).

Ini adalah bagian yang sangat penting mengenai pernikahan, dan kita akan memperhatikannya lagi nanti. Tapi sekarang, saya ingin Anda memperhatikkan sesuatu yang sangat signifikan di sini, yaitu apa yang menjadi perhatian utama Paulus?

Sekilas mungkin nampak bahwa ia hanya peduli dengan memberi instruksi kepada suami dan istri, namun saat Anda membaca ayat 32, Anda akan menyadari bahwa bukan demikian. Paulus berkata, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Kata rahasia di sini bukan brarti sesuatu yang tidak dapat kita mengerti, melainkan sesuatu yang menakjubkan atau mengejutkan. Apa yang dikatakan Paulus? Ia sedang berbicara bahwa pernikahan ditetapkan demi satu tujuan yang sangat penting, yaitu untuk mengilustrasikan relasi Kristus dan Gereja. Jadi gereja sering dilukiskan sebagai mempelai atau istri Kristus.

Karena itu di Perjanjian Lama, kepada bangsa Israel, Gereja Perjanjian Lama, Yesaya berkata, “Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya” (Yesaya 54:5a). Kepada orang-orang yang murtad (dalam gereja Perjanjian Lama), Yesaya berkata: “Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu!” (Yeremia 3:14a).

Mirip dengan itu, di Perjanjian Baru, selain Efesus 5, kita mendengar Paulus mengeluh terhadap jemaat Korintus: “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus” (2 Korintus 11:2). Dan juga, Yohanes, tentang penyempurnaan karya penebusan Kristus, berkata, “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih! (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)” (Wahyu 19:7-8).

Inilah alasan mengapa banyak penafsir masa lalu mempertahankan bahwa Kidung Agung, yang sekilas nampak sebagai kisah cinta yang indah antara seorang gembala dan seorang perempuan Sunem, sebenarnya merupakan alegori untuk melukiskan relasi yang indah antara Kristus dan Gereja-Nya. Karena itu, ketika sang mempelai berkata, “Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju” (Kidung Agung 7:10), ini dapat dilihat sebagai pengakuan Gereja akan ketaatannya kepada Kristus dan sukacitanya dalam kasih-Nya kepadanya.

Kita harus menyadari ketika kita berkata bahwa tujuan teologis pernikahan ialah untuk melukiskan kesatuan Kristus dan Gereja-Nya, ini tidak berarti bahwa ini sekedar teori belaka. Ada implikasi praktis hal ini, dan saya menyarankan tiga implikasi:

a. Pernikahan kita harus menjadi kesaksian hidup akan kesatuan Kristus dan Gereja-Nya.

Apakah Anda sekarang melihat mengapa institusi pernikahan begitu penting bagi orang-orang Kristen dan mengapa begitu penting bagi orang-orang Kristen untuk memiliki pernikahan Kristen yang baik? Kalau sebagai orang-orang Kristen, pernikahan kita tidak mencerminkan bahagianya kesatuan Kristus dan Gereja-Nya, saya takut kita punya alasan untuk bersedih, karena pernikahan merupakan institusi yang mencerminkan esensi Kekristenan—kesatuan antara Kristus dan mempelai-Nya.

Sebagai orang Kristen, kita tidak dapat menganggap remeh pernikahan. Dunia boleh memandang remeh pernikahan bagi kecelakaan mereka sendiri, namun kalau seorang Kristen meremehkan pernikahan, ini merupakan penghujatan terhadap Kristus. Karena inilah saat Paulus menasehati perempuan-perempuan yang lebih tua untuk mengajar mereka yang lebih muda untuk menjadi ibu dan istri yang baik, ia memberikan alasannya sebagai “agar Firman Allah jangan dihujat orang” (Titus 2:5).

b. Kita harus menikah hanya di dalam Tuhan.

Karena ikatan pernikahan antara suami dan istri mencerminkan relasi antara Kristus dan Gereja, Alkitab tidak mengijinkan, bahkan melarang, pernikahan antara orang percaya dan yang tidak percaya. Kalau Anda seorang Kristen dan berencana menikah, pernikahan Anda hanya akan mendapat berkat Allah jika pasangan Anda juga seorang percaya. Paulus berkata, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Korintus 6:14). Dan saat Paulus berbicara tentang janda yang ingin menikah lagi, ia berkata, “Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya” (1 Korintus 7:39).

Saya tidak dapat melebihkan betapa pentingnya instruksi Alkitabiah ini. Bukan saja Firman Allah penuh penekanan, saya juga pernah mengkonseling dan bertemu dengan sejumlah orang Kristen yang telah memasuki pernikahan dengan orang-orang yang tidak percaya melawan instruksi Alkitab, dan mereka telah menderita begitu hebat sebagai akibatnya.

Beberapa tahun lalu, hal ini terjadi pada seorang pemudi yang adalah seorang guru Sekolah Minggu, sangat berkomitmen dalam pekerjaan Tuhan. Pemudanya adalah teman kantornya, seorang yang tidak percaya yang menurutnya sedang ia coba untuk menangkan bagi Kristus dan tidak lebih dari itu. Akan tetapi mereka menghabiskan banyak waktu bersama-sama dan saat beberapa dari kami mulai memperhatikan bahwa suatu relasi nampaknya sedang berkembang di antara mereka, kami memperingatkan pemudi ini akan bahayanya menjadi terlalu dekat secara emosional dengan pemuda tersebut. Ia menangis, namun tidak dapat melepaskan dirinya. Mereka menikah, dan sekarang, suaminya begitu anti-Kristen sehingga ia tidak pernah ke gereja sejak saat itu maupun membaca buku Kristen apapun. Dan saat anak mereka lahir, ia harus secara khusus meminta teman-temannya untuk tidak memberikan buku-buku Kristen kepada mereka sebagai hadiah karena suaminya akan tidak senang.

Kasus ini begitu menyedihkan bagi saya karena saya selalu berpikir pemudi ini adalah seorang perempuan yang sangat saleh, dan saya masih berharap suatu hari ia akan kembali kepada Tuhan.

Jika Anda telah memasuki pernikahan yang tidak seimbang dengan tidak sadar, atau mengenal seseorang yang telah melakukannya, Anda harus tahu apa yang dikatakan Alkitab tentang situasi tersebut. Instruksi Paulus yaitu supaya pihak yang percaya tetap mempertahankan pernikahan selama suami/istrinya bersedia untuk bertahan (1 Korintus 7:12-15). Rasul Petrus melangkah lebih jauh dengan menasehatkan bahwa istri yang percaya harus menampakkan teladan Kristen supaya suaminya mungkin dimenangkan bagi Kristus tanpa kata-kata (1 Petrus 3:1).

Namun jika Anda belum menikah, jangan berpacaran dengan seorang yang tidak percaya dengan anggapan bahwa Anda dapat mempertobatkan dia. Anda hampir tidak akan berhasil. Berdirilah di atas kursi dan coba tariklah teman Anda ke atas. Lebih mungkin bagi Anda untuk tertarik ke bawah. Dan bukan hanya itu, sementara Anda berada di dalamnya, Anda berdosa terhadap Allah dengan mengacuhkan firman-Nya. Anda tidak dapat mengharapkan berkat-Nya bagi relasi Anda ataupun doa Anda didengar oleh-Nya: “Siapa memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian” (Amsal 28:9). Saya tidak berkata bahwa tidak mungkin bagi orang tidak percaya dalam relasi yang tidak seimbang untuk bertobat dan percaya Tuhan. Akan tetapi menurut pengalaman saya, dalam dua kasus yang terjadi seperti itu, pihak yang tidak percaya akhirnya mengenal Tuhan setelah pihak yang percaya memutuskan relasi tersebut dalam ketaatannya kepada Allah. Melalui providensia Allah, dalam kedua kasus tersebut, mereka bertemu kembali dan menikah.

Akan tetapi jika Anda masih bujang, saya ingin mengingatkan Anda untuk melakukan apa yang benar dan tunggulah Tuhan mengirimkan bagimu seseorang, yang dengannya Anda dapat menikmati ikatan pernikahan yang indah yang menghormati Kristus. Anda dibeli dengan harga yang mahal. Jangan meremehkan kasih Kristus dengan tidak menaati-Nya. Jangan mencobai Tuhan dengan berpacaran dengan orang yang tidak percaya. Percaya kepada Tuhan bahwa Ia tahu yang terbaik bagi Anda.

c. Peranan suami dan istri.

Implikasi ketiga dari tujuan teologis pernikahan yaitu bahwa suami harus mengasii istrinya tanpa syarat sama seperti Kristus mengasihi gereja tanpa syarat; istri harus tunduk kepada suaminya dengan sepenuh hati sebagaimana gereja tunduk kepada Kristus sepenuh hati.

Kesimpulan

Kiranya Tuhan menolong kita, seiring dengan kita mengerti rancangan pernikahan, kita berusaha untuk memasuki pernikahan atau membangun pernikahan kita dengan ketetapan hati yang kudus untuk memperkenan Tuhan. Kiranya pernikahan kita mencerminkan kesatuan yang indah antara Kristus dan Gereja-Nya.


About this entry